TAK SAMA

TAK SAMA
196


__ADS_3

. Setelah Arisa kembali di bawa pulang oleh Yugito, ia rasa putrinya sangat kecewa. Untuk memperbaiki pun terasa sudah terlambat. Bulan depan, ia akan menyerahkan putri bungsunya pada lelaki yang akan menggantikannya bertanggung jawab atas hidup putrinya. Hanya ada dua pilihan yang tengah di pertimbangkan oleh Yugito saat ini. Yugito bergegas memutar mobilnya setelah Arisa turun, lalu ia melajukan dengan cepat. Dalam hati kecilnya, Arisa merasa khawatir karena ayahnya pergi sendiri tanpa pengawalan. Kemudian ia memutuskan untuk mengikuti Yugito dari jarak yang sedikit jauh. Sampai di sebuah cafe, Arisa terheran ayahnya akan bertemu dengan siapa. Dari gelagatnya terlihat Yugito seperti menunggu seseorang. Arisa memilih menyembunyikan mobilnya di antara mobil-mobil lain yang dirasanya tidak terlihat oleh Yugito. Di tengah rasa penasarannya, Arisa semakin dibuat penasaran saat Rayyan datang menghampiri ayahnya. Sehingga ia memutuskan untuk ikut menyusul dengan penampilan yang berbeda. Ia menggunakan jaket dan masker dengan rambut yang di ikat dan memakai sepatu. Arisa duduk di seberang meja ayahnya dengan membelakangi mereka. Yugito yang terlalu fokus pada kegundahan hatinya dan Rayyan yang ada di depannya pun tak menyadari putrinya tengah berada di sana sekarang.


"Om... kenapa memanggil Aray ke sini? Aray bisa ke rumah om kalau ada sesuatu yang penting." Tutur Rayyan dengan seribu pertanyaan di benaknya.


"Tidak nak. Dan panggil saja ayah. Bulan depan kau akan menjadi suami Aris. Jangan sungkan."


"Baik om. Eh ayah..." Rayyan tersenyum kaku dengan panggilan baru pada calon mertuanya.


"Begini. Ayah perhatikan kau sangat menyayangi Aris sedari dulu. Ada yang ayah inginkan darimu dan ayah harap kau berjanji pada ayah." Rayyan semakin dibuat penasaran, bahkan ia belum mengerti maksud Yugito apa.


"Emm... apa yang harus saya lakukan? Sepertinya sangat penting."


"Rayyan. Kau pasti sudah tahu ayah dan Aris bagaimana." Lagi-lagi Rayyan tak mengerti maksud Yugito.


"Om.. emm.. maksud saya ayah dan Risa tidak ada masalah. Kalian akur-akur saja." Ucapnya mencoba menebak.


"Tapi sebenarnya ayah tidak begitu dekat. Ayah terlalu sibuk dengan pekerjaan, sampai Aris merasa kesepian. Dan gantinya, Tio yang selalu menggantikan peranku sebagai ayah. Jadi, ayah ingin kau berjanji akan terus menyayangi dan menjaga Aris. Jangan biarkan dia terluka, jangan sekali-kali kau mengangkat tanganmu untuk memukulnya. Jika ada hal yang mengganggu pikiranmu, selesaikan dengan diskusi. Jangan berpikiran hal negatif. Jangan biarkan Aris menangis. Ayah yakin kau pasti akan membahagiakan Aris. Bagaimana pun kondisi Aris, ayah tak ingin ada kata kau tak menerimanya. Dan ayah percaya kau dan Aris tak pernah melakukan hal yang bisa mencoreng nama baik keluarga. Ayah mohon Rayyan. Sayangi Aris, gantikan ayah untuk menjaganya. Ayah tak bisa melakukannya hanya dalam waktu 1 bulan. Sudah terlambat untuk ayah menyesal dan ingin memperbaiki semuanya. Ayah ingin meninggalkan jejak di ingatan Aris sebagai kenangan indah sebelum Aris resmi menjadi milikmu." Mendengar keputusasaan Yugito, Rayyan meraih tangan Yugito dengan tatapan hangat.


"Meski saya sudah menikahi putri anda, anda tetaplah ayah kandungnya. Sebaik atau seburuk apapun seorang ayah, dia tetaplah cinta pertama putrinya. Harapan pertama seorang anak sebelum pada orang lain. Meski Risa sudah menjadi istri saya, saya tak akan menghalangi anda untuk menyayanginya. Walaupun seorang anak sudah memiliki keluarga sendiri, tapi di lubuk hatinya pasti akan ada rasa ingin di berikan kasih sayang oleh orang tuanya. Saya akan menjaga Risa sepenuh hati saya."


