TAK SAMA

TAK SAMA
123


__ADS_3

. Arisa pikir Rayyan akan menegurnya dan mungkin mengejeknya karena ketahuan bahwa dirinya menangis karena Rayyan pergi, namun Rayyan malah berlalu begitu saja setelah mengambil ponselnya. Dan kembali Arisa menangis menutupi wajahnya dan tersedu-sedu bahkan ia sendiri tak bisa mengendalikan emosinya.


"Sudahlah berhenti menangis. Bukankah aku yang mau berpisah dengannya? Tapi kenapa malah aku yang merasa sesak?" Batinnya menenangkan diri sendiri.


Setelah benar-benar tenang, hingga Zain sampai di sana, Arisa bergegas untuk langsung meluncur menuju kantor. Tak peduli meskipun sudah kesiangan, ia tetap datang dan peresmian dirinya menjadi presdir pun dilakukan. Akhirnya, setelah sekian lama tak ada pemimpin, kini perusahaan Artaris resmi memiliki seorang pemimpin. Dan nama perusahaan pun berubah menjadi A. N Permata. Reza tertegun karena jelas Arisa menggunakan nama Nadhira.


"Kau mau adakan pesta?" Tanya Reza ketika keduanya berada di ruang presdir.


"Aku tidak biasa dengan namanya pesta kak." Jawabnya tersenyum tipis.


"Hanya untuk merayakan peresmianmu menjadi presdir."


"Emmm ya sudah terserah kakak. Tapi jangan terlalu mewah."


"Jadi, perusahaan mana saja yang akan kau undang?"


"Eh? Aku belum tahu perusahaan mana saja yang sudah menjalin kerja sama dengan kita."


"Hahaha aku lupa. Nanti aku akan suruh Zain untuk memberikan daftar perusahaan sekutu kita oke!"


"Oke... emmm tapi sepertinya kakak sedang senang."


"Hah? Oh? Emm... ti-tidak biasa saja." Jawab Reza mendadak gugup. Ia hanya kegirangan karena mendengar kabar bahwa Arisa mengakhiri hubungannya dengan Rayyan. Karena dengan begitu, ia bisa melindungi Arisa sepenuhnya tanpa ada gangguan orang lain.


"Ohh begitu." Arisa manggut-manggut lalu bersandar di kursi kebesarannya dengan memejamkan mata. Terlihat alisnya sering kali berkerut karena denyutan di kepalanya akibat benturan tadi.


"Masih sakit?" Tanya Reza melirik ke arah Arisa yang mengangguk dan enggan membuka mata.


"Kak... apa kak Tio akan di undang?" Tanya Arisa kini beranjak dan menatap sendu pada Reza. Reza hanya mengedikan bahunya menanggapi pertanyaan Arisa. Reza pun beranjak hendak meninggalkan tempatnya dan sejenak ia berpikir dengan kesedihan Arisa yang sedang di sembunyikan karena berpisah dengan Rayyan. Mau bagaimana pun, Arisa dan Rayyan di ketahui memang saling mencintai. Meskipun kata pisah sudah terucap dari keduanya, namun siapa yang tahu isi hati mereka bagaimana.


"Put... apa kau serius akan berpisah dengan Rayyan?" Tanya Reza berhenti tanpa menoleh ke belakang. Ia meraih gagang pintu dan menahannya untuk tidak terbuka.


"Oh iya kak. Jangan membiarkanku melakukannya sendiri ya. Bimbing aku bagaimana cara menjadi pimpinan yang bijak dan pastinya bisa membawa perusahaan menjadi lebih baik." Ucapnya melempar senyum lebar dan jelas menghindari pembicaraannya tentang Rayyan.


"Sudah jelas! Dia mengalihkan pembicaraannya. Tapi aku harus bagaimana? Jika Tio tahu, apa dia akan bertindak untuk membuat Arisa dan Rayyan berbaikan atau akan membiarkannya berpisah?" Batin Reza tak bicara lagi dan memilih untuk meninggalkan Arisa sendiri di ruangannya. Reza tahu, Arisa sedang membutuhkan waktu untuk sendiri dulu saat ini. Dan ia pun memberikan waktu untuk Arisa agar istirahat sebelum memulai pertemuan dengan beberapa petinggi perusahaan.


