
. "Maaf saya terlambat." ucap Tio kemudian duduk dengan Diana di sampingnya. Fabio mengajak Arisa menuju ruang keluarga agar tak terlibat obrolan yang membuat Arisa merasa sakit hati.
"Kenapa kau diam saja?" Tanya Fabio yang duduk di samping Arisa. "Kau cemburu kan?" Lanjutnya. Seketika itu, Arisa menoleh kasar pada Fabio.
"Kita akan menikah setelah Rayyan dan kakakmu menikah. Atau mau bersamaan?" Tanyanya kemudian. Arisa hanya diam tak menanggapi apapun pertanyaan Fabio. Mengingat ucapan Oma, tak terasa air matanya lagi-lagi mengalir di pipi Arisa.
"Kau menangis karena Rayyan?" Tanya Fabio yang mengusap pipi Arisa. Dengan cepat Arisa menyeka agar tak terus menerus berderai.
"Aku hanya merindukan Rama. Tapi ini biasa." Jawabnya tersenyum pada Fabio. Baru kali ini Fabio melihat Arisa tersenyum padanya meskipun sebuah senyuman paksa.
"Rama?"
"Mendiang pacarku." Ucap Arisa cepat. Fabio merubah tatapannya menjadi dingin dan menekan membuat Arisa memalingkan wajahnya.
"Apa pantas membicarakan pria lain didepan calon suamimu?"
"Kenapa? Dia sudah meninggal. Dia tak akan membawaku pergi." Cetusnya berhasil membuat Fabio mendesah kesal.
"Aku tak suka. Aku ada didepanmu, tapi kau malah membicarakan pacarmu yang sudah tiada."
"Apa salahnya? Aku mencintainya."
"Ohhh kau lupa dengan perjanjiannya sayang?" Bisik Fabio menghentikan pemberontakan Arisa.
Terlihat semua anggota keluarga beralih ke ruang tamu untuk membahas masalah perjodohan Raisa dan Rayyan. Dan tatapan tajam Rayyan begitu menusuk ketika menatap Fabio yang tengah merangkul pundak Arisa di ruang tengah.
Yugito membuka kotak perhiasan itu dan mendapati kalung Phoenix yang mirip dengan yang dimiliki Arisa.
"I-ini...." Yugito menoleh pada Oma yang tersenyum menanggapi pertanyaan Yugito meskipun tak terlontar.
Lalu Yugito melirik pada Raisa yang ikut terkejut dengan apa yang ia lihat. Bukankah itu kalung Arisa? Pikir Raisa yang tak menebak apa pun selain itu.
"Sebagai menantu yang terpilih, kamu berhak memakainya." Ucap Oma yang meminta kembali kalung dari tangan Yugito lalu memakaikannya pada Raisa. Ia sesaat menyernyit saat menatap liontin Phoenix yang terlihat ada yang janggal.
"Wahhh cantik sekali." Ucap Oma menatap kagum pada Raisa. Raisa hanya tersenyum menanggapi pujian Oma.
Sudah diputuskan tanggal pernikahan Raisa dan Rayyan. Meskipun Rayyan merengek belum siap menikah dan ingin melanjutkan study S2 nya, namun Oma menganggap bahwa itu hanya alasan Rayyan saja. Karena jika dengan Arisa, menikah besok pun mungkin Rayyan akan setuju.
Saat keluarga Danu kembali ke rumah, Oma melempar gelas setelah ia meminum sedikit isinya.
"Katakan dimana yang asli." Ucapnya penuh penekanan. Danu dan Sonya saling pandang mengapa secepat itu Oma menyadari bahwa kalung yang mereka berikan itu palsu.
"Yang asli apa maksud ibu?" Tanya Sonya bersikap seakan tak tahu apa-apa.
__ADS_1
"Jangan pura-pura Sonya. Kamu pikir ibu tak tahu kalung itu palsu? Yang asli memiliki warna yang pekat, dan berlian yang digunakan berwarna sedikit kebiruan. Kalian pikir bisa membodohi ibu?" Lagi-lagi Oma berteriak keras membuat Sonya menunduk lesu.
"Saya tidak menukarkan dengan kalung manapun. Saya selalu menyimpannya di kotak itu." Jelas Sonya dengan suara sedikit pelan.
"Benarkah? Jika sampai kau terbukti berbohong, kau akan tahu akibatnya." Ucap Oma kemudian berlalu meninggalkan Sonya dan Danu yang kembali saling pandang.