"Terima kasih Rayyan. Terima kasih."


Di seberang meja, Arisa terdiam dan ia tak berniat mengusap air matanya yang berderai dan menyesali ucapannya pada Yugito. Setelah Yugito beranjak, Arisa masih enggan ikut beranjak. Rasanya kursi itu lebih nyaman saat ini. Tiba-tiba seseorang memeluk dari belakang lalu mencium pipinya dan mengusap air matanya.


"Kenapa menangis?" Tanya Rayyan beralih duduk di samping Arisa. Arisa yang sudah berhenti menangis pun kembali terisak dan memeluk Rayyan dengan erat.


"Aku bersalah pada ayah." Lirihnya di sela isak tangisnya.

__ADS_1


"Memang apa yang kau lakukan?"


"Aku memarahinya tadi. Aku kesal. Tapi kenapa ayah tidak mengerti. Aku ingin menghabiskan waktu dengannya, tapi dia malah memintamu untuk menggantikan perannya." Kesal Arisa menahan suaranya agar pengunjung lain tidak mendengar ia sedang menangis dan marah.


"Sudah.... minta maaflah. Ayo! Akan aku antar pulang." Ajak Rayyan mencoba menghentikan tangis Arisa.


"Aku bawa mobil." Rengeknya mencoba menghentikan air matanya yang terus keluar tanpa izin.


"Mana kuncinya."


"Kau kan bawa mobil juga."


"Gampang."


Keduanya bergegas beranjak dan pergi setelah Rayyan bertransaksi membayar pesanan minuman Arisa. Rayyan membiarkan Arisa mengoceh di dalam mobil dan ia hanya tinggal mendengarkan saja sembari melajukan mobil.


"Feelingku kuat sayang." Jawab Rayyan dengan nada ejekan membuat Arisa tertawa kecil.


"Aih... kan sedang menangis? Kenapa tertawa?"


"Jangan mengejekku Aray."


"Hahaha iya iya maaf." Rayyan meraih kepala Arisa lalu mengusapnya dengan lembut agar Arisa lebih merasa tenang.


. Sampai di pekarangan rumah, Arisa menunduk tak ingin memperlihatkan mata sembabnya. Rayyan menutup kepala Arisa dengan jasnya hingga Arisa menghimpit di pinggangnya.


"Ihh aku sulit bernafas." Protes Arisa dengan menjauh dari Rayyan.

__ADS_1


"Matamu seperti panda." Arisa terlihat merajuk karena ejekan Rayyan yang terus menerus membuatnya malu.


"Aih kau dari mana Aris?" Tanya Yugito tiba-tiba dari ruang keluarga. "Kenapa keluar tanpa memberitahu orang rumah? Bagaimana jika terjadi apa-apa? Kau ini mau menikah, harusnya diam di rumah sampai hari H. Ishhh jangan membuat ayah khawatir." Lanjut Yugito.


Melihat ayahnya, Arisa kembali menangis lalu berlari dan memeluk Yugito yang terheran karena sikap Arisa yang berbeda dengan saat ia membawanya pergi.


"Aris? Hei. Kau tak apa kan? Kau tak malu menangis didepan pacarmu?" Tegur Yugito lagi kali ini dengan nada ejekan.


"Ayahhh...." rengeknya hanya memanggil begitu.


"Iya. Ayah sedang di peluk olehmu. Tak perlu di panggil" lagi-lagi Yugito mengejek Arisa yang membuat Arisa semakin keras menangis di pelukan Yugito.


"Ehh malah tambah parah. Aris. Sudah. Apa kau kerasukan?"


"Besok aku mau jadi sekertaris ayah dengan Wina."


"Aih? Sekertaris hanya ada 1 saja Aris. Jangan banyak-banyak."


"Pokoknya aku mau jadi sekertaris ayah."


"Tapi kau harus ada di rumah terus. Jangan kemana-mana."


"Hanya 1 minggu ayah. Janji. Setelah itu aku akan diam di rumah."


Melihat ayah dan anak yang mengharukan ini membaut Rayyan tersenyum dan berharap kedepannya tak ada masalah apapun lagi.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2