TAK SAMA

TAK SAMA
75


__ADS_3

. "Tuan... saya menemukan mobil milik nona ada di depan bandara. Tapi sepertinya nona sudah tak ada di sekitar bandara tuan." Ucap salah seorang bawahan pada saluran telepon.


"Cari tahu kemana dia pergi." Ucap Fabio kemudian menutup panggilan teleponnya. Segera Fabio berlalu menuju bandara yang di maksudkan bawahannya. Ia sengaja tak memberitahu Yugito bahwa ia sudah menemukan petunjuk keberadaan Arisa.


"Kau mau bermain denganku?" Gumam Fabio menggertak kan gigi dan mengepalkan tangannya kuat menahan kesal. Saking paniknya, Fabio bahkan lupa dengan ancaman yang pernah ia lontarkan pada Arisa.


"Tuan... ada seorang gadis yang masuk kedalam mobil." Ucap salah seorang lagi dengan cepat melapor setiap ada pergerakan.


"Kau ikuti kemanapun dia pergi." Tegasnya.


"Baik tuan." Jawabnya sigap. Fabio menyuruh keluarganya untuk pulang dan biarkan dirinya saja yang mencari Arisa.


"Mama tenang saja. Aku punya banyak bawahan. Jadi jangan khawatir." Ucap Fabio meyakinkan sang ibu yang sudah memasuki mobil milik keluarganya.


"Jika ada apa-apa segera hubungi orang rumah nak." Ucap sang ibu dengan penuh perhatian.


Fabio bergegas memasuki mobil bawahannya yang menjemput dirinya ke kediaman Yugito, ia menolak di kawal dan memilih mengemudi sendiri. Lagi, para bawahan hanya melaporkan bahwa mobil Arisa masih berada di tempatnya.


"Sedang apa dia? Apa menangis? Atau menunggu seseorang?" Gumam Fabio yang terus mempercepat laju mobilnya.


. "Bagaimana ini? Aku tak bisa mengemudi. Dan kenapa Daffa tak menjawab panggilan teleponku." Ucap Citra berdecak kesal. Ia tak tahu cara mengemudi. Jika tahu permintaan Arisa adalah membawa mobilnya ke rumah, mungkin ia akan membawa temannya. Citra menghela nafas dalam untuk menenangkan dirinya. Ia mencoba menghidupkan mobil, dan berhasil. Tiba-tiba Citra merasa panik karena ada beberapa mobil yang terlihat mendekat kearahnya. Ia takut jika itu adalah pencuri yang menginginkan mobil Arisa. Citra menekan pedal gas dengan keras membuatnya tak bisa menyeimbangkan kemudinya. Citra dengan panik membelokan stir sampai ia berhadapan dengan mobil jeep milik bawahan Fabio. Keduanya tak bisa menghentikan mobil karena terlalu cepat. Citra mencoba membelokan kembali mobilnya dan malah bertabrakan dengan mobil lain. Belum sempat para bawahan Fabio mengeluarkan Citra yang sudah jelas tak sadarkan diri, terlihat percikan api dari kap mobil Arisa, dan tak lama mobil itu meledak bersamaan dengan datangnya Fabio. Fabio terhenti menatap dalam kobaran api didepannya.


"Arisa? Apa ini keputusanmu? Apa kau begitu membenciku sampai kau memilih mati dari pada menikah denganku? Sungguh itu menyakitkan Arisa." Gumam Fabio memegangi dadanya yang berdenyut keras.


"Arrggghhhhhhhhh" teriaknya putus asa. Fabio ambruk, lututnya mendadak lemas menyaksikan mobil bawahannya pun ikut meledak. Tak lama berselang, ditengah kesedihannya, terdengar suara sirine polisi dan pemadam kebakaran. Bawahan Fabio terhitung cepat bertindak agar tak banyak media yang datang. Dan terlihat juga mobil keluarga Putra tiba di tempat. Terlihat Raisa yang baru turun langsung berlari sambil meneriaki nama Arisa berulang-ulang dengan tangis yang sangat keras. Tio mengejar lalu menahan agar Raisa tak terlalu dekat pada api.


"Aris kak, Aris.... aku ingin menolong Aris" teriak Raisa lagi memekik telinga. Tio menatap dalam pada kobaran api dengan tidak percaya, namun ia menyipitkan matanya dan tak bisa membendung embun dari matanya ketika mengenali sebuah tanda yang hanya Arisa pemiliknya.


