
. Tio memasuki kamar Raisa dan kemudian memeluk kedua adiknya.
"Maafkan kakak yang tak bisa menjaga kalian. Jika saja kakak memperhatikan kalian, mungkin tak akan seperti ini jadinya." Tio ikut menangis mendekap erat keduanya.
"Kakak sudah tahu. Tapi kakak tidak memberitahuku." Ucap Raisa menepuk keras lengan Tio.
"Mengapa kalian menangis sekarang? Aku masih disini. Jika aku sudah meninggal, tak heran jika kalian menangis keras juga." Timpal Arisa yang mendadak menjadi dingin.
"Diam kau bodoh. Kau pikir penyakit kanker itu mudah disembuhkan?" Teriak Raisa.
"Siapa yang kanker?" Tanya Ayah tiba-tiba mengejutkan ketiga anaknya. Ketiganya menoleh bersamaan dengan wajah berantakan. Ayah terbelalak dengan cepat menghampiri dan meraih mereka.
"Kalian kenapa? Siapa yang kanker? Siapa yang meninggal?" Ketiganya terdiam melihat sang ayah bertanya dengan nada tinggi penuh khawatir itu.
Arisa membenahkan wajahnya lalu dengan santai tersenyum pada Raisa.
"Bagaimana aktingku dan kak Tio Rais? Apa kau sudah bisa menghayati ceritanya? Yaa kurang lebih seperti itulah." Ucap Arisa memberi kedipan kode pada Raisa dan Tio yang terlihat bingung.
"Rais bilang ada tugas drama di kampusnya ayah, tapi dia tidak bisa menangis, jadi aku dan kakak membantunya. Menurut ayah bagaimana? Apa Aris sudah cocok jika jadi aktris?" Arisa menoleh pada ayah yang semula panik menjadi sedikit tenang karena ucapannya.
Ayah menyernyit mendapati perbedaan wajah diantara putrinya. Lalu ayah meraih wajah Raisa, meraba dahi, pipi, bahkan lehernya untuk memastikan bahwa putrinya baik-baik saja.
"Ayah... Rais baik-baik saja."
"Ayah takut... jangan membawa kanker. Ayah selalu takut pada penyakit itu. Apalagi jika menimpa anak-anakku." Ucap ayah mulai gemetar dan seolah tak mempedulikan alasan Arisa. Arisa tersenyum dan berlalu dari kamar Raisa karena dirasanya sudah tak bisa menahan sakit didepan ayahnya.
Arisa terbatuk saat sudah keluar dari kamar, sampai memasuki kamarnya pun, terdengar Arisa masih terbatuk-batuk.
"Tio permisi dulu ayah." Tio berlari mengejar Arisa ke kamarnya.
Ayah menyernyit hendak menyusul. Namun ketika mendengar batuk Arisa yang berhenti, ayah merasa lega dan kembali keluar dari kamar Raisa.
Tio lagi-lagi mendapati Arisa yang terjatuh di lantai dengan meringis kesakitan. Wajahnya semakin pucat, Tio dengan panik meraih Arisa.
"Aris... bertahanlah. Kakak mohon jangan keras kepala. Kita ke rumah sakit oke?" Arisa menggeleng seraya bergumam pelan. Tio tak begitu mendengarnya.
Entah memang sakit yang teramat sakit, kini Arisa kembali tak sadarkan diri. Tio semakin takut saat memindahkan Arisa ke tempat tidur. Pikirannya sudah kemana-mana. Jika meminta Dimas untuk kerumahnya, orang rumah pasti ingin tahu mengapa Dimas sering memeriksa Arisa.
Tio mencoba kembali menghubungi Marcel. Keduanya berbincang serius dari sambungan telepon.
"Maafkan aku Tio." Ucap Marcel menghela nafas berat.
"Baiklah. Mau bagaimana lagi. Jika disana tak ada, mungkin aku harus mencari pendonor yang cocok untuk Aris disini."
"Sebenarnya hatiku cocok untuknya Tio."
"Kau gila? Meskipun aku menginginkan Aris tetap hidup, tapi bukan berarti aku harus egois dengan ini. Meskipun hatimu memenuhi kriteria pendonor untuk adikku, aku tak mau jika kehilanganmu."
"Jadi?"
"Aku hanya berharap adikku baik-baik saja sekarang. Kalau bisa aku ingin menggantikan posisinya."
