TAK SAMA

TAK SAMA
210


__ADS_3

Sarah yang tahu Arisa masih belum pulih sepenuhnya, ia membawakan sarapan untuk Arisa dan Rayyan ke kamarnya langsung. Pintu di ketuk dan tak lama terdengar suara kunci terbuka dan memperlihatkan Arisa yang masih terlihat sayu.


"Suamimu sudah bangun?" Tanya Sarah dengan mengintip kedalam kamar.


"Sudah. Tapi belum beranjak dari tempat tidur." Jawab Arisa memberi jalan untuk Sarah, namun Sarah malah memberikan nampan tersebut kepada Arisa.


"Kalian sarapan dulu, setelah itu mandi, dan temui ayahmu di bawah."


"Baiklah bunda. Terima kasih." Setelah itu, Sarah bergegas meninggalkan Arisa yang kembali menghampiri suaminya. Ia masih canggung mendengar kata 'suami' pada pria di depannya ini.


"Aray... ayo sarapan. Bunda bawakan kita makanan." Ucap Arisa setelah meletakkan nampan di atas meja. Bukannya bangun, Rayyan malah menarik Arisa kembali ke dalam pelukannya, terlihat ia melirik kearah pintu dan memastikan pintu sudah tertutup sempurna, tanpa ingin ada penolakan Rayyan menyambar bibir Arisa dengan menindihnya di bawah tubuh kekarnya. Arisa yang ingin kabur pun tak bisa melawan karena perbedaan kekuatan diantara mereka. Rayyan mengunci kedua tangan Arisa agar tak bisa berkutik dan mengikuti permainannya saja. Rayyan menatap lekat wajah Arisa ketika ia sudah melepaskan tautan bibirnya dengan sang istri.


"Kalau aku mau sarapan dirimu?" Meski sedikit mendelik tanda menolak, namun bagi Rayyan ekspresi istrinya ini sangatlah menggoda, hingga ia kembali mencium Arisa dan tak ingin melepaskannya meskipun hanya sebentar. Ketika tangan Rayyan mulai liar meraih leher istrinya lalu semakin kebawah, dan tangannya yang satunya sudah menyentuh perut istrinya itu, sesegera mungkin Arisa menghentikan dan mendorong tubuh Rayyan sekuat tenaga. Meski sempat mendesah pelan, namun Arisa tak ingin melakukannya lebih jauh saat ini.


"Aray. Aku belum siap." Ucapnya dengan nafas yang terengah. Tanpa sadar, kancing teratas piyama Arisa terbuka sehingga Rayyan melihat bahu Arisa yang ramping membuatnya menelan saliva dan hanya bisa menuruti istrinya. Ia tak ingin memaksa jika Arisa belum siap sepenuhnya.


"Dasar gila. Aku hampir mati karena tak bisa bernafas. Dan apa itu tadi? Dia seperti ingin membuat tulang lenganku patah." Batin Arisa memijit dahinya perlahan. Rayyan membawa nampan dari meja ke tempat tidur, ia tersenyum puas menatap istrinya yang terlihat tersiksa pagi ini.


"Katanya mau makan." Arisa melirik ketika mendengar suara Rayyan di sampingnya.


"Kau saja dulu. Aku masih pusing." Balasnya membuat Rayyan terkekeh dan mengacak rambut Arisa dengan gemas.


"Pusing atau mau lebih?" Ejek Rayyan berbisik ke telinga Arisa dengan nafas yang hangat dan terdengar begitu menggoda.


"Aku tidak mau melakukannya di rumah."

__ADS_1


"Jadi, mau dimana? Aku masih punya villa dan apartemen. Atau mau di hotel Paris?"


"Ihh Aray. Hentikan leluconmu. Kenapa kau suka melihatku tersiksa."


"Hahaha kau sangat lucu sayang." Namun Arisa mendelik kesal mendengar ejekan suaminya yang begitu menyebalkan. Rayyan menutup kancing piyama Arisa yang kini memperlihatkan bagian tubuh Arisa yang membuatnya terus menelan saliva.


"Tak boleh loh menolak ajakan suami." Lagi, Arisa yang sudah tenang pun mulai ketakutan mendengar rengekan Rayyan yang terus memojokkannya.


"Aray. Kita akan menemui ayah pagi ini."


"Lalu?"


