TAK SAMA

TAK SAMA
100


__ADS_3

. Daffa segera membawa Arisa berlalu meninggalkan kantor setelah memastikan Oma sudah tak terlihat. Saat di parkiran, Daffa seketika mematung di dekat moge miliknya. Ia kemudian menoleh pada Arisa yang terlihat tenang dan seperti tak banyak pikiran apapun. Sejak tadi, Arisa terus mengikuti kemana Daffa pergi.


"Ishhh kau pakai rok ya?" Tanya Daffa sedikit menggerutu kesal.


"Memangnya kenapa?" Tanyanya polos.


"Haihhh. Kau akan menjadi pusat perhatian nantinya. Sejak kapan kau menjadi bodoh Aris?"


"Kau mengataiku bodoh?"


"Hehe tidak tidak. Aku bercanda sayang." Goda Daffa mengacak rambut Arisa membuatnya sedikit berantakan.


"Hentikan Daf.... rambutku jadi berantakan." ~Arisa.


"Tak apa. Meskipun berantakan, tapi aku tetap cinta." ~Daffa.


"Huuu dasar buaya." ~Arisa.


"Hahaha sekarang kau bisa bercanda rupanya." ~Daffa.


"Memangnya dulu tidak?" ~Arisa.


"Entah. Tapi yang jelas sekarang aku harus mencari cara agar kau tidak terbuka seperti ini." Ucap Daffa kemudian mencari sebuah nama di ponselnya, dan tak lama ia memanggil seseorang.


"Ke parkiran B ya?" Ucap Daffa yang bisa dipastikan panggilannya sudah tersambung. Setelah beberapa lama menunggu, terlihat sebuah mobil yang begitu familiar berhenti di depan mereka. Rayyan menurunkan kaca mobilnya dan enggan menolehkan wajah datarnya pada Arisa.


"Masuk!" Ucapnya begitu menusuk hati Arisa yang merasakan ucapan dan aura Rayyan yang sangat dingin. Melihat itu, Daffa menghela nafas dalam karena kembali merasakan hawa dingin yang tak pernah ia rasakan lagi.


"Ck... apa kau tuli?" Delik Rayyan dengan berdecak kesal melirik pada Arisa yang menunduk.


"Risa!" Bentak Rayyan membuat Arisa tersentak lalu mendongak menatapnya, tatapan Rayyan perlahan menjadi sendu saat mendapati tatapan Arisa yang begitu meluluhkan hatinya.


"Aray... apa kau memaafkanku?" Lirih Arisa kembali menunduk dan terlihat tangannya beberapa kali meremas tali tas nya dengan gelisah.


"Menurutmu bagaimana?" Rayyan memalingkan wajahnya kembali dengan raut yang kecewa.


"Apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku?" Dengan keberanian yang ia kumpulkan, Arisa mencoba menatap lebih dalam pada Rayyan yang tak sedikitpun menoleh kearahnya sekarang.


"Ingatlah tentangku. Maka aku akan memaafkanmu sepenuhnya." Jawab Rayyan tanpa berniat melirikkan matanya pada Arisa.


"Aku ingat." Ucapnya membuat kedua pria didepannya tersentak seketika dan menoleh bersamaan mendengar ucapan singkat yang Arisa katakan.

__ADS_1


"Kau serius?" Tamya Daffa antusias bercampur heran dengan meraih pundak Arisa.


"Entahlah Daf. Ingatan atau bukan, tapi hal ini selalu mengganggu tidurku. Sosok laki-laki yang selalu muncul di mimpiku dengan wajah yang tak bisa aku kenali, mungkinkah itu Aray?" Lirihnya dengan mencoba mengingat beberapa hal yang mungkin adalah ingatannya di masa lalu. Lalu Arisa sedikit mundur saat Rayyan dengan kesal keluar dari mobilnya dan membanting pintu dengan keras.


"Kenapa Risa? Kenapa kau tak sedikitpun mengingatku?" Mata Rayyan membulat semakin memerah menatap tajam pada Arisa yang mulai ketakutan pada tatapannya. Apa lagi saat Rayyan meraih bahu Arisa dengan kasar dan terasa tubuh Arisa gemetar karena mungkin terkejut dengan kemarahan Rayyan yang tiba-tiba.


