
. Meski Arisa sudah menurut dengan apa yang di katakan Marcel, namun Tio masih ragu apakah Arisa sudah kembali seperti semula atau masih marah padanya. Ia memilih duduk di luar mendengarkan percakapan Marcel dan adiknya, ia tak berniat membuat Arisa kembali marah padanya sampai tak bicara 1 bulan. Bicara pun mereka gunakan untuk bertengkar.
"Aris... dengarkan aku. Kau tak seharusnya mendiamkan kakakmu begini, bahkan sampai berbulan-bulan. Itu tak baik Aris." Tutur Marcel membuat Arisa memalingkan wajahnya dengan mulai kesal, dan saat Arisa hendak bicara pun, Marcel dengan cepat menyela agar Arisa tak jadi mengoceh. Ia tahu, Arisa akan membela diri karena disini masalahnya ada pada kesalahan Tio.
"Apa kau pikir aku bukan seorang kakak? Aris, kau sendiri tahu aku punya adik. Sekeras apapun seorang kakak, dialah yang paling menyayangimu. Minta maaflah pada Tio, tapi jika kau tak mau minta maaf duluan, maka buka saja pintu maafmu untuknya. Kau pikir di diamkan adik itu menyenangkan? Tidak Aris. Justru itu akan menimbulkan masalah baru. Aris... dia menamparmu bukan berarti dia marah karena membencimu. Dia kesal karena kau bicara yang tidak-tidak. Aris... hidupmu ini anugrah. Jarang ada orang yang selamat dan hidup lama setelah melakukan cangkok hati. Kebanyakan dari mereka selalu mendapat penolakan karena adanya ketidak cocokan. Tapi kau? Aris... ingatlah! Banyak yang bersyukur kau masih hidup." Kini Arisa mulai sedikit luluh mendengar Marcel. Ia sejenak berpikir bahwa mungkin ia sudah lebih keterlaluan pada Tio.
"Aris... jangan ingat saat Tio menamparmu, tapi ingatlah saat dia menemanimu. Saat kau sendiri, saat kau tak ada tempat untuk sekedar cerita, atau saat dia berperan sebagai ayahmu." Lanjut Marcel membuat Arisa semakin menunduk.
"Sekarang kak Tio di mana?" Tanya Arisa dengan lirih.
"Tadi dia ikut denganku. Tapi aku tak tahu sekarang dimana." Jawab Marcel mengedikan bahunya dengan santai. Arisa beranjak lalu berlari keluar dan ia berniat mencari Tio di dalam mobil. Barang kali Tio bersembunyi darinya di sana. Namun saat ia keluar rumah, pandangannya tertuju pada pria yang tengah tertidur di kursi teras dengan terduduk dan menopang pipinya dengan tangan. Terlihat alisnya berkerut ketika ada angin menerpa wajahnya. Sekali lagi Arisa mencoba menilik wajah Tio, kemudian ingatan saat kecil dulu mulai terlintas di ingatannya. Terlihat pula kini Tio mengerjapkan mata lalu melirik pada Arisa sesaat. Lirikannya masih seperti sebelumnya, dingin dan datar.
"Apa? Kau mau membalas tamparanku?" Tanya Tio kembali menutup matanya.
"Harusnya kau meminta maaf padaku." Balas Arisa membuat Tio beranjak lalu menghela nafas dalam sesaat. Ia menghampiri Arisa, dan Arisa sendiri mundur beberapa langkah karena takut jika Tio akan menamparnya lagi. Namun, siapa sangka, Tio tiba-tiba memeluk Arisa dengan erat.
"Nah... kan kalau akur enak lihatnya." Ucap Marcel dari dekat pintu.
"Sebagai permintaan maaf kakak, kakak akan mempertemukan kamu dengan seseorang." Tutur Tio selanjutnya. Ia melepaskan pelukannya dari Arisa, lalu Tio kembali duduk di samping Marcel yang memilih diam dan tak ingin ikut campur urusan mereka.
__ADS_1
"Tak apa kak. Aku sudah tak mau bertemu dengan bunda."
"Memangnya aku bilang itu bunda?"
"Terus?"
