
. Sesuai ucapannya, ketika malam sudah tiba, Rayyan kembali datang menemui Arisa yang tengah melamun sendirian di kamar tamu. Bi Ina yang memanggilnya sedari tadi, baru ia tanggapi karena terlalu hanyut dalam pikirannya.
"Non Aris sudah baikan?" Tanya bi Ina dengan ekspresi ragu.
"Sudah bi..." jawabnya tersenyum meyakinkan bibi.
"Ada..."
"Rayyan ya bi? Haih... padahal sudah malam. Harusnya istirahat." Ucap Arisa yang bangkit dari duduknya dan bergegas menuju ruang tamu. Ketika Rayyan menoleh ke arah Arisa yang menghampirinya, ia begitu senang dan langsung merentangkan tangan menyambut Arisa ke pangkuannya. Namun, Arisa malah menepuk dahi Rayyan dengan keras.
"Aduh... kau tidak merindukanku?" Meski Rayyan mengumpat tak karuan, Arisa malah memalingkan wajahnya dengan kesal.
"Harusnya aku yang marah. Dasar wanita." Sontak, Arisa langsung menoleh ke arahnya secara kasar dan menatapnya dengan begitu tajam.
"Kau sudah makan?" Tanya Arisa di sela nafasnya.
"Sudah." Jawab Rayyan dengan kembali memasang wajah yang riang. "Apa kau sudah baikan?" Kini giliran Rayyan yang bertanya dan memastikan bahwa Arisa sudah lebih baik.
"Sudah. Sudah membaik."
"Ahhh syukurlah. Kalau sembuh berarti besok bisa langsung nikah." Ucap Rayyan terlontar dengan santainya. Namun berbeda dengan Arisa, ia menjauh dari Rayyan dengan wajah yang memerah entah kenapa.
"Sayang? Kau kenapa?" Tanya Rayyan kini berubah ekspresi dan berusaha mendekat pada Arisa.
"Gila kau Rayyan. Kakak ku saja belum menikah. Tunggu Rais dulu, baru kita menikah sialan." Omel Arisa dengan tak kuasa menahan rasa kesalnya pada pria bodoh yang menjadi tunangannya ini. Bukannya marah atau tersinggung, Rayyan malah tersipu lalu tertawa membuat Arisa terheran sekaligus penasaran kenapa Rayyan tertawa dengan lepas seperti itu.
"Jadi?"
"Jadi apa?" Pekik Arisa yang masih tak mengerti maksud Rayyan.
"Setelah Raisa menikah, langsung kita yang menikah begitu?"
"Eh? Ya... ya... ti... tidak langsung juga. Ha.. harus a.. a... ada jarak. Ma... masa la... langsung." Elak Arisa dengan memalingkan wajah malunya dan ia begitu gugup sampai berkata dengan terbata.
"Kenapa gugup sayang?" Bisik Rayyan yang tiba-tiba sudah berada di samping Arisa. Karena terkejut, Arisa yang menoleh ke arahnya langsung menjauhkan wajah Rayyan darinya.
__ADS_1
"Menjauh dariku sialan." Teriaknya menghempaskan Rayyan ke sisi lain sofa yang mereka duduki.
"Apa begini sikapmu saat merindukanku hah? Kenapa kau selalu KDRT? apa salahku? Aku ini baru pulang bekerja. Harusnya kau mengerti, dan menyambutku dengan lemah lembut. Dan sangat di anjurkan untuk menawarkan diri." Ucap Rayyan setengah merajuk. Namun, 'plak' pipinya terasa panas setelah sebuah tamparan mendarat tepat setelah ia berucap.
"Kau pikir aku wanita apa hah? Dasar otak mesum."
"Kenapa kau menyiksaku lagi wanita singa?"
"Kau menyebutku singa?"
"Iya. Memang kau seperti singa."
"Dan kau seperti kecoak yang menjijikan."
"Aku menjijikan apa?"
"Otakmu mesum sialan."
"Apanya yang mesum? Jangankan menciummu, menyentuhmu saja aku tak bisa. Kau selalu menamparku."
"Heh wanita singa. Sebenarnya siapa yang mesum hah? Kau berpikir apa? Maksudku menawarkan diri itu bukan hal yang kau pikirkan. Yang aku mau, kau menawarkan diri untuk memijit kepala, bahu, dan tanganku. Badanku sakit semua karena pegal bekerja." Kini, Arisa memalingkan wajahnya lagi ke arah lain karena malu.
