
. Fabio menarik tangan istrinya menjauh dari Arisa. Sedangkan Reza hanya mengikuti langkah Arisa kembali ke mobil. Sepanjang jalan, Reza tak berani bicara sebelum Arisa yang memulai.
"Put..." panggil Reza memberanikan diri untuk memulai obrolan.
"Aku mau minum kak. Bisa tepikan mobil di mini market?" Arisa menyela dengan tanpa memberikan kesempatan Reza untuk bertanya.
"Baiklah." Jawab Reza dengan terpaksa mengikuti kemauan Arisa. Setelah melihat adanya mini market terdekat, Reza segera menepikan mobilnya memasuki area parkir yang tersedia.
"Kakak mau apa?" Tanya Arisa sebelum dirinya benar-benar keluar dari mobil.
"Air mineral saja." Jawabnya.
"Makannya tidak mau?"
"Tak usah. Kau saja." Setelah mendapati jawaban itu, Arisa menutup pintu mobil dengan keras menunjukkan kekesalannya. Reza menutup matanya karena terkejut, ia pikir tak akan sekeras itu Arisa menutup pintu.
Ia terus memperhatikan Arisa dari dalam mobil. Takut jika Arisa kabur lagi tanpa sepengetahuannya. Reza menggeleng pelan ketika menoleh pada camilan kesukaan Arisa yang dibeli tadi.
"Ini saja belum di makan."
Tak perlu menunggu lama, Arisa terlihat keluar dari mini market dan langsung berlari memasuki mobil. Reza menatap konyol pada Arisa yang begitu banyak membeli makanan ringan dan minuman. Ingin sekali Reza protes, namun ia tak ingin merusak suasana hati Arisa saat ini. Reza segera melajukan mobilnya, dan kali ini perjalanannya berbeda. Arisa begitu riang bercanda dan sesekali bernyanyi mengikuti alunan lagu yang ia putar sendiri.
. Diwaktu yang sama, Seorang pria tengah duduk bersandar dengan satu tangan menempelkan ponselnya di telinga. Senyum penuh arti tersungging seakan sedang merencanakan sesuatu.
"Awasi terus, jangan sampai kehilangan jejak. Pastikan dia kembali dengan selamat. Aku tak akan memaafkan kalian jika sampai dia terluka." Ucapnya langsung memutuskan panggilan.
"Putri... akan ku buat kau berada dalam genggamanku." Ucapnya sembari melirik ke arah foto Arisa yang tengah tertawa bersama rekan-rekan kerjanya. Jelas itu adalah foto hasil jepretan yang tak diketahui.
. Singkatnya, Reza sudah memasuki kawasan kota Bandung. Rasanya lelah sekaligus lega karena perjalanan mereka lancar tak ada hambatan.
"Mau gantian?" Tanya Arisa yang khawatir saat melihat Reza yang terlihat kelelahan.
"Tak usah." Jawab Reza mendadak kembali bugar.
"Jangan memaksakan. Kakak sudah lelah mengemudi sendiri, sekarang giliran aku yang mengemudi."
"Tapi...."
"Jangan khawatir. Aku masih bisa. Dan aku akan hati-hati." Ucap Arisa meyakinkan. Meskipun ragu, akhirnya Reza setuju untuk bergantian mengemudi. Ia bertukar tempat duduk dan menghela nafas panjang saat Arisa mulai melajukan mobilnya.
"Aku jadi rindu mobilku yang dulu. Kata kak Tio, mobilnya sudah hancur." Ucap Arisa tersenyum sendu. Namun Reza tak ingin menjawab, ia malah mengingat kondisi Arisa yang penuh luka akibat kecelakaan karena dirinya.
"Kakak tidur saja. Kasihan mata kakak sampai sayu begitu." Ejek Arisa terus fokus pada jalanan di depannya.
"Awas ya mobilku lecet." Ucap Reza tak kalah mengejek. Reza membenahkan tubuhnya untuk bersandar dan mulai memejamkan matanya. Rasa kantuknya benar-benar tak bisa ia tahan, Arisa tersenyum ketika melirik Reza yang tengah terlelap tidur. Rasanya ia sedang melihat Tio, dan rasa rindunya belum hilang. Akibat keegoisannya, ia merasa menyesal sendiri.
. Arisa membawa mobilnya memasuki pekarangan rumah. Terlihat Juna masih stay berjaga di tempatnya, dan Sarah sedang duduk di kursi teras dengan ditemani secangkir teh hangat. Melihat Arisa turun dari mobil, Sarah beranjak dan menyambut kedatangan Arisa.
