TAK SAMA

TAK SAMA
202


__ADS_3

. Tinggal 1 hari menjelang pernikahan, seluruh keluarga sudah begitu sibuk mempersiapkan diri. Begitupun dengan Arisa sendiri, ia masih tak menyangka akhirnya akan menikah dengan Rayyan. Arisa menatap dalam gaun pengantin yang secara khusus Diana pajang di kamar Arisa. Kemudian ia melirik pada Raisa yang libur bekerja namun ia masih sibuk dengan laptopnya.


"Kenapa tidak bekerja Rais?" Tanya Arisa beralih menghampiri saudari kembarnya.


"Aku tidak enak badan Aris." Jawab Raisa terdengar sangat lemas.


"Kalau begitu jangan memaksakan. Simpan laptopnya. Aku tak mau saat hari pernikahanku nanti, kau malah sakit." Rajuk Arisa yang memaksa Raisa untuk menghentikan aktivitasnya dan beralih istirahat saja di kamarnya. Ketika Raisa hendak tertidur, tiba-tiba ia berlari ke kamar mandi. Arisa yang panik ikut menyusul karena takut terjadi apa-apa pada Raisa.


"Kau punya obat masuk angin tidak?" Tanya Raisa setelah ia keluar dari kamar mandi.


"Tidak ada Rais. Tapi kalau minyak kayu putih aku ada." Jawab Arisa yang langsung mencari barang tersebut di laci. Segera Raisa mengoleskannya di sekitar perut dan punggung untuk meredakan rasa mualnya.


"Ke dokter ya..." bujuk Arisa mulai khawatir, ia takut jika hal yang dulu terjadi lagi pada kakaknya.


"Tidak Aris. Aku baik-baik saja." Jawabnya masih terlihat lemas. Namun apa daya, rasa mualnya terus mengganggu istirahatnya. Sampai akhirnya Arisa memutuskan untuk memberitahu Rahma yang kini tengah berada di ruang keluarga menata beberapa barang bersama Sarah dan bi Ina. Mendengar kondisi lemah Raisa, Rahma segera berlari memastikan. Hal itu membuat Arisa terdiam di tepi balkon dan memegang erat pembatas seraya menunduk sendu. Ia perlahan menyusul ibunya ke dalam kamar dan kembali melihat Rahma begitu cekatan membantu Raisa yang semakin terlihat pucat. Dengan masih panik, Rahma meminta Arisa untuk memanggil Dimas agar ke rumah dan memeriksa Raisa di sini. Setelah memanggil Dimas, Arisa menggenggam kuat ponselnya seraya berjalan menghampiri ibu dan kakaknya.


"Aris kenapa diam saja? Ambil air hangat dan handuk cepat!" Titah Rahma yang enggan meninggalkan Raisa dari dekapannya. Dengan menurut, Arisa bergegas mengambil barang yang di minta ibunya ke dapur. Karena terburu-buru dan tak hati-hati, ia tersandung membuat wadah yang ia bawa pecah bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk. Mendengar suara barang yang pecah, seisi rumah bergegas menghampiri arah suara. Yugito dan Sarah bersamaan meraih dan membantu Arisa untuk bangun, sedangkan para ART nya bergegas membereskan kaca yang berserakan.


"Apa yang kau lakukan Aris?" Tanya Yugito saat membawa Arisa dalam pangkuannya karena ia melihat memar di kaki putrinya.


"Aris. Cepat. Kenapa lama sekali!!" Teriak Rahma dari atas. Ia termangu melihat pemandangan yang semakin membuatnya geram. Dimana saat Yugito memangku Arisa menuju sofa, Sarah dengan hati-hati membantu Arisa untuk duduk dan memperlakukan putri bungsunya dengan begitu lembut. Hatinya bagai di remas saat melihat Sarah dan Yugito sama-sama duduk di kedua sisi samping Arisa dan Yugito membersihkan baju Arisa yang kotor dan basah.


"Lain kali kalau ada apa-apa panggil yang lain." Ucap Yugito memberi nasehat.

__ADS_1


"Maaf. Aris buru-buru ayah."


