
. Tio membuka pintu dengan membawa Ghava di pangkuannya. Lalu, terlihat juga seorang wanita mengikuti Tio dengan wajah yang sudah sendu ketika menatap Arisa yang masih terduduk di ranjangnya. Diana sudah tak bisa mengatakan apapun setelah mengetahui bahwa Arisa mengalami amnesia dan hanya pada Tio lah Arisa bisa mengingat meskipun hanya sebuah nama.
"Jangan bertanya siapa. Karena aku akan sangat terluka." Ucap Diana saat Arisa menatapnya penuh rasa penasaran.
"Maaf..." jawabnya melempar senyum. Arisa tak tahu lagi harus berkata apa sekarang, karena memang dirinya tak mengingat siapa wanita didepannya.
"Anty...." rengek Ghava yang merentangkan tangannya ingin digendong oleh Arisa.
"Sepertinya aku ingat." Pekik Arisa membuat semua yang mendengar menjadi berbinar dan menatap harap pada Arisa.
"Kau ingat padaku?" Tanya Diana mendahului Tio dan Rayyan yang sudah menghela nafas.
"Tidak... bukan. Tapi pada anak itu." Jawab Arisa menunjuk Ghava di pangkuan Tio. Diana menoleh pada Tio seakan bertanya kenapa bisa?
"Emm kalau tak salah, beberapa hari yang lalu aku sempat menggendongnya, dan saat aku pergi, anak ini menangis dan memanggil anty..." ucapnya menjelaskan seraya bersikap seolah sedang berpikir.
"Ini keponakanmu bodoh." Delik Tio kemudian menyentil dahi Arisa hingga Arisa sendiri meringis kesakitan.
"sudahlah. Percuma mengharapkanmu ingat. Tapi sebaiknya kita ke tempat dimana kau mungkin akan mengingat sesuatu." Ucap Tio lagi seraya membuka tirai dan pintu balkon. Arisa terpaku pada beberapa tanaman yang begitu segar. Bahkan dirumah Sarah pun tidak sebanyak ini. Lalu Arisa bangkit dan berjalan pelan menatap satu persatu bunga yang sedang mekar. Sebuah ingatan tentang Tio kembali muncul saat Arisa meraih bunga aster yang pernah Tio belikan. Bunga itu terus tumbuh seakan enggan untuk layu ketika pemiliknya tak ada.
"Apa ini bunga yang sama dengan yang kakak belikan waktu itu?" Tanya Arisa tanpa menoleh pada Tio.
"Kau ingat?" Namun, Tio kembali kecewa saat Arisa menggeleng menanggapi pertanyaannya. Lalu, Arisa mendongak dan menatap langit yang hari ini begitu cerah.
"Sepertinya malam ini akan banyak bintang." Ujarnya menoleh pada Tio dan melempar senyum manisnya. Tio membalas senyuman Arisa yang selama ini ia rindukan. Empat tahun sudah ia hidup tanpa canda tawa sang adik tercinta dan menghabiskan hari-hari dengan kehampaan.
"Kak Tio. Aku ingin bicara pada Risa sebentar." Ucap Rayyan pelan dengan ragu menoleh pada Tio.
"Baiklah. Tapi jangan membuatnya kabur lagi." Jawab Tio penuh nada ejekan.
"Apa kau benar-benar tak mengingatku?" Tanya Rayyan seraya meraih ujung rambut Arisa dan dengan lembut mengelus kepala Arisa membuat Arisa sedikit terhenyak. Rayyan menyernyit saat Arisa mundur menghindarinya.
"Kenapa?" Tanya Rayyan kemudian. Arisa hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Rayyan yang membuatnya menjadi pusing dan tak bisa menyeimbangkan pikirannya.
"Jika kita menikah dalam waktu dekat, apa kau bersedia?" Arisa mendongak lalu menatap dalam pada kedua manik hitam Rayyan yang begitu hangat membalas tatapannya.
"Maaf... aku tidak bisa." Jawabnya memalingkan wajah dengan datar dan tanpa ekspresi. Rayyan tak pernah mendapatkan perlakuan sedingin ini dan penolakan seenteng ini dari Arisa yang jelas dulu begitu mencintainya. Namun Rayyan tersadar dengan kata 'dulu' yang jelas tak mungkin terjadi di masa sekarang. Jika di ulang pun mungkin benar-benar tak akan pernah bisa sama.