"Lagi pula, kalau kau bersedia 'itu' pun, aku sedang lelah sayang. Jadi, besok saja ya." Lanjut Rayyan dengan percaya dirinya. Namun, kepercayaan diri itu seketika menghilang saat ia mendapati aura mencekam dari Arisa yang sudah memasang kepalan tangan di depan wajahnya sendiri. Kemudian, 'bugh' Arisa tak segan-segan meninju wajah Rayyan dengan keras membuatnya terkapar dan hidungnya menjadi mimisan.
"Aris? Ada apa?" Rahma berlari menghampiri putrinya karena mendengar suara gaduh. Namun ia begitu terkejut melihat Rayyan yang tertidur di sofa lain dengan terlentang dan membiarkan darah dari hidungnya keluar tanpa ingin menyekanya.
"Ya ampun Rayyan. Kamu kenapa? Jatuh?" Rahma dengan panik mengambil tissue dan membersihkan darah yang masih keluar tanpa izin. Hidungnya masih terasa berdenyut akibat serangan dadakan Arisa.
"Kenapa sampai mimisan? Aris. Kenapa tidak membantunya? Sepertinya dia syok." Tanya Rahma lagi yang terheran karena Rayyan hanya terdiam dan enggan berbicara atau pun bergerak.
"Biarkan saja dia." Jawab Arisa masih memalingkan wajahnya dan memangku tangan karena kesal.
"Kalian bertengkar?"
"Anak tante KDRT." Jawab Rayyan yang seakan mulai tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Aris? Dia memukulmu? Pakai apa sampai kau mimisan? Pakai kayu? Tapi disini tidak ada kayu."
"Pakai tangan." Rahma semakin di buat heran. Bagaimana mungkin Arisa sekuat itu membuat Rayyan mimisan dengan pukulan tangannya.
. Esoknya, Arisa menuruni tangga dengan masih menguap dan bahkan ia belum merapikan rambutnya. Dengan langkahnya yang lesu, Arisa menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya. Matanya yang sempat sayu, kini membulat karena melihat Rayyan tengah duduk manis di sofa ruang tengah dan menatapnya dengan senyum ejek membuat Arisa kembali naik darah.
"Aris." Panggil Yugito, namun ia malah panik takut jika di marahi gara-gara memukul Rayyan sampai mimisan.
"I-iya ayah. A-Aris minta maaf. Kalau saja Aray tidak bicara yang tidak-tidak, Aris juga tidak akan memukulnya." Tuturnya menunduk menyesal.
"Eh? Kenapa minta maafnya pada ayah? Yang kau pukul itu Rayyan." ucap Yugito dengan tanpa memalingkan perhatiannya dari koran yang tengah ia baca.
"Aku malas meminta maaf padanya ayah..." rengek Arisa mendadak menjadi manja.
"Loh... kenapa begitu? Tuh kan Om. Dia tak mau tanggung jawab." Rayyan ikut menimpali sekaligus mengadu pada calon mertuanya. Arisa hanya bisa menghela nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan secara berulang-ulang.
"Tuan Rayyan yang terhormat. Apa pertanggung jawaban saya belum cukup memuaskan anda? Semalam saya begadang mengurus jasad anda yang terkapar tidur padahal sakitnya tak seberapa. Sakitnya di hidung, di pijitnya di bahu. Heran aku. Padahal ayah saja bisa kalau hanya memijit begitu."
"Ehh itu kan kewajiban istri. Iya kan Om?." Rayyan beralih menoleh pada Yugito yang masih fokus pada korannya.
"Ih ngaku-ngaku. Istri siapa?"
"Istri aku lah."
"Kapan nikahnya?"
"Besok."
"Dasar gila."
"Eh... tak boleh begitu pada suami ya."
"Suami macam apa kau?"
Yugito menghela nafas dengan kasar berharap perdebatan mereka mereda akan sindiran darinya. Namun, semakin lama, keduanya malah semakin tak bisa di biarkan, kini Arisa dan Rayyan sudah saling berhadapan dan 'brus' Yugito ikut terkejut saat melihat Raisa menyiram kedua orang yang tengah bertengkar itu.
__ADS_1
-bersambung.