
. Tio menyusul Yugito menghampiri Arisa dan pandangannya langsung tertuju pada Rega yang berdiri tak jauh di dekat Arisa.
"Sedang apa kau berdua dalam satu ruangan? Jika hanya meeting, harusnya ada sekertaris dan pihak yang bersangkutan. Jika pacaran harusnya di rumah, bertemu ayah, dan melamar dengan resmi."
"Apa yang kau pikirkan sialan." Teriak Arisa namun masih menahan suaranya.
"Kau pacar Aris?" Tio beralih menatap Rega dengan tatapan yang dingin. Suhunya terasa sampai pundak Rega meskipun posisi Tio kini tengah berada didepannya.
"I-iya tuan." Jawab Rega begitu gugup.
"Jika kau pacar Aris, jangan memanggilku begitu. Panggil saja kakak. Rayyan dan Rama pun suka memanggilku kakak." Sontak Arisa terbelalak mendengar apa yang di ucapkan Tio. Bagaimana bisa Tio berkata demikian padahal didepannya jelas mengaku pacar Arisa. Meskipun bagi Arisa hanya hubungan palsu, namun bagi Rega sendiri, hubungan mereka serius.
"Apa aku terlambat? Mengapa Aris harus sudah punya pacar? Apa yang harus aku katakan pada Seno? Rencanaku dan Seno akan sia-sia saja." Batin Tio dengan pandangan yang masih datar.
"Pulanglah sesekali. Bawa pacarmu." Ucap Yugito kemudian berbalik disusul Tio dari belakang.
"Jangan lupa, Rais mau kau datang. Sepertinya dia tak tahu harus membujukmu bagaimana. Kau dan Rais selalu salah faham dan bertengkar. Tapi Rais selalu menanyakanmu pada Juju setiap hari." Setelah mengatakan hal itu, Tio menutup pintu berlalu meninggalkannya. Arisa masih terdiam di tempatnya dengan Rega yang menyisakan rasa canggung diantara keduanya.
"Putri maaf.. aku..."
"Sudah terlanjur. Ayah sudah memberimu kesempatan." Arisa menyela dengan berbalik berhadapan dengan Rega seraya menarik senyum. Rega tahu, itu adalah senyum paksa dan hanya untuk menyembunyikan kekecewaannya saja.
"Tapi kau tak menyukaiku kan?" Kini tatapan Rega menjadi tajam menatap Arisa yang masih tersenyum menyebalkan baginya.
__ADS_1
"Putri. Jika kau tak menyukaiku dan hubungan kita hanya sekedar sandiwara, harusnya kau jelaskan pada ayahmu."
"Jelaskan apa? Bukankah kakak sendiri yang bilang kakak ini pacarku?"
"Putri. Maksudku Arisa. Apa kau sadar, dengan kau mengatakan ini kau sudah melukai perasaanku? Aku yang menyukaimu tulus, sedangkan kau hanya menganggapku sebagai pacar palsu." Tak bisa disembunyikan, Arisa terhenyak mendengar kata yang terlontar dari Rega. Bisa-bisanya ia terjebak dalam cinta rumit yang sudah lama berakhir dan sekarang harus terulang lagi.
"Kita jalani sebagai teman saja kak. Maaf." Lirih Arisa memalingkan wajahnya.
"Tak apa. Lagi pula aku tak memaksamu untuk menyukaiku." Rega terkekeh dengan menggaruk kepala belakangnya seperti orang bodoh. Arisa termangu, ia pikir Rega akan mengaitkan urusan perasaannya dengan bisnis. Namun Rega sepertinya mengesampingkan masalah hatinya.
"Tapi, untuk datang ke pernikahan Rais, jika nanti ada hal tak terduga, kakak bersedia membantuku?" Tanya Arisa dengan penuh keraguan.
"Dengan senang hati. Dan aku akan memberitahu ayahmu yang sebenarnya terjadi."
"Tapi... hem baiklah! Aku ikuti ucapanmu."
. "Apa kau tidak mau memakai gaun itu? Bukankah dulu kau yang menginginkannya?" Tanya Diana dengan menatap lekat pada Gaun pengantin putih yang gemerlap nan mewah, sengaja ia pajang di sudut ruangan di dalam lemari kaca.