"Bunda...." Arisa memeluk Sarah dengan erat melepas kerinduannya. Setiap memeluk Sarah, Arisa selalu berandai-andai bahwa Rahma pun harusnya bisa seperti Sarah.
"Apa yang aku harapkan? Mama hanya menyayangi Rais. Bahkan jika aku mati pun, mungkin mama tak akan peduli." Batin Arisa masih enggan melepaskan pelukannya dari Sarah.
"Kakakmu mana?" Tanya Sarah yang merasa heran karena Arisa sendirian.
__ADS_1
"Tuhhh... masih di alam mimpi." Jawab Arisa menunjuk ke arah mobil.
"Yasudah. Kamu mandi, setelah itu makan. Bunda buatkan makanan kesukaan kamu." Ucap Sarah sembari mengajak Arisa masuk ke dalam rumah.
"Ehhh itu kakak bagaimana?"
"Biarkan saja. Nanti juga bangun sendiri." Sontak Arisa tertawa mendengar jawaban Sarah yang begitu santai.
"Bunda sudah sembuh?" Tanya Arisa menatap Sarah penuh keraguan.
"Yaa seperti yang kau lihat. Bunda sudah sembuh."
"Hemm tapi memang bunda terlihat sangat cantik hari ini."
"Kau ini bisa saja."
"Ehhh aku serius bunda. Pantas saja ayah tergila-gila pada bunda."
"Kau ini hati-hati kalau bicara." Melihat kekesalan Sarah, Arisa hanya tertawa kegirangan. Ia berlalu ke kamarnya dan membersihkan diri. Setelah itu, ia kembali ke dapur dengan memakai pakaian tidur.
"Wahhhh sepertinya enak." Ucap Arisa yang berbinar menatap satu persatu makanan yang tersaji di meja.
"Aih... kau sudah pakai baju tidur?" Tanya Sarah sedikit heran.
"Memangnya kenapa?" Arisa balik bertanya dengan raut wajah yang tak kalah heran.
"Yaa anak muda biasanya selalu keluar saat malam minggu."
"Siapa yang mau melangkahiku hah?" Teriak Reza terdengar begitu kesal. "Kenapa kau tak membangunkanku?" Lagi, Reza berteriak dan kini sambil berjalan menghampiri Arisa.
"Aaaa bundaaaaa.... lihat kakak." Pekik Arisa yang menyadari bahaya di depannya. Ia segera berlindung di belakang Sarah dengan ketakutan.
"Reza...." tegur Sarah menghentikan kejahilan Reza.
"Bunda juga tidak membangunkanku." Ucap Reza beralih menatap Sarah dengan kesal.
"Kau yang tak bisa di bangunkan." Jawab Sarah berhasil membuat Reza diam. Ia sejenak berpikir apakah benar dirinya tak bisa di bangunkan?
"Bohong." Protes Reza menatap tajam pada Arisa.
"Kapan bunda bohong?" Tanya Sarah kembali membuat Reza diam.
Arisa melirik Sarah yang seakan membelanya, ia tersenyum tipis melihat Reza yang mengalah dan memilih pergi dengan wajah yang datar. Setelah memastikan Reza benar-benar berlalu dan tak lagi terlihat, Arisa tertawa terbahak-bahak sambil meraih perutnya.
"Adududuhhh..."
"Nah kan."
"Tidak bunda... hanya bercanda."
"Sudah.. sekarang lebih baik kau makan. Kau sudah lapar kan?" Perlahan Arisa menggeleng sambil tersenyum menanggapi pertanyaan Sarah.
"Kau sudah makan? Terus sia-sia saja bunda masak banyak." Keluh Sarah menatap nanar pada semua masakannya.
__ADS_1
"Bukan bunda. Aku belum makan. Tapi, tadi di jalan aku sudah makan camilan."
"Jangan banyak-banyak makan camilan. Pola makanmu harus di jaga dengan baik. Sekarang kau punya tanggung jawab yang besar. Jadi pemimpin yang bijak itu butuh tubuh yang sehat juga." Ucap Sarah menasehati sambil memberikan piring dan nasi pada Arisa. Lagi-lagi Arisa hanya bisa berandai-andai bahwa yang berkata demikian itu bukan orang lain. Tapi seharusnya Rahma, ibu kandungnya.
