TAK SAMA

TAK SAMA
114


__ADS_3

. Setelah dua keluarga berkumpul, Yugito tak mendapati tanda-tanda keluarga Pratama akan segera datang. Bahkan Rayyan pun tak memberikan penjelasan mengapa keluarganya belum juga sampai. Hingga salah satu bawahannya melapor bahwa Oma Galuh sedang dirawat sejak siang tadi. Lalu Yugito pun mengangguk mengerti akan laporan yang ia terima.


"Kedatangan kami kesini atas undangan dari anda, dan ada hal yang ingin kami bahas bersama dengan keluarga besar Putra sekalian." Ucap Sayid Sanjaya, ayah dari Fariz yang memulai pembicaraan.


"Apa yang ingin anda bicarakan?" Tanya Yugito tak bisa menutupi rasa penasarannya.


"Melihat kedekatan antara Fariz dan Raisa, dan pengakuan Fariz juga membuat saya yang merupakan ayah dari Fariz, hendak melamar nak Raisa sebagai menantu kami. Apa anda keberatan?" Ujar Sayid berhasil membuat Raisa mematung seketika. Arisa yang berada di sampingnya pun menyenggol lengannya dan terus menggoda Raisa. Raisa yang malu hanya bisa tersenyum sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Yugito terdiam dan tatapannya menjadi sendu saat melirik ke arah kedua putrinya yang kini duduk di sampingnya.


"Apa anda keberatan? Atau anda sudah mempunyai calon lain untuk Raisa?" Tanya Sayid kemudian.


"Ohhh tentu tidak pak. Raisa tak ada calon lain selain nak Fariz. Hanya saja saya merasa tak tahu harus bicara apa saat ada orang lain yang hendak menginginkan putri saya. Bukan saya tak setuju, tapi mungkin karena saya sudah 26 tahun ini menjadi saksi kehidupan Raisa. Dan dengan penuh keikhlasan, saya harus melepas Raisa untuk hidup dengan orang lain."


"Apa itu isi hati ayah?" Tanya Raisa setengah berbisik. Namun Yugito hanya menepuk kepala Raisa dengan tatapan yang begitu hangat.


"Saya menerima lamaran anda pak Sayid." Ucap Yugito akhirnya mengembangkan senyum diantara mereka.


Tio yang melihat kegelisahan Arisa pun mengajak Arisa ke balkon kamar Arisa.


"Apa kau memikirkan Rayyan?" Tanya Tio bersandar pada pembatas balkon.


"Tidak. Aku hanya memikirkan kak Reza." Tio menyernyit dan tatapannya menjadi tajam seakan menunjukkan bahwa dirinya benar-benar tak suka akan apa yang di ucapkan Arisa.


"Aku tak peduli kakak akan marah, tapi aku benar-benar merindukan bunda."


"Aris... cukup. Jika mama mendengar, mama pasti merasa sakit hati nantinya."


"Tapi mama tak pernah menjaga perasaanku. Mama sangat mudah menamparku."


"Aih... kau masih mengungkit itu?"


"Dan juga, Rayyan hanya mencintai Raisa. Aku menyaksikannya mereka berpelukan."


"Apa? Kapan?"


"Sudahlah. Aku ingin sendiri." Ucap Arisa beranjak dan ia berlalu memasuki kamar dan mengambil sesuatu dari laci. Setelah itu ia benar-benar pergi dengan masih memakai pakaian formal.


Tio yang merasa khawatir pun bergegas mengikuti kemana Arisa pergi. Namun ia terheran saat Arisa memasuki pekarangan rumah Rayyan.


Namun, saat Tio menunggu sedikit jauh dari mobil Arisa, terlihat Arisa keluar dan berlalu ke jalur lain. Bukan ke arah rumah. Tio bergegas mengikuti Arisa kembali dan kini mobilnya menepi di sebuah taman yang memang sering Arisa kunjungi dulu.


Yang membuat Tio semakin heran, mengapa Arisa bisa tahu jalan pintas menuju taman itu? Karena seingatnya ia pasti lupa karena amnesianya.

