
. Rayyan terdiam tak membalas pelukan Arisa. Mengapa menjadi Arisa yang meminta maaf? Rayyan perlahan mengelus rambut Arisa dengan lembut.
"Maaf.." lirih Rayyan. "Tak seharusnya juga aku berbicara seperti itu. Hatimu pasti sakit kan? Aku tak bermaksud." Lanjut Rayyan yang sangat merasa bersalah. Arisa mendongak kemudian menggeleng menanggapi perkataan Rayyan.
"Ehem... dilarang pacaran bos..." cetus Daffa ketika melewati keduanya. Arisa dengan cepat menarik diri sedikit menjauh dari Rayyan.
"Kau iri kan?" Tanya Rayyan melirik sinis pada Daffa yang kini berdiri disamping Arisa.
"Oh jelas. Arisa ini calon pacarku yang tertunda. Dan kau malah merebutnya dariku."
"Aku tidak merebutnya darimu. Aku dan Risa sudah di takdirkan."
"Kau percaya diri sekali tuan Pratama."
"Jelas aku percaya diri. Karena aku tak akan membiarkan siapapun menyentuh Risa."
"Wah..... aku takuuutttt.." ejek Daffa yang kemudian berlalu meninggalkan keduanya.
"Mereka sangat terang-terangan mengungkapkan perasaan. Berbeda denganku dan Rais. Aku yang bilang akan menjauhi Aray, tapi malah semakin dekat, bahkan aku juga tak ingin jauh dari Aray. Apa Raisa baik-baik saja?" Gumam Arisa yang tanpa sadar akan panggilan Rayyan di depannya.
"Kau melamun?" Tanya Rayyan mengibaskan tangannya didepan wajah Arisa.
"Maaf."
"Sudah... yu ke kelas. Nanti kak Seno bisa ceramah jika kita telat." Ucap Rayyan ditanggapi anggukan oleh Arisa. Kembali Rayyan membawakan barang-barang Arisa dengan percaya diri. Sesekali mengobrol dan becanda ria tanpa mempedulikan orang-orang sekitar yang termangu melihat keduanya tersenyum dan tertawa. Karena bagi mereka itu adalah momen yang sangat langka. Beberapa mahasiswa secara diam-diam mengabadikan momen itu dan mempostingnya ke sosial media.
Sampai dikelas, rasanya sesak dan sepi tak ada penghuni bangku yang berada di sampingnya. Mengingat Wina yang pergi entah kemana, Arisa kembali memasang wajah yang menyedihkan.
Ketika Arisa duduk, seketika semua teman kelasnya mengerumuni membuat Rayyan tersingkir.
Pertanyaan-pertanyaan mulai secara acak terlontar bak sekumpulan reporter yang bertanya pada seorang artis yang tengah naik daun.
"Hei...." Seno menggebrak meja saat panggilannya pada sekumpulan anak-anak itu tidak mendengar. Seketika semua menjadi diam dan menoleh bersamaan menatap Seno.
"Kembali ke kursi kalian, atau kelas ini aku bubarkan." Ucap Seno dengan aura dingin yang mencekam. Baru kali ini mereka melihat sisi lain dari Seno yang diketahui sangat ramah itu.
. Sementara di rumah sakit, Dimas sibuk memeriksa apa yang salah dengan Raisa. Terlihat Tio mondar-mandir diluar pintu UGD.
"Rais... semoga kau baik-baik saja. Jangan terus membuat kakak khawatir karena kalian. Bagaimana kakak akan meninggalkan kalian dengan tenang jika kalian masih sakit-sakitan seperti ini." Gumam Tio.
"Tio." Panggil Dimas membuyarkan lamunan Tio.
"Bagaimana?" Tanya Tio menghampiri Dimas.
"Adikmu baik-baik saja. Hanya demam saja. Dan..."
"Dan?" Tio menyernyit karena Dimas menggantungkan ucapannya.
"Dan... apa Arisa baik-baik saja?" Tanya Dimas ragu dengan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Hadeuhhh... kau urus saja dulu Raisa Dimaaasss...." geram Tio meremas jemarinya sendiri.
"Iya iya pak Tio yang terhormat. Aku akan memindahkan Raisa ke ruang inap." Delik Dimas.
. Siang harinya, Arisa terdiam menatap makanan didepannya. Hati tak karuan, perasaannya tak nyaman.
"Kenapa?" Tanya Rayyan yang menyadari sikap Arisa yang lebih banyak diam saat ini. Walau sebenarnya memang Arisa pendiam.
