TAK SAMA

TAK SAMA
209


__ADS_3

Singkatnya, acara malam tiba, Arisa menggunakan gaun berwarna mocca dengan Rayyan menggunakan pakaian yang senada. Lantunan musik mengiringi langkah keduanya ke pusat sebuah panggung khusus dan keduanya membuka acara dansa berpasangan. Beberapa penari khusus berdansa seirama dengan alunan musik. Beberapa teman mereka ikut masuk kedalam panggung, tak terkecuali Raisa dan Wina pun ikut berpartisipasi.


"Kau sudah lincah sekarang sayang." Bisik Rayyan langsung ke telinga Arisa setelah gerakan Arisa memutar dan Rayyan memeluknya dari belakang. Entah itu pujian atau ejekan, rasanya sangat membuat kesal bagi Arisa.


"Benarkah? Tapi kau yang mengajariku caranya tuan" balas Arisa seraya terus bergerak mengikuti lantunan musik.


"Jadi, kita akan berbulan madu kemana?" Irama yang santai ini di manfaatkan oleh Rayyan untuk sekedar berbincang dengan Arisa di tengah lincahnya gerakan mereka mengikuti alunan musik.


"Emm paris?" Rayyan berpikir sejenak menimbang pendapat Arisa, kemudian ia menggeleng pelan tanda tak setuju.


"Lalu, kemana?"


"Di Neverland."


"Ish Aray. Itu hanya ada di film peterpan."


"Benarkah? Aku kira ada di dunia nyata." Ucapnya terkekeh, apa lagi melihat wajah kesal istrinya saat ini. Belum sempat keduanya melanjutkan obrolan, dansa sudah berubah ke pertukaran pasangan dimana saat ini Rayyan berdansa dengan Diana dan Arisa dengan Seno.


"Adikku sudah menikah. Tetap bahagia ya! Jangan ada lagi air mata di kehidupanmu yang baru." Tutur Seno di tengah tarian mereka.


"Kak Sen. Menurutmu, tempat yang bagus untuk bulan madu di mana?" Tanya Arisa dengan polos.


"Di Neverland." Jawab Seno yang membuat Arisa menyernyit heran, mengapa jawaban Seno sama dengan Rayyan.

__ADS_1


"Dasar dua bersaudara yang aneh." Cetusnya ketika beralih bertukar pasangan kembali. Saat ini, Arisa berpasangan dengan Fariz, dan ia mencoba menanyakan hal yang sama pada kakak iparnya. Namun jawabannya masih sama, "Neverland." Dan ketika pertukaran terakhir, Arisa berpasangan dengan Tio, ia mendadak berbinar setelah sebelumnya ia merasa tak yakin jika bertanya pada Tio.


"Di Neverland Aris." Jawab Tio setelah Arisa bertanya hal yang sama sehingga ia menghela nafas berat menanggapi jawaban ke empat pria yang punya pemikiran sama.


Setelah acara dansa selesai, pengantin kembali ke pelaminan dan menerima ucapan selamat dari beberapa tamu undangan yang baru datang. Sepanjang acara keduanya harus terlihat kuat di depan semua orang meskipun tubuh mereka sudah merasa sakit dan mata mereka sudah semakin sayu karena mengantuk.


Acara malam memang meriah, terlebih saat acara potong kue pengantin yang berukuran besar, lalu menyalakan kembang api, dan pelepasan lampion dari puluhan orang sehingga suasana gelapnya malam terlihat indah di hiasi oleh cahaya lampion yang menyala-nyala melayang di udara.


Sampai di penghujung acara, dan malam pun sudah semakin larut, Arisa meminta untuk undur diri dari hadapan para tamu undangan karena badannya sudah semakin tidak enak dirasa. Sampai di kamar, Arisa yang di bantu oleh anggota WO perlahan melepaskan gaun dan menghapus makeup lalu membersihkan diri. Setelahnya, Arisa meminta bi Ina untuk merawatnya yang mungkin tengah masuk angin. Sarah yang mendengar kondisi Arisa demikian, ia segera menyusul Arisa ke kamar dan memastikan Arisa baik-baik saja. Namun, karena gejala Arisa masuk angin, Sarah mencoba memberi obat dan memberi Arisa minyak kayu putih agar punggungnya terasa hangat.