__ADS_1


Tio mengikuti setiap langkah Arisa yang gontai dan seakan tak bersemangat. Arisa kemudian duduk dan menatap dalam pada sebuah gelang yang entah kapan sudah terpasang di pergelangan tangan Arisa. Tio menyipit mencoba mengingat kapan Arisa mulai memakai gelang itu, dan ia sejenak teringat saat Arisa kembali dari Bandung.


Dengan memberanikan diri, Tio menghampiri dan duduk di samping Arisa membuat adik kesayangannya itu terkejut di buatnya.


"Kakak." Pekik Arisa menggeser tubuhnya.


"Apa aku seperti hantu?" Tanya Tio mendesah kesal.


"Jelas saja. Kakak tiba-tiba muncul." Balas Arisa.


"Ya dari pada Rama yang muncul. Bukankah aku lebih baik?"


"Tapi aku lebih mengharapkan Rama dari pada kakak." Cetusnya santai dan kemudian ia terbelalak sendiri karena mungkin Tio akan menyadari sesuatu. Setelah ia kembali, jelas ia tak pernah membawa Rama dalam hal apapun, namun sekarang, Arisa seakan menunjukkan bahwa dirinya tengah merindukan Rama.


"Baguslah jika kau mengingatnya, setidaknya jangan sampai kau melupakan semuanya." Ucap Tio menepuk kepala Arisa yang termangu mendengarnya. Ia pikir Tio akan menyangka dirinya sudah ingat.


"Ingatannya menyakitkan ya kak?" Lirihnya tersenyum tipis mencoba memancing kepekaan Tio yang masih belum memahami setiap kata yang di ucapkan Arisa.


"Apa saat di Bandung, kau selalu menyendiri?" Tanya Tio lagi dengan ikut menatap pada langit yang bertabur bintang. Ia kembali menoleh pada Arisa yang hanya tertawa kecil menanggapi pertanyaannya. Dimana letak lucu nya? Pikir Tio sesaat.


"Tak ada yang lucu Aris." Delik Tio kembali mendongak.


"Saat ini sudah tidak. Sejak kau bilang tante Sarah berusaha membuat penyakit lambungmu sembuh, dari saat itu aku mulai menghilangkan kebencianku pada mereka. Dan kau selalu bilang bahwa mereka sangat menyayangimu. Dan ku pikir, tak ada salahnya aku berdamai dengan rasa benciku ini kan?" Dan kali ini Arisa tersenyum menanggapi. Ia menghela nafas lega sesaat dan semakin dalam menatap pada salah satu bintang yang terlihat lebih terang dari yang lain.


"Sepertinya bintang itu Rama ya? Dia bersinar melebihi yang lain. Dan sangat menarik perhatianku. Katanya, jika aku merindukannya tatap saja langit malam, maka dia akan ada disana diantara bintang-bintang. Ahhhh aku jadi ingin menyusulnya."


"Sut ehhhh... mulai kan ngasal lagi bicaranya."


"Haha aku bercanda kak. Tapi aku lebih merindukan bunda. Katanya dia sedang sakit, tapi aku tak bisa merawatnya. Padahal bunda selalu merawatku saat lambungku kambuh."


"Apa lambungmu benar-benar sembuh?"


"Mau buktikan? Sekarang mau beli makanan pedas sama kopi? Ya paling efeknya hanya mules saja." Ucapnya begitu enteng.


"Hemmm nanti pas sakit perut nangis..." ejek Tio dengan memasang wajah yang konyol.


"Haaaa pokoknya aku kangen bunda..." rengek Arisa mendadak bersikap manja. "Kakak tahu? Selama empat tahun aku tinggal dengan bunda, aku tak pernah duduk di luar seperti ini. Bahkan jika aku menatap bulan di taman rumah pun, bunda pasti marah. Apa lagi kak Reza. Kalau sekarang kak Reza disini, dia pasti bilang begini 'hei Putri. Apa yang kau lakukan hah?' Dan kak tahu? Kak Reza bilang begitu sambil memasang wajahnya yang.... menyebalkan. Terus dia bilang begini 'aku sudah lelah bekerja untuk pengobatanmu dan sekarang kau seenaknya bermain dengan angin malam?' Ahaha kak Tio saja tak pernah sampai memarahi aku begitu kan? Hahahaha...." lanjutnya tertawa namun dengan air mata yang tak henti berderai.