. "Juna. Mulai besok aku tugaskan kau untuk menjadi pengawal pribadi Arisa." Ucap Yugito dengan suara yang berat karena kesehatannya yang menurun akibat mengkhawatirkan kedua putrinya yang pergi tiba-tiba.


Meskipun Raisa kembali dengan selamat, namun Arisa tak berhasil di bawa pulang, bahkan oleh Tio sekalipun. Juga, hari ini Yugito mendengar bahwa Rayyan pun gagal membawa Arisa pulang. Semula ia berpikir untuk membawa Arisa pulang dengan tangannya sendiri, namun mengingat berapa banyak kekecewaan Arisa padanya, niatnya urung seketika dan ia memilih untuk menjadikan Juna sebagai pengawal pribadi Arisa saja. Dengan begitu, keselamatan Arisa akan terpantau meskipun bukan dirinya yang melindungi Arisa secara langsung.


"Tapi bagaimana jika nona menolak?" Tanya Juna tanpa ragu. Karena memang pastinya Arisa akan merasa risih bila di kawal secara terang-terangan oleh Juna. Walaupun itu perintah dari Yugito.


"Katakan bahwa itu adalah permintaan terakhirku. Mau tidak mau Arisa harus menerimanya." Jawab Yugito memejamkan matanya perlahan.


"Tuan... sa-saya tidak mengerti maksud tuan apa." Ucap Juna kini terdengar ada nada keraguan di setiap kata yang ia lontarkan.


"Aku sudah tua. Aku juga tak tahu kapan waktuku habis. Dan jika hari itu tiba, aku tak ingin meninggalkan penyesalan apapun. Apa lagi pada Aris. Karena jika aku memintanya pulang, itu sangat mustahil. Jadi aku percayakan saja keselamatan Aris padamu." Jelas Yugito kemudian membuka mata dan beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Gajimu akan naik. Dan aku akan memberikan fasilitas lainnya besok." Lanjut Yugito.


"Ta-tapi tuan..."


"Apa lagi? Masih kurang? Kau mau apa?"


"Bu-bukan itu. Hanya saja saya ragu pada Reza dan asistennya. Mereka pun tak kalah ketat menjaga nona Aris." Jawabnya semakin ragu.


"Tak apa. Mereka akan mengerti jika Arisa sendiri mengerti."


"Maksud tuan?"


"Tak ada. Sebaiknya kau bersiap, karena besok kau harus sudah berangkat pagi."


"Baik tuan." Setelah itu, Juna berlalu keluar dari ruang kerja Yugito. Ia menghela nafas dalam sesaat sebelum akhirnya berlalu menuju kamarnya yang berada di bagian belakang rumah Yugito.


Sesuai kesepakatan, paginya Juna sudah bersiap untuk segera kembali ke Bandung. Raisa mengantarkan Juna sampai di gerbang.


"Jaga adikku ya Ju..." ucap Raisa dengan menatap harap pada Juna.


"Baik non." Jawab Juna tersenyum sebelum menutup pintu.


"Juju jangan lupa kabari setiap apapun yang dilakukan nona ya." Ucap Bi Ina yang ikut mengantarkan kepergian Juna.


"Ahaha bibi ada-ada saja. Tidak setiap saat bi. Paling beberapa ada yang akan aku beritahu pada Tuan besar." Jawab Juna terkekeh.


"Iya non. Saya pasti menjaga nona seperti dulu, bahkan mungkin lebih dari itu. Karena sekarang saya mengawalnya secara terang-terangan berada di samping nona Arisa. Nona Raisa tak perlu khawatir. Saya akan menjaga nona Arisa dengan segenap jiwa saya."


"Lebay Ju..."


"Hehe maaf nona. Kalau begitu saya pamit." Dan, Juna berlalu menembus jalanan menuju tempat nona muda kesayangannya yang sedari kecil sudah ia awasi pergerakannya.


. "Putri. Untuk semua bahan meeting nya sudah aku serahkan pada Zain." Ucap Reza yang duduk santai di meja Arisa.


"Oh baiklah. Tapi kakak akan menemaniku kan? Aku belum terbiasa memimpin rapat."


"Jika aku terus membantumu, nanti kau tak akan terbiasa."


"Tapi setidaknya jika kakak ada di satu ruangan denganku, mungkin aku tak akan terlalu gugup. Hanya menemani saja." Bujuk Arisa dnegan menatap harap pada Reza.