Ia ikut putus asa merasa kehilangan adik tersayangnya. Tio dengan erat memeluk Raisa sambil ikut menangis. Yugito berjalan mendekati petugas dengan wajah yang datar seakan tidak merasa kehilangan. Padahal Rahma tak sadarkan diri saat mendengar kabar buruk ini.


***


"Maaf jasadnya tidak utuh. Kami tak bisa mengenali apakah itu putri anda atau bukan." Jelas salah seorang dokter yang menangani jasad Citra.


"Dok... apa ada bekas jahitan di dadanya?" Tanya Rahma lagi dengan menatap harap pada sang dokter.


"Ma.. sudah... ikhlaskan Aris. Mama jangan seperti ini." Lagi, pecah kembali tangis Rahma saat Tio berkata demikian.


"Dia bukan Aris Tio... mama yakin. Dia bukan Aris...." ucapnya tersenggal. Rahma begitu yakin bahwa gadis itu bukan Arisa, namun tetap saja ia tak bisa menahan tangisnya karena bukti mobil yang terbakar itu adalah milik Arisa.

__ADS_1


Yugito menangis didalam mobil mengingat betapa ia bersikap kasar pada Arisa dan bahkan menamparnya begitu keras.


"Apa kau akan memaafkan ayah nak?" Lirihnya menyeka air mata yang terus berderai.


. Pagi-pagi, setelah Arisa sampai di stasiun kota Bandung. Ia turun dan membawa tas sedang yang ia siapkan di rumah Citra. Mengingat Citra hanya tinggal sendiri, jadi Arisa merasa leluasa menitipkan barang-barangnya. Ia menunggu hari yang semakin siang untuk menuju tempat dimana tertera dalam alamat yang ia tulis sebelum mematikan ponselnya. Ia menyusuri setiap jalan dengan sebuah taksi yang ia berhentikan di sekitar stasiun.


Sampai ia tiba disebuah perusahaan, Arisa tertegun, kenapa nama Artaris?


"Benar-benar perusahaan ayah." Ucapnya pelan. Arisa berjalan menuju pos penjaga dan menanyakan tentang rumah bos perusahaan ini. Namun satpam tersebut tak mengetahui rumah Reza dimana. Ketika hendak pergi, Arisa melihat seorang dengan stelan yang rapi dan berkelas.


"Emm permisi tuan.. saya boleh bertanya?" Seketika itu Zain termangu menatap Arisa yang sekilas mirip dengan Nadhira.


"Mengapa dia mirip dengan Nadhira?" Gumamnya tak sedikitpun memalingkan pandangannya dari Arisa.


"Apa tuan tahu alamat rumah dari Ali Fahreza?" Tanya Arisa dengan ramah.


"Ada keperluan apa nona ke rumah beliau?"


"Saya ingin bertemu dengan beliau dan ibunya."


"Kebetulan beliau sedang disini dan ada rapat penting. Dan tante Sarah ada di rumah."


"Kalau begitu, saya meminta alamat rumahnya saja. Saya ingin menemui mama Sarah." Ucap Arisa menegaskan lagi.


"Terima kasih tuan." Ucap Arisa kemudian berlalu dan bergegas menuju tempat tujuan. Sampai akhirnya ia tiba di sebuah rumah yang terhitung besar dengan design modern 2 lantai. Dengan cepat Arisa menekan bel dan seorang pekerja membukakan pintu gerbang.


"Cari siapa neng?" Tanya mang Asep dengan ramah.


"Apa benar ini rumah kak Ali?" Tanya Arisa memastikan. Terlihat raut wajah mang Asep menjadi heran.


"Ali? Disini adanya A Reza neng." Jelasnya kemudian.


"Emmm tapi namanya Ali Fahreza." Ucap Arisa dengan polos.


"Ohhhh sebentar atuh ya... mamang tanya dulu sama ibu." Mang Asep mengajak Arisa sampai ke teras dan Arisa sendiri duduk menunggu Sarah. Arisa menoleh kesana kemari dan merasa nyaman dengan taman kecil namun sangat asri.


"Cari siapa nak?" Tanya Sarah membuat Arisa menoleh dan menatapnya. Seketika itu juga, Sarah mematung menatap Arisa.


"Ka-kamu..." ucap Sarah terbata. Mendadak lidahnya kelu karena terkejut mengapa Arisa sampai dirumahnya. Dengan cepat Arisa mencium tangan Sarah. Memang anak yang sopan, namun sangat kasihan.

