
. Tepat pukul 01:00 Daffa masih berhadapan dengan layar komputernya, tangan yang lincah menekan setiap huruf keyboard dan matanya sudah semakin sayu menatap komputer dengan serius.
Sejak tragedi itu, Daffa benar-benar kehilangan jejak kedua temannya. Namun ia masih penasaran pada jasad siapa yang ada didalam mobil Arisa. Jika Arisa, ia tak menemukan bukti lain lagi selain kalung berlian berbentuk hati yang ditemukan yang jelas itu adalah milik Arisa dari Rahma di hari ulang tahunnya.
Dan jika itu Citra, setahunya Citra tidak bisa mengemudi. Tapi itu menjadi petunjuk setelah mendengar kesaksian anak buah Fabio yang menyaksikan langsung kejadiannya. Ditambah malam itu, Citra meneleponnya sampai beberapa kali.
Semakin lama, Daffa terlelap di meja tanpa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini muncul di kepalanya.
. 'Bugh' suara benda jatuh terdengar begitu keras. Diwaktu yang bersamaan, terdengar pula seseorang meringis kesakitan memegangi pinggangnya.
"Aduhhhhhh.... kenapa aku jatuh?" Rengeknya dengan rambut terurai kedepan. Ia perlahan mengumpulkan nyawa dan kesadarannya lalu ia kembali mengingat mimpi yang ia anggap sebagai mimpi indah.
"Aku semakin merindukanmu. Dimana kau Aris?" Lirih Raisa setelah membenahkan rambutnya, ia menutup wajahnya dan terisak keras tak bisa di tahannya.
Semakin hari, Raisa semakin menutup diri dari lingkungannya. Bahkan Sofia dan Deby pun sangat sulit untuk bertemu dengan Raisa.
. "Kak... aku izin ya... hari ini aku mau bertemu Daffa." semudah itu Raisa berucap dari atas yang masih memakai piyama. Raisa tahu, pagi ini Tio akan ke rumah sebelum ke kantor karena semalam Yugito meminta Tio untuk datang. Entah ada apa, Raisa sudah tak ingin tahu dengan apapun lagi. Rasanya hidupnya kini sudah hampa. Arisa yang sudah tak disisinya, dan Rayyan yang sudah berada di negri orang, bahkan Fariz pun sudah tak ada menghubunginya lagi. Satu-satunya teman yang bisa Raisa andalkan hanyalah Daffa saja.
"Apa kau masih menyelidikinya?"
"Aku tak akan semudah itu percaya kak. Aku dan Aris sudah bersama dari rahim. Jika untuk masalah kematian, aku akan merasakannya. Batinku terasa masih terhubung dengan Aris. Atau mungkin aku memang masih belum bisa menerima kenyataan." Ucap Raisa yang begitu sendu dan ia kemudian berlalu memasuki kamarnya. Benar-benar hampa. Raisa sangat kesepian, ia kini benar-benar merasakan bagaimana Arisa selama ini. Pantas saja Arisa selalu menyendiri dan tak ingin makan.
"Rais...." panggil Tio namun tidak di hiraukan oleh Raisa. Ia malah menutup pintu sedikit keras.
Raisa kembali menjatuhkan tubuhnya di ranjang lalu menoleh pada sebuah surat undangan yang ia simpan begitu saja.
"Kau bahkan dengan mudah melupakan adikku. Kau memang bajingan yang berniat menghancurkan keluargaku saja." Decih Raisa membenamkan wajahnya pada bantal.
Terasa sekarang bukan hidupnya saja yang hampa, keluarganya saja kini terasa sangat berantakan. Apa lagi beberapa hari yang lalu, orang tuanya bertengkar hebat mengungkit masalah perselingkuhan Yugito yang telah lalu. Raisa yang baru tahu kebenarannya merasa syok dan terkejut. Ia pikir selama ini keluarganya sangat harmonis, tapi nyatanya dia memiliki adik lain selain Arisa. Dan yang paling menyesakkan, Nadhira meninggal lebih dulu. Jika saja Nadhira tidak mendonorkan hatinya pada Arisa, mungkin Raisa akan mencari keberadaan Nadhira untuk sekedar menjadi tempatnya berpulang setelah Arisa.