"Perasaanku tidak enak Aray..." jawab Arisa.
Tiba-tiba, segerombolan mahasiswi menghampiri Arisa dan Rayyan ke mejanya. Keduanya tampak heran dengan kedatangan para gadis dari kelas lain.
"Rayyan... apa kau dan Arisa berpacaran?" Tanya Alice, gadis yang dikenal dengan kecantikannya di kampus itu.
"Tidak..." jawab Rayyan polos membuat Arisa semakin lekat menatap makanannya. Pikirannya menjadi semakin tak karuan, dan berpikir bahwa Rayyan memang main-main dengan perasaannya.
"Lalu ini apa artinya?" Tanya Alice lagi seraya menunjukan potonya dan Arisa yang tengah becanda ria di lorong kampus pagi tadi. Tak di sangka, postingan itu kini menjadi perbincangan hangat dimana-mana. Pasalnya Rayyan yang sangat dingin dan cuek pada perempuan, kini terlihat manis didepan Arisa yang dikenal lebih dingin dari Rayyan.
Arisa beranjak dari duduknya, lalu merapikan barang-barang yang semula tersimpan dimeja.
"Mau kemana?" Tanya Rayyan merubah raut wajahnya menjadi kesal.
"Aku tak ingin mengganggu obrolan kalian." Jawab Arisa yang sudah membelakangi Rayyan dan enggan kembali menoleh. Sudah dipastikan Arisa kini tengah cemburu pada Rayyan yang di kerumuni oleh gadis lain didepannya.
"Risa tunggu.." Rayyan ikut beranjak namun ditahan oleh Alice membuat Arisa semakin kesal.
"Risa berhenti." Tegas Rayyan hingga kantin menjadi hening dan Arisa terhenti dari langkahnya.
"Dan kau siapa?" Tanya Rayyan dengan menatap dingin Alice. "Aku tak mengenalmu, dan kau seakan tahu tentangku. Risa memang bukan pacarku. Dia calon istriku." Bisik Rayyan langsung ke telinga Alice. Rayyan kemudian menyusul Arisa yang masih mematung ditempatnya.
"Kau marah?" Tanya Rayyan meraih kepala Arisa yang menggeleng menanggapinya.
"Lalu? Mengapa kau pergi?"
"Maaf Aray.. sebaiknya jangan terlalu dekat denganku." Arisa berlalu pergi seakan menghindari kontak dengan Rayyan. Rayyan tersenyum karena menebak bahwa Arisa benar-benar cemburu. Dan kalimat terakhir yang ia pertegas pada Alice tidak dilontarkan dengan suara tinggi hingga Arisa tak bisa mendengarnya. Rayyan terus mengikuti Arisa. Sampai dirinya kembali dibuat kesal karena melihat Arisa yang beberapa kali dimintai poto oleh senior dan juniornya. Hingga ada salah satu senior yang tak sengaja menabrak Arisa. Arisa yang terjatuh merasakan sebuah rasa sakit di dadanya. Rasanya seperti sayatan, luka jahitannya belum benar-benar kering. "Ugh...." Arisa menekap-nekap tangan pada dadanya dengan pelan. Namun rasa sakit itu tak berkurang. Arisa menoleh pada Rayyan yang terlihat panik saat meraih bahunya. Dengan sigap, Rayyan kembali membawa Arisa ke ruang kesehatan di dekapannya.
Bian yang merasa bersalah, lalu mengikuti Rayyan di belakangnya.
"Maaf... kalian diluar dulu." Ucap dokter yang berjaga di ruang kesehatan.
"Rayyan dan Bian saling pandang dengan tatapan tajam. Terlihat kekesalan Rayyan dari deru nafasnya. Bian yang tak sempat meminta maaf, enggan beranjak dari duduknya.
"Sial." Cetus Rayyan ketika melihat jam ditangannya.
"Ray..." panggil Daffa yang berlari menghampirinya.
"Aku dengar Aris dibawa kesini?" Lanjut Daffa menerawang pada pintu yang tertutup.
"Pak Amir sudah masuk?" Tanya Rayyan seolah mengesampingkan pertanyaan Daffa.
__ADS_1
"Belum. Tapi kita harus segera ke kelas." Ucap Daffa.
"Baiklah... aku akan menyuruh kak Seno untuk menunggu Arisa." Rayyan mengambil ponselnya lalu mencari nama Seno.
