TAK SAMA

TAK SAMA
115


__ADS_3

. Tio mematung dan enggan menoleh pada Arisa, genggamannya perlahan terlepas dan Arisa pun meringis kesakitan. Ia meniup pelan bekas cengkramannya karena memerah. Rasanya sedikit perih dan ia mendadak kembali bersikap manja.


"Lihat saja. Aku adukan kakak pada ayah." cetusnya dengan masih meredakan nyeri pergelangan tangannya.


"Aduhhhh sakitnya awet. Ihhh kakak..... ini bagaimana. Aku kesulitan menyetir nanti--" ucapannya terhenti saat ia mendongak manja dan mendapati Tio yang menangis dalam diamnya.


"Kak? Kenapa? Kakak yang menyakitiku, tapi kakak juga yang menangis? Ingat kakak itu sudah tua." Ejeknya berniat menggoda Tio agar tak terus menangis didepannya.


"Pergilah Aris. Jika memang bahagiamu dengan mereka, pergilah! Kakak memang tak bisa membuatmu bahagia disini. Dan sampaikan salamku pada mereka. Jika kau ingin berkunjung ke sini, berkunjunglah! Pintu rumah akan selalu terbuka untukmu. Baik itu rumah ayah ataupun rumahku." Ujar Tio dengan lirih sembari menyeka air matanya beberapa kali.


"Kakak..."


"Maaf ya. Dari kecil aku selalu membuatmu kesepian. Dan sudah sebesar ini pun, aku belum bisa membuatmu bahagia."


"Kakak jangan bicara begitu... aku bahagia kakak Tio yang dilahirkan menjadi kakak kandungku. Kakak selalu menemaniku saat aku sendirian, dan aku juga tak menyesal saat kakak tahu aku kanker. Aku yang takut kakak khawatir, dan memilih memendamnya sendiri. Tapi, setelah kakak tahu, nyatanya kakak lebih keras berjuang agar aku sembuh. Bahkan saat ke Amerika pun kakak merahasiakannya dari ayah hanya untuk membuatku merasa tenang." Mendengar penuturan Arisa, mata Tio membulat menatap kedua manik Arisa.


"Kau ingat?" Dan seketika itu, Arisa tak kalah terkejut saat menyadari bahwa ucapannya membuat Tio curiga.


"A-aku...."


"Jujur Aris. Kau.... itu hanya kita yang tahu. Dan kau mengingatnya?"


"Kak.... ahahaha aku hanya membaca buku diary ku. Jadi mungkin itu..."


"Tidak Aris. Aku tahu kau tak punya buku diary." Arisa semakin panik dibuatnya. Ia terlalu ceroboh dalam menyembunyikan kenyataan.


"Aris... tatap mata kakak Sekarang!" Namun Arisa terus memalingkan wajahnya dari Tio yang saat ini meraih kedua bahunya dengan sedikit kasar.


"Aris." Bentaknya membuat Arisa menoleh dan menatap mata Tio.


"Katakan yang sebenarnya.!" Ucapnya penuh penegasan. Perlahan Arisa mengangguk dan kembali menunduk, ia tak punya keberanian lebih jika harus menatap mata kakaknya.


"Iya. Aku ingat semuanya." Jawabnya dengan nada pelan. Seketika, Tio menghela nafas berat dan ia mendadak lemas lalu memeluk Arisa dan kembali terisak. Entah itu tangisan sedih atau bahagia.


"Bukankah kakak bilang kau jangan ingat?"


"Aku juga tak mau ingat kak...." lirih Arisa dengan membalas pelukan Tio. Rasanya hangat, sehangat dulu.


"Lalu kenapa kau malah mengingat semuanya? Apa hatimu sakit lagi?"


"Sangat kak. Hatiku lebih sakit setelah mengingatnya."


"Kau bodoh Aris. Selalu tak mendengarkan ucapanku."

__ADS_1


"Aku tidak bodoh. Jika aku bodoh, tak mungkin aku membawa pulang piala olimpiade kan?" Dan, Tio hanya terbahak-bahak mendengar jawaban yang tak asing di telinganya. Bahkan piala itu selalu ia tatap saat sedang merindukan Arisa.


