TAK SAMA

TAK SAMA
138


__ADS_3

. Arisa terdiam membisu ketika Rahma berada didepannya yang jelas berusaha memisahkannya dari Raisa.


"Kenapa kau begitu peduli pada mereka? Bukankah kau sendiri tahu bagaimana perempuan itu membuat mama sakit hati?"


"Jika kau tak tahu yang sebenarnya, sebaiknya jaga ucapanmu. Bunda tak seperti yang kau katakan. Jika kau punya pikiran, harusnya kau berpikir kenapa aku bisa berubah setelah hidup dengannya. Jika kau masih menganggap mereka buruk, itu menunjukkan bahwa kau tak punya pikiran."


"Aris.!" Tegas Rahma kembali membuat Arisa terdiam. "Hentikan. Sudah." Lanjutnya dengan nada suara yang melembut.


"Harusnya aku tak ke sini saja. Mau bagaimana pun keadaannya, hanya Rais yang mama bela. Mama tak pernah memikirkan perasaanku bagaimana." Ucap Arisa sembari tertawa miris. Ia mengusap air matanya yang keluar tanpa permisi lalu memandangi tangannya dengan lekat.


"Ah sial. Aku baru menangis lagi karena sakit hati. Jika dengan bunda, aku hanya menangis karena tak boleh makan pedas dan karena di jahili kak Reza." Cetusnya sembari berjalan menuju pintu depan. Rahma tahu, Arisa hendak kembali pergi. Maka secepatnya ia menarik tangan Arisa dan menahannya agar tak melanjutkan langkahnya.


"Nak mau kemana? Jangan pergi lagi. Tolong... mama mohon." Lagi Arisa hanya tersenyum miris.


"Kenapa ma?" Tanya nya lirih sembari meraih tangan Rahma. "Kenapa mama hanya memohon agar aku tak pergi? Kenapa mama tak bertanya apakah ada yang membuatku menangis, atau bertanya bagaimana perasaanku hingga aku memutuskan untuk pergi. Selama ini tidak kan? Dan itu kenapa aku selalu merasa bahwa putri mama hanyalah Raisa saja." Lanjutnya perlahan melepaskan tangan Arisa.


"Harus bagaimana lagi mama menunjukan bahwa mama menyayangimu? Apa selama ini masih kurang dan membuatmu tak puas?"


"Bukan aku tak melihat perhatian mama, hanya saja aku bisa menghitung berapa kali mama memperhatikanku. Dan seberapa puluh, bahkan juta kali mama menyayangi Rais."


"Jadi, apa maumu? Agar mama bisa membuktikan bahwa mama memang menyayangimu."


"Pilih aku atau Rais?" Sontak Rahma dan Raisa terbelalak mendapati pertanyaan konyol itu.


"Lupakan. Aku sudah tahu jawabannya." Ucapnya lagi sembari melanjutkan langkahnya menuju mobil.


"Mang Ujang. Antar Aris ya!" Titahnya dengan berteriak karena posisi mang Ujang yang sedikit jauh dengannya.


"Baik non." Sahut mang Ujang yang langsung bergegas menghampiri Arisa.


"Aris.... mama mohon jangan pergi." Lagi, Rahma mengejar, namun Arisa bergegas memasuki mobil. Disusul oleh mang Ujang dan siap menyalakan mobil. Namun, ia merasa tak tega melihat Rahma terus memukuli kaca yang sengaja Arisa tutup dan pintunya segera ia kunci.


"Jangan pernah membuka kaca. Atau mamang Aris pecat sekarang juga." Ancam Arisa dengan suara yang dingin.


"B-baik non." Sahut mang Ujang dengan nada ketakutan.


"Mang... jangan jalan mang. Atau mamang akan langsung di pecat. Mamang tak boleh kembali lagi setelah pergi." Ancam Rahma yang sama-sama mengerikan.


"Mang. Jalan." Rengek Arisa semakin kesal.


"Tapi non...."


"Ya sudah. Mamang keluar saja." Teriak Arisa dengan lantang. Mang Ujang benar-benar terkejut akan kemarahan Arisa yang tak main-main. "Keluar mang!" Lagi, Arisa lebih tegas membuat mang Ujang menuruti ucapannya. Setelah mang Ujang menutup pintu, Arisa berpindah posisi ke kursi depan dan siap mengemudi.


