TAK SAMA

TAK SAMA
195


__ADS_3

. Setelah membujuk dan mengimingi dana untuk kampus, akhirnya Rayyan berhasil mencapai rencananya. Mahasiswa yang belajar di jam itu pun di minta untuk berkumpul, dan Rayyan menyeleksi beberapa dari mereka yang memiliki bakat. Lalu Rayyan yang sudah mengonfirmasi ruangan aula tidak di gunakan, maka ia membawa mereka menuju ke sana.


"Sebenarnya apa yang ingin dia lakukan?" Batin Arisa menebak-nebak apa yang sebenarnya Rayyan rencanakan.


Sampai di aula, Rayyan berdiri tepat di tengah-tengah mengulurkan tangan kanannya pada Arisa, lalu yang kirinya menyentikkan jari, dan beberapa saat kemudian terdengar alunan musik membuat para mahasiswa yang ikut pun mengambil posisi mereka, karena saat berkumpul, Rayyan bertanya lebih dulu pada mereka tentang keahlian mereka berdansa. Mereka menari berpasangan, dan saat itulah Arisa berjalan menghampiri Rayyan dan membuang rasa gugup dan malunya karena telah menggunakan fasilitas kampus. Arisa meraih uluran tangan Rayyan, lalu keduanya menari mengikuti alunan musik.


"Dansamu masih amatir sayang." Ejek Rayyan membuat Arisa menunduk malu. "Tapi kau jangan khawatir! Aku akan mengajarimu disini. Dan jangan kaku saat hari pernikahan nanti." Lanjutnya dengan penuh percaya diri.


"Memangnya mau berdansa?" Tanya Arisa yang terlihat terkejut, ia tak tahu bahwa akan ada acara dansa di acara pernikahannya.


"Harus ada. Menurutku, dansa itu ungkapan sebuah keromantisan."


"Hemmm sejak kapan kau menjadi romantis tuan?" Kini giliran Arisa yang bertanya dengan nada ejekan.


"Sejak bertemu denganmu. Dan sejak aku menyadari bahwa aku sudah jatuh cinta padamu." Sekejap Arisa merasa dirinya melayang dan wajahnya merona mendengar pengakuan Rayyan. Ia melirik pada setiap mahasiswa yang saling mengungkapkan perasaan mereka disini. Arisa mendadak hatinya merasa berbunga, dan ia merasa hari ini adalah hari yang paling membahagiakan sebelum ia resmi menjadi seorang istri.


. Beberapa hari setelahnya, Tio sudah tak kuasa dengan diamnya Arisa. Sehingga ia menemui adiknya itu lalu menceramahinya panjang lebar.


"Sebenarnya kau kenapa hah? Kau mendiamkanku begini, kau tak masuk kerja, dan kau selalu menghindariku. Aku kakakmu, dan aku juga yang menjadi wali mu dari kau kecil. Apa kau tak ingat? Aku yang hampir gila karena mencarimu Aris." Mendengar celotehan Tio, Arisa hanya tersenyum sinis dan menghela nafas sejenak.


"Kau masih ingin aku anggap kakak?" Pertanyaan itu justru membuat Tio semakin geram.


"Apa maksudmu? Aku memang kakakmu."


"Tapi kau menamparku. Kak Reza tak pernah melakukan itu padaku. Sedikitpun tak pernah." Teriak Arisa tak kalah geram dari Tio.

__ADS_1


"Reza Reza Reza Reza. Aku muak mendengar nama orang itu. Apa kau lupa? Kau amnesia karena siapa hah?"


Mendengar keributan di kamar Arisa, Yugito dan Rahma segera menyusul dan memisahkan keduanya. Rahma menenangkan Tio, dan Yugito menenangkan Arisa.


"Sud0ah Tio. Kau ini kenapa? Membentak adikmu." Rahma mencoba menenangkan Tio dan ia menarik Tio sedikit jauh dari Arisa.


"Aris ma... dia tak pernah lagi menyapaku. Dan terus membandingkanku dengan Reza." Kesal Tio masih merasa emosi.


"Memang kau berbeda dengan kak Reza." Pekik Arisa kembali menegaskan.


"Aris sudah. Jangan bicara lagi. Atau ayah akan mengurungmu."