"Apa bunda tulus menyayangiku?" Tanya Arisa tiba-tiba.
"Pertanyaan konyol apa itu? Harusnya bunda yang bertanya begitu. Apa kau tulus menyayangi bunda atau kau ingin balas dendam atas kesalahan bunda yang membuat ibumu terluka?" Sontak Arisa terdiam sejenak. Benar, siapapun pasti berpikir begini. Namun Arisa kemudian menggeleng pelan sambil melempar senyum tipis pada Sarah yang menatapnya dengan sendu.
"Tidak sama sekali bunda. Aris menyayangi bunda karena memang Aris menemukan apa yang selama ini hilang dari hidup Aris." Tutur Arisa masih tersenyum namun dengan menundukkan pandangannya.
Ketika suasana masih hening, Kedatangan Reza mengalihkan perhatian mereka. Sontak Arisa memalingkan kembali wajahnya karena mendapati Reza yang tak memakai baju.
"Dimana bajumu sialan?" Teriak Arisa kini membelakangi Reza.
"Apa kau bilang? Sialan? Aku turunkan jabatanmu jadi cleaning service mau?" Balas Reza terdengar semakin dekat menghampiri Arisa.
"Ehhh di kantor aku yang paling tinggi jabatannya. Harusnya kau sadar diri. Kau mau aku turunkan jabatanmu?"
"Sudah... kalian mau makan atau mau bertengkar?" Tegur Sarah dengan menggebrak meja. Arisa dan Reza terdiam dengan masing-masing mengintimidasi. Lirikan sinis kembali membuat Sarah menggebrak meja yang kedua kalinya. Keduanya mulai makan dengan suasana mencekam dari Sarah yang tak memalingkan pandangannya sedikitpun dari mereka.
. Hingga malam tiba, Arisa masih diam di luar menatap langit yang dipenuhi gemerlap bintang. Sudah terbiasa bagi Reza melihat Arisa yang suka melamun sendirian diluar sebelum tidur.
"Put.... ayo masuk. Nanti masuk angin." Ajak Reza dari ambang pintu.
"Sebentar lagi kak. Aku masih rindu pada Rama." Lagi, jawaban yang sama. Reza hanya bisa menghela nafas malas menyikapi kebiasaan Arisa ini. Ia lupa bahwa Arisa kini sudah mengingat semuanya, jadi wajar jika kebiasaannya yang dulu kembali lagi. Terlihat Arisa beranjak dan menggeliat pelan sebelum akhirnya menghampiri Reza yang menunggunya. Ketika keduanya hendak masuk, terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah dan berhasil membuat mereka terhenti dan melihat siapa tamu yang berkunjung malam-malam begini. Ketika pemilik mobil turun, Reza hanya menatapnya datar dan semakin sinis. Sementara Arisa menyipitkan matanya mencoba menebak siapa sosok yang sedang berjalan menghampirinya.
"Selamat malam Putri. Apa kau masih ingat padaku?" Tanyanya begitu formal. Arisa yang memakai pakaian tidur pun langsung bersembunyi di belakang Reza dan hanya memperlihatkan kepalanya saja.
"Dia tidak ingat. Dia amnesia. Sebaiknya kau pulang." Timpal Reza dengan nada yang sangat mengintimidasi.
"Hei sobat... tenang. Aku hanya ingin mengajak adikmu makan malam saja. Kita sudah ada janji. Iyakan Putri?" Tanya Rega beralih menatap pada Arisa yang diam tak menjawab.
"Dia sudah makan." Reza melirik sinis ke arah Arisa yang memalingkan pandangannya.
"Aku mendengar rumor tentang kebaikan hatimu. Jadi, aku tak berpikir kau akan mengingkari janjimu." Ucap Rega selanjutnya dengan nada sindiran.
"Tapi bukan adikku yang mengingkari janjinya, aku yang tak mengizinkannya pergi denganmu." Tegas Reza.
"Memangnya kenapa? Apa salahku?"
"Kau gila." Jawab Reza cepat.
"Aku gila karena adikmu."
"Sudahlah Rega. Aku tahu niatmu mendekati adikku."
"Benarkah? Memangnya untuk apa?"
"Tak perlu ku katakan bukan?"
"Aku tak akan menyakiti adikmu selama kau tak menghalangi ku." Bisik Rega diiringi senyum licik yang membuat Reza semakin waspada.
-bersambung
__ADS_1