"Tio... aku juga disini akan mencari informasi. Dan jika saja aku menemukan, aku akan memberitahumu."
"Baiklah Marco. Aku mengandalkanmu."
__ADS_1
"Siapa yang kau panggil Marco sialan?" Teriak Marcel membuat Tio menjauhkan ponselnya.
"Ahahaha bisa-bisanya aku tertawa padahal aku ingin sekali menangis sekarang."
"Aku akan pulang jika aku menemukan hati yang cocok untuk adikmu."
"Terima kasih Marcel."
"Oke sama-sama. Aku tutup telponmu, masih ada yang harus ku kerjakan disini."
"Oke oke. Maaf sudah mengganggumu."
Telpon terputus, Tio menoleh dan kembali menatap Arisa dengan tajam. Tio berdecih dan beranjak keluar dari kamar Arisa.
Tio berlari menuruni tangga.
"Mau kemana malam-malam begini?" Tanya ayah tiba-tiba.
Tio terhenti lalu berbalik mendapati ayahnya sedang duduk di sofa ruang tengah.
"Aku ada urusan pada Seno ayah." Jawab Tio.
"Apa karena ulahmu yang sudah membawa Aris keluar negeri dan dia bolos kuliah?" Tio terkejut. Ayah hanya berpikir kesana?
"I-iya ayah. Maaf."
"Baiklah. Jika akan pulang, jangan terlalu malam. Tapi jika mau menginap, jangan pulang terlalu siang."
"Ba-baiklah ayah." Tio bergegas berlalu dan terdengar suara mobilnya yang perlahan semakin menjauh.
"Kemana Tio?" Tanya mama dengan segelas kopi ditangannya.
"Ke rumah Seno." Jawab ayah.
"Mas... tidakkah kau merasa aneh pada sikap Tio akhir-akhir ini?" Tanya mama yang duduk disamping ayah.
"Aneh apa?"
"Sikap nya seperti sedang menyembunyikan sesuatu."
"Mungkin perasaanmu saja." Ayah meraih kopi dan mulai menyeruputnya.
"Perasaan seorang ibu tidak pernah salah mas."
"Tio sudah dewasa. Dia pasti bisa membawa masalahnya sendiri."
"Mas... sedewasa apapun anak, dia pasti membutuhkan orang tuanya. Entah itu pendapat, dukungan atau pun sekedar saran."
"Harusnya kau berkata itu pada dirimu sendiri."
"Apa maksudmu mas?"
"Bukankah kau melarang bi Ina untuk mengurusnya lagi kan? Padahal kau sendiri sibuk mengurus Raisa sampai sekarang sampai kau lupa bahwa putrimu tidaklah satu." Ayah menunjuk kamar Arisa. Mama hanya terdiam, tanpa sepatah kata mama beranjak hendak pergi.
"Mau kemana? Aku belum selesai bicara." Ucap ayah menghentikan langkah mama.
__ADS_1
"Apa lagi? Kau mau bicara bahwa aku bukan ibu yang baik untuk Aris kan? Aku yang telah lama mengabaikan dia dan hanya fokus pada Raisa. Kau tak tahu betapa takutnya aku jika Raisa kembali seperti saat itu. Kau tak mendengar kata dokter saat itu? Bukankah kau juga ada disana? Kanker Rais bisa aktif kapan saja bila dia tak menjaga kesehatannya." Ucap mama dengan nada semakin meninggi.
"Kau tak berpikir jika saja Aris juga--"
"Aris memiliki kekebalan tubuh yang kuat. Dia tidak mudah sakit dan tidak ada tanda-tanda sel kanker aktif ditubuhnya."
"Tapi sekarang lambungnya sudah parah kan?"
"Itu karena dia tidak menjaga pola makannya."
"Iya karena anak umur 8 tahun masih membutuhkan perhatian ibunya. Dan harusnya sekarang kau jangan melarang bi Ina untuk mengurusnya."
"Mas... kau seakan menyalahkanku sepenuhnya. Tapi apa kau juga pernah berpikir bahwa Aris juga membutuhkanmu. Harusnya kau pun mengerti saat aku sibuk mengurus Rais, kau juga harus mengurus Aris. Kau malah sibuk bekerja sampa Tio yang harus menjadi ayah untuk Aris. Tio saat itu juga masih SMP. Tio bahkan kau tuntut untuk menjadi pewaris yang berguna, tapi kau sendiri yang memberi beban berat itu dipundaknya. Dia harus menjadi anak untukmu, menjadi kakak untuk Rais, dan menjadi ayah untuk Aris." Pecah kembali tangis mama dengan berbalik menatap tajam pada ayah.