"Darimana saja adik kesayanganku ini hah? Kau membuatku khawatir, dan kau membuatku tak bisa makan karena namamu terpampang di atas batu nisan. Mobil kesayanganmu meledak, dan hanya menyisakan sebuah penyesalan untukku. Kau pikir aku bahagia tanpamu hah?"


"Aku juga merindukan kakak."


"Aku tidak bilang aku merindukanmu bodoh."


"Ihhhh jahat."


"Sekarang kita pulang dan rayakan ini." Tio melepas pelukannya dan menatap Arisa dengan berbinar dan begitu antusias. Namun tidak dengan Arisa yang terkejut dan menggeleng kasar pada Tio dengan wajah yang panik.


"Jangan kak. Ku mohon hanya kakak saja yang tahu. Pliisssss." Ucap Arisa dengan penuh permohonan.


"Aihhh kau selalu begini. Apa lagi rencanamu?" Namun Arisa tak menjawab, ia hanya memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Huft... baiklah. Tapi jika akan menyiksa dirimu sendiri, aku tak akan merahasiakannya lagi." Dan Arisa mengangguk pelan seraya memandang wajah Tio dengan cemas.


Hingga keduanya memutuskan untuk kembali pulang dan bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa ataupun menunjukkan sebuah rahasia terungkap.


. Esoknya, Arisa tengah merapikan beberapa lembar kertas yang baru saja ia ambil dari mesin printer. Saat hendak menyusun, suara langkah kaki wanita menghentikan aktifitasnya. Ia begitu tertarik menebak siapa yang datang ke lantai ini selain orang-orang tertentu. Dan saat ia berdiri hendak menanyakan keperluannya, Arisa mematung dan matanya membulat mendapati wajah yang tak asing baginya.


"Michelle." Batinnya dengan terpaksa harus berpura-pura lupa. Saat ia pikir Michelle juga merindukannya dan akan memeluknya walaupun dirinya di kabarkan amnesia, nyatanya Michelle hanya menatapnya datar.


"Kak Arisa. Kakak bekerja disini?" Arisa mengangguk pelan sambil tersenyum tipis menanggapi. "Ku dengar kakak amnesia?" Lagi, Arisa hanya mengangguk pelan.


"Baguslah. Dengan begitu, aku tak perlu khawatir kakak akan kembali merebut kak Rayyan." 'Deg' jantungnya berdebar keras. Mengapa Rayyan dibawa-bawa? Merebut? Apa maksudnya? Apa hubungan Michelle dengan kekasihnya. Semua pertanyaan satu persatu muncul dibenak Arisa secara acak.


"Maaf nona..."


"Ohhh aku Michelle. Dulu kita bertemu di Amerika saat kakak berobat karena kanker. Yahh mungkin kakak tak ingat."


"Apa dulu kita dekat?" Tanya Arisa mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa dugaannya tidaklah benar.


"Oh tidak. Tidak sama sekali kak." Jawabnya semakin menyesakkan bagi Arisa. Bisa-bisanya Michelle tak mengakui mereka berteman dekat.


"Dan.. apa ada sesuatu yang bisa saya bantu?" Tanya Arisa kemudian. Ia mencoba untuk ramah agar Michelle tak curiga dirinya sudah mengingat semuanya.


"Aku mau bertemu dengan kak Rayyan." Jawab Michelle santai dan penuh percaya diri.


"Apa anda sudah membuat janji dengan beliau?"


"Belum. Aku baru sampai dari Amerika, jadi belum sempat membuat janji."

__ADS_1


"Sayang sekali nona, tuan Rayyan sedang ada pertemuan dengan beberapa klien dari perusahaan lain."


"Benarkah? Kakak tidak membohongiku kan?"


"Bohong? Untuk apa saya berbohong? Dan apa untungnya bagi saya jika membohongi anda?" Michelle diam dengan kata tamparan Arisa yang begitu santai.


"Ya... bisa saja kan kakak cemburu karena aku yang menjadi kekasihnya?" Arisa kembali dibuat terkejut dengan pernyataan yang baru saja terlontar dari bibir manis Michelle.


