
. Rayyan menatap lekat pada batu nisan yang bertuliskan nama Arisa. Raisa memeluknya dengan tangis yang masih tak bisa dihentikan. Begitupun Fabio, ia hanya menatap datar foto Arisa yang menurutnya sangat membencinya.
"Jika saja kau bilang kau membenciku, dan tidak mau menikah denganku, aku mungkin tak akan mengharapkanmu lebih." Gumam Fabio kemudian berlalu meninggalkan area pemakaman bersama keluarganya. Ia seakan mengurungkan niat untuk menguak sebuah rahasia kehidupan keluarga Putra. Namun, kehilangan Arisa saja membuat Fabio merasa tak tega jika harus menambah kesedihan keluarga Putra.
"Cih.. sejak kapan aku mulai memikirkan perasaan orang lain." Gumamnya lagi berdecih kesal. Fabio menoleh kearah Rayyan yang memeluk adiknya begitu erat dengan tangis yang tak bersuara. "Ada yang lebih kehilanganmu dari pada aku." Lagi, Fabio hanya bisa bergumam dalam hati.
"Bahkan di rumah terakhirmu, kau berdampingan dengan Rama." Batin Rayyan yang masih tak bisa menahan kesedihannya.
"Apa seperti ini rasa sakit yang kau rasakan dengan kepergian Rama? Kini aku mengerti kenapa, karena memang sesakit ini. Tenanglah disana. Aku rela melepasmu. Bahagialah dengan Rama, kini kau sudah satu dunia dengannya. Biarkan aku disini merindukanmu di setiap malam." Batinnya lagi.
***
. Di waktu yang sama, Reza menarik tangan Arisa keluar dengan paksa. Ia tak menghiraukan panggilan Sarah.
"Reza." Tegas Sarah berhasil menghentikan langkahnya. Reza terdiam dan enggan menoleh kearah sang ibu.
"Kita harus mengantarkan anak ini ke rumahnya bunda... jika tidak, maka kita akan mendapat masalah lagi seperti dulu." Ucap Reza menahan rasa kesalnya. Terdengar dari suaranya yang seakan menahan sesuatu di tenggorokannya. Itu terasa karena Reza terlalu emosi.
"Bunda diam saja. Aku yang akan mengurus masalah ini." Ucap Reza kemudian yang menolehkan wajahnya sedikit.
"Kak... Aris tak mau pulang." Rengek Arisa yang berhasil membuat Reza berbalik menatapnya dengan tatapan mengejek dan sekaligus heran.
"Lalu? Apa urusannya denganku. Hei gadis ******! Karena keluargamu, keluargaku menderita, adikku meninggal, dan sekarang kau datang membawa masalah untukku dan bunda."
"Reza... biarkan Aris disini dulu. Dan dia tidak bersalah." Sarah mencoba menghentikan celotehan Reza.
"Bunda membela siapa? Apa dia memberikan segudang intan berlian atau uang? Mengapa bunda seakan menginginkan dia disini. Dia ini iblis kec--" 'plak' Reza terhenti saat Sarah dengan keras menamparnya dengan tiba-tiba. Reza yang mengira Sarah mendekatinya hanya untuk mendengarkan dan menasehatinya saja merasa tak percaya karena ini kali pertama Sarah menamparnya. Reza seketika melepaskan tangannya dari Arisa dan menyentuh pipinya.
"Bunda menampar Reza? Demi dia? Dia siapa bunda?" Reza meninggikan suaranya dengan menunjuk pada wajah Arisa yang ketakutan.
"Bagaimana pun, kau tak berhak berbicara seperti itu. Mau di apakan juga, dia anak tiri bunda." Tegas Sarah yang membawa Arisa ke belakang tubuhnya.
"Apa? Anak tiri? Itu dulu bunda. Sekarang dia bukan siapa-siapa. Yugito sudah mencampakkan bunda sejak aku masih kecil dan saat Nadhira masih bayi."
"Lalu? Kau mau melampiaskan amarahmu pada Arisa yang tak tahu apa-apa?" Sarah masih datar menatap Reza yang tergelak merasa lucu dengan sikap ibunya.
