TAK SAMA

TAK SAMA
180


__ADS_3

. Rayyan tersenyum lega, ia benar-benar menemukan Sarah. Namun, ia merasa heran mengapa Arisa tak menemukannya saat itu?


"Apa yang kamu lakukan disini? Apa kamu bersama putri? Rayyan, apa kamu tahu konsekuensi kamu menemui saya? Saya sudah membuat janji dengan Tio, jika--"


"Jika Risa tahu keberadaan anda, maka Risa selamanya akan hidup bersama anda bukan? Hanya menyembunyikan alamat anda saja dari Risa, semuanya akan baik-baik saja. Dan saya kemari hanya sendiri, emmm maksudnya di kawal oleh bawahan kak Tio. Itu pun untuk memastikan keselamatan saya. Jadi saya harap anda tidak salah faham." Jelas Rayyan yang menyela ucapan Sarah.


"Apa Tio yang memberitahumu tempat ini?"


"Iya."


"Lalu? Apa maumu?"


"Saya, emm lebih tepatnya, Risa ingin anda hadir saat kami menikah."


"Apa Tio tidak memberitahu perjanjian yang sudah dia sepakati?"


"Hanya hadir, bukan mengungkap keberadaan anda yang sebenarnya. Jika hanya bertemu, saya yakin, anda pun ingin bertemu dengan Risa kan? Jadi saya mohon! Datanglah ke pernikahan kami."


"Maaf Rayyan. Saya tidak bisa. Jika saya muncul di hadapan Arisa, maka saya sudah melanggar janji saya sendiri."


"Tidak ada yang melanggar disini. Anda dan kak Tio hanya saling berjanji agar menyembunyikan keberadaan anda, dengan kata lain, hanya tak boleh memberitahu dimana anda tinggal, bukan begitu?"


"Rayyan. Kau tak tahu apa-apa. Sebaiknya kamu pulang! Saya tidak berniat untuk menunjukan diri saya pada Arisa."


"Tapi kenapa? Bukankah kalian saling menyayangi layaknya ibu dan anak kandung?"

__ADS_1


"Bukankah tadi sudah saya katakan, kamu tidak tahu apa-apa."


"Ah... yaa... saya memang tak tahu apa-apa, kesini pun saya hanya bermodalkan tekad. Saya tahu tak semudah itu anda akan setuju atas permintaan saya."


"Lantas?"


"Saya berusaha karena saya mencintai Arisa, putri anda."


"Dia bukan putri saya."


"Betulkah? Tapi, tak ada seorang ibu yang mengatakan hal itu dengan menangis." Sontak, Sarah tersadar lalu ia menyeka air matanya.


"Pergilah! Saya sedang sibuk."


"Tidak. Saya tak akan pulang sebelum saya mendapat keputusan anda."


"Tolong! Saya mohon! Arisa sangat menantikan kehadiran anda."


"Rayyan..."


"Bunda... saya mohon.... ini demi kebahagiaan Arisa. Dia selalu memikirkan anda." Sarah termangu, ia begitu terkejut saat tiba-tiba Rayyan bersimpuh di depannya.


"Rayyan.. jangan begini.. bangunlah."


"Saya tak akan bangun jika anda tidak memberikan jawaban yang di harapkan oleh Arisa." Ucap Rayyan dengan masih bersikeras untuk tetap berlutut. Hal ini mengingatkannya pada Tio yang sama mati-matian meminta ijinnya untuk Arisa.

__ADS_1


"Bangun nak. Aku tak setinggi itu untuk kau hormati."


"Tapi saya ingin anda hadir. Setidaknya jika itu hanya satu detik, jika Arisa sudah merasa puas, maka saya tak akan memaksa anda lagi untuk menemui Arisa. Jika memang keputusan anda ingin menjauh dari Arisa, saya tak akan mengganggu hidup anda lagi. Tapi saya mohon untuk datang. Demi Arisa. Saya tahu, anda juga--"


"Apa yang kau tahu tentang saya Rayyan. Dan kenapa kau begitu bersikeras meminta saya untuk menghadiri pernikahan kalian? Padahal kau tahu cerita masa laluku bukan?"


"Mungkin. Saya melihat anda hanya sebagai wanita hebat. Anda menyayangi Arisa dengan tulus."