__ADS_1


"Apa Yugito tahu kau kesini?" Tanya Sarah mendadak khawatir sendiri. Arisa menggeleng menanggapi pertanyaan Sarah. Sarah seketika menyernyit, mengapa bisa? Padahal siapapun yang ada di lingkungan Yugito, tak semudah itu melarikan diri.


"Mama... i-ini memang memalukan. Tapi, Aris butuh bantuan mama."


"Bunda nak. Reza dan Nadhira biasa memanggilku bunda." Ucapnya menyela saat Arisa menghela nafas penuh keraguan.


"Maaf bunda." Lirih Arisa memalingkan wajahnya sedikit dan menunduk. Sarah tersenyum melihat sikap Arisa yang menurutnya sama dengan Nadhira.


"Bagaimana kondisimu sekarang?" Tanya Sarah yang mengetahui penyakit Arisa.


"Berkat Nadhira, Aris baik-baik saja bunda." Jawabnya semakin menunduk.


"Bukan. Bukan itu. Tapi lambungmu." Seketika Arisa mendongak menatap Sarah dengan heran.


"Kau sudah makan?" Tanya Sarah lagi. Arisa menggeleng pelan. Memang menyejukkan bagi Arisa mendapat perhatian kecil dari sosok ibu, dengan situasi hubungannya yang tengah tak baik dengan keluarganya.


"Emmm Aris..." lirih Arisa ragu.


"Kebetulan bunda masak banyak. Dan Reza berangkat pagi sekali, bunda tak ada teman sarapan." Ucap Sarah kemudian menarik tangan Arisa masuk ke rumah. "Biar mang Asep saja yang membawakan barang-barangmu." Lanjut Sarah yang tak melepaskan tangan Arisa.


"Bunda... Aris..."


"Nanti setelah makan, kamu ceritakan masalahmu kenapa bisa sampai kesini. Oke?" Sarah menyela ucapan Arisa yang terbata. Arisa hanya bisa mengikuti ajakan Sarah untuk makan bersamanya. Ia tak diijinkan menolak oleh Sarah sendiri. Sarah pun seakan merasakan kembali memiliki seorang putri, meskipun hatinya terasa teriris karena Arisa adalah anak tirinya.


"Nadhira! Kamu memberikan hidup pada orang yang tepat." Gumam Sarah yang merasa bahagia bercampur sedih saat ini.


. Di kantor, Zain menceritakan kedatangan Arisa pada Reza yang baru saja selesai meeting. Terlihat Reza terkejut mendengar cerita Zain.


"Kau memberikan alamat rumahku?" Tanya Reza mencengkram kerah baju Zain.


"Memang kenapa Za? Dia tidak berbahaya kan?" Zain balik bertanya dengan menatap heran pada Reza.


"Argggghhhh sial...." teriak Reza menghempaskan Zain lalau ia bergegas menuju rumah. Zain yang penasaran dengan sikap Reza, memutuskan untuk mengikuti Reza.


Saat di loby, Reza terhenti saat melihat sebuah artikel yang muncul di layar ponselnya sebagai berita terhangat. Jika ia tak mendengar desas desus di kantornya, Reza tak mungkin membuka artikel itu. Ia terkejut mendapati putri bungsu Yugito Syahputra meninggal karena kecelakaan. Lalu, siapa yang di maksud oleh Zain? Bukankah lusa adalah hari pernikahan Raisa, putri tertua. Dan yang dikabarkan meninggal ini adalah putri bungsu sekaligus calon istri dari Arga Fabio Nalendra. Jika ini hanya sandiwara, tak mungkin di perlihatkan jasadnya.


"Apa-apaan ini. Apa yang sebenarnya terjadi?" Lirih Reza menatap lekat pada ponsel miliknya. Ia sesegera mungkin berlalu pulang ke rumah untuk memastikan.


. Sampai dirumah, Reza berjalan cepat dan ia benar-benar terkejut mendapati Arisa tengah mengobrol santai dengan ibunya. Terlihat amarah tersirat di wajah Reza.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan disini? Kau mau aku dan ibuku terkena masalah lagi?" Teriaknya berjalan semakin dekat pada Arisa. Arisa terkejut mendapati kemarahan Reza. Sebenci itukah Reza pada keluarganya?


-bersambung.


__ADS_2