"Emmm kita lihat saja ya. Karena jadwalku juga padat, jadi aku tak janji. Tapi aku percaya kau pasti bisa."


"Ihhh kakak.... aku baru dua hari menjadi presdir dan itupun karena terpaksa. Jika bukan karena kakak yang mengancamku, aku juga tak mau jadi ada di posisi ini." Rajuk Arisa dengan manja dan memangku tangan kesal.


"Haha baiklah. Aku akan mempublikasikan mengenai dirimu hari ini." Ucap Reza mengacak rambut Arisa dengan gemas namun malah membuat Arisa terkejut.


"Ba-bagaimana jika orang-orang tak menerima jika presdir perusahaan ini adalah perempuan? Dan bagaimana jika mereka--"

__ADS_1


"Suttttt kau berisik." Delik Reza sambil menutup mulut Arisa. "Siapa yang tak mempercayaimu? Aku bisa menghabisinya secepat mungkin" tegas Reza selanjutnya.


"Apa dia gila? Sampai-sampai mau menghabisi orang?" Batin Arisa menatap konyol pada Reza yang perlahan tertawa semakin keras karena merasa puas.


"Tak ada yang lucu." Delik Arisa kesal.


"Kau. Kau yang lucu adik bodoh." Reza mencubit kasar pipi Arisa yang chuby dan seketika itu Arisa meringis kesakitan dibuatnya.


"Kakak gila." Teriak Arisa hendak memukul lengan Reza, namun dengan cepat Reza menghindar dan segera pergi dari ruangan Arisa secepat mungkin.


Setelah menutup pintu, tawa itu menghilang ketika ia mengingat pada mendiang adik kesayangannya. Dan bersamaan dengan itu, perasaan marahnya mulai kembali menguasai pikiran Reza untuk membuat Arisa mengalami kesulitan karena sudah merebut kebahagiaan kecilnya bersama Nadhira.


. Hari menjelang siang, setelah Arisa menjalani masa sulitnya ketika menjadi pimpinan saat meeting, ia mendapat kabar bahwa ada tamu yang menunggunya di ruang tunggu khusus tamu yang tak membuat janji. Segera Arisa menemui ruangan dan menebak siapa tamu yang ingin bertemu dengannya. Langkahnya semakin cepat, senyumnya mengembang tanpa ia sadari ketika membayangkan wajah Rayyan yang kesal karena menunggu kedatangannya. Segera Arisa membuka pintu dengan antusias dan memanggil sepotong nama Rayyan.


"Ar--ray." Ucapnya semakin lirih. Ternyata bukan.


"Nona. Anda mengingat saya?" Arisa mengendalikan emosinya setelah pertanyaan itu terlontar dan ia mencoba untuk terlihat baik-baik saja.


"Ohhh... ya tentu saja. Juju... bawahan ayah yang secara diam-diam mengawalku saat di kampus kan?" jawabnya merubah tatapannya menjadi sendu.


"Terima kasih karena nona mengingat siapa saya." Ucap Juna menunduk sopan.


"Bukan hanya kau saja, tapi semuanya sudah aku ingat." Balas Arisa semakin sendu.


"Benarkah? Saya turut bahagia nona. Akhirnya ingatan nona sudah kembali. Saya lega mendengarnya."


"Tapi aku menyesal sudah mengingatnya ju..."


"Kenapa nona?"


"Kau jangan berpura-pura tidak tahu Ju... kau sendiri menyaksikan bagaimana hidupku selama ini."


"Ma-maaf nona."


"Jadi, apa yang membuatmu datang kesini? Jangan bilang untuk membawaku pulang seperti kak Tio dan Raisa."


"Ohh.. tidak nona. Saya kesini untuk secara pribadi menjadi pengawal pribadi nona"


"Aku menolak." Jawab Arisa cepat menyela. "Apa ayah yang menyuruhmu?" Lanjut Arisa bertanya.


"Be-benar nona." Jawab Juna mendadak gugup. Benar tebakannya, Arisa tak mudah untuk setuju jika Juna mengawal secara langsung.


"Katakan pada ayah jika aku menolak." Ucap Arisa kemudian dengan suara yang tegas.


"Tapi tuan bilang, ini adalah permintaan terakhir tuan, dan nona tak boleh menolak, atau tuan akan merasa menyesal." Ungkap Juna berhasil mengejutkan Arisa.


-bersambung.

__ADS_1


__ADS_2