"Tidak kak. Itu Oma Galuh yang pilihkan. Jadi, aku rasa gaun itu hanya untuk pengantin Rayya saja. Dan hanya Aris yang akan memakainya." Raisa tak kalah lekat menatap gaun impiannya.
"Tapi, seleramu sangat elegan Rais. Bahkan kakak saja tidak terpikirkan untuk membuat model seperti ini." Namun Raisa hanya tersenyum tipis menanggapi Diana. Ia memikirkan apa yang sedang dilakukan Arisa sekarang.
"Kenapa kita berbeda dari anak kembar lainnya Aris? Aku sangat iri, dan aku merindukanmu. Harus bagaimana lagi caranya agar aku bisa menjadi kakak yang kau terima kehadirannya?" Batin Raisa tanpa mempedulikan panggilan Diana yang beberapa kali memanggil namanya.
__ADS_1
. Menjelang jam pulang, Zain memberikan sebuah agenda yang harus diperhatikan Arisa besok. Arisa yang tengah gundah tak menyadari perbedaan sikap Zain yang tak biasa. Biasanya Zain selalu membacakan jadwal Arisa, namun sekarang, Zain hanya memberikannya pada Arisa untuk ia baca sendiri.
"Sudah bertemu pacar, tapi masih galau." Sindir Zain yang berlalu dari hadapan Arisa.
"Kak. Bisa buatkan jadwal untukku bertemu dengan temanku besok?" Lirih Arisa namun masih terdengar oleh Zain yang baru meraih gagang pintu sebelum membukanya.
"Panggilkan Wina, sekertaris direktur Artaris. Katakan saja ini sangat penting. Biar aku yang bicara pada ayah." Lanjutnya masih dengan suara yang lirih. Zain tak menanggapi apapun, ia langsung bergegas keluar setelah memperhatikan raut wajah Arisa yang terlihat bersedih.
. Singkatnya, setelah makan malam, Arisa langsung kembali ke kamarnya tanpa berbincang dengan Sarah dan Reza di ruang tengah. Ibu dan anak itu merasa heran akan sikap Arisa yang tak seperti biasanya.
Di kamar, Arisa mengambil buku hariannya yang hanya ia tulis beberapa lembar saja. Tak sengaja, sebuah foto terjatuh tepat di samping kakinya. Di ambilnya foto tersebut dan ia menatap dalam pada pemilik wajah yang hanya tinggal nama itu.
"Kalau kau tak meninggal, apa kita sudah menikah?" Tanya Arisa yang entah pada siapa.
"Jika kau masih ada, apa aku tak akan terjebak dalam masalah perasaan dengan orang lain selain dirimu. Ini bahkan lebih rumit. Ah sial. Aku menangis lagi karena mengingatmu." Arisa terkekeh kecil seraya menyeka air matanya. Ia bangkit dan berjalan ke arah jendela lalu membukanya. Ia menatap langit yang dihiasi bintang-bintang di atas sana.
"Seperti biasa, kau selalu bersinar lebih terang Rama." Ucap Arisa kini tersenyum dan membiarkan air matanya mengalir di pipinya. Kembali ia menatap foto mantan kekasihnya yang nyaris sudah ia lupakan sepenuhnya itu.
"Beberapa tahun lalu, aku mengantar kepergianmu dengan satu keyakinan penuh bahwa aku akan bertemu denganmu lagi di keabadianNya. Kukira aku akan tegar setelah kau pamit tanpa lambaian tangan. Kupikir aku mampu melewati hari tanpa rasa sakit. Namun nyatanya, aku menipu diriku sendiri dan mengingkari segala sunyi. Tanpa sadar aku mengundang gerimis menjadi musim penghujan pada bagian halaman wajah sampai basah kuyup setiap kali aku mengingatmu." Lirihnya kini tak bisa lagi menahan tangisnya karena merindukan Rama.
"Aris... kau menangis?" Tanya Reza yang menyusul Arisa ke kamarnya. Sarah pun ikut menghampiri Arisa yang terisak sembari menggenggam kuat foto Rama ditangannya.
"Aku merindukan Rama kak." Reza terdiam, ia tahu Rama sudah meninggal namun tak tahu bagaimana Rama dulu sampai Arisa yang sudah amnesia selama 4 tahun tanpa mengingat orang-orang terdekatnya, kini kembali menangis untuk orang yang sudah meninggal.
__ADS_1
-bersambung.