"Tapi hati-hati juga."


"Kalau Aris tidak cepat, Rais kasihan ayah. Mama sudah panik." Lirihnya menjawab. Sontak Yugito menoleh ke atas dan mendapati Rahma yang menatapnya dengan tajam.


"Kenapa tidak panggil aku saja. Dan juga, Rais kenapa?" Tanya Yugito namun tak di hiraukan oleh Rahma. Rahma berlalu ke lantai bawah dengan diam seribu bahasa dan mengambil wadah berisi air hangat sendiri. Meski Yugito sudah bertanya beberapa kali, namun Rahma masih memilih diam, sampai ketika Yugito mendapati Raisa yang tengah terduduk di samping tempat tidur Arisa. Terdengar Raisa yang mual-mual lalu ia berlari kembali ke dalam kamar mandi.


Tak lama berselang, Dimas datang dan Arisa menunjukkan bahwa Raisa ada di kamarnya. Semula Dimas ingin menangani Arisa dulu, namun Arisa menolak dan memintanya untuk segera menangani Raisa. Saat Dimas memeriksa kondisi Raisa, ia tak mendapati gejala apapun.


"Badannya tidak panas, dan lambungnya normal. Rais, apa kau telat haid?" Tanya Dimas kemudian tanpa ragu karena Raisa sudah menikah.


"Emmmm sepertinya iya. Sekitar 2 minggu dari tanggal biasanya." Jawab Raisa setelah berpikir sejenak.


"Coba kau test. Aku bawa alatnya." Dimas memberikan sebuah test kehamilan untuk Raisa yang terlihat begitu ragu.


Setelah beberapa saat menunggu, Raisa keluar dan ia memperlihatkan hasilnya pada sang ibu. Dengan haru, Rahma memeluk Raisa begitu erat, sampai Arisa terdiam mematung di ambang pintu.


"Aku hamil... ayah dan mama akan punya cucu lagi." Ucap Raisa dengan perasaan yang begitu senang. Yugito ikut memeluk Raisa yang masih berada di pelukan ibunya. Dimas menoleh pada Arisa yang berlalu dari depan kamarnya, kemudian ia menyusul Arisa yang kini sudah menuruni tangga.


"Aris.!" Panggil Dimas namun tak membuat Arisa berhenti. Langkahnya semakin cepat, Dimas mengejar Arisa sampai ke depan rumah yang tengah di hiasi dekorasi oleh para anggota WO. Arisa duduk di salah satu kursi tamu yang sudah di letakkan dengan berjejer rapi.


"Aris." Panggil Dimas yang ikut duduk di samping Arisa.

__ADS_1


"Dim. Ternyata mama lebih bahagia saat Rais bahagia. Tak peduli aku bersedih atau tidak. Jika Rais sakit, mama pasti lebih peduli pada Rais. Tapi, saat Rais akan menikah, mama begitu terlihat bahagia. Sampai aku yang melihatnya merasa sesak Dim."


"Tapi mama mu juga menyayangimu Aris."


"Tidak seperti pada Rais Dim. Sudah menikah saja, mama selalu memperhatikan Rais. Mungkin jika aku sudah menikah, aku akan benar-benar lepas dari mama."


"Apa yang kau katakan Aris?"


"Aku dan Aray akan pergi jauh Dim. Tak akan di kota ini."


"Kau mau kemana?"


"Entahlah. Yang jelas aku tak ingin melihat wajah bahagia keluargaku tapi bukan karena aku."


"Kau yakin?"


"Aku tak tahu. Aku tidak begitu yakin."


"Lalu kenapa?"


"Aku sangat kesal Dim." Arisa menunduk memeluk kursi lain yang berada di depannya. Ia kembali mendongak saat ada seseorang menepuk pundaknya dengan hangat.


"Bunda?" Lirihnya kemudian membiarkan Sarah mendekapnya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Jangan bersedih. Ada bunda disini. Jika mama mu sedang merawat Raisa, maka disini bunda yang akan merawat kamu." Hal itu cukup membuat Arisa menangis haru di dalam dekapan Sarah.


-bersambung


__ADS_2