Tio tak sedikit pun memalingkan pandangannya dari wajah Arisa yang dilihatnya sekarang sedikit berbeda saat terakhir dia pergi dari rumah. Dan ia terpaku pada bekas luka goresan yang ada di bawah mata kanan Arisa. Saat ia hendak meraihnya, Arisa segera menutup pipinya menyadari pergerakan Tio.


"Ini bekas luka saat kecelakaan." Ucap Arisa dengan sedikit melempar senyum.

__ADS_1


"Aris...." lirih Tio seakan ingin mengatakan sesuatu.


"Hemmm?" Sahutnya memiringkan kepala dengan sedikit penasaran. Ia berpikir bahwa Tio akan mengajaknya ke Bandung setelah Tio melihat Arisa menangis karena merindukan Sarah.


"Ayo pulang. Mama pasti khawatir." Ucap Tio kemudian. Arisa yang terlihat kecewa seketika memudarkan senyum tipisnya.


"Kakak saja duluan." Jawabnya mendadak menjadi dingin. Tatapannya sudah tak ada lagi kehangatan.


"Ini sudah malam Aris..."


"Aku tahu."


"Kau ini kenapa lagi? Aris. Yang peduli padamu bukan hanya Reza dan tante Sarah. Tapi aku, kakak kandungmu dan orang rumah juga sangat menyayangimu. Siapa Reza? Siapa tante Sarah? Memang mereka baik dan pernah menjadi bagian hidup ayah. Tapi sekarang tidak."


"Aku tak peduli. Nyatanya bukan orang tua kandung pun bunda lebih menyayangiku dari pada mama. Dan bunda juga tak pernah menaruh rasa benci pada keluarga kita. Padahal kak Tio dan mama terang-terangan menghujat mereka. Bahkan mama pun bersikap kasar pada bunda."


"Aris.... sudah cukup... ayo pulang."


"Pulang? Untuk apa? Disini lebih tenang." Jawabnya semakin santai bersandar dan memejamkan matanya.


"Sejak kapan dia begini? Bahkan dulu dia tak pernah sampai seperti ini." Batin Tio semakin lekat menatap wajah Arisa yang dirasanya sangat berbeda dengan versinya yang dulu.


"Kenapa kak? Aku tahu aku cantik. Jadi jangan menatapku begitu." Ucapnya membuka mata sebelah dan melirik pada Tio yang memalingkan wajahnya.


"Sejak kapan kau menjadi begini?"


"Bukankah sejak dulu? Tak mungkin kakak tak tahu kan? Apa lagi sejak Rama pergi, bukankah kakak menyaksikan bagaimana hancurnya hidupku setelah itu?" Tio semakin tak mau memalingkan wajahnya kembali pada Arisa, ia seakan ikut bersalah karena tak bisa membuat Arisa bahagia semasa hidup dengannya. Alih-alih mengobati rasa kesepiannya, Arisa malah semakin merasa hampa setiap kali Tio menemaninya.


"Kakak bilang mau pulang." Dan mendengar ini, Tio beranjak lalu menarik kasar tangan Arisa dan membawanya ke mobil miliknya.


"Kak aku bawa mobil. Lepaskan aku. Ini sakit. Apa kau tidak sadar cengkramanmu bisa membuatku patah tulang?" Rengeknya menarik-narik kasar tangannya dari genggaman Tio.


"Diam atau aku tak akan membiarkanmu keluar sedetikpun dari rumah?"


"Cih kakak sangat berbeda dengan kak Reza."


"Iya. Iya aku berbeda. Dia lebih sempurna berperan sebagai kakak untukmu. Tapi asal kau tahu Aris. Bagaimana pun dia juga yang merebut kebahagiaan mama dan aku 25 tahun yang lalu. Dan wanita yang kau sebut bunda itu tak lebih dari seorang perusak keluarga kita." Bentak Tio membuat Arisa terdiam menunduk.


"Bukankah salah satu anaknya menyelamatkan hidupku? Bukankah Nadhira mengorbankan hatinya untukku agar aku tak mati? Apa kakak tahu sakitnya tak bisa membalas budi karena dia sudah pergi? Sepanjang hidupku tak akan tenang jika aku tak membuat Nadhira bahagia. Dan dengan menyayangi bunda caraku membalas budinya."


-bersambung.

__ADS_1


__ADS_2