"Benarkah? Jadi, apa kau tahu tentang ini?" Reza menunjukkan ponselnya dan berhasil membuat Arisa terkejut dengan berita bahwa dirinya sudah meninggal. Namun diluar dugaan, bukannya meminta pulang untuk menunjukkan dirinya, Arisa malah semakin yakin untuk berdiam diri disana.
"Sekarang ikut aku ke Jakarta. Dan jelaskan pada ayahmu bukan aku yang menculikmu." Lagi, Reza menarik paksa tangan Arisa menuju teras depan. Kebetulan Zain sampai dan ia setengah berlari menghampiri Reza.
__ADS_1
"Jangan kak. Kumohon aku tidak mau pulang. Biarkan orang tahu aku sudah mati. Jika aku kembali, pelarianku hanya sia-sia saja. Akau tak mau jika menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Kumohon mengertilah kak." Rengek Arisa setengah berteriak sambil menahan agar Reza tak terlalu cepat menariknya. Namun, apa daya, tenaganya kalah karena Reza lebih mendominasi.
"Diam. Aku tak peduli apa masalahmu. Yang pasti kau akan membawa sial jika terus disini." Reza tak kalah keras menarik Arisa.
"Za.... aku juga tak tahu masalahmu. Tapi jangan menariknya seperti itu. Dia bisa terluka." Zain bergegas mencoba melepaskan tangan Reza dari Arisa.
"Kau jangan ikut campur. Ini urusan keluargaku." Reza menghempaskan tangan Zain dengan kasar.
"Reza. Jika kau membawa Aris, bunda juga akan pergi. Kau tinggal saja disini sendiri." Mendengar itu, Reza terhenti tangannya mengepal dan yang satu masih menggenggam tangan Arisa.
"Bunda memilih dia daripada Reza? Oke! Oke bunda. Reza menurut." Tutur Reza perlahan kembali melepaskan tangan Arisa, Sarah tersenyum getir melihat perubahan pikiran Reza dengan mudah. Ia merasa tak ingin membiarkan Arisa kembali pada keluarganya, selain karena ada hati Nadhira di tubuh Arisa, ia juga merindukan seorang putri yang sudah lama meninggalkannya.
"Baik. Reza menurut, tapi Reza akan pergi dari rumah ini. Silahkan bunda tinggal dengan anak ini." Ucap Reza kemudian. Sarah terkejut dengan apa yang baru saja Reza katakan.
"Bukan itu maksud bunda Reza...." Sarah berjalan meraih tangan Reza.
"Kau putra bunda. Bagaimana mungkin bunda akan membiarkanmu pergi. Bunda mohon jangan seperti itu."
"Sudahlah bunda. Jika bunda memilih dia, biarkan Reza pergi." Reza melepaskan tangan Sarah lalu melangkah menuju mobil.
Arisa menyusul dengan cepat dan meraih tangan Reza.
"Hmmphh jangan sok baik didepan bunda. Kau mau mencari muka saja kan? Aku tahu pikiran licikmu ini." Geram Reza menunjuk kepala Arisa dengan kesal. Arisa menggeleng kasar menampik tuduhan Reza yang begitu menyakitkan.
"Tidak kak. Aris tidak berniat apapun yang merugikan kakak."
"Baiklah kutanya kau, kenapa kau sampai kesini hah?"
"Jika Aris memberikan jawabannya, apa kakak akan mengerti dan peduli? Jika tidak, tak perlu Aris jawab kan?" Reza terkekeh melihat Arisa yang berani berdebat dengannya, padahal Reza sadar, kini Arisa tengah gemetar panik.
"Ya sudah! Jika pikiranmu begitu, sekarang kau pergi dari rumahku." Ucap Reza dengan nada datar namun cukup membuat Sarah terkejut. Arisa mengangguk lalu berbalik dan menghampiri Sarah. Ia meminta tasnya kembali yang sudah di bawa oleh Mang Asep ke kamar tamu. Sarah tak bisa membendung air matanya. Ia seakan sedang melepas Nadhira untuk yang kedua kali. Sarah begitu erat memeluk Arisa yang mengusap punggungnya sangat lembut.
"Terima kasih bunda. Aris punya hutang nyawa pada bunda." Lirih Arisa yang hanya terdengar oleh Sarah.
"Tidak nak. Bunda senang kau masih hidup."
"Maaf sudah mengganggu waktu bunda." Ucap Arisa melepas pelukannya.
