TAK SAMA

TAK SAMA
59


__ADS_3

Daffa terkekeh mendapati tatapan datar disekelilingnya.


"Hehe aku bercanda." Ucapnya mengangkat kedua tangannya.


"Aris.... tapi kau tak apa kan? Tak ada yang sakit kan?" Tanya Rahma tanpa memberi kesempatan untuk Arisa menjawab satu persatu pertanyaannya. Arisa menggeleng sambil melempar senyum pada Rahma.


"Tak apa ma... Aris baik-baik saja." Jawab Arisa meyakinkan.


Widia dan Arya menghampiri Arisa lalu keduanya berpamitan. Begitupun Bayu yang dengan berat hati harus pulang terlebih dahulu karena harus mempersiapkan kebutuhan untuk keberangkatannya kembali ke Jogja.


"Jaga dirimu baik-baik." Ucap Bayu mengacak rambut Arisa sebelum ia pergi. Rayyan memalingkan wajahnya menyaksikan adegan itu.


"Apa kakak akan pergi?" Tanya Arisa menghentikan langkah Bayu di ambang pintu.


"Aku harus kembali ke rumahku Aris. Sekarang kota ini bukan lagi tempatku pulang." Jelas Bayu kemudian melanjutkan langkahnya. Arisa menunduk lesu mendengar jawaban Bayu.


"Kau bahkan tak mengantarkanku, setidaknya sekedar menyaksikan kepergianku di ambang pintu. Aku mengharapkan itu Aris. Meskipun kau bersama kekasihmu sekarang." Gumam Bayu yang tak menoleh ke belakang lagi. Mobilnya melaju menjauhi kediaman Yugito. Namun Bayu merasa heran mengapa Fabio masih berada di depan rumah Yugito, padahal semua tamu undangan sudah bubar dan meninggalkan kediaman Yugito. Bayu memalingkan wajahnya ketika pandangannya dan Fabio bertemu. Ia tak ingin melihat wajah angkuh Fabio lebih lama.


Seina berdiri didepan Arisa dengan mengusap tangan Arisa.


"Kakak putri jangan menangis. Kalau kak Aray jahat, pukul saja." Ucap Seina dengan polos dan masih meraih dan lalu memeluk lengan Arisa.


"Sut... siapa yang mengajarimu bicara seperti itu." Tegur Rayyan mengusap kasar wajah Seina.


"Kak Daffa." Jawab Seina menunjuk Daffa di samping Rayyan. Rayyan melirik sinis kearah Daffa yang kembali terkekeh dan menggeser menjauh.


"Kau mengajari adikku apa hah?" Geram Rayyan meraih kerah belakang milik Daffa.


"Tidak... aku tidak mengajari apa-apa."


"Terus?" Rayyan menoleh pada Seina yang tertawa geli melihat kekesalan kakaknya.


"Hihihi... Sein hanya bercanda kak." Ucap Seina memecah tawa Arisa sendirian. Tio tersenyum melihat betapa bahagianya Arisa saat ini. Tio sempat berpikir untuk mengingat kapan terakhir kali Arisa tertawa lepas seperti sekarang.


"Aris... Rais.. Diana memberi salam untuk kalian. Katanya maaf tak bisa hadir." Ucap Tio membuat Seno menoleh kasar kearahnya.


"Pantas saja aku tak melihatnya." Ucap Arisa menunduk kecewa.


"Apa hadiah yang kaka berikan itu buatan kak Diana?" Tanya Raisa penasaran.


"Yaa begitulah." Jawab Tio kaku dengan tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya tak karuan. "Kalian tidak suka?" Tanya Tio dengan tiba-tiba.


"Rais suka.. sangat cantik. Tapi apa boleh Rais memakainya nanti saat kakak dan kak Diana menikah?" Tanya Raisa ragu dan sedikit memalingkan wajahnya.


"Saat Seno menikah pun silahkan Rais... atau saat kau berkencan dengan Fariz pun, tak apa." Ejek Tio lagi-lagi membuat Seno menatap tajam kearahnya.


"Bagaimana saat berkencan denganku saja." Suara yang tak asing terdengar mengejutkan di sudut ruangan. Semua menoleh kearahnya yang tampak santai dan menikmati obrolan tuan rumah yang sangat menyenangkan. Semua menatap lekat dan benaknya bertanya-tanya sejak kapan dia ada disana. Fariz mengepalkan tangan dengan tatapan tajam yang seakan menembus manik hitam milik Fabio.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu Fariz." Ucap sang ayah pada putranya dengan nada pelan. Fariz menghela nafas kasar dan memalingkan wajahnya.