"Aku saja bisa sendiri." Cetus Arisa sembari memasangkan sabuk pengaman. Rahma beralih berdiri tepat di depan mobil menahan Arisa agar tak pergi. Segera Raisa meraih Rahma dan menatap Arisa yang tajam menatap mereka. Arisa menyalakan mobil dan membunyikan klakson membuat ibu dan kakaknya terlonjak karena terkejut.


"Ma... ayo. Disini bahaya."


"Tapi Rais.... Aris akan pergi."


"Rais akan bicara pada ayah" bujuk Raisa mencoba menghindari Rahma dari depan mobil Arisa. Bersamaan dengan kepergian Arisa, Raisa langsung memberi laporan pada Wina agar memberitahu Yugito bahwa Arisa kabur. Tak menunggu waktu lama, Arisa yang hampir sampai di kantor ayahnya pun merasa heran mengapa banyak anggota kepolisian yang tengah bersiaga. Seingatnya, disini bukan jalur yang di jaga polisi. Dan yang lebih heran, mengapa mobilnya diberhentikan lalu di kepung. Arisa mendadak panik. Ia tak melakukan kesalahan apapun, tapi kenapa berurusan dengan polisi. Atau karena ia dianggap yang bertanggung jawab atas kematian Citra. Segera Arisa meraih ponselnya dan langsung menghubungi Tio.

__ADS_1


"K-kak... to-tolong. A-Aris di-dikepung polisi...." rengeknya masih panik.


"Kakak diluar tepat di sebelah utara." Mendengar jawaban Tio, Arisa langsung menoleh ke arah utara untuk memastikan. Dan benar saja, disana ada Tio yang berdiri disamping polisi muda. Tiba-tiba, 'tok-tok-tok' suara ketukan di kaca mobil membuat Arisa terlonjak. Ia perlahan membuka pintu dan dengan gemetar turun dari mobil. Namun 'jeduk' kepalanya terbentur karena tak hati-hati. Segera Arisa meraih kepalanya dan meringis. Setelah berada di samping Tio, Arisa menyembunyikan tubuhnya di belakang tubuh kekar Tio.


"Sudah selesai?" Tanya polisi muda itu.


"Sudah. Terima kasih sudah membantu." Balas Tio langsung bersalaman dan mereka saling memberikan tos khas yang jelas menunjukan bahwa mereka saling kenal. Melihat polisi bubar, Arisa terheran karena ia tak di interogasi sama sekali.


"Jangan kabur-kabur lagi oke. Atau kakakmu bisa stres nanti." Ucap si polisi sambil mengacak rambut Arisa dan langsung memasuki mobil kemudian berlalu melesat cepat.


"Kakak kenal?" Tanya Arisa sembari meraih kepala dan hidungnya.


"Dia teman kakak saat SMP. Dan--Aris darah." Pekik Tio segera meraih bahu Arisa. Arisa tak kalah terkejut mendapati darah dari hidungnya.


"Kak... terben--tur...." lirihnya langsung melemas dan terlelap.


"Aris! Bangun! Hei.... jangan bercanda dengan kakak." Namun Arisa masih terlelap tak bisa dibangunkan.


. "Bagaimana?" Tanya Tio setelah Dimas memeriksanya.


"Tak ada masalah. Kesehatannya baik-baik saja. Tapi...." Dimas menggantungkan penjelasannya membuat Tio penasaran dan kesal menunggu kalimat lanjutannya.


"Kenapa kau suka sekali menggantungkan ucapanmu?" ~Tio.


"Aku menganalisa hasil pemeriksaanku sialan." ~Dimas.


"Kenapa kau tak menghafalkannya terlebih dahulu sialan." ~Tio.


"Dasar dokter egois." ~Tio.


"Apa dia panik?" Tanya Dimas mengalihkan pembicaraan.


"Hah?" Pekik Tio yang tak paham alur pembicaraan Dimas.


"Kau ini gila atau bagaimana? Aku tanya, apa tadi Aris panik?" tanya Dimas mengulang kini dengan nada kesal.


"Oh... sepertinya begitu." Mendapat jawaban Tio, Dimas malah semakin kesal.


"Kau ini bagaimana? Kenapa tidak yakin begitu?"


"Ya memang aku tak yakin. Tapi yakin. Karena tadi dia di kepung polisi." Jawab Tio.


"Hah? Dikepung? Kenapa?" Dimas begitu terkejut dan merasa penasaran.


"Kata Rais dia mau kabur lagi, jadi aku langsung meminta bantuan polisi saja."


"Aisshhh pantas saja Aris panik."


