
. Sepanjang jalan, Arisa merasa bimbang dan begitu gelisah. Rayyan yang duduk di kursi depan masih tak percaya bahwa gadis yang ia harapkan kehadirannya ini sudah sepenuhnya melupakan dirinya. Namun, ia pun sedikit merasa senang karena Arisa tak lagi melihat Rama.
"Aris kau kenapa?" Terdengar suara Raisa yang begitu lirih menyadari ketidak nyamanan adiknya.
"Sepertinya ada yang tertinggal." Jawab Arisa menatap mata Raisa.
"Bagaimana dengan apartemenku? Kak Reza bilang aku sangat suka tinggal disana." Batin Arisa kemudian.
"Setelah kita bertemu kakak, ayah dan mama, kita akan mengambilnya ke sini." Ucap Raisa sedikit menenangkan. Arisa hanya mengangguk menanggapi ucapan Raisa.
. Di waktu yang sama, Reza bergegas mengajak Zain untuk ke rumahnya dan membawa Sarah menyusul Arisa. Ia merasa khawatir pada gadis yang selama empat tahun menjadi adik pengganti untuknya. Dan bisa saja, Sarah akan merasa terkejut dengan kedatangan Raisa ke kantornya dengan membawa Arisa pulang.
Benar saja, Sarah hampir terjatuh karena mendadak lemas saat mendengar putri sambungnya di bawa pergi. Meskipun oleh saudara kembarnya sendiri. Dan mereka memutuskan untuk menyusul Arisa ke Jakarta seraya memastikan tak ada sesuatu yang membuat mereka khawatir.
. Singkatnya, ketika sampai di gedung Artaris, Arisa menatap kagum pada gedung yang menjulang tinggi didepannya. Terlihat beberapa petugas menunduk hormat saat Raisa dan Rayyan melewati mereka. Namun, raut wajah mereka tak bisa berbohong, mereka merasa terkejut melihat gadis yang mereka kira meninggal, kini hidup kembali. Bertepatan dengan mereka melangkah menuju lift, Arisa terhenti seketika saat menatap pada lift yang terbuka dan menampilkan Tio dengan beberapa pegawainya. Saat Tio melangkahkan kaki keluar lift, ia mematung dan menjatuhkan berkas yang sedang ia bawa. Perlahan, Tio melangkah. Semakin lama, langkah itu semakin cepat, dan ia berlari menghampiri gadis cantik yang begitu ia rindukan. Tio memeluk lalu mencium kepala, dahi, dan pipi Arisa dengan berderai air mata. Raisa pun tak kuasa menahan kesedihannya dengan membayangkan perasaan Tio jika ia tahu bahwa Arisa amnesia. Rayyan menatap sendu pada raut wajah Arisa yang begitu datar dan tak membalas pelukan Tio. Seperti tak merasa haru atau sedih, walaupun Tio terisak keras di pelukannya.
"Aris... adikku.... akhirnya kau pulang." Ucap Tio yang tak ingin melepaskan pelukannya dari sang adik tersayang.
"Kau tak tahu betapa kakak merindukanmu? Kau tak tahu bagaimana gilanya kakak saat mencarimu? Kau juga tak tahu kakak begitu--"
"Kak tio?" Lirihnya menghentikan celotehan Tio seketika.
"Kau masih ingat kakak? Kau kemana saja?" Tio perlahan melepaskan pelukannya lalu meraih wajah Arisa yang begitu datar, namun terlihat air matanya yang berderai.
"Tidak. Dan mungkin iya." Mendengar itu, Tio hanya terkekeh berpikir bahwa Arisa sedang bercanda karena sudah lama tidak bertemu.
"Masih sempat kau bercanda? Hahaha Ya Tuhan... kakak menyayangimu. Jangan pergi lagi, atau kakak akan benar-benar gila." Kembali Tio memeluk Arisa dengan erat.
"Hanya kakak yang aku ingat. Dan hanya kakak yang selalu muncul di mimpiku dengan wajah yang jelas. Dengan sekali melihat, aku langsung mengenali kakak."
"Haha apa yang kau bicarakan? Kakak bersyukur kau baik-baik saja."
"Tapi kepalaku tidak kak."
"Sudahlah jangan bicara lagi."
