
. Esoknya, sesuai keinginan Arisa, Yugito mengizinkannya menjadi sekertaris satu minggu untuk membantu pekerjaan Wina. Kemanapun Yugito pergi, Arisa selalu ikut seperti anak berusia 5 tahun. Saat makan, meeting, bertemu klien, keliling gedung, sampai ke luar kota pun ia ikut. Yugito merasa tengah liburan bersama dengan putrinya. Dan di saat itu juga, Wina merasakan rasanya punya seorang saudari dan ayah. Dimana Yugito memperlakukan Wina seperti putrinya sendiri. Dan ini kali pertama bagi Wina mengikuti perjalanan bisnis sampai ke luar kota. Karena semenjak ia menjadi sekertaris direktur, Yugito tak pernah ada jadwal ke luar kota, hanya Tio dan Raisa saja yang menjalaninya.
. Hari ke empat, Arisa yang kembali ke kantor pun di beri tugas untuk menemui tamu di ruang meeting C karena Yugito dan Tio sedang meeting di ruangan lain.
"Maaf sudah membuat anda menung-- kak Reza?" Pekiknya saat mendapati siapa klien yang di maksud oleh ayahnya. Segera Arisa kembali keluar tanpa ingin berlama-lama dengan Reza. Reza beranjak namun tubuhnya terasa kaku saat ia ingin mengejar Arisa.
"Mengapa aku diam? Ah sial. Kakiku tak bisa aku gerakkan." Batin Reza hanya bisa merutuki dirinya sendiri.
. Tio kembali dari ruang meeting bersama Raisa dan bergegas ke ruangan Yugito untuk menemui ayah mereka. Namun terlihat Tio menyipitkan matanya saat melihat Arisa ada di meja sekertaris.
"Dimana Wina? Kenapa kau yang disini? Bukankah kau di minta ayah untuk menemui klien?" Tanya Tio yang tak bisa lagi menahan diri untuk bertanya.
"Sudah di gantikan Wina." Jawab Arisa dengan ketus dan masih fokus pada komputer di depannya.
"Cih... Kalau orang sedang bicara itu perhatikan. Apa ibu tirimu tidak mengajarimu sopan santun hah?" Geram Tio benar-benar sudah tak bisa menahan emosinya. Sontak Arisa menghentikan aktivitasnya dan beranjak dan menatap tajam pada Tio.
"Tatapan apa itu hah? Apa didikan begini yang kau dapat selama 4 tahun hidup dengan ibu tirimu?" Tanya Tio lagi, dan 'plak' Raisa menutup mulutnya karena terkejut. Ia pikir Arisa berjalan mendekati Tio itu bukan untuk menamparnya, sehingga ia memberi jalan untuk Arisa.
"Aris..." lirih Raisa masih tak mempercayai tindakan Arisa yang begitu berani menampar kakaknya.
"Kau berani menamparku?" Teriak Tio dengan mengangkat tangannya hendak membalas tamparan Arisa.
"Tio." Teriak Yugito dari ujung lorong. Langkahnya semakin cepat dan ia lagi-lagi menarik anak-anaknya masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Sudah ayah katakan jangan pernah berbuat kekerasan disini. Kau ini pimpinan Tio!" Tegur Yugito masih menahan emosinya yang jelas sudah hampir meluap.
"Aris yang menamparku." Elak Tio yang tak ingin di salahkan.
"Kalian itu sudah dewasa. Kenapa tidak di bicarakan baik-baik. Dan kau Aris. Jangan karena kau anak bungsu, jadi kau bertindak semaumu. Kenapa kau menampar kakakmu hah? Dia itu lebih tua darimu." Ketiganya menunduk menghadapi teguran keras dari Yugito. Arisa dan Tio saling memalingkan wajah dan Raisa sendiri tak tahu harus memihak pada siapa, ia hanya bisa menunduk saja di tengah-tengah antara mereka.
"Rais. Kau temui klien yang sekarang di temui Wina!" Titah Yugito beralih pada Raisa dengan suara yang sudah sedikit tenang.
"Baik ayah." Ucapnya menanggapi, kemudian ia beranjak dan meninggalkan ruangan itu dengan menghela nafas lega.