. Semakin hari, Arisa semakin gelisah dengan apa yang dikatakan Fabio. Ia tak cukup kuat menghadapi hari pernikahan Rayyan dan kakaknya. Sampai ia memutuskan untuk bertindak bodoh. Ia membawa sebuah tas plastik, kemudian ia mengemas beberapa pakaiannya. Dengan memberanikan diri, Arisa keluar dari kamar karena memang sudah tak terkunci lagi.
"Mau kemana?" Tanya Yugito mengejutkan Arisa yang baru menginjak lantai bawah.
"A-anu... A-Aris mau ke rumah Citra." Jawabnya gugup.
"Apa itu yang kau bawa?" Yugito beralih melirik apa yang dibawa Arisa.
"I-ini.... katanya Citra membutuhkan baju untuk interview kerja, ja-jadi Aris meminjamkannya." Jawabnya lagi yang tak bisa menahan gugupnya.
"Oh.." hanya itu, Yugito berlalu kedalam ruang kerja setelah mengatakan kata singkat itu. Jelas terlihat kini Yugito sudah tak mempedulikan Arisa lagi. Biasanya, Yugito selalu menasehati Arisa jika akan pergi kemanapun.
. Hingga beberapa hari setelahnya, Arisa selalu membawa barang-barang yang masih ia pakai. Dan hari ini, ia membawa berkas-berkas penting dipelukannya.
"Kemana?" Lagi, Yugito selalu bertanya rutin saat Arisa lewat didepannya.
"A-Aris.. mau fotokopi Ijazah. U-untuk kerja." Kini Arisa menjawab dengan menunduk. Rasanya tidak mungkin jika Yugito memintanya untuk bekerja di perusahaannya. Mengingat ia sudah mengecewakan Yugito, Arisa tak ingin berharap lebih.
"Saat pulang, ayah tunggu di ruang kerja." Ucapnya dengan berlalu memasuki ruang kerja.
"Apa ayah masih makan?" Tanyanya pelan. Arisa melihat-lihat isi ruangan dan ia terpaku pada sebuah map yang sepeti di sembunyikan. Ia membuka map dengan hati-hati, dan termangu mendapati surat penyerahan perusahaan dari atas nama Yugito pada seseorang bernama ALI FAHREZA RAMADHAN. Namanya hampir mirip dengan Rama. Pikir Arisa sesaat. Kemudian Arisa mengingat pemilik nama itu adalah pria yang ia temui di taman setelah ia di operasi.
"Bandung" lirihnya menyernyit dan kemudian sejenak berpikir sesuatu. Arisa mengeluarkan ponselnya dan memfoto berkas penting yang ia pegang sekarang.
'Ceklak' suara pintu terbuka membuat Arisa terlonjak karena terkejut. Sesegera mungkin ia menyembunyikan kembali map pada rak didepannya. Kemudian ia berpura-pura melihat-lihat buku yang tersusun rapi.
"Sedang apa?" Tanya Yugito yang seakan tak ada pertanyaan lain di benaknya. Pertanyaannya tidak membuat Arisa merasakan kehangatan dari seorang ayah. Ia benar-benar merasa tak dibutuhkan.
"Ha-hanya melihat-lihat."
"Duduk." Titah Yugito singkat. Dan dengan patuh, Arisa duduk di sofa berhadapan dengan Yugito.
"Ini kunci rumah, dan proyek perusahaan yang harus kau urus." Ucap Yugito tanpa basa basi dengan meletakkan sebuah kunci sebagai tanda penyerahan harta dan aset bagian Arisa. Arisa menyernyit tak mengerti dengan apa yang dikatakan Yugito.
"Setelah menikah, kau dan Fabio akan--"
"Ayah mengusirku?"
__ADS_1
"Apa yang kau bicarakan?"
"Kenyataan kan? Ayah masih percaya bahwa aku sudah ternodai. Padahal ayah tak tahu kebenarannya." Ucap Arisa sedikit meninggikan suaranya.
"Aris.. ayah tidak--"
"Sudahlah ayah. Jangan memikirkan Aris. Pikirkan persiapan pernikahan Rais saja. Setelah Rais menikah, Aris pun mungkin akan menikah, dan ayah akan tenang tanpa ada Aris." Ucapnya beranjak dan berlalu meninggalkan Yugito begitu saja.