Perlahan Arisa membalas pelukan Tio dan ia membenamkan wajahnya di dada Tio, kemudian Arisa terisak dengan keras. Ia kembali merasakan sakit di kepalanya dengan sebuah ingatan yang terlintas cepat menampilkan kenangannya dengan Tio.
Ditengah momen mengharukan Tio dan Arisa, terlihat Yugito yang sama dengan Tio. Ia mematung setelah melihat ketiga anaknya berkumpul kembali dalam keadaan baik-baik saja. Raisa menyadari lalu mengusap wajahnya dengan paksa.
"Ayah..." panggilnya pelan membuat Tio melepaskan Arisa dan keduanya menoleh pada sosok yang tak pernah muncul di ingatan Arisa.
"Siapa dia?" Tanyanya polos. Seketika Tio menoleh kasar pada Arisa dengan wajah heran.
"Apa kau begitu membenci ayah sampai tak mengenalinya?" Tanya Tio dengan nada ejekan dan berpikir Arisa masih bercanda.
"Ayah?" Lagi, Arisa hanya menyernyit dengan polos menatap pada Tio dan Yugito bergantian. Namun pada saat Yugito berada tepat di depan Arisa, secara refleks Arisa menghindar dan berlindung di belakang Tio.
__ADS_1
"A-anda mau apa?" Kembali Tio di buat heran dengan pertanyaan Arisa.
"Aris.. putriku.... ka-kau benar-benar masih hidup?"
"Apa maksudnya? Aku memang masih hidup." Jawabnya sedikit ketus.
"Aris jaga bicaramu." Tegur Tio dengan berbisik namun masih terdengar oleh Yugito.
"Nak... maafkan ayah. Ayah sudah keterlaluan membuatmu menderita."
"Ayah... Aris...." dengan ragu Raisa masuk pada percakapan dan ia merasa tak sanggup berkata bahwa Arisa amnesia.
Meski begitu, mereka tak menyadari bahwa ada yang salah pada Arisa dan Yugito mengajak mereka untuk pulang. Namun, Arisa memilih bersama Tio dalam satu mobil.
"Kak... kakak tahu alasanku pergi dari rumah?" Tanya Arisa dengan menatap ke samping.
"Karena Rayyan dan Raisa menikah kan?"
"Jadi mereka suami istri? Kenapa Rayyan memelukku dan memanggilku sayang?"
"Karena tragedi kecelakaan itu, Raisa memutuskan untuk membatalkan pernikahannya dengan Rayyan."
"Kenapa batal?"
"Karena mereka mengira kau sudah meninggal dalam kecelakaan. Dan nyatanya itu adalah temanmu. Citra."
"Dan, apa kakak tahu siapa pacarku yang meninggal?"
"Aris? Kau ini bicara apa? Tidak mungkin kau melupakan Rama? Kau begitu mencintainya melebihi pada Rayyan. Sampai kakak juga merasa heran pada sikapmu yang menutup diri setelah Rama meninggal."
"Satu pertanyaan lagi." ~Arisa.
"Apa?" ~Tio
"Apa luka jahitan ini sudah ada sebelum aku pergi dari rumah?"
"Aris... cukup bercandanya."
"Aku tidak bercanda. Aku serius. Sejujurnya aku tidak tahu kakak siapa. Tapi karena nama kakak satu-satunya yang aku ingat setelah aku bangun dari koma, dan wajah kakak juga yang sering muncul di mimpiku lebih jelas dari pada yang lain, aku merasa bahwa kakak sangat menyayangiku melebihi apapun. Dan yang tadi kakak sebut ayah, aku tidak sedikitpun mengingatnya, nama atau wajahnya pun tak pernah muncul di mimpiku. Dan kenapa--" celotehan Arisa berhenti bersamaan dengan Tio yang menghentikan mobil dengan mendadak.
"Apa maksudmu Aris? Kau tak mung--"
"Aku tidak tahu.... siapa aku? Bunda hanya mengatakan aku anak dari Yugito dan aku sendiri tidak tahu bagaimana ayahku. Kak Reza selalu menyebutkan nama itu, tapi tak pernah ada bayangan tentangnya."
"Ka-kau koma? Apa yang terjadi padamu?" Tanya Tio setengah berteriak dengan frustasi. Bagaimana bisa adik kesayangannya kini begitu menyedihkan.