"Tidak. Saya tidak tulus menyayangi Arisa. Saya menyayanginya karena di tubuhnya ada hati putri saya. Jika seandainya dia datang saat putri saya masih hidup, saya tak akan menyayanginya seperti sekarang." Mendengar pengakuan Sarah, Rayyan hanya mematung tak percaya. Lidahnya kelu, ia mendadak tak bisa berpikir jernih. Melihat Rayyan yang hanya terdiam, Sarah berbalik dengan masih memasang wajah yang angkuh.


"Setelah Arisa merasakan kasih sayang anda, anda dengan mudah berkata hal demikian. Dan setelah Arisa menganggap anda sebagai ibu yang menyayanginya, anda dengan tanpa bersalah hanya menganggap Arisa sebagai mendiang putri anda saja. Melihat Arisa yang sangat menyayangi anda, mustahil Arisa hanya menganggap anda sebagai ibu pengganti. Arisa sangat berharap agar bertemu dengan anda. Bahkan saat dia kembali kesini, dia belum pulih total karena sakit. Saya masih merasa ragu, kenapa Arisa bilang anda sudah pergi, dan rumah anda sudah kosong. Padahal anda masih disini." Sarah yang terhenti saat mendengar Rayyan bicara, kini menolehkan wajah seriusnya seakan ucapan Rayyan tak mempan sedikitpun.


"Apa kau sudah selesai bicaranya? Jika sudah, silahkan! Saya sedang sibuk." Tutur Sarah kembali melanjutkan langkahnya memasuki rumah meninggalkan Rayyan sendiri di teras. Ingin sekali Rayyan berteriak dan meminta Sarah menyetujui permohonannya. Namun, ia ingat pesan Tio yang tak boleh memaksa jika Sarah menolak. Rayyan beranjak lalu berjalan menuju pintu yang sudah tertutup.


"Kak Tio berpesan agar saya tidak memaksa anda jika anda menolak. Tapi, saya selalu berharap anda akan datang sebagai tamu istimewa. Saya ingin melihat senyum Arisa saat bersama anda, tak apa meskipun itu yang terakhir pertemuan anda dengan Arisa. Nyonya Sarah... kami sangat menantikan kehadiran anda. Meskipun memang anda bilang tak akan datang, tapi kami akan tetap menunggu anda." Tutur Rayyan meskipun mustahil Sarah akan mendengar ucapannya. Rayyan memilih untuk bergegas pulang karena dirasa usahanya sia-sia.


"Selanjutnya kemana tuan?" Tanya Bodyguard Tio saat membuka pintu mobil untuk Rayyan.


"Kita pulang." Jawab Rayyan penuh kekecewaan. Ia benar-benar tak tahu harus menghadapi Arisa bagaimana kedepannya. Ia berjanji akan mencari keberadaan Sarah untuk Arisa, namun sekarang ia sudah tahu, tetapi ia tak bisa memberitahu kekasihnya mengenai hal ini. Ia merasa tak seharusnya memberitahu Arisa tanpa izin Tio.


Sepeninggal Rayyan yang sudah berlalu, Sarah terduduk lesu dengan bersandar di pintu membiarkan air matanya mengalir tanpa ingin ia hentikan. Tak ada isak tangis, atau pun nafas yang tersenggal. Sarah benar-benar merasa hancur sendiri kala mengatakan hal menyakitkan yang sebetulnya tak ingin ia katakan.


"Arisa putriku... bunda rindu kamu nak..." akhirnya, setelah menahan diri untuk tidak menangis, kini mulai terdengar suara isak yang semakin keras.


. Menjelang malam, Arisa tak berniat keluar kamar karena adanya Xavier di rumahnya. Yugito benar-benar tak mengizinkan Xavier pergi dan menginap di hotel. Malah menyuruh Xavier untuk terus menginap di rumahnya. Dari pagi, Arisa tak mendapatkan kabar Rayyan sedikitpun. Ia benar-benar khawatir, apa lagi kini Rayyan tengah berada di luar kota. Ketika Arisa tengah melamun, tiba-tiba suara ponselnya berdering. Dengan berbinar ia segera menjawab panggilan dari Rayyan yang sedari tadi ia tunggu.

__ADS_1


"Aray. Kau dimana? Kenapa tidak mengabariku?" Tanya Arisa dengan beruntun membuat Rayyan terkekeh senang karena di khawatirkan oleh Arisa.


-bersambung


__ADS_2