TAK SAMA

TAK SAMA
37


__ADS_3

. Arisa terdiam mematung sembari menggenggam gagang pintu. Raisa yang melihat Arisa yang pasti salah faham mencoba untuk beranjak dari tempat tidur. Karena tak seimbang, Raisa ambruk dan Arisa berlari melewati Rayyan begitu saja.


Daffa masuk dan ikut berlari menghampiri Arisa dan Raisa.


"Mau kemana?" Tanya Arisa meraih Raisa untuk berdiri.


"Jangan salah faham. Aku dan Rayyan tidak--"


"Aku tahu... dan aku mengerti." Arisa menyela dengan menunduk dan wajah yang sayu. Raisa tersenyum mendengar ucapan Arisa.


"Aku akan pergi Rais." 'Deg' Raisa terbelalak mendengar kata yang terlontar dengan tiba-tiba itu. Daffa sama terkejutnya dengan apa yang Arisa katakan.


"Aris...." lirih Daffa.


"Kau mencintaiku kan?" Tanya Arisa tiba-tiba pada Daffa. Daffa hanya terdiam tak bisa menjawab.


"Risa." Panggil Rayyan yang menghampiri mereka.


"Aray.. tolong bantu Rais. Aku tak kuat jika mengangkatnya." Ucap Arisa tanpa menoleh kearah Rayyan.


"Disampingnya ada Daffa Risa..." delik Rayyan yang tetap berdiri. Raisa semakin sesak dengan keadaan di ruangan itu.


. "Raisa." Teriak mama dari arah pintu. Ayah yang berlari mengikuti mama meraih Raisa yang masih terduduk dengan Arisa dan Daffa.


"Kamu apakan kakakmu?" Tanya mama dengan nada tinggi dan tatapan yang tajam. Terasa hatinya tertusuk oleh tatapan mamanya sendiri.


"Tidak... Aris--"


"Sudahlah Aris. Mama tahu kau cemburu sampai kau membuat Raisa seperti ini." Mama menyela tak membiarkan Arisa menjawab.


"Ma... ini bukan salah Aris."


"Kamu diam Rais. Mau sampai kapan kamu membelanya. Dia saja tidak tahu balas budi. Harusnya dia yang tahu posisinya. Aris terlalu kau manjakan sampai Rayyan pun dia pacari padahal Aris sendiri tahu kau menyukai Rayyan."


"Ma... cukup." Ucap Raisa yang semakin menunduk.


"Dia menyukaiku?" Gumam Rayyan menatap lekat pada Raisa.


"Tante... Arisa tidak--"


"Diam kamu." Daffa terdiam tak melanjutkan kata-katanya. "Jangan membelanya. Dia akan semakin besar kepala. Mama heran mengapa dia banyak yang membela."


"Ma cukup." Tegas ayah menghentikan mama.


"Maaf ma..." lirih Arisa kemudian beranjak dan berlari keluar. Di lorong, tak sengaja Arisa menabrak Dimas yang sedang mengobrol dengan dokter lain.


"Maaf..." lirih Arisa menunduk. Dimas meraih bahu Arisa lalu menatapnya dengan lekat.


"Kau menangis?" Tanya Dimas dengan khawatir.


"Dokter Dimas. Saya duluan." Ucap dokter yang lain dengan sopan.


"Iya dok silahkan. Nanti saya menyusul." Dimas tak kalah sopan.


Kemudian Dimas kembali fokus pada Arisa yang tak henti-henti menitikkan air mata.


"Kau sakit lagi?" Arisa menggeleng menanggapi pertanyaan Dimas. Arisa langsung memeluk Dimas dengar erat sambil terus terisak keras. Dimas merasa heran tak berani membalas pelukan Arisa. Daffa mematung menyaksikan Arisa yang menangis pada orang lain. Hatinya lebih sakit daripada melihat kedekatannya dengan Rayyan. Rayyan pun sama mematung di samping Daffa melihat Arisa memeluk erat pria lain. Apa sakit hatinya begitu dalam sampai melampiaskannya tepat didepan matanya.


Meskipun Dimas tak membalas pelukan Arisa, Rayyan tetap merasa sesak.


Begitupun dengan Arisa yang tak tahu apa yang ia tangisi. Melihat Rayyan yang menemani Raisa, atau ucapan ibunya yang mengiris hatinya.


"Aris... sudah.... pacarmu salah faham nanti." Ucap Dimas tak enak hati.

__ADS_1


"Apa pedulinya?" Pekik Arisa yang tak henti menangis.