"Kata bunda, aku kecelakaan dan sempat koma beberapa minggu. Dan saat aku bangun, semuanya kosong. Hanya nama Tio yang ada terlintas di ingatanku. Bahkan namaku sendiri saja aku tidak tahu."
__ADS_1
"K-kau amnesia?" Arisa mengangguk menjawab pertanyaan Tio yang terbata karena tak percaya.
"Tapi entah kenapa, aku merasa bahwa aku memang menginginkannya, aku ingin lupa semuanya."
Tio yang tak bisa berkata-kata dan air matanya pun tak bisa terbendung hanya bisa menangis diam sambil terus fokus pada jalan meskipun terkadang pandangannya kabur karena air mata yang menggenang.
. Sampai di rumah, mereka terkejut karena di suguhkan dengan pemandangan yang begitu menegangkan. Dimana Rahma yang tengah marah besar dengan di tahan oleh Yugito yang baru sampai. Lalu, Arisa dengan cepat berlari kehadapan Rahma dan menahan tangan Rahma yang hendak menampar Sarah.
"Berani sekali anda menampar bunda." Ucap Arisa begitu dingin hingga membekukan tubuh Rahma seketika. Ia merasa tak percaya, putri yang dianggap mati kini berada didepannya. Benar kata Sarah, Arisa masih hidup di bawah lindungan Sarah. Namun, Rahma yang masih melihat Sarah dengan pandangan yang berbeda, masih menganggap Sarah sebagai wanita penggoda dan perebut suami orang. Namun rasanya itu tak sebanding dengan kata yang baru saja ia dengar. Tatapan Arisa yang dingin, dan ucapan yang menusuk membuat Rahma menitikan air mata.
"Nak... kamu mas--" Rahma tiba-tiba membisu saat Arisa menepis kasar tangan Rahma yang hendak meraih wajahnya.
"Saya tidak akan memaafkan siapapun yang menyakiti bunda."
"Sekalipun ibumu sendiri? Aris. Wanita yang kau panggil bunda itu adalah wanita yang merebut ayahmu dari mama." ~Rahma.
"Aris.... jaga bicaramu pada mama." ~Tio.
"Mama? Apa mama jahat? Kenapa aku tidak merasakan kerinduan dan kebahagiaan saat bertemu? Berbeda dengan kakak dan Raisa." ~Arisa.
"Aris.... jangan begitu. Ingatlah bahwa mama begitu menyayangimu." Lirih Raisa dengan nafas tersenggal karena tak menyangka pertemuan yang ia kira akan bahagia malah hancur seperti ini.
"Bunda.... apa bunda dan kak Reza berniat membuangku pada mereka? Bunda.... Putri tak mau. Putri hanya ingin dengan bunda." Arisa beralih meraih tangan Sarah yang menangis haru melihat Aris ayang begitu merasa bimbang atas hidupnya.
"Aris...." tegas Yugito membuat Arisa menoleh ke arahnya. Bukannya takut, Arisa malah membalas tatapan tajam dari Yugito.
"Tatapan apa itu? Kau membenci ayah?" Yugito berjalan semakin dekat, dan bersamaan dengan itu, terdengar suara dengungan keras di telinga Arisa dan kepalanya berdenyut menyakitkan saat bayangan Yugito yang menamparnya mulai bermunculan di benaknya.
"Berhenti. Aku tidak mengenalmu." Teriak Arisa sedikit mundur menjauh dari Yugito sembari meraih kepalanya. "Jangan mendekat. Akhhhhh" Arisa terduduk dan semakin lama, memori itu semakin banyak dan kepalanya mulai berputar. lalu, semuanya gelap.
"Aris...." panggil semuanya bersamaan dan berlari menghampirinya yang tergeletak di lantai.
. Saat ia bangun, ia hanya mendapati Rayyan yang menggenggam tangannya dengan erat dan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Bunda..." lirih Arisa yang bangkit dari tidurnya.
"Mereka sudah pergi."
"Tapi..."
"Risa."
"Aray aku mohon... izinkan aku menemui bunda." Rayyan terbelalak mendengar panggilan yang ia sendiri merasa asing jika di lontarkan dari Arisa saat ini.
"Risa... ka-kau memanggilku Aray? Kau sudah ingat?"
"Aku tidak tahu. Kata itu terlontar begitu saja tanpa aku sadari." Jawabnya merasa heran sendiri.
__ADS_1
-bersambung