__ADS_1
"Segampang itu kau menolakku? Bukankah kau mencintaiku? Dan bukankah kita saling mencintai?" Lagi, Arisa terhenyak dan ia duduk seketika di sofa mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan Rayyan.
"Ja-jangan...." lirihnya yang melihat sepintas ingatan tentang adegan yang nyaris menghancurkan hidupnya karena Rayyan yang sudah gelap akan pikirannya.
"Risa... kau baik-baik saja?" Rayyan berjalan mendekati Arisa yang menggeser menghimpit ke sisi yang lain. Ia merasa itu bukanlah mimpi. Ia seakan bisa mengingat bagaimana Rayyan menghempaskan tubuhnya di tempat tidur dan ingatan tentang rencana pernikahan Rayyan dan kakaknya, ucapan Oma Galuh yang menyakiti hatinya, lalu makian dan kata-kata kecewa dari ayahnya beserta tamparan itu dengan jelas muncul di kepalanya. Arisa terengah sembari meraih kepalanya yang kembali berdenyut.
"Risa.... ka--"
"Menjauh dariku!" Teriaknya sama dengan kejadian saat itu.
"Risa aku tid--"
"Rayyan jangan.!" Dan secara tak sengaja, ia melontarkan kata yang bahkan tak muncul di pikirannya. Dan ia sendiri merasa heran dengan apa yang baru saja ia lontarkan. Mendadak Arisa tak bisa mengontrol emosi dan pikirannya yang semakin hari semakin kacau.
Mendengar teriakan Arisa dari balkon, Tio dan seluruh anggota keluarga bergegas menghampiri Arisa yang sedang duduk menghimpit di sudut sofa. Nafasnya terengah dan air matanya berderai membuat Tio menjadi panik.
"Rayyan apa yang kau lakukan?" Teriak Tio meraih Arisa kedalam dekapannya.
"Aku tidak melakukan apa-apa kak. Tiba-tiba saja Risa--"
"Dia mau meniduriku." Jawab Arisa cepat dengan menyela membuat Rayyan terdiam seketika.
"Bohong.... kau melemparku. Dan kau... argghhhh.. memelukku, tapi.... Kak... aku tidak mengerti dengan semua yang kulihat." Rengek Arisa menatap penuh tanya pada Tio yang masih tak tahu apa yang terjadi.
"Risa.... apa kau mengingat sesuatu? Yang kau katakan itu bukan kejadian sekarang, tapi saat pertemuan terakhir kita sebelum aku benar-benar menerima Raisa. Kau ingat? Saat itu kau dan aku saling berjanji untuk tidak pergi, tapi nyatanya kau sendiri yang meninggalkanku. Dan kau memintaku untuk tidak mengejarmu. Apa kau juga ingat? Saat kau berteriak seperti tadi, saat itu juga aku tersadar bahwa melakukan hal itu pun hanya akan membuat semua orang menjadi bermasalah." Jelas Rayyan yang meraih tangan Arisa dan menatap penuh harap.
"Lalu, kenapa ayah menamparku? Apa saat itu aku melakukan kesalahan yang sangat besar? Sampai saat ini aku merasa ada sebuah tangan yang memukul pipiku dengan keras. Aku merasakannya. Sangat sakit." Ucap Arisa sembari meraih pipinya perlahan. Mendengar itu, semua yang berdiri di depan Arisa tak ada yang tak menangis, bahkan Rayyan pun menyeka embun di kelopak matanya, dan Yugito dengan cepat meraih putri bungsunya yang benar-benar ia rindukan.
"Maafkan ayah.... maafkan ayah Aris... jika saja ayah mengerti perasaanmu, kau tak mungkin merasakan rasa sakit itu."
"Kenapa yang kau ingat hanya itu Aris?" Lirih Tio terdengar putus asa.
"Aku tidak tahu. Dan rasanya aku tidak mau ingat. Karena semakin aku mencoba untuk ingat, kepala dan dadaku akan semakin sakit. Entah apa yang pernah kalian lakukan, aku tidak peduli. Asal jangan mencoba membuatku ingat kembali kenangan buruk yang membuatku jadi seperti ini." Lirih Arisa tak kalah putus asa dari Tio saat Yugito melepaskan pelukannya.