"Isshhh Aris..." Dimas berdecak kesal karena Arisa yang tak ingin lepas. Apalagi Dimas merasa risih dengan tatapan Rayyan yang tajam mengintimidasinya.


"Aris." Panggil Tio tiba-tiba dari belakang Dimas. Dimas segera melepaskan Arisa ketika mendengar suara Tio.


Kemudian Arisa menekap dadanya kuat karena sebuah denyutan yang membuat dirinya meringis. Dadanya seakan disayat kembali. Hatinya berdenyut menyakitkan membuat Arisa tak bisa menahan lututnya yang semakin lemas.


"Aris.." pekik Dimas meraih kedua bahu Arisa.


Tio terbelalak kemudian dengan sigap ikut menahan Arisa yang terlelap. Dimas dan Tio segera membawa Arisa ke ruang pemeriksaan. Sedangkan Daffa dan Rayyan masih terdiam di tempatnya.


"Daf.. apa cemburu dan patah hati itu sesakit ini?" Tanya Rayyan tanpa memalingkan wajahnya.


"Aku tak tau Aray... aku tak pernah merasakan cemburu selama ini. Dan aku juga tak pernah merasakan patah hati. Kau tahu sendiri selalu aku yang memutuskan hubungan secara sepihak. Baru sekarang juga aku merasakannya." Daffa tak kalah lesu menatap Dimas yang semakin jauh.


"Pantas saja Risa sangat marah padaku. Ternyata memang sesak."


"Sejak kapan seorang Rayyan merasakan cemburu?"


"Sekarang Daf. Aku tak rela Risa dengan dokter itu." Tiba-tiba Rayyan beranjak dan menyusul Dimas dengan wajah yang menahan amarah.


"Ehhh... nahh kan... cari masalah." Cetus Daffa ikut menyusul.


. Raisa mencoba menjelaskan, namun tetap saja mama lebih mempercayai apa yang di lihatnya.


"Ma.. apa tak berlebihan? Kau memarahi Aris sampai seperti itu." Ucap Yugito yang menatap pada pintu.


"Apa kau tidak lihat mas? Rais jatuh pasti karena Aris. Kapan dia dewasa?"


"Tapi aku takut dia akan nekat lagi ma.." ucap Yugito yang masih khawatir dengan Arisa. Takut-takut jika Arisa nekat melompat dari atap rumah sakit. Yugito beranjak dari duduknya dengan wajah cemas yang tak bisa ia sembunyikan.


"Mau kemana mas?" Tanya mama.


"Kenapa harus dicari? Paling dia bersama Rayyan sekarang. Mas. Yang ingin kita jodohkan dengan Rayyan itu Rais, bukan Aris."


"Sudah ma cukup. Mama kenapa sih? Kenapa mama tak mengerti perasaan anak sendiri?" Yugito berbalik dengan wajah yang tak bersahabat.


"Justru karena ini mas. Rais yang menyukai Rayyan. Bukankah saat itu juga Rayyan menjemput Rais." Mama tak ingin kalah.


"Ma.. ayah... sudah. Kalian salah faham. Ayah benar. Yang dipilih Rayyan itu Aris bukan aku. Mama sendiri melihat bagaimana perlakuan Rayyan pada Aris. Sangat berbeda ma... sangat berbeda. Pada wanita lain Rayyan sangat dingin, bahkan cenderung menyimpan rasa benci. Tapi pada Aris, Rayyan sangat lembut, manis, dan hangat. Lagi pula aku sudah punya kak Fariz ma.." Raisa menyela keduanya mencoba melerai perdebatan mereka.


"Sudah ku katakan aku terjatuh bukan karena Aris. Tapi karena aku sendiri yang tak hati-hati. Wajar saja Aris marah ma.. mama tiba-tiba menitipkan Rais pada Rayyan. Mereka saling mencintai. Jika aku masuk pada kisah mereka, aku hanya menjadi orang ketiga yang jelas tak diharapkan kehadirannya." Lanjut Raisa dengan sendu.


Yugito yang tak ingin mendengar lebih jauh, memilih untuk keluar dari ruang inap Raisa untuk mencari keberadaan Arisa.


Setelah menghubungi no Arisa, Yugito segera berlari menuju ruang pemeriksaan setelah mendapat kabar dari Tio yang mengangkat panggilan telponnya.


"Tio." Panggil Yugito ketika dirinya melihat Tio yang duduk dan menunduk lesu. Rayyan dan Daffa tak sedikitpun memalingkan pandangannya dari pintu ruangan seakan tak menyadari kedatangan Yugito.