"Aris...." belum sempat melanjutkan, ucapan Yugito menggantung saat tahu Arisa hendak bicara.
"Klien itu kak Reza. Apa aku masih ada alasan untuk menemuinya? Bukankah kalian yang menyembunyikannya dariku?" Mendengar pertanyaan Arisa tersebut, terlihat Tio dan Yugito terbelalak tak percaya.
"Darimana dia tahu aku menyembunyikan keberadaan mereka?" Tanya Tio pada Yugito dengan wajah panik, lalu ia bergegas menuju ruangan meeting dimana Reza berada.
"Reza. Apa yang kau lakukan?" Tanya Tio setelah ia membuka pintu dengan kasar.
"Tio. Apa Putri membenciku?" Tanya Reza terlihat tak bersemangat.
"Jelas. Kau mengatakan hal yang membuatnya berniat bunuh diri. Kalau tidak karena Rais, dia pasti sudah menjalani operasi pelepasan organ hati sekarang. Atau mungkin kemarin? Atau kemarinnya. Dia sangat terpuruk menganggap kau dan ibumu hanya menyayanginya karena kalian menganggap Aris itu Nadhira. Kau tega Za. Adikku menyayangi kalian sepenuh hatinya. Tapi kalian.... arggghhhh kenapa aku punya saudara tiri yang bodoh seperti kau Reza?" Geram Tio kesal sendiri dengan menghempaskan tangannya kasar.
"Kau dan bunda yang membuat perjanjian. Aku hanya memberi jalan saja agar adikmu tidak mencari keberadaan kami lagi."
__ADS_1
"Tapi tidak dengan seperti itu caranya Za. Kau sendiri yang menyaksikan perjanjianku dengan bunda kan?"
"Iya dan seharusnya kau tidak menyalahkanku Tio. Kau sendiri yang meminta agar adikmu tinggal bersamamu kan?"
"Lalu sekarang bagaimana? Aris juga marah padaku Za."
Raisa dan Wina hanya terdiam menyaksikan perdebatan kedua laki-laki di depan mereka yang sepertinya tak menemukan jawaban atas pertanyaan itu.
"Kak Tio, kak Reza, saranku sebaiknya kalian pertemukan Aris dengan bunda. Dia menginginkan pertemuan itu sebelum pernikahannya. Kak Tio, mau bagai manapun, Aris sangat menyayangi bunda, dan kakak sendiri juga bisa melihatnya kan? Aku tahu perasaan Aris bagaimana. Dia pasti sangat bahagia saat di perlakukan baik oleh bunda, secara disini dia selalu di abaikan oleh mama. Masalah perjanjian kak Tio dengan bunda, menurutku sebaiknya lupakan dulu. Sekarang, pertemukan saja mereka untuk kebahagiaan Aris sendiri. " Tutur Raisa berharap Tio dan Reza mengerti.
"Sekarang adikmu dimana?" Tanya Reza pada Tio yang sama-sama mempertimbangkan usul Raisa.
"Dia pergi. Katanya mau pulang." Jawab Tio pun berpikir sama dengan Reza. Lalu, keduanya bergegas keluar ruangan dengan kompak meski tak ada lagi yang berbicara.
. Di sisi lain, Arisa menepikan mobilnya di sebuah taman dan ia menghela nafas sejenak untuk menenangkan pikirannya. Kemudian ia turun dan berjalan-jalan di sepanjang jalan yang mengelilingi taman tersebut. Melihat ada kursi kosong, ia duduk dan menatap dalam pada apa yang ia lihat di depan.
"Jangan melamun sendirian. Bagaimana jika kau kerasukan hantu." Tegur seseorang yang duduk di sampingnya. Sontak Arisa membuyarkan lamunannya dan menoleh ke arah orang tersebut.
"Hai! Apa kabar?" Tanya orang itu lagi dengan melambaikan tangan seraya melempar senyum yang begitu manis. Namun Arisa masih terbelalak tak percaya ada orang ini di depannya.
"Kak Marcel?" Pekiknya membuat Marcel menutup kedua telinganya.
-bersambung
__ADS_1