"Apa kau tak ingat kenangan kita saat makan bersama? Saat kau memelukku? Saat kau memberikan kehangatan untuk Sein? Dan saat terakhir kau menciumku sebagai salam perpisahan? Apa kau tak ingat?" Lanjut Rayyan sedikit mengguncangkan tubuh Arisa yang semakin gemetar ketakutan.


"Maaf Aray.... aku tidak bisa ingat semuanya..." lirihnya dengan nafas tersenggal.


"Aray hentikan!. Aris ketakutan. Apa yang kau lakukan?" Daffa mencoba menjauhkan tangan Rayyan dari bahu Arisa yang begitu kuat mencengkramnya.


"Aku takut Aray.... aku takut jika aku ingat, hatiku akan sakit nantinya."


"Ohhhh jadi kau sekarang tidak merasakan sakit saat lupa padaku? Baiklah. Kalau memang begitu, aku harus memastikannya sendiri." Ucap Rayyan kemudian ia membawa Arisa kedalam mobil dan dengan cepat melajukan mobil meninggalkan Daffa yang masih mematung di tempatnya.


"Kita mau kemana Aray?" Tanya Arisa yang mendadak panik dan tak mendapat jawaban apapun dari Rayyan. Tatapannya begitu tajam seakan amarahnya masih tersimpan di dadanya yang kini mulai terasa sesak. Kemudian ponsel Arisa berbunyi dan menampilkan nama Raisa yang terpampang dilayar. Segera Arisa menerima panggilan, namun saat ia hendak memulai pembicaraan, Rayyan lebih cepat merebut ponsel Arisa dan dengan dingin berkata pada Raisa bahwa dirinya membawa Arisa ke suatu tempat.


"Jika ingin adikmu kembali selamat, kau temui aku di cafe Red sekarang." Tuturnya kemudian melempar ponsel Arisa ke pangkuan pemiliknya.


"Aray.... apa yang kau lakukan?" Pekik Arisa semakin panik.


Sejujurnya Rayyan tak tega harus bersikap kasar pada sang pujaan hati yang begitu ia cintai ini. Namun, demi mendapatkan jawaban yang terus berputar di kepalanya, Rayyan terpaksa bersikap seolah ia sudah berbalik membenci Arisa.


Hingga sampai di cafe Red, Rayyan menyuruh Arisa untuk mengikuti langkahnya dari belakang dan kembali memperingatkan Arisa agar tidak coba-coba untuk kabur.


Dengan menurut walaupun ragu, Arisa mengikuti langkah Rayyan dengan menunduk tak berani memperlihatkan wajahnya yang murung pada muka umum. Terlihat Rayyan menghampiri seorang gadis yang sedang duduk dengan gaya yang elegan dan berkelas.


Clara mendadak antusias dan berdiri dari duduknya kemudian menyambut kedatangan Rayyan dengan manja melingkarkan tangannya pada Rayyan. 'Deg' hati Arisa mendadak seakan di tikam pisau tajam seketika, jantungnya berdebar sangat keras, bahkan ia merasakan sebuah hawa panas yang seakan membakar dadanya. Namun Arisa berusaha agar terlihat tenang saat Clara melambaikan tangannya menyambut Arisa.


"Hai kak Arisa.... jadi benar kau masih hidup? Dan rumor kau amnesia juga sudah menyebar. Jadi, apa kau baik-baik saja?" Tanyanya sok peduli.


"A-aku baik-baik saja." Jawabnya melempar senyum dengan tulus pada Clara yang tersenyum penuh kemenangan.


"Aku Clara. Pacar kak Rayyan." Ucapnya ditanggapi senyuman oleh Arisa.


"Aku sekertaris pacarmu."


"Kau tidak cemburu melihat kak Rayyan denganku? Sepertinya kau terlihat biasa saja." Goda Clara semakin manja merangkul tangan Rayyan. Tak di sangka, Arisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum semakin lebar mendapati pertanyaan menyakitkan dari Clara.


"Oh iya kak Arisa. Sepertinya yang akan menjadi pendamping kak Rayyan hanya aku seorang. Karena kakak kembarmu sudah membatalkan ikatannya dengan kak Rayyan saat kau di gosipkan meninggal. Dan sekarang, kau sudah amnesia dan kelihatannya seperti biasa saja seolah kau tidak mencintai kak Rayyan lagi." Ucap Clara lagi semakin membuat Arisa sesak.