"Dari mana saja kau? Mengapa dari kemarin tak ke kantor? Bahkan kau juga tak pulang. Ayah khawatir." Lanjut Yugito meraih bahu Tio yang di tepis oleh Tio sendiri.


"Khawatirkan anak tiri ayah saja. Aku hanya anak kandung yang tak di anggap." Lirih Tio namun masih terdengar oleh Yugito.


"Tio..."


"Apalagi ayah? Benarkan?" Tio mendongak dan memperlihatkan wajahnya yang menyedihkan. Serasa ingin menangis, namun air mata tak kunjung menetes.


Dimas keluar lalu menghampiri Yugito dan Tio seolah mengabaikan keberadaan Daffa dan Rayyan yang menunggu tepat di dekat pintu.


"Bagaimana?" Tanya Tio yang khawatir.


"Sekarang sudah tak apa." Jawab Dimas.

__ADS_1


"Kau tidak membohongiku lagi kan?" Tio menyernyit dengan tatapan yang tajam mengintimidasi.


"Tidak Tio. Kali ini aku tak ingin membuat kesalahan lagi." Jawab Dimas meyakinkan.


"Apa ayah boleh kedalam?" Tanya Yugito yang ramah namun tetap terlihat tegas.


"Si-silahkan om." Ucap Dimas.


"Om... boleh saya ikut kedalam?" Tanya Rayyan yang menghentikan langkah Yugito. Yugito mengangguk seraya melemparkan senyuman.


Terlihat Arisa yang sudah membuka mata namun masih terbaring. Arisa menoleh pada Yugito lalu menatap datar.


"Kamu marah?" Arisa menggeleng menanggapi pertanyaan Yugito.


"Maafkan mama ya... mungkin karena terlalu khawatir pada Raisa--"


"Sudah biasa ayah." Arisa menyela dengan air mata yang sudah mengalir di pelipisnya.


"Risa...." panggil Rayyan dengan pelan. Yugito menoleh pada Rayyan kemudian pada Arisa yang terlihat tak mempedulikan Rayyan.


"Kalian ingin mengobrol?" Tanya Yugito pada Rayyan. Rayyan hanya terdiam tak menanggapi apapun.


"Aris...." panggil Yugito.


"Apa lagi ayah?" Arisa menoleh pada Yugito dengan tatapan yang masih datar.


"Ehhh... kemana tatapan hangatmu?" Ejek Yugito mencoba mencairkan suasana.


"Sudah hilang ayah." Jawab Arisa masih saja datar.


"Ayah.... bukankah ayah ada urusan 1 jam lagi?" Tanya Tio dari ambang pintu.


"Katakan ayah mengundur waktu pertemuannya." Ucap Yugito tanpa menoleh pada Tio.


"Eh... ini proyek penting ayah..." Tio menatap tajam pada Yugito.


"Ya baiklah. Kau jaga adikmu." Ucap ayah seraya berjalan meninggalkan Arisa. Kini tinggal Rayyan saja yang berhadapan dengan Arisa yang memalingkan wajah darinya.


"Kau marah?" Namun Arisa tak menanggapi pertanyaan Rayyan. Dan malah memejamkan matanya.


"Risa... aku tahu kau tak tidur." Ucap Rayyan berdecak kesal. Arisa kembali membuka matanya namun tak menoleh pada Rayyan.


"Risa." Tegas Rayyan yang membuat Arisa menoleh padanya.


"Aku ingin sendiri." Ucap Arisa dengan dingin.


"Dengarkan dulu..." Arisa berdecak kesal kemudian beranjak dan duduk bersandar.


"Risa... tadi tak seperti yang kau lihat." Ucap Rayyan lagi dengan meraih kedua bahu Arisa.


"Risa... aku mohon jangan marah." Bujuk Rayyan kemudian beralih meraih kedua tangan Arisa dan menggenggamnya. Rayyan semakin cemas ketika melihat Arisa yang tak henti-hentinya menjatuhkan air mata dari kelopak matanya.


"Risa...." lirih Rayyan.


"Aray... sepertinya memang kita tak harus dekat." Bagai sebuah pisau yang menancap langsung pada jantungnya, Rayyan mematung seketika mendengar apa yang di katakan Arisa.


"Apa maksudmu Risa?"


"Kau juga tahu Aray Rais sangat mencintaimu. Dan mama benar. Aku yang kurang ajar karena merebutmu dari Rais." Pecah sudah tangis Arisa. Rayyan dengan tenang mendekap Arisa pada pelukannya.


"Aku tak mau Risa. Aku mencintaimu."


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2