"Coba saja ayah. Aku tak takut. Lagi pula, siapa disini yang membuka pintu kamarku yang sudah aku tutup rapat-rapat." Mendengar tanggapan Arisa yang demikian, Yugito menyesal sudah mengancam begitu.


"Tapi Aris yang tak mau di ajak damai ma."


"Kapan kau mengajakku damai?"


"Aris sudah." Tegur Yugito kemudian membawa Arisa ke luar dari rumah. Dan di dalam, Rahma masih memarahi Tio karena sikapnya yang sama tak ingin mengalah.


. Yugito membawa Arisa ke sebuah tempat, dimana tempat itu di jadikan sebagai tempat pelepas penat bagi orang-orang. Arisa masih diam sedari tadi dan ia memalingkan wajahnya ke luar jendela. Bahkan setelah lama keduanya sampai pun, Arisa tak sedikitpun beranjak dari duduknya.


"Aris... kau tidak bicara dengan Tio sudah hampir 1 bulan." Ucap Yugito memulai pembicaraan.


"Lalu?" Arisa menoleh dengan melirik kesal pada sang ayah. "Aku tahu kak Tio pasti mengetahui keberadaan bunda kan? Aku sengaja tak mengajaknya bicara karena aku ingin tahu apakah kak Tio berinisiatif memberitahuku atau tidak? Dan nyatanya dia memilih diam, ya sudah! Kalau begitu, aku juga akan diam sampai semuanya terungkap." Lanjut Arisa membuat Yugito sedikit terkejut karena anggapan Arisa yang memang benar bahwa Tio sangat tahu dimana Sarah dan Reza.

__ADS_1


"Aris. Jika ayah yang meminta Sarah untuk menjauhimu, apa kau akan membenci ayah?" Tanya Yugito kali ini berhasil membuat Arisa terbelalak.


"Ayah menyuruh bunda menjauhiku? Ayah.... arghhh kenapa ayah melakukan itu? Ayah tahu aku sangat menyayangi bunda." Protes Arisa yang tak bisa menahan emosinya.


"Kalau kau terus bersama Sarah, ayah tak menjamin kau akan menyayangi ibu kandungmu. Ayah takut kau terlalu dekat dengan Sarah. Aris...."


"Apa? Ayah takut?"


"Aris dengarkan ayah dulu!"


"Tidak tidak. Aku tak mau dengar. Ayah tega pada Aris. Ayah bilang ayah sayang pada Aris. Tapi ayah malah menjauhkan bunda dari Aris."


"Aris. Kau masih punya orang tua."


"Lalu apa peran orang tua untuk Aris?" Teriak Arisa kini membuat Yugito bungkam seketika. "Ayah sibuk dengan pekerjaan, mama sibuk dengan Rais. Sekarang pun aku masih merasa mama lebih menyayangi Rais, meskipun mama sering bersamaku, namun tetap perhatiannya tertuju pada Rais saja. Rumah itu tak sehangat rumah bunda." Lanjut Arisa kian memekik telinga. Yugito mencengkram stir dengan hati yang gundah, Arisa benar, nyatanya ia tak menepati janjinya yang akan fokus pada Arisa sepenuhnya.


"Apa menurutmu aya sudah gagal?" Lirih Yugito enggan menoleh pada Arisa yang terlihat sangat frustasi.


"Iya. Sangat gagal. Ayah sudah mengabaikanku, lalu mengira aku hamil padahal aku kanker, dan ayah mengira aku sudah tidak punya kehormatan, dan ternyata ayah punya anak selain aku dari wanita lain. Tapi aku tak bisa membenci ayah. Padahal tak ada jejak yang bisa aku kenang. Aku akan menikah, dan aku tak punya kenangan indah apapun dengan ayah. Bahkan ini lebih buruk dari anak yang sudah tak mempunyai orang tua." Kini suara Arisa kian lirih ia memeluk bantal kecil yang ada di mobil Yugito dengan perasaan yang begitu sendu.


"Aris..."


"Apa lagi? Ayah mau berjanji lagi akan menemaniku, atau mau berjanji akan berperan sepenuhnya sebagai ayah? Sudahlah ayah. Aku sudah tak butuh janji ayah lagi." Yugito hanya terdiam mendapati kekecewaan putri bungsunya.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2