__ADS_1


"Aray... se-sebaiknya aku tunggu di mobil. Jika disini, aku takut mengganggumu." Ucapnya terbata lalu hendak berbalik dan ia terkejut saat sebuah tangan meraihnya dan seakan menahan dirinya untuk tidak pergi.


"Aris... sebaiknya kau jangan mengganggu buaya ini. Kita pulang sekarang." Ucap Raisa dengan dingin dan menatap Rayyan dengan tajam. Lalu 'plak' Arisa menutup mulutnya terkejut melihat Raisa yang tanpa ragu menampar Rayyan dengan keras.


"Kau pantas mendapatkannya." Ucap Raisa kemudian berlalu menarik tangan Arisa yang mengikut saja kemana pun ia di bawa oleh Raisa.


Sepanjang jalan, Raisa menggerutu dan sesekali menyalahkan Arisa yang bersikap seolah sudah tidak mencintai Rayyan dan terlihat tak cemburu meskipun melihat Rayyan bermesraan dengan gadis lain.


"Kau bodoh Aris." Bentak Raisa didalam mobil yang ia lajukan dengan kencang.


"Iya Rais. Aku bodoh. Jadi jangan terus menyalahkanku. Hatiku semakin sakit." Balas Arisa yang setengah berteriak dengan menahan emosinya yang seakan meluap seketika.


"Ka-kau menangis?" Tanya Raisa setelah ia melirik pada Arisa dan mendapati sang adik yang menahan tangis saat ini. Terlihat Arisa menyandarkan kepalanya di kaca dan terdengar isak kecil dan beberapa kali Arisa menyeka air matanya yang tak sempat menetes dari kelopak matanya.


"Ma-maafkan aku Aris. Aku tak bermaksud." Lirih Raisa meraih kepala Arisa dan mengusapnya pelan.


"Kau selalu berkata seperti itu." Ucap Arisa masih dengan kesal.


"Aris...."


"Jangan ikut menangis Rais. Atau tangisku akan lebih keras darimu." Ucapnya berhasil membuat Raisa tertawa kecil dan ia menepikan mobilnya di sebuah taman dan membiarkan Arisa berjalan-jalan santai disana.


"Kata Wina, kau selalu ke sini untuk membaca novel." Ucap Raisa yang duduk di salah satu kursi taman.


"Apa aku dan Wina begitu dekat?" Tanya Arisa yang ikut duduk di samping Raisa.


"Sangat dekat. Bahkan aku saja merasa iri dengan kedekatan kalian. Aku yang menjadi saudara kembarmu, tapi orang lain yang begitu dekat denganmu."


"Benarkah? Maafkan aku Rais.... aku janji tak akan terlalu dekat dengan Wina jika itu menyakiti hatimu." Ucap Arisa dengan memeluk Raisa yang terisak kecil karena mengingat kedekatan Arisa dan Wina yang menurutnya tak biasa.


Wina yang mendengar itu dari belakang, yang berniat hendak menyapa Arisa, niatnya urung setelah mendengar penuturan Arisa yang menyakitkan hatinya. Arisa yang sekarang, bukan Arisa yang ia kenal dulu lagi. Wina berlalu dengan diam meninggalkan taman. Tempat dimana ia menunggu kedatangan Arisa atas usaha Daffa yang ingin mengembalikan ingatan Arisa dengan beberapa kenangan yang masih Wina simpan. Namun, rasanya kenyataan ini membuat Wina hancur seketika.


"Tapi jangan begitu Aris. Kau dan Wina sangat dekat. Aku tak mau, hanya karena aku, hubungan kalian menjadi renggang nantinya. Aku juga punya teman dan sama-sama dekat. Walaupun tidak sedekat kau dan Wina." Ucap Raisa sembari melepas pelukannya kemudian menatap manik adiknya yang terlihat sendu.


"Apa saja yang sudah Wina lakukan untukku?"


"Hanya kau dan Wina yang tahu." Jawab Raisa menarik senyumnya tipis.


. Esoknya, sebelum ke perusahaan Pratama, Arisa terlebih dahulu mampir ke perusahaan ayahnya untuk bertemu dengan Wina. Teman yang sangat dekat dengannya dulu, yang sekarang ia sendiri tak tahu apa saja yang pernah terjadi padanya dan Wina. Arisa melambaikan tangan saat ia melihat Wina yang hendak berjalan kearahnya. Saat Arisa akan menghampirinya, Wina segera merubah haluan dan pergi entah kemana.


-bersambung.

__ADS_1


__ADS_2