
. Raisa menghampiri Arisa yang masih berdiri didepan sang ibu. Dan kembali terdengar bisik-bisik orang yang melewati mereka.
"Mereka kembar?"
"Wah... rumor itu benar, putri kembar Artaris memang sangat cantik."
"Mereka seperti boneka ya?"
"Kudengar salah satunya adalah calon menantu dari pemilik mall ini."
Arisa menoleh kearah suara dan mencoba menebak siapa pemilik mall ini. Arisa tersenyum ramah ketika pandangannya dan orang yang sedang membicarakannya bertemu. Terlihat mereka merasa tersipu bertatapan dengan Arisa yang mungkin mendengar percakapan mereka.
"Rais... siapa pemilik mall ini?" bisik Arisa dengan wajah polos.
"Kau tak tahu?" Tanya Raisa yang seakan terkejut mendapati pertanyaan Arisa. Arisa menggeleng pelan lalu tersenyum kemudian berlalu kembali memasuki kamar pass.
"Ish... dia benar-benar tak tahu kau pemilik mall ini." Ucap Raisa memijit pelipisnya dan menepuk bahu Fariz dengan pelan.
"Adikmu lucu ya.. dia tak tahu dengan berita terhangat." Fariz terkekeh menatap Arisa yang berlalu dari hadapannya.
"Itu bukan lucu namanya."
"Rais..." tegur Rahma yang menyadari bahwa Raisa akan mengejek Arisa.
"Hehe maaf ma... aku hanya bercanda." Goda Raisa kemudian memeluk Rahma dengan manja.
"Ayah tidak memilihkan baju untukku?" Tanya Raisa pelan dan penuh keraguan melirik pada Yugito yang tak memalingkan pandangannya dari kamar pass.
"Sebentar ya... ayah belum menemukan yang cocok untukmu." Jawab Yugito tersenyum meyakinkan dengan menoleh sesaat pada Raisa lalu kembali menoleh pada ke arah dimana Arisa berada.
Tak lama, Arisa keluar dengan gaya khas seorang model dan wajah angkuh dan mendadak memancarkan aura kedewasaan dan senyuman hangat yang kian menambah aura seorang putri bungsu dari Yugito Syahputra.
"Waw..." ujar Fariz kemudian bertepuk tangan sendiri membuat Raisa melirik sinis kearahnya.
"Adik iparku benar-benar luar biasa." Cetusnya menyunggingkan senyum di wajah Raisa.
"Iya. Dia memang adikku yang sangat bodoh." Timpal Raisa yang ikut menatap kagum nan iri pada Arisa.
"Ayah sangat pandai memilihkan pakaian yang cocok untuk Arisa." Batin Raisa berkecamuk dengan pikiran dan rasa irinya.
Diluar gerai, terlihat seorang mahasiswa yang membawa sebuah kamera dengan hati-hati memotret setiap gerik dan pose Arisa yang mungkin memang tak sengaja dilakukan karena Arisa sendiri tak menyadari ada yang memotret.
Arisa menoleh sesaat ketika Fahri tepat lewat didepannya.
"Kak Fahri." Pekik Arisa.
__ADS_1
"Kau tak kuliah?" Tanya Fahri dengan sebuah isyarat. Arisa hanya memalingkan wajahnya tak menjawab pertanyaan Fahri. Seketika itu, Arisa terbelalak ketika melirik kamera yang dikalungkan Fahri. Rasa curiganya kian membesar saