TAK SAMA

TAK SAMA
185


__ADS_3

. Selepas memberi selamat, Rayyan dan Arisa memilih untuk duduk di sebuah meja. Sejak dari hotel, Rayyan memperhatikan Arisa seperti kurang sehat.


"Kau mau ke dokter?" Tanya Rayyan seraya mengelus punggung Arisa yang menunduk di meja.


"Tidak Aray. Aku baik-baik saja. Mungkin karena kurang tidur. Jadinya kepalaku pusing." Jawab Arisa meyakinkan agar Rayyan percaya. Disaat keduanya tengah berbincang, Fabian ikut bergabung sembari menghela nafas berat dan kesal.


"Kau kenapa kak?" Tanya Arisa yang terheran akan sikap Fabian.


"Kak Fabio itu meracuni anaknya bagaimana ya? Kenapa Sherin tidak mau aku gendong. Dia bilang wajahku seperti penculik. Padahal wajahku hampir sama dengan ayahnya." Keluh Fabian melirik sinis pada Sherin yang menatapnya dari jauh.


"Apa?" Katanya dengan wajah menantang. Arisa tersenyum tipis melihat tingkah Fabian dan keponakannya. Hal itu mengingatkan dirinya pada Ghava yang sama-sama sering bertengkar.


"Oh.. kak Bian. Aku boleh bertanya?" tanya Arisa meminta izin.


"Boleh. Tanya apa?"


"Kak Bian kenapa bisa ada disini? Sejak kapan?"


"Aih kau tak tahu Aris? Aku kan kuliah S2 disini. Terus, berhubung jurusanku perhotelan dan kebetulan kak Fabio menawariku untuk mengelola hotelnya tahun lalu, jadi ya sekalian saja. Lagi pula, aku sudah betah di kota ini."


"Tapi saat kuliah di Jakarta dulu, bukankah kau mengambil psikologi?" Tanya Rayyan ikut dalam obrolan.


"Iya. Tapi, karena ada yang aku taksir di perhotelan, jadi S2 nya aku mengambil itu." Jawab Fabian dengan tertawa kikuk sembari menggaruk kepala belakangnya.


"Memang bisa?" Tanya Arisa dan Rayyan serentak.


"Bisa." Kali ini Fabian menjawab dengan memalingkan wajahnya menghindari kontak mata dengan kedua orang di depannya.


"Serius? Sepertinya ada yang kau sembunyikan." Ucap Arisa dengan melirik sinis. Kembali Fabian terkekeh dengan memasang wajah konyol.


"Kakakku yang mengurusnya. Jadi aku bisa masuk perhotelan."


"Terus pacarmu sekarang dimana?" Tanya Rayyan selanjutnya.


"Sudah menikah." Jawabnya singkat.

__ADS_1


"Hah." Pekik Arisa dan Rayyan dengan serentak.


"Tuh... yang ada di pelaminan." Fabian dengan santai menunjuk pengantin dengan tatapan matanya. Sontak Rayyan dan Arisa menoleh bersamaan menatap istri Bayu.


"Sudah ya... aku belum berfoto dengan pengantin." Ucap Fabian kemudian beranjak dan menghampiri Bayu dan istrinya.


"Apa kau paham Aray? Perempuan yang di sukainya menikah dengan kak Bayu."


"Aku juga kurang paham Risa." Keduanya masih menatap kepergian Fabian yang dirasa meninggalkan teka-teki untuk dipecahkan oleh Arisa dan Rayyan.


. Di tengah ramainya acara, Rayyan menerima sebuah panggilan telepon. Dan dengan terpaksa, ia harus pulang hari ini juga.


"Kenapa? Ada sesuatu?" Tanya Arisa ketika melihat wajah murung Rayyan setelah selesai berbincang dengan penelepon.


"Aku harus kembali sekarang Risa. Oma masuk rumah sakit. Kata bunda penyakitnya kambuh. Tapi Oma memintaku pulang. Katanya ada yang penting."


"Ya sudah kalau begitu aku juga ikut pulang. Aku akan meminta izin pada ayah sebentar." Tutur Arisa kemudian beranjak, namun Rayyan menarik tangannya sehingga Arisa tak jadi pergi.


"Tidak Risa. Kau disini saja. Aku saja sendiri yang pulang. Kau masih ada urusan disini."


"Risa..."


"Aray! Jika terpisah, aku tak siap kehilangan. Aku mau kau mengerti maksudku. Jika pun kita mati, kita mati berdua. Dan selamat pun akan berdua. Tak ada yang kehilangan. Aray... kau berjanji akan menikahiku. Tapi bersama denganku untuk pulang saja kau tak mau."


"Bukan begitu Risa. Tapi..."


"Tapi apa lagi? Kau mau beralasan apa? Tadinya kalau kau tak ikut, hari ini aku juga akan pulang sendiri." Mendengar kekesalan Arisa, Rayyan hanya bisa menghela nafas berat. Berdebat dengan perempuan itu memang membuatnya sulit bernafas. Ada saja yang membuatnya bungkam meskipun ia sudah berusaha memojokkannya.


"Ya sudah. Aku saja yang meminta izin pada ayahmu." Tutur Rayyan beranjak dan berlalu lebih dulu. Arisa yang masih berdiri di tempatnya hanya menatap konyol kepergian Rayyan.


"Dasar." Cetusnya kemudian bergegas menyusul Rayyan menghampiri ayahnya.


Setelah berbincang beberapa saat, akhirnya Yugito mengizinkan keduanya untuk pulang. Hal itu membuat Arisa tersenyum kegirangan. Setelah mengambil barang di hotel, dan melakukan check out, keduanya segera bergegas menuju bandara.


"Tak ada yang tertinggal kan?" Tanya Rayyan ketika keduanya hendak memasuki pesawat.

__ADS_1


"Tidak. Sudah semuanya." Jawab Arisa sembari kembali mengingat barang-barang pentingnya.


. Singkatnya, keduanya sampai di Jakarta dan segera bergegas menuju rumah sakit untuk bertemu dengan Oma Galuh. Sebelum itu, Rayyan menyuruh Daffa untuk membawakan barang-barang milik Arisa ke apartemen miliknya.


"Kondisinya membaik. Oma memanggilmu terus." Ucap Daffa sebelum melajukan mobil.


"Terima kasih Daf. Kau sudah menjaga Oma."


"Tidak juga. Aku hanya menjenguk. Yang menjaga Oma hanya Clara." Sontak Rayyan dan Arisa pun terkejut mendengar nama Clara di lontarkan oleh Daffa. Rayyan menarik tangan Arisa memasuki rumah sakit sesegera mungkin. Melihat Seno dan istrinya berada di depan sebuah kamar, sudah jelas itulah ruangan Oma Galuh.


Rayyan membuka pintu dengan tanpa mengetuk terlebih dahulu. Matanya membulat melihat Clara masih berada di dalam.


"Kak Rayyan." Panggilnya dengan tersenyum riang.


"Oma... Aray disini Oma." Ucap Rayyan jelas mengabaikan Clara yang duduk di seberangnya.


"Aray... mana Risa?" Tanya Oma membuat Rayyan termangu. Baru kali ini Oma memanggil Arisa dengan sebutan Risa.


"Ini Oma. Mau Oma marahi? Silahkan Oma. Tolong marahi dia demi aku ya!" Ucap Rayyan dengan merasa puas.


"Kenapa harus dimarahi?" Terlihat Oma Galuh merasa kebingungan dengan maksud Rayyan. Oma tak tahu kesalahan Arisa apa, tapi harus di marahi begitu saja.


"Oma.... Dia sulit di beritahu. Dia memaksaku untuk ikut pulang, padahal dia masih ada urusan bersama keluarganya di Jogja. Alasannya ingin bertemu Oma. Kalau di ingat lagi, besok dia bisa kan menemui Oma setelah urusannya selesai." Tutur Rayyan masih terdengar begitu kesal.


"Aray... kenapa kau menyalahkanku. Aku juga ingin menjenguk Oma. Apa salah?" Delik Arisa ikut merasa kesal. Hal itu membuat Oma tertawa kecil seraya meraih dadanya yang sedikit berdenyut.


"Sudah sudah. Kalian malah bertengkar. Kalian kesini mau menjenguk Oma atau mau ribut saja?"


"Maaf Oma." Lirih Arisa dengan menunduk menyesal.


"Clara.... kau lihat? Tak heran anak dan menantuku merestuinya sebagai pendamping untuk Aray. Dia sangat istimewa. Hanya dia yang bisa membuat Aray bersikap demikian di depan Oma." Tutur Oma Galuh pada Clara yang tersenyum tipis menanggapinya.


"Iya Oma."


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2