"Apa kau memegang card credit, debit, atau--" ucapan Sarah terhenti saat Arisa dengan cepat menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Jadi kau tak punya uang?" Tanya Sarah lagi dengan terkejut.
"Ada bunda. Untuk berjaga-jaga, Aris menarik dengan jumlah yang cukup besar. Cukup untuk Arisa hidup sebelum mendapat pekerjaan disini." Jelasnya membuat Sarah menghela nafas lega. Kemudian Arisa melepaskan diri dari Sarah yang sedari tadi enggan melepaskannya.
"Aku antar." Tawar Zain saat Arisa tepat di depannya. Arisa hanya diam tak menanggapi apapun, ia terus berjalan dan menunduk saat melewati Reza yang memalingkan wajah darinya. Zain menyusul Arisa dan mengajaknya bersamanya.
"Hei kau. Pekerjaanmu belum beres di kantor." Ucap Reza menyadari niat Zain.
"Setelah mengantarkannya, aku akan secepat mungkin kembali ke kantor." Jawab Zain tak kalah dingin.
"Terserah. Lama-lama aku pecat juga. Kau seenaknya bekerja denganku." Namun Zain tak mendengarkan celotehan Reza. Ia berlalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah Reza. Reza menoleh pada Sarah yang belum menghentikan tangisnya.
"Bunda..." belum sempat melanjutkan, Sarah berlalu begitu saja meninggalkan Reza yang mematung.
"Bukannya aku tega bunda. Ini juga demi bunda. Aku tak mau jika Yugito atau keluarganya menyalahkan bunda. Meskipun tersebar berita Arisa meninggal." Gumam Reza yang lebih memilih berlalu kembali ke kantor.
. Di jalan, Zain masih berbincang dengan Arisa yang lebih berani mengutarakan alasannya pada Zain.
"Jadi intinya, kau tak bisa melihat orang yang kau cintai bahagia dengan kakakmu, sedangkan kau sendiri tak bisa menerima orang lain untuk sekedar pelampiasan perasaanmu?" Arisa mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Zain.
"Oh iya. Kak Zain ini siapanya kak Reza?" Tanya Arisa setelah sempat hening beberapa saat.
"Aku temannya. Dan kebetulan aku menjadi asisten, emmm tapi bukan. Mungkin hanya seorang teman yang menemaninya bekerja." Arisa menyernyit tak mengerti dengan jawaban Zain.
"Maksudku begini. Jadi, aku selalu disisinya setelah lulus SMA, dia ke Surabaya, aku ikut. Dia ke sini pun aku ikut. Dan sekarang dia seorang direktur, malah aku yang menjadi perannya. Dia hanya menjalankan pertemuan dan tandatangan kontrak, berkas, proposal, dan lain-lain. Tapi yang menjadi peran direkturnya adalah aku. Yaa bisa disebut Reza itu direktur di belakang layar. Karena di kantor, semua karyawan mengira akulah direkturnya."
"Hemmm kenapa kak Reza tidak jadi presdir? Padahal jelas perusahaan itu sidah ayah berikan pada Kak Reza." Zain hanya mengedikan bahunya sambil memasang wajah tidak tahu.
"Dia mungkin berpikir bahwa perusahaan ini akan diambil kembali oleh ayahmu. Dan dia tidak ingin sepenuhnya memiliki perusahaan ini. Meskipun dia susah payah membangun kembali, yaa dia sangat hebat. Perusahaan ini hampir hancur, namun dia sekuat tenaga mengembalikan semua yang hilang." Jelas Zain. Entah kenapa, Zain merasa nyaman mengobrol dengan Arisa. Padahal dengan pacarnya, ia tak sedekat ini.
"Oh iya. Mau cari penginapan, hotel, atau--"
"Kosan saja." Dengan cepat Arisa menyela. "Hotel terlalu mahal untukku. Dan Apartemen belum bisa aku beli." Lanjutnya membuat Zain terdiam.
Kemudian suara ponsel Zain berbunyi, ia segera menerima panggilan yang mungkin terdengar darurat jika nama pemanggilnya adalah Reza.
"Aku sudah mentransfer ke rekeningmu. Carikan dia apartemen." Ucap Reza yang langsung mematikan panggilan teleponnya.
-bersambung
__ADS_1