"Jangan terus menyalahkan ku. Pikirkan juga kesalahanmu yang tak menjadi ayah yang baik untuk Aris. Kau pikir aku tak sakit hati saat aku mendengar rumor bahwa Aris bukan putri kandung dari Yugito Syahputra. Orang-orang tidak percaya Aris anakku karena kau yang tak ingin menghadiri acara sekolahnya sebagai ayah. Dan terus bi Ina dan mang Ujang yang mengambilkan raport Aris. Kadang Tio yang menggantikan peranmu. Tio menjadi dewasa sebelum waktunya karena ambisimu itu." Mama terengah kesal dengan suara setengah berteriak. Tanpa menunggu ayah berbicara lagi, mama berlalu memasuki kamar dan menutup pintu rapat-rapat.
Ayah menghela nafas berat menyandarkan tubuhnya. Kemudian menoleh ke arah kamar Arisa.
Ayah beranjak lalu melangkah menaiki tangga, menghela nafas panjang sebelum meraih gagang pintu. Setelah mengumpulkan keberanian, ayah membuka pintu dan menghampiri Arisa yang tengah terlelap.
"Kau sudah tidur?" Tak ada jawaban. Ayah hanya berfikir bahwa Arisa hanya sudah terlelap. Ayah tak tahu bahwa Arisa tengah tak sadarkan diri.
"Maafkan ayah. Jika ayah belum bisa membahagiakanmu. Maaf karena ayah, kau menjadi anak yang kesepian." Ayah mengelus lembut rambut Arisa. Ayah mengecup kening Arisa sebelum berlalu kembali keluar kamar.
. Tio mengetuk rumah Dimas dan disambut oleh Gilang.
"Dimas ada?" Tanya Tio dengan tergesa.
"A-ada tuan." Jawab Gilang kemudian membawa Dimas pada Tio.
"Ada apa?" Tanya Dimas ketika melihat wajah gelisah Tio.
"Apa Aris lagi?" Namun Tio tetap belum ingin menjawab.
"Tioo..." kini Dimas mulai kesal.
"Di Amerika, tak ada stok organ hati. Marcel berkata itu padaku." Ucap Tio setelah beberapa kali menghela nafas panjang.
"Jadi kau mau bilang bahwa belum ada hati pengganti untuk Aris? Dan kau menyuruhku untuk mencari pendonor yang cocok?" Tio mengangguk menanggapi pertanyaan Dimas.
"Jika belum menemukan dalam waktu dekat, apa yang akan terjadi pada adikku?" Tio semakin panik menatap harap pada Dimas yang ikut khawatir dengan kondisi Arisa.
"Tenangkan dirimu dulu Tio.. aku akan membantumu untuk mencari pendonor yang cocok untuk Aris."
"Pendonor apa?" Tanya Ibu yang tiba-tiba sudah berada di belakang Dimas.
"Aris kenapa? Dia sakit? Sakit apa Dimas? Mengapa harus butuh pendonor?" Ibu mulai berkaca-kaca sembari mempertahankan nampan yang ia bawa. Tio dan Dimas saling lirik dan menghela nafas berat.
"Ibu janji tak akan mengungkit ini didepan Aris?" Ibu mengangguk ragu atas pertanyaan Tio.
"Aris kanker bu.." seketika nampan itu terjatuh dan pecahan gelas berserakan dimana-mana. Mendengar penyakit itu membuat ibu mengingat kembali pada Rama.
"Anakku... Ariss...." lirih ibu kemudian terjatuh tak sadarkan diri. Tio dan Dimas bergegas menahan tubuh ibu agar tak menimpa pecahan gelas dibawahnya. Mereka tahu, Ibu sangat menyayangi Arisa layaknya anak sendiri. Apa lagi setelah kepergian Rama. Rasa trauma kehilangan anak karena kanker, membuat ibu menjadi lemah. Gilang yang mendengar dari balik ruangan, diam-diam menangis mendengar kenyataan Arisa mengidap penyakit yang sama dengan kakaknya.
"Mbak Aris... kenapa harus? Mbak janji akan tetap hidup" Gumam Gilang menyentuh dan mengusap pelan dadanya.
__ADS_1
-bersambung.