"Ada.... nanti juga kau tahu. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya. Apa kau tak ingin bertemu bunda?"
"Aku tak tahu kak. Rasanya aku takut jika bunda tak ingin bertemu denganku."
"Mengapa berpikir begitu?"
. Beberapa hari kemudian, Raisa yang sudah mendapatkan izin dari Tio dan Fariz, ia datang menemui Sarah yang kini tengah berada di rumahnya. Saat Reza membawa Raisa memasuki rumah, terlihat Sarah yang kebetulan tengah duduk di sofa ruang keluarga pun beranjak dari duduknya. Ia menatap penuh haru pada wajah dari sosok gadis yang ia rindukan. Perlahan ia mendekati Raisa, lalu meraih wajahnya dengan tak bisa menahan air mata yang berderai dari kelopak matanya.
"Putri. Kau menemukan bunda? Kau marah pada bunda? Kenapa kesini? Dari mana kau tahu bunda masih disini? Apa dari Tio?" Tanya Sarah dengan beruntun, Raisa hanya meraih tangan Sarah yang masih membelai pipinya. Ia pun merasa terbawa suasana, air matanya ikut berderai pelan menatap kedua mata yang begitu hangat menatapnya. Ia sejenak berpikir, rasanya tak mungkin jika Sarah tidak menyayangi Arisa, dari tatapan matanya jelas Sarah sangat menyayanginya.
"Susah aku duga. Bunda sebenarnya sangat menyayangi Aris. Bunda tak ingin jauh dari Aris." Ucap Raisa berhasil menyadarkan Sarah dari dugaannya.
"Ka-kau bukan Putri?"
__ADS_1
"Aku Putri. Raisa Daviana Putri. Kakak kembar dari Arisa Fandhiya Putri. Namaku juga Putri. Dan aku juga merupakan kakak seayah dari Nadhira Permata Putri. Kenapa bunda bertanya?" Sontak Sarah menggeleng pelan lalu sedikit menjauh dari Raisa. Ia benar-benar merindukan Arisa, sampai saudarinya saja ia anggap sebagai dia.
"Aku tak tahu perjanjian apa yang sudah bunda dan kak Tio buat, tapi aku ke sini ingin membawa bunda pada Aris. Aku tak peduli akan bagaimana kedepannya, yang jelas aku tak mau terus menerus melihat Aris bersedih karena mencari keberadaan bunda. Tolong... Rais ingin bunda menemui Aris. Sebentar saja. Atau hadir dalam pernikahannya pun mungkin akan membuat Aris bahagia. Permintaannya hanya satu, Aris ingin bertemu dengan bunda sebelum atau saat menikah."
"Apa Tio tidak memberitahumu tentang perjanjian yang kami buat?"
"Dan apa bunda begitu egois sampai bunda membohongi perasaan bunda sendiri? Bunda. Rais tahu, bunda sangat merindukan Aris. Dan bunda juga menyayanginya dengan tulus selama Aris tinggal bersama bunda kan?"
"Raisa... kau tak tahu apa-apa."
"Iya. Aku memang tak tahu apa-apa. Tapi, sebagai kakak, aku ingin melihat adikku bahagia."
"Maaf Raisa. Tapi kalian masih punya orang tua. Aku tak berhak berada di sampingnya sekarang. Waktu kebersamaan kami sudah selesai. Sekarang biarkan ibumu yang sepenuhnya berperan sebagai ibu untuknya. Aku tak ingin jika masih di sebut sebagai perebut kebahagiaan orang. Asal kamu tahu Raisa. Aku tak pernah merebut ayahmu. Aku tak tahu jika dulu ayahmu sudah menikah."
"Iya bunda aku mengerti. Jadi, aku mohon. Datanglah ke pernikahan Aris. Dan kami tak akan mengatakan hal yang mungkin bisa membuat bunda sakit hati. Tak akan bunda."
"Tidak Raisa. Aku minta maaf. Tapi, sebutan itu pasti akan terus melekat di benak orang-orang terhadapku."
"Jika bunda tidak datang, Aris berniat melepaskan organ hatinya dan mengembalikannya pada kalian." Sarah mendadak tercengang mendengar penuturan Raisa.
__ADS_1
-bersambung