Fabio tersenyum dengan manis seraya berjalan menghampiri Raisa lalu meraih tangannya dan menatapnya penuh kehangatan. Namun tubuh Raisa mendadak gemetar. Rasanya ia sedang berada didepan hewan buas yang siap menerkamnya.


"Kenapa kamu gemetar sayang? Apa kau gugup berhadapan denganku?" Seketika itu Raisa menundukkan wajahnya dan tak menjawab pertanyaan Fabio. Ia terlalu takut untuk membalas tatapan Fabio yang seakan menekannya.


"Lepaskan." Tegas Tio meraih tangan Fabio.


"Eh?..." Fabio menyeringai dan membalas tatapan Tio dengan melempar senyum liciknya.


"Kubilang lepaskan.!" Tegas Tio lagi memekik telinga. "Jauhkan tanganmu dari adikku." Lanjutnya masih dengan suara yang lantang. Fariz hendak ikut campur saat Fabio tak kunjung melepaskan genggamannya dari tangan Raisa. Namun Rayyan lebih cepat bertindak dan seketika itu genggaman Fabio terlepas dengan paksa.


Oma tertegun melihat sikap Rayyan yang peduli pada Raisa. Pikirnya Rayyan memang menyukai Raisa namun terhalang oleh Arisa yang kini menjadi kekasih Rayyan. Oma berpikir bahwa Rayyan berkata mencintai Arisa karena terlanjur hubungan mereka sudah tersebar di publik.


"Apa ini kesempatan?" Batin Oma tersenyum simpul menatap tatapan Rayyan pada Fabio.


Raisa merintih kesakitan karena tangannya yang terasa perih. Lebam merah terlihat dipergelangan tangan Raisa yang putih bersih. Arisa beranjak lalu meraih tangan Raisa lalu meniupnya dengan hati-hati. Arisa berbalik dan berjalan cepat menghampiri Fabio lalu 'plak' matanya memerah penuh amarah menatap Fabio. Wajah Fabio terhempas sedikit karena tamparan keras Arisa. Rasanya itu hanya tamparan anak kecil bagi Fabio. Arisa menahan panas ditelapak tangannya yang memerah.


"Kenapa kau menamparku adik ipar?" Tanya Fabio lalu mengangkat tangannya hendak meraih wajah Arisa dengan lembut. Namun lagi-lagi Rayyan menahan tangan Fabio yang beberapa cm lagi menyentuh wajah Arisa. Dan seketika itu juga raut wajah Oma yang masih menyimak kejadian didepannya berubah menjadi cetus.


"Mereka mirip, tapi kenapa aku merasa tidak bisa menerima kehadirannya. Padahal apa bedanya dari mereka berdua. Bersabarlah Galuh. Kau hanya menunggu Aray lulus, setelah itu Aray akan menepati janjinya." Batin Oma kembali memaksakan senyumnya.


"Kenapa kalian seakan membenciku?" Sindir Fabio melepaskan tangannya dengan kasar dari genggaman Rayyan.


"Kak sudah hentikan. Apa yang kau lakukan? Jangan membuat malu." Ucap Fabian yang kehabisan kesabaran menyikapi sang kakak.


"Membuat malu apa? Aku hanya ingin berpamitan pada calon istriku saja." Jawab Fabio dengan santai seakan ia sengaja mengatakan hal itu didepan Fariz dan Rayyan.


"Waw.. kau hebat Rayyan. Apa kau akan menikahi keduanya?" Seringai licik Fabio kembali dilemparkan pada Rayyan.


"Fabio... sebaiknya kau pulang. Raisa harus istirahat. Om harap kau tak mengganggu Raisa untuk saat ini." Ucap Yugito membuat Fabio terdiam. Fabio tersenyum lalu beranjak melangkah kearah pintu.


"Baiklah Om. Aku akan pulang. Dan Raisa, aku harap saat aku kembali, kau dan dia sudah tak punya hubungan apa-apa." Ucap Fabio terhenti dan menunjuk pada Fariz dengan kelopak matanya, dan kembali berlalu melewati pintu utama yang masih terbuka lebar.


Jantung Raisa berdegup begitu keras sampai terdengar oleh dirinya sendiri. Rasa takut, panik, penasaran, dan khawatir bercampur menjadi satu. Perasaan itu pun dirasakan oleh Yugito saat ini. Dirasanya kini Raisa sedang berada pada sesuatu yang berbahaya.