"Aku tak mungkin menemui ayah dalam keadaan..." Arisa sengaja menggantungkan alasannya, ia menggigit bibir bawahnya dengan pikiran yang berkecamuk. "Aku belum siap Aray. Kata Rais itu sakit." Lirihnya dengan suara yang begitu pelan.


"Kau tenang saja. Aku tak akan membuatmu kesakitan."


"Baiklah. Maaf sudah memintamu dengan memaksa." Arisa mengangguk pelan menanggapi Rayyan.


. Setelah sarapan, Arisa dan Rayyan turun dan menemui Yugito di ruang kerja. Keduanya duduk di hadapan Yugito dengan gugup dan sedikit ada perasaan takut.


"Ini. Ada hadiah pernikahan untuk kalian dari Tio." Tutur Yugito langsung ke intinya dan menyodorkan sebuah kunci pada Arisa dan Rayyan yang saling pandang karena terheran.


"Ini kunci apa ayah?" Tanya Arisa mencoba mencari tahu.


"Rumah. Dan ini sertifikatnya sudah tertera namamu." Jawab Yugito selanjutnya memberikan sebuah sertifikat bertuliskan nama Arisa dan keterangan-keterangan lain.

__ADS_1


"Apa ini tidak terlalu besar ayah?"


"Terima saja. Ini juga sebagai permintaan maaf Tio yang sudah memarahimu." Arisa mulai berkaca-kaca lalu menoleh pada suaminya yang memberi senyuman untuk menguatkan Arisa.


Arisa beranjak lalu keluar ruangan dan mencari keberadaan Tio, rasanya ia ingin memarahi kakaknya itu. Saat keluar, terlihat Tio tengah duduk santai di ruang tamu dengan Reza yang sama-sama membaca surat kabar terbaru.


"Ada apa? Sepertinya kau buru-buru?" Tanya Tio melirik sesaat pada adiknya yang menatapnya dengan menahan tangis. Tio semakin heran ketika Arisa berlari dan memeluknya dengan erat lalu menangis terisak keras. Melihat Rayyan yang membawa sertifikat rumahnya, Tio tersenyum lalu membalas pelukan Arisa dengan mencoba menenangkan tangisnya.


"Apa kau tidak menyukai hadiahnya?"


"Kakak bodoh. Kenapa kau membeli rumah sebesar itu?"


"Lalu, apa yang kau salahkan? Aku ingin memberimu hadiah, apa itu salah?"


"Tetap saja. Berapa banyak uang yang kau keluarkan?"


"Kenapa kau mempermasalahkan uang? Sudah... sebaiknya kalian istirahat, atau kalau mau coba cek sendiri nyaman atau tidaknya." Perlahan tangis Arisa mereda, ia mengusap wajahnya yang berantakan lalu beranjak dan mengajak Rayyan untuk melihat rumah yang di maksud Tio.


Arisa, Rayyan beserta Tio bergegas ke lokasi dimana letak rumah Arisa berada. Setelah sampai, Arisa benar-benar termangu, ia tak tahu lagi dengan cara apa ia membalasnya. Rumah mewah berlantai 3 tersebut bagi Arisa sangatlah terlalu besar jika di huni hanya dengan 2 orang. Meski selebihnya bersama pelayan, namun rasanya masih tetap hampa.


"Aray... bagaimana aku membersihkannya? Pasti lama kan? Sehari juga pasti belum selesai." Sontak Rayyan tertawa menanggapi ungkapan Arisa yang kini terlihat melamun menatap dalam pada bangunan mewah di depannya.


"Untuk apa gunanya ART sayang?" Rayyan dengan gemas mengacak rambut istrinya, bisa-bisanya setelah menikah sikap Arisa menjadi polos begini.


"Oh iya kak Tio. Terima kasih." Rayyan beralih pada Tio yang perlahan memasuki rumah mendahului mereka.

__ADS_1


"Tak apa Rayyan. Ini tidak seberapa jika di bandingkan dengan rasa kesepian Aris. Dan anggap saja sebagai hadiah permintaan maafku untuk Aris. Jika boleh jujur, aku sangat menyesal sudah menamparnya sekeras itu." Tio mendadak menjadi sendu menatap kedua adiknya, rasa sesak terasa karena akan sulit bertemu dengan Arisa setelah ini.


-bersambung


__ADS_2