. "Aku bertemu dengan seseorang yang sangat mirip dengan Aris. Tapi, dia sedikit berbeda. Ada tahi lalat di bawah mata kirinya. Rambutnya pendek dan berkacamata. Tapi entah kenapa aku merasa itu adalah Aris." Ucap Daffa sesaat setelah Raisa duduk didepannya disebuah cafe.
"Kau bodoh? Bisa saja itu memang Aris. Dan dia mungkin mengubah penampilannya agar tidak di ketahui orang-orang. Ihhhhh pantas saja Rayyan sangat kesal padamu. Ternyata kau memang bodoh. Sekarang beri tahu aku dimana kau bertemu gadis itu?"
"Jangan bilang kau akan kesana?"
__ADS_1
"Lalu? Apa aku harus diam saja saat ada petunjuk didepan mata?" Tanyanya enteng dan jelas menyindir kebodohan Daffa.
"Raisa kau jangan menyindirku seperti itu."
"Terus? Apa aku harus memuji kebodohanmu? Daf... jika saja Rayyan yang menemukannya, dia pasti membawa Aris pulang."
"Dan kau percaya begitu saja jika dia Aris? Bagaimana jika hanya mirip? Banyak orang yang hampir sama wajahnya padahal mereka tidak sedarah. Bahkan mereka jelas orang asing yang tidak saling mengenal." Daffa tak ingin kalah berdebat dengan Raisa.
"Kau ini. Sudah bodoh, menjawab pula."
"Hei Rais. Mau sampai kapan kau menyalahkanku?"
"Sudahlah. Cepat katakan dimana kau bertemu dengan Aris?"
"Bagaimana jika dia bukan Aris?"
"Jika aku tak memastikan, maka aku tak akan tahu."
"Baiklah. Aku bertemu dengannya di Bandung. Dan dia dipanggil Putri." Jelas Daffa setelah lelah berdebat dengan Raisa.
"Kau serius?"
"Kau kira aku bercanda?" Raisa berlalu dari hadapan Daffa yang masih merasa tak percaya.
Namun baru saja Raisa melangkah keluar, ponselnya berdering dan menghentikan langkahnya. Raisa mendelik ketika Yugito yang meneleponnya.
"Apa ayah?" Tanya Raisa tanpa basa basi dengan sedikit ketus.
"Temui ayah sekarang!" Ucap Yugito terdengar begitu tegas dari seberang.
"Tapi ayah... Rais ada--"
"Apa? Kau bolos kerja kan?"
"Tapi Rais ada urusan ayah...."
__ADS_1
"Urusan apa? Apa kau masih mencari Aris?" Lagi, Raisa mendelik kesal mendapati pertanyaan Yugito. Mau bagaimana pun ia mengatakan bahwa Arisa masih hidup, namun takan ada yang percaya selain kakaknya dan Daffa.
"Ya sudah... Aris ke kantor." Ucapnya kemudian dengan kesal menutup panggilan. Setelah pertengkaran itu, rasanya hati Raisa sudah membeku pada Yugito. Mengingat Yugito menikah lagi dan mempunyai anak lain, membuat Raisa merasa tak ada hati untuk bersikap sopan pada sang ayah. Apa lagi, sebelum tragedi kebakaran itu, Yugito sempat membuat Arisa terpuruk karena salah faham akan kejadiannya dengan Rayyan. Bahkan Yugito menampar Arisa dengan keras. Dan hal itu juga yang membuatnya sakit hati pada Yugito.
. Sampai di perusahaan Artaris, Raisa bergegas memasuki lift menuju ruangan dimana Yugito berada, yakni ruangan direktur. Beberapa karyawan menyapa Raisa dengan sopan ketika ia berjalan melewati mereka. Ketegasan dan sikap dinginnya sudah menyebar di seluruh kota. Bahkan ia di rumorkan kini menjadi wanita yang tak punya hati. Siapapun tak mau berurusan dengannya. Ketegasannya bahkan melebihi Tio. Dan keluarga Putra benar-benar menjadi keluarga dingin, dan bukan lagi keluarga yang harmonis.
"Ada apa ayah?" Tanya Raisa ketika duduk di sofa tanpa memberi sapaan terlebih dahulu.
"Apa begini sikapmu saat bertemu orang tua?" Lagi, Raisa hanya mendelik kesal pada Yugito.