"Tapi Ray... kak Seno ada jadwal di kelas lain." Ucap Daffa menghentikan jari Rayyan.
"Terus?"
"Apanya yang terus? Kau ijin lah..." cetus Daffa setengah berteriak.
"Biar aku saja yang menjaganya. Kau kembali saja ke kelas. Pak Amir type dosen yang tak mentolelir alasan apapun. Jadi jangan khawatir pada Arisa." Ucap Bian menimpali obrolan dan kepanikan Daffa dan Rayyan. Meskipun tidak percaya, namun Rayyan menyetujui dengan yang dikatakan Bian.
"Jika sampai aku mendengar kau macam-macam pada Risa, kubunuh kau." Ucap Rayyan sebelum berlalu.
"Sadar Aray.... dia senior kita..." ucap Daffa ketika mengikuti langkah Rayyan.
. Dokter keluar dan memanggil Bian. Bian masuk dan menemui Arisa yang terlihat sudah tenang meskipun wajahnya menunjukan bahwa Arisa menahan dengan paksa rasa sakit di dadanya.
"Temanmu sudah masuk kelas." Ucap Bian.
"Ya ampun.. aku harus ke kelas kak. Atau pak Amir akan--"
"Tidak.. jangan. Lihat kondisimu. Jangan memaksakan. Pak Amir bisa mengerti jika melihat kondisimu yang seperti ini." Ucap Bian menyela dan menahan Arisa agar tetap diam disana.
"Sebelumnya, aku minta maaf. Aku tak sengaja menabrakmu." Bian menunduk dan memberanikan diri berbicara dengan gadis yang selama ini menjadi idola rahasia dikampusnya itu.
"Tidak kak. Aku yang minta maaf. Jika saja aku tak menghalangi jalan, mungkin kakak tak akan menabrakku." Ucap Arisa dengan melempar senyum pada Bian. Seketika wajah Bian memerah melihat betapa manisnya Arisa saat tersenyum. Pantas saja seniornya dulu menyukai Arisa dan mengejarnya mati-matian.
"Tapi, aku bersyukur dengan kejadian ini." Ucap Bian dengan nada pelan.
"Jika ini tak terjadi, aku tak akan bisa mengobrol denganmu seperti ini." Lanjut Bian.
"Kakak bukannya sedang KKN?" Tanya Arisa menghindari obrolan yang membuatnya tak nyaman itu.
"Aku sedang malas ke lokasi. Dan kebetulan aku ada urusan di kampus." Jawab Bian.
"Tapi harusnya jangan seperti itu kak. Bagaimanapun, kakak harus mengikutinya. Jangan menyia-nyiakan kesempatan. Banyak yang ingin seperti kita, kuliah, lalu KKN, dan wisuda dengan gelar sarjana. Kakak seperti ini menunjukan bahwa kakak tidak serius kuliah." Ucap Arisa menatap lekat pada sesuatu didepannya. Mengingat betapa susah payahnya Wina untuk kuliah. Bian tertegun mendengar ucapan Arisa. Sangat jarang anak orang kaya berpikir seperti Arisa. Karena kebanyakan mereka yang berkecukupan, kuliah hanya dijadikan untuk ajang permainan, tongkrongan, dan bahkan sebagai ajang untuk memamerkan harta kekayaan orang tua mereka. Arisa yang diketahui sebagai putri bungsu dari Yugito sang pemilik perusahaan Artaris, selalu berpenampilan sederhana dan tidak mencolok. Tak sedikit orang beranggapan bahwa Arisa adalah anak yang tak dianggap oleh keluarganya. Berbeda dengan Raisa yang memperlihatkan martabat putri pertama Yugito. Dilihat dari penampilannya yang sangat anggun dan berkelas.
"Pantas saja kak Bayu sangat mencintaimu." Ucap Bian tersenyum dengan lebar.
"Kakak kenal dengan kak Bayu?" Tanya Arisa dengan antusias.
"Tentu saja. Aku masuk club basket dan kak Bayu kaptennya saat itu. Aku meremehkan usahanya untuk mengejarmu. Tapi ternyata, dia tidak menyerah sampai sekarang." Arisa tersenyum mengingat kebenaran yang di ucapkan Bian.
"Tapi sayang. Dia tak bisa melihatmu tersenyum seperti ini."
"Dia lebih dulu melihatku tersenyum dari pada kakak." Jawab Arisa menarik senyuman Bian.
-bersambung
__ADS_1