TAK SAMA

TAK SAMA
122


__ADS_3

. Rayyan terdiam keheranan mendapati ungkapan Arisa yang tak pernah ia pikirkan sejak awal. Yang ia tahu jika Arisa pergi dari hidupnya, kemungkinan besarnya Arisa lah yang mencintai orang lain, bukan malah sebaliknya.


"Mengapa kau berpikir begitu? Justru harusnya aku yang bilang begitu padamu. Kau selalu berada dalam bayangan Rama, padahal kau sendiri tahu aku tak akan pernah berpaling darimu sedikitpun."


"Bohong. Kau sama saja dengan Rama. Kalian bilang mencintaiku melebihi apapun, tapi kalian sendiri yang meninggalkanku."


"Kapan aku meninggalkanmu? Arghhhh kenapa kau tak pernah mengerti Risa?" Teriak Rayyan menggema memenuhi ruangan. "Jika aku tak mencintaimu, untuk apa aku bertahan pada perasaanku padamu yang jelas selama empat tahun ini kau dianggap sudah mati. Asal kau tahu Risa. Aku adalah salah satunya dari semua orang yang masih percaya kau hidup. Aku mencari keberadaanmu. Aku membatalkan pernikahanku, aku gila karenamu Risa. Saat kau mengatakan kau akan menikah dengan Fabio, hatiku hancur, mentalku berantakan, hidupku tak karuan, aku berusaha agar tak pernah menikah dengan kakakmu, tapi kau sendiri yang memintaku untuk melakukannya. Kau pergi dengan memberikan luka padaku, dan kembali tanpa mengenaliku. Sekarang, kutanya apa maumu?" Lanjutnya dengan suara yang kian lirih. Rayyan menangis putus asa dan terduduk lesu didepan Arisa. Ia menjambak rambutnya kasar dan terus terisak. Arisa yang melihatnya pun merasa terkejut, kenapa Rayyan sampai menangis didepannya sekarang. Bukankah Rayyan sudah mencintai Raisa?


"Pulanglah." Ucap Arisa dengan nada pelan. Rayyan tersentak mendengarnya dan ia mendongak menatap tajam pada Arisa yang menunduk.


"Pulanglah Aray. Kita sudah selesai." Lanjutnya meneteskan bulir bening yang terjatuh tepat di punggung tangannya.


"Apa?"


"Kubilang pulang Aray. Kita sudah selesai, aku bukan lagi kekasihmu. Jangan pernah lagi menemuiku. Lupakan aku, dan buang perasaanmu terhadapku. Cari saja wanita lain yang mencintaimu dan yang direstui Oma Galuh. Aku bukan pilihan yang tepat untukmu." Kini giliran Arisa yang menangis tersedu-sedu didepan Rayyan.


"Aku tak akan pulang jika kau tak ikut. Oma merestui hubungan kita Risa. Bunda sangat menginginkanmu menjadi menantunya. Sein juga sangat menginginkanmu menjadi kakaknya. Ayah pun sama."


"Tapi kau tidak." Teriak Arisa menyela dengan cepat. "Kau tak menginginkanku menjadi pendampingmu. Kau mencintai Raisa, tapi kau bicara seakan kau masih mencintaiku. Kau bilang aku yang terus berada dalam bayangan Rama, tapi kau sendiri apa? Kau juga sama. Kau menganggapku sebagai Raisa kan?" Arisa tak kalah meninggikan suaranya dengan putus asa. "Jadi untuk apa aku ada dihidupmu. Sementara kau sendiri tak pernah menghargai perasaanku. Kau meyakinkanku bahwa kau tak seperti Rama yang meninggalkanku sendirian. Tapi setelah aku mencintaimu, bahkan semakin dalam, kau sendiri justru meninggalkanku dan menerima perjodohanmu dengan Rais. Dan sekarang, kau bicara seolah kau tak percaya bahwa aku mati dan bahagia atas diriku yang masih hidup, lalu kau bicara tentang pernikahanmu yang batal dengan Raisa karena kepergianku, sekarang kau terus meyakinkanku bahwa kau mencintaiku. Tapi nyatanya semua ucapanmu hanyalah kebohongan. Kali ini aku tanya, apa maumu sebenarnya? Kau mau menghancurkanku bagaimana lagi? Aku sudah cukup hancur dengan keluargaku. Dan kau? Argghhhhh semuanya membuatku ingin mati saja." Teriaknya dengan menangis keras dan menutup wajahnya yang sudah berantakan karena air mata.