"Rasanya aku begitu kesepian, dan rasanya ada yang pergi dari hidupku. Separuh jiwa, atau cinta. Dan aku sama sekali tidak merasakan perasaan apapun padamu." Lanjutnya yang kini menatap dingin pada Rayyan. Raisa menggeleng tak percaya, bagaimana bisa Arisa yang begitu mencintai Rayyan bisa mengatakan hal yang menyakitkan ini? Rayyan benar-benar mematung saat mendengar Arisa yang jelas sedang membicarakan Rama. Meskipun tak mengingatnya sama sekali, namun perasaan Arisa pada Rama begitu besar. Sampai saat ia amnesia selama bertahun-tahun lamanya, Arisa masih merasakan perasaan cinta untuk Rama. Lalu, apa artinya dari ciuman perpisahan yang pernah Arisa berikan pada Rayyan yang seakan Arisa sendiri tak ingin kehilangan Rayyan.
Rayyan berdecih kemudian berlalu begitu saja tanpa sepatah katapun ia tinggalkan untuk Arisa.
__ADS_1
"Aris apa yang kau katakan? Kau dan Rayyan saling mencintai." Ucap Raisa yang ikut berlalu menyusul Rayyan sampai ke depan rumah. Arisa menyipit memperhatikan Raisa yang begitu bersusah payah membujuk Rayyan agar tak marah pada Arisa, sesekali Rayyan menoleh ke atas dan menatap Arisa yang memalingkan wajahnya menghindari tatapan Rayyan. Dan seketika itu, Rayyan kembali menahan diri untuk tidak meluapkan emosinya disana karena berpikir bahwa Arisa benar-benar sudah melupakannya dan juga perasaannya yang sudah begitu dalam.
. Arisa berjalan menyusuri setiap gundukan tanah dengan berhiaskan bunga kering dan batu nisan. Terlihat dua orang laki-laki tengah saling membelakangi dan dengan serius memanjatkan doa. Dimas yang menghadap ke makam Citra, dan Gilang yang menghadap ke makam Rama. Arisa menyernyit ketika menatap namanya terukir rapi di atas gundukan tanah dengan taburan bunga yang masih segar.
"Wah... ternyata aku sudah mati." Cetusnya dengan santai membuat Gilang menoleh dan terbelalak dengan tubuh yang mendadak kaku. Gilang mencoba memaksakan tubuhnya agar bergerak dan menepuk Dimas yang masih begitu fokus berdoa.
"B-b-bang D-dimas...." panggil Gilang begitu panik tanpa mengalihkan pandangannya dari Arisa yang menatapnya heran.
"Apa Lang?" Tanya Dimas tanpa menoleh.
"Mbak Aris bang."
"Kenapa dengan Aris?"
"A-abang doa apa?"
"Untuk ketenangan Aris Lang."
"Bo-bohong. A-abang pasti minta mbak Aris hidup lagi." Mendengar itu, Dimas tersentak dan kemudian ia kembali menunduk seakan mengiyakan ucapan Gilang.
"Tuhhh kannn... harusnya abang jangan berdoa begitu."
"Memangnya ken--waaaaa" teriaknya tiba-tiba saat hendak berbalik pada Gilang, namun malah mendapati Arisa yang berdiri di hadapannya.
"A-a-aris... k-kau m-masih hidup?" Tanya Dimas menggeserkan tubuhnya seperti Gilang dengan wajah ketakutan. Arisa hanya menatapnya dengan datar dan perlahan menghampiri mereka yang terus menghindar.
"Woaaaaa jangan mendekat." Teriak kakak beradik itu serempak.
"Kalian pikir aku apa? Hantu?" Tanyanya dengan sinis dan mendelik, sangat jauh dari sikap Arisa yang Dimas kenal.
"Tapi kau berjalan diatas tanah." Cetus Dimas menatap kaki Arisa yang menapak dan terus berjalan kearahnya.
"Kau benar-benar Arisa?" Tanya Dimas lagi masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Kau pikir aku siapa? Kenapa kau mengenalku? Aku saja tidak mengenalmu." Deliknya.
"Apa pindah dunia membuatmu lupa padaku?" Dimas tak kalah mendelik dan seketika ia menyadari sesuatu.
__ADS_1
-bersambung