"Ya begitulah."


"Kapan dia kesini?" Tanya Dimas yang beralih menatap Arisa.

__ADS_1


"Kemarin. Aku tak tahu alasan dia kemari. Tapi sepertinya karena Rayyan. Dan aku membujuknya untuk pulang. Dan entah apa lagi yang membuatnya ingin kabur. Padahal kemarin dia sangat dewasa, ia bersedia merawat mama sendirian." Jawab Tio ikut menatap Arisa.


"Apa Aris akan berakhir dengan Rayyan?" Tanya Dimas semakin lekat menatap Arisa.


"Kenapa? Apa kau masih menyukai Aris? Bukankah kau sudah punya pacar?"


"Entahlah. Deby memang baik. Dia perhatian, dan selalu mengirimku makanan. Tapi, entah kenapa aku belum bisa membuka hati untuknya. Malah Wina yang bisa membuatku jatuh cinta tanpa melakukan apa-apa." Jawab Dimas.


"Kau jadi curhat? Hemmmm Ku kira kau menyukai Aris."


"Bohong jika aku menjawab tidak. Karena semenjak Rama meninggal, aku yang selalu di sisinya, siapa yang tak suka padanya?"


"Tapi maaf Dim. Aku dan keluargaku sudah memutuskan untuk menjodohkan. Emmm bukan. Tapi menyatukan kembali Arisa dengan Rayyan." Ujar Tio memasang wajah yang tak enak hati.


"Haha tak apa. Aku sudah tahu. Dan aku lega jika Aris sudah bisa melupakan dan merelakan Rama. Meskipun Gilang tak setuju jika Aris dengan Rayyan, tapi aku yakin Rayyan itu pria yang baik."


"Ya... kau berhati besar juga ternyata." Ejek Tio ditanggapi tawa kecil oleh Dimas.


"Oh jadi kalian tertawa saat aku pingsan?" Sindir Arisa yang beranjak dari tidurnya.


"Eh kau sudah bangun?" Tanya Tio langsung meraih Arisa.


"Kak? Apa polisi-polisi itu mencurigaiku?" Tio menyernyit mendapati pertanyaan dari Arisa yang tiba-tiba.


"Kenapa kau bertanya begitu?" Lirih Tio balik bertanya.


"Citra meninggal karena aku kan? Aku yang bertanggungjawab sepenuhnya atas kematian Citra. Jika saja aku tidak menyuruhnya mengambil mobilku, mungkin ini tak akan terjadi. Dan Citra masih hidup sekarang. Padahal aku tahu Citra tak bisa mengemudi. Tapi aku malah menyuruhnya, ah sial... aku terlalu egois. Hanya memikirkan diri sendiri saja."


"Aris.... jangan menyalahkan diri sendiri. Masalah itu sudah lama selesai. Selain aku, Fabio pun ikut mempertanggung jawabkan tragedi itu. Karena bawahannya pun ada yang menjadi korban. Yang meninggal saat itu bukan hanya Citra. Ada 2 orang lagi. Wajar saja Fabio tidak memberitahumu. Dia tak mau kau terlalu memikirkan hal itu."


"Tapi kak..."


"Sudah.... sebaiknya sekarang kita pulang." Bujuk Tio sembari mengelus kepala Arisa.


"Maaf kak. Aku mau ke Bandung. Kak Reza salah faham padaku."


"Salah faham?"


"Rais tidak memberitahu kak Reza aku tak pulang. Padahal dia yang bilang akan memberitahu kak Reza." Tio mengerjapkan matanya karena Arisa menjawab dengan suara yang tinggi.


"Baguslah. Dengan begitu, Aris bisa tetap tinggal disini nantinya. Semoga Reza dan tante Sarah marah pada Aris. Dan setelah itu, Aris hanya menjadi adikku saja." Batin Tio tersenyum tipis melihat Arisa yang gelisah sendiri.


. "Kak Aray.... Sein mau bertemu kakak putri..." rengeknya menarik tangan dan menatap harap pada Rayyan.


"Tapi kakak putrinya..."


"Kalau kakak putri tidak ada, Sein tak mau makan." Ancamnya membuat Rayyan khawatir.


"Sein jangan begitu. Kakak putrinya sedang sibuk."


"Kakak putri yang sibuk atau kakak yang tak mau bertemu kakak putri?" Rayyan terbelalak bagaimana bisa Sein tahu Rayyan sedang menghindari Arisa.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2