"Apa yang kau bicarakan ini Risa? Kenapa kau berpikir aku mencintai Raisa?"


"Kau memeluknya, dan kau menyayanginya bukan? Aku melihatnya sendiri. Apa kau pikir aku bodoh? Aku mencintaimu bukan untuk kau bodohi Aray. Aku tulus. Aku mencintaimu karena memang aku ingin hidup denganmu. Tapi apa yang ku dapat? Ternyata benar. Pantas saja kak Tio melarangku untuk mengingat kembali kenangan-kenangan tentang hidupku. Karena memang semuanya membuatku sakit kepala. Kematian Rama, kanker hati, kematian adik seayahku, lalu perasaanku padamu dan kenangan kita yang seharusnya tak pernah aku ingat. Tapi aku malah kembali mengingat semuanya." Lirihnya semakin putus asa.


"Ka-kau mengingat semuanya? Risa? Kau mengingatnya?" Rayyan perlahan mendekat dan ia hendak meraih Arisa yang terus menunduk. Menyadari sentuhan Rayyan, segera Arisa menepis kasar tangan Rayyan dan menjauhkan dirinya.


"Menjauh dariku. Tinggalkan aku sekarang."


"Tidak. Aku tak akan pernah meninggalkanmu."


"Kau egois Rayyan."


"Iya aku egois. Aku hanya menginginkanmu saja. Sekarang, ikut aku pulang!" Rayyan menarik tangan Arisa dengan paksa dan Arisa sendiri meronta-ronta berusaha agar terlepas dari genggaman Rayyan.


"Lepaskan aku Rayyan." Namun Rayyan tak menghiraukan teriakan Arisa, ia terus menarik Arisa. Arisa yang mencoba menahan dirinya agar tak sampai melangkah keluar dari pintu, segera meraih apa saja untuk menjadi pegangan. Namun karena kekuatan Rayyan yang lebih kuat dan mendominasi, ia tak bisa lagi menahan pegangannya sehingga terlepas. Sebuah ide gila terlintas di benak Arisa meskipun harus menyakiti Rayyan. Dengan tanpa ragu, Arisa menarik diri ke arah berlawanan dan Rayyan pun sedikit tertahan membuatnya terhenti. Dan mendapatkan kesempatan kecil itu, Arisa menendang kaki Rayyan dan masih berusaha menarik dirinya sendiri. Karena refleks, Rayyan melepaskan genggamannya karena linu akibat tendangan Arisa. Dan 'bugh' Arisa terjatuh dengan posisi kepala yang membentur tembok dengan keras. Terdengar suara nafas Arisa yang tersenggal sebelum ia ambruk dan terdiam meraih kepalanya. Rayyan terbelalak melihat Arisa yang tak bergerak dan terisak kecil memegangi kepalanya yang mungkin terus berdenyut.

__ADS_1


"Risa... ka-kau baik-baik saja? Ma-maafkan aku. Jika kau tak menendang kaki ku, aku juga tak mungkin melepaskanmu." Rayyan semakin terkejut saat melihat darah di hidung Arisa. Segera Arisa menutupinya dengan tangan dan ia beranjak namun tubuhnya terhuyung dan ia tak bisa menahan tubuhnya yang terasa mati rasa. Kesadarannya memudar dan terdengar suara Rayyan semakin menghilang.


. Arisa meraih kepalanya yang terasa linu di bagian belakang, ia mengerjapkan matanya dan mencoba untuk sadar sepenuhnya.


"Risa sayang... aku benar-benar minta maaf." Ucap Rayyan secepat mungkin menampakkan dirinya didepan mata Arisa dengan tangan yang terus menggenggam tangan Arisa tanpa berniat melepaskannya meskipun hanya sebentar.


"Aku ingin sendiri." Ucap Arisa memalingkan wajahnya kesisi lain dan ia tersentak mendapati wajah Daffa yang datar dan polos sedang menatap ke arahnya.


"Hai." Sapanya terdengar lemas.


"Ihhh Daf. Kau mengejutkanku."


"Apa wajahku seperti hantu?" Tanya Daffa dengan lirikan sinis.


"Menurutmu?"


"Hei Aris? Kau punya dendam apa padaku hah?"


"Daf... aku boleh meminta sesuatu?" Tanya Arisa beranjak dan seakan mengabaikan keberadaan Rayyan di sampingnya.


"Bisakah kau bawa temanmu pulang dan jangan kembali mencariku?" Dengan tiba-tiba, Rayyan meraih kasar pundak Arisa hingga menoleh paksa padanya.