"Ayah sendiri yang mengajarkanku menjadi anak durhaka. Aku yang ingin menyayangi ayah sepenuh hati, tapi ayah sendiri seakan ingin aku menghilang dari hadapan ayah." Gumam Arisa terus berjalan menaiki tangga.
"Ayah harap kau tak menikah dengan Fabio nak. Biarkan rumor itu kembali tersebar asalkan kau bahagia menjalani hidupmu." Gumam Yugito memejamkan matanya dan menghela nafas berat mengingat Arisa yang semakin hari semakin sulit diatasi. Terasa Arisa kini kembali seperti dulu. Sikap dingin dan tak mempedulikan dirinya sendiri.
. Sampai akhirnya hanya tinggal menghitung hari, Arisa mengetahui bahwa Diana merancang gaun pengantin untuk Raisa dengan sangat mewah dan istimewa. Hatinya semakin berdenyut sakit. Pikirannya semakin buntu menghadapi hari bahagia kakaknya, namun membuatnya semakin tersiksa. Bayangan kenangannya bersama Rayyan lebih menyiksa dari pada dengan Rama.
Tepat 3 hari sebelum acara pernikahan Raisa, Fabio mengatakan bahwa ia dan keluarganya akan resmi melamar Arisa malam itu. Dan kabar itu di sampaikan oleh Rahma pada Arisa yang kini selalu mengurung diri di kamar.
Arisa menatap lekat pada pintu balkon dengan menimbang apa yang harus ia lakukan. Pilihannya tinggal 2. Mati, atau kabur.
Hingga malam yang di tunggu Fabio telah tiba. Ia dan keluarganya berangkat menuju kediaman Yugito. Semua menyambut hangat kedatangannya. Tak disangka, niat ingin menghancurkan keluarga Putra, Fabio malah terbawa perasaan dengan kehangatan keluarga Putra. Fabio mencari-cari sosok gadis pengisi hatinya yang sedari tadi belum terlihat. Tiba-tiba, bi Ina berlari menghadap Rahma dengan masih bersikap sopan.
"Bu... tuan besar..." lirihnya dengan gelisah.
"Ada apa bi?" Tanya Rahma dengan nada yang tenang.
"Non Aris Bu..." jawabnya masih gelisah seakan tak tahu harus berkata apa.
"Kenapa dengan Aris bi?" Rahma ikut gelisah dan khawatir melihat raut wajah bi Ina yang benar-benar serius.
"Non Aris tak ada di kamar. Barang-barangnya pun tak ada Bu." Semua terkejut dan Yugito bergegas setengah berlari ke kamar Arisa. Benar saja, pintu lemari di biarkan terbuka dan terlihat ada sebuah kotak dan kertas di atas ranjang.
[Untuk ayah dan mama.
Maafkan Aris. Aris mengecewakan ayah untuk yang kesekian kali. Maafkan Aris juga karena Aris pergi, mungkin rumor Nadhira adalah adik Aris akan tersebar dan itu mungkin akan sangat melukai hati mama. Aris benar-benar tak bisa menghadapi hari-hari Aris yang menyaksikan Aray dengan Rais bersama. Memang bodoh jika hanya menuruti kata cinta, tapi itu yang dirasakan Aris.
Mama.. maafkan Aris yang pergi tanpa pamit pada mama.~]
Raisa membacakan isi suratnya dengan suara gemetar dan akhirnya ia menangis tersedu-sedu. Melihat semua aset yang di berikan pada Arisa di simpan rapi dalam kotak, seketika itu Yugito merasa dirinya paling bersalah.
"Kau kemana nak... bagaimana kau hidup jika kau tak membawa uang?" Gumam Yugito yang bergegas menyuruh bawahannya dan semua kenalannya agar mencari keberadaan Arisa. Fabio mendapati pesan dari sebuah nomor tak di kenal.
[Kak... maaf aku tak bisa menjadi istrimu.] Dan ini kali pertama Fabio merasakan sakit hati yang teramat dalam. Ia mencoba menghubungi nomor Arisa dan bahkan nomor baru itu, namun satupun tak ada yang aktif. Ia berdecak kesal lalu menyuruh semua bawahannya menyebar mencari Arisa.
Di bandara, Arisa menatap lekat pada mobil kesayangan yang mungkin akan ia tinggalkan.
__ADS_1
"Selamat tinggal."
-bersambung.