"Maaf nona. Setahu saya kekasih tuan itu gadis yang empat tahun lalu diduga meninggal dan katanya gadis itu belum meninggal, dia ditemukan oleh tuan sendiri. Dan saya dengar, beberapa hari yang lalu tuan sudah melamar pujaan hatinya itu. Dan mungkin saja dalam waktu dekat tuan akan melangsungkan pernikahannya. Beruntung sekali ya gadis itu. Dan nona sangat kasihan. Mengaku kekasih, tapi sebenarnya bukan." Ujar Arisa dengan ramah namun setiap katanya penuh penegasan bahwa Rayyan hanya miliknya seorang. Mata Michelle membulat dengan berani ia menatap tajam pada Arisa yang terlihat begitu santai.


"Kenapa? Nona menatap saya sampai begitu." Arisa beralih menghampiri Michelle dan kini berdiri berhadapan dengan Michelle.


"Apa kabar kak Marcel?" Tanya Arisa selanjutnya dengan berbisik langsung ke telinga Michelle. Hal itu cukup membuat Michelle terbelalak dan ia segera menjauh dari Arisa.


"Ka-kau... jadi selama ini kau hanya pura-pura?"


"Pura-pura apa maksud nona? Saya tidak mengerti." Jawab Arisa terlihat begitu santai. Dan tak lama, terdengar suara langkah kaki yang mendekat, Michelle menoleh dan ia tersenyum sinis merencanakan sesuatu yang mungkin bisa membuktikan kecurigaannya.


"Kak Rayyan..." ucapnya manja yang langsung menggelayut di lengan Rayyan. "Lihat saja. Pasti kau cemburu aku sangat dekat dengan kak Rayyan." Batin Michelle.


"Michelle... lepaskan." Titah Rayyan begitu terlihat tak nyaman. Arisa hanya menahan diri agar tidak tertawa didepan mereka saat ini, dan itu di lihat oleh Daffa yang berada tepat di belakang Rayyan.


"Risa..." panggil Rayyan hingga Arisa pun menoleh dan menatap ke arahnya.


"Iya tuan? Ada yang bisa saya bantu?" Kali ini Daffa yang berusaha menahan tawa karena bahasa Arisa.


"Risa aku mau bicara." Tegasnya namun tak membuat Arisa merasa takut ataupun merasa terancam dengan nada bicara Rayyan yang berbeda.


"Sebaiknya anda selesaikan dulu masalah anda dengan pacar anda ini. Dari tadi nona muda ini terus menanyakan keberadaan tuan dan dia malah memfitnah saya, dia bilang saya menyembunyikan tuan karena saya dianggap selingkuhan tuan. Padahal saya belum genap satu bulan bekerja disini. Lagi pula, semua pergerakan saya di awasi CCTV dan asisten tuan sendiri. Iyakan pak Daffa." Ungkapnya panjang lebar dengan beralih menatap Daffa yang seketika berhenti tertawa.


"I-iya benar. Dan kebetulan, Risa ini calon istri saya. Jadi mana mungkin dia berani menggoda tuan Rayyan yang sangat dingin ini karena ditinggal mati kekasihnya." Jawab Daffa yang tak menyadari kepalan tangan Rayyan yang begitu kuat di samping tubuhnya. Mungkin pukulan itu bisa kapan saja melayang di wajah Daffa.


"Oh iya tuan. Bukankah tuan ada janji dengan nona Clara di jam ini? Aihhh tuan harusnya jangan lupa dengan jadwal kencan anda." Ucap Arisa lagi membuat Daffa benar-benar tak bisa menahan tawanya.


"Kalau begitu, saya permisi tuan. Silahkan nikmati waktu bersama anda dengan CALON PACAR anda ini." Ucap Arisa selanjutnya yang langsung berlalu dengan menggandeng tangan Daffa menjauh dari hadapan Rayyan yang sudah menahan emosinya sejak tadi.


Apa lagi, mendengar tawa keduanya semakin membuat Rayyan geram. Ia dengan paksa melepaskan tangan Michelle dan beralih memasuki ruangannya dengan masih memendam amarah.


"Kak Ray--" ucapnya terhenti saat Rayyan menutup pintu dengan kasar.


Rayyan membanting apa saja yang ada di atas meja hingga berserakan.


"Arghhhh apa maumu Risa? Kau mengembalikkan kalungnya disaat Oma sudah benar-benar merestui kita. Dan sekarang? Argggghhh" teriak Rayyan benar-benar frustasi.

__ADS_1


Siapa yang tahu, di dalam lift, Arisa menangis tersedu-sesu di pelukan Daffa dan tak bisa di tenangkan.


-bersambubg


__ADS_2