"Setelah ini, langsung tidur saja. Besok tubuhmu akan pulih." Ucap Sarah setelah memastikan Arisa sudah ia beri pertolongan pertama. Terlihat Rayyan menyusul dan meraih Arisa yang mulai terlelap dengan keringat dingin yang sudah memenuhi dahi dan pelipisnya.


"Rayyan, kamu bersihkan tubuh dan ganti dulu pakaian, setelah itu, kau harus tidur dan beristirahat. Tadi bunda sudah beri pertolongan pertama untuk Putri, dan besok pagi mudah-mudahan Putri sudah baikan."


"Suhu tubuhnya sudah turun mas. Dan mungkin kondisinya akan segera pulih." Jelas Sarah tepat ketika Yugito menghampirinya.


"Terima kasih Sarah. Kau selalu sigap saat Aris ada apa-apa."


"Tak apa mas. Sudah kewajibanku merawat Putri."


Rahma terdiam di luar kamar, ia jelas mendengar ungkapan Sarah tersebut, hatinya terasa di remas kuat oleh kenyataan. Sesak rasanya, namun ia pun sadar bahwa ia juga lebih sigap menangani Raisa dari pada Arisa. Dan harusnya ia tak cemburu jika ibu lain lebih peduli pada Arisa, jikalau bukan Sarah, maka siapa yang akan menyayangi Arisa saat ia sibuk pada Raisa seorang.


Setelah memastikan Arisa baik-baik saja, mereka keluar dari kamar dengan membiarkan Arisa dan Rayyan beristirahat. Sebelum berlalu, Tio menatap tajam pada Rayyan dari ambang pintu dengan mengintimidasi dan penuh ancaman, seakan Tio berkata 'jangan ganggu adikku'. Ternyata bukan hanya Tio, terlihat Reza dan Seno menyusul dan menatap Rayyan dari ambang pintu seakan tengah mengancam Rayyan yang gemetar membalas tatapan mereka. Perlahan ketiga pria arogan itu berlalu dan menutup pintu kamar Arisa dengan pelan, Rayyan yang merasa ketakutan secepatnya beranjak dan mengunci pintu agar mereka tidak mengganggunya beristirahat.

__ADS_1


Rayyan menghela nafas lega kemudian kembali meraih dahi Arisa yang semula hangat kini sudah sedikit dingin. Merasa ada sebuah sentuhan, Arisa tergerak dan tanpa membuka mata ia meraih tangan Rayyan lalu memeluknya.


"Jangan tidur dengan alis yang berkerut sayang." Tegur Rayyan mengusap kedua alis Arisa yang terus berkerut saat memejamkan matanya. Rayyan beralih posisi untuk membuat Arisa nyaman dan ia memeluk istrinya dan mulai memejamkan mata.


. Paginya, Arisa perlahan membuka mata namun ia enggan beranjak dari posisinya. Rasanya hangat, namun membuat jantungnya berdebar keras ketika menyadari ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Wajahnya memerah seperti tomat yang sudah matang merasa gugup dipeluk dalam posisi tidur. Arisa menutup wajahnya dengan mencoba mengatur nafas dan detak jantungnya agar tak terus mengganggunya.


"Hem. Sudah bangun?" Tanya Rayyan dengan suara berat dan sedikit serak berhasil membuat Arisa tersentak karena terkejut.


"Sudah baikan?" Tanya Rayyan lagi. Arisa hanya mengangguk pelan seraya bergumam.


"Um."


"Kenapa? Apa masih ada yang terasa sakit?"


Arisa mencoba memutar tubuhnya dan berhadapan langsung dengan suaminya, tanpa di duga, Rayyan mengecup dahi Arisa lalu mempererat pelukannya sehingga keduanya semakin menghimpit di bawah selimut.


"Aray..." lirihnya pelan.


"Kenapa sayang?"


"Apa Neverland itu jauh?" Sontak Rayyan terdiam lalu tertawa lepas, mengapa istrinya menjadi polos dan menggemaskan setelah menikah?


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2