Raisa ambruk seketika setelah punggung Fabio menghilang dibalik pintu. Semua meraih Raisa dengan panik. Fariz dengan cepat membawa Raisa sampai ke kamar Tio. Terlihat Oma meraih tangan Raisa dengan tangis yang seakan dibuat-buat.


"Aku baru sadar, Dimas tak datang. Apa dia sibuk?" Gumam Arisa yang mendadak teringat pada mantan calon kakak iparnya itu. Arisa berlalu keluar kamar lalu menelpon Dimas namun tak mendapat jawaban.


"Benar juga. Ini sudah larut. Mungkin Dimas sudah tidur." Gumamnya lagi dengan gelisah.


"Risa... kau menelpon siapa?" Tanya Rayyan yang menghampiri Arisa di ruang tengah.


"I-ini... Dim-Dimas." Jawabnya ragu.


"Apa katanya?" Tanya Rayyan lagi.

__ADS_1


"Dia tidak marah?" Batin Arisa menatap heran pada Rayyan.


"Apa katanya? Hei aku bertanya padamu sayang." Ucap Rayyan mengulang pertanyaan sambil mencubit hidung Arisa dengan gemas.


"Aww sakit Aray...." rengek Arisa meraih hidungnya yang memerah.


"Kenapa malah melamun?" Tanya Rayyan lagi.


"Dimas tak mengangkat panggilannya."


"Ohhh... begitu ya..." Rayyan menganggukkan kepala tanda mengerti, lalu menoleh menatap pada kamar Tio yang kini dipenuhi orang-orang.


"Apa karena dia kakak Risa aku mengkhawatirkannya sekarang?" Gumam Rayyan menatap lekat pada wajah Raisa yang sedikit terlihat olehnya.


"Aray..." lirih Arisa membuyarkan lamunannya. Rayyan menoleh seketika pada Arisa dengan melempar senyuman.


"Apa sayang?" Tanyanya membelai pipi Arisa dengan lembut.


"Kau mengkhawatirkan Rais?" Tanya Arisa masih dengan nada lirih.


"Sedikit. Kenapa?" Rayyan kembali menoleh kearah Raisa yang masih terlelap.


"Tak apa..." jawab Arisa pun masih lirih. Seketika itu Rayyan menepuk dahinya keras lalu menoleh pada Arisa.


"Aku tidak menyukainya. Sungguh sayang. Aku hanya sedikit khawatir saja." Ucap Rayyan dengan nada sedikit tinggi membuat yang mendengarnya seketika menoleh kearahnya.


"Ehh.. apa?" Arisa mendadak salah tingkah dengan penuturan Rayyan yang tiba-tiba.


"Tapi aku tak bermaksud membuatmu cemburu." Ucap Rayyan masih dengan nada yang sama.


"Apa dia gila? Mengapa dia berbicara begitu keras?" Gumam Arisa dengan raut wajah yang panik. Seketika wajahnya memerah karena Rayyan yang terus menerus meyakinkannya dan wajahnya semakin dekat. Arisa memalingkan wajahnya lalu terbelalak menatap Oma yang tajam menatapnya. Terlihat garis wajahnya yang tersirat rasa tak suka melihat kedekatannya dengan Rayyan. Meskipun Oma tahu Rayyan adalah pacar Arisa saat ini. Arisa menggeser menjauh dari Rayyan dengan gugup.


"Aray." Panggil Oma dari ruang tamu. Dimana disana hanya ada Oma, Sonya dan Seina saja.


"Ada apa Oma?" Tanya Rayyan menghampiri dan tak menyadari bahwa Oma tengah melarangnya berdekatan dengan Arisa secara tidak langsung.


"Ada yang ingin Oma bicarakan. Tapi setelah Raisa sadar." Ucap Oma melempar senyum lalu menoleh pada Sonya yang terlihat tegang.


"Kenapa?" Tanya Rayyan dengan memasang wajah penasaran.


Di ruang tengah, Tio menghampiri Arisa yang masih khawatir pada Raisa.


"Rais tak apa... kau tidur saja." Ucap Tio meraih kepala Arisa lalu mengacak rambutnya.


"Tapi kak... aku..."


"Kakak bilang tidur!" Tegas Tio menyela sebelum Arisa menyelesaikan ucapannya. Dengan langkah berat, Arisa setengah berlari menuju kamarnya. Dadanya sedikit sesak karena terlalu lelah berlari. Sampai pandangannya sedikit kabur.

__ADS_1


"Ishhh jangan lagi.." gumamnya menahan kesadarannya yang semakin memudar.


-bersambung


__ADS_2