"Lalu? Sikapku tak akan mengembalikan Aris juga kan? Dan ayah juga tak akan mendapat kepercayaanku jika aku bersikap layaknya seorang anak. Sudahlah ayah. Apa lagi yang ingin ayah bicarakan?" 'Prang' Raisa terkejut dan menoleh seketika pada Yugito yang tiba-tiba melempar gelas berisi kopi panas yang semula ia diamkan di meja kerjanya.
"Jaga ucapanmu. Sejak kapan kau menjadi kurang ajar?" Teriak Yugito membuat Raisa beranjak dari duduknya.
"Sejak aku tahu ayah mengkhianati mama. Ayah punya anak lain. Ayah juga menyakiti Aris sampai dia pergi. Ayah memaksaku menikah dengan Rayyan yang jelas saling mencintai dengan Aris? Ayah begitu jahat sampai aku sendiri menyesal menjadi anak ayah." Raisa tak bisa menahan emosinya dan air matanya sudah berderai membasahi wajahnya.
"Jadi? Kau menyalahkan ayah?"
"Iya. Karena ayah aku menjadi kesepian. Karena ayah juga hidupku tak karuan. Aku kehilangan Aris. Dia satu-satunya alasanku hidup saat dulu aku berjuang melawan penyakitku. Jika saja aku tahu dia akan pergi meninggalkanku, harusnya saat itu aku mati saja. Harusnya ayah dan mama tidak berusaha menyembuhkanku. Biarkan saja kanker itu membunuhku. Untuk apa aku hidup jika alasanku hidup sekarang tak ada dihadapanku." Tangis Raisa semakin menjadi. Isi hatinya terluapkan seketika. Sampai pintu terbuka dan menampilkan Tio yang masuk dengan wajah panik.
"Apa yang ayah lakukan?" Tanya Tio yang meraih Raisa pada pelukannya.
"Kau juga menyalahkan ayah?" Tio hanya menyernyit tak mengerti apa maksud ayahnya. Dan apa yang membuat Raisa menangis?
"Kalian pikir ayah tidak kehilangan Aris? Kalian pikir ayah percaya Aris pergi? Ayah hanya menutupi ketidak percayaan ayah didepan kalian karena ayah tak ingin menambah kesedihan kalian. Kalian pikir ayah mana yang merasa santai dan baik-baik saja dihadapkan dengan perpisahan dengan anaknya? Ayah akui ayah salah di masa lalu. Tapi apa kalian mengerti perasaan ayah yang kehilangan dua putri ayah dalam waktu singkat? Sekarang ayah hanya punya kalian. Mengapa ayah tak mengizinkan kalian kemana-mana, ayah terlalu takut kehilangan lagi." Setelah menjelaskan semua yang ada di hatinya, Yugito menumpu tubuhnya dengan tangan pada meja dan sesekali mengusap kelopak matanya yang berembun.
"Apa kau pikir ayah tak sakit hati sudah membuat Aris menderita karena ayah? dan apa kau pikir ayah tak sakit hati saat kau bicara bahwa kau menyesal menjadi anak ayah?" Tanya Yugito selanjutnya dengan lirih. Kemudian Raisa berlari dan memeluk Yugito dengan erat.
"Maafkan Rais ayah... Rais tak bermaksud menyakiti hati ayah... Rais terlalu kesepian dan tak bisa menerima kenyataan bahwa Aris sudah tak di samping Rais."
"Tio juga minta maaf jika sampai saat ini, Tio masih mencari keberadaan Aris. Tio sebenarnya menemukan beberapa bukti bahwa yang kita makamkan itu bukanlah Aris. Tapi Citra, teman kampusnya. Dan satu hal yang membuat Tio yakin Aris masih hidup, jasad itu tak memakai kalung Phoenix milik keluarga Pratama. Sedangkan Aris hanya memakai kalung itu dan ponselnya sempat aktif beberapa saat namun Tio tak bisa melacaknya." Jelas Tio membuat Yugito terdiam sesaat. Ternyata selama ini Tio tak main-main dalam usaha pencariannya.
"Kerahkan semua agen untuk mencari Aris." Ucap Yugito mengembangkan senyum di wajah Raisa.
-bersambung
__ADS_1