"Mau sampai kapan kau begini Risa?" Tanya Rayyan dengan suara pelan namun terdengar tegas dan menekan. Ia sangat menyadari situasinya yang sedang berada di klinik.


"Please...." Arisa memohon menatap harap pada Rayyan yang semakin tajam menatapnya.


"No." Tegas Rayyan meyakinkan.


"Apa yang membuatmu ingin membawaku kembali ke Jakarta?" Tanya Arisa mendadak menjadi serius.


"Karena aku mencintaimu, dan aku ingin hidup berdua hanya denganmu. Kita menikah, dan menjadi keluarga."


"Tapi aku membencimu." Tegas Arisa menyesakkan nafas Rayyan seketika. Ia menatap dalam mata Arisa yang benar-benar serius mengatakannya.


"Kau pikir aku percaya?" Perlahan Rayyan melepaskan tangannya dari Arisa dan ia sedikit menjauh dengan hati yang terasa disayat.

__ADS_1


"Daf.... aku tak akan merestui hubunganmu dengan Wina jika kau masih disini."


"Aris..."


"Daf... ini permintaan terakhirku. Aku ingin tenang disini."


"Risa!" Tegas Rayyan menghentikan celotehan Arisa. "Sebenarnya omong kosong apa yang terus kau bicarakan dari tadi hah? Aku tak menghargai aku? Kemana Arisa yang dulu? Sejak kapan kau begini?"


"Bukankah Arisa sudah mati? Aku Putri. Bukan Arisa."


"Apa? Hahahaha sandiwara apa yang sedang kau mainkan Risa? Jangan bersikap seakan kau melupakan malam perpisahan kita. Kau yang memulai duluan, dan sekarang kau bilang kau membenciku? Haha jangan membuatku tertawa Risa." 'Plak!'


"Ku bilang pergi" teriak Arisa bersamaan dengan tamparan kerasnya yang mendarat di pipi Rayyan.


"Kau yakin menginginkanku pergi?" Rayyan menatap lekat sembari meraih pipinya yang panas karena tamparan Arisa.


"Apa aku terlihat bercanda?" Tatapan Arisa tak kalah serius menatap Rayyan yang menyipit merasa tak habis pikir dengan sikap Arisa yang berbeda. Rayyan menghela nafas dalam sambil tersenyum sinis memalingkan wajahnya.


"Baiklah. Jika memang itu maumu. Aku akan pergi. Tapi jangan pernah kau memintaku untuk kembali."


"Pergilah. Kau tak perlu khawatir, aku tak akan memintamu kembali." Tegas Arisa menjawab dengan lantangnya.


"Aris... Aray... kalian ken--"


"Diam!!" Ucap keduanya serentak dan membungkam Daffa seketika.


"Harusnya kau paham dengan kepergian ku. Tak perlu kau cari aku sampai kesini. Mau bagaimanapun, aku sudah terlanjur membencimu."


"Ohhh jadi kau membenciku? Baiklah. Daffa ayo pulang. Sia-sia saja aku menyusul anak tidak tahu diri ini." Rayyan berlalu begitu saja tanpa menoleh kembali ke belakang. Daffa merasa bimbang dirinya harus berpihak pada siapa sekarang.


"Kenapa kau masih disini?" Tanya Arisa melirik sinis pada Daffa yang masih kebingungan menoleh keluar dan pada Arisa bergantian.


"Dasar kau ya... aku sudah lelah, dari hari masih gelap, disaat orang lain masih tidur, aku harus menemani Rayyan yang merengek ingin secepatnya menyusulmu. Dan setelah sampai disini, kau malah bersikap begini padaku? Aishhhh kau tak ada rasa simpatinya padaku dan Rayyan. Kau benar-benar berubah Aris. Ohh salah, maksudku Putri." Ucap Daffa sebelum pergi. Ia kemudian berlalu menyusul Rayyan yang sudah keluar dan mungkin sudah pergi jauh. Namun, Daffa terkejut saat ia mendapati Rayyan masih berada di depan ruangan Arisa dengan sembunyi. Dan ia semakin heran kenapa Rayyan kembali memasuki ruangan Arisa.


"Maaf. Ponselku tertinggal." Ucap Rayyan dengan wajah datar menatap Arisa yang tengah menyeka air matanya karena kedatangan Rayyan yang tiba-tiba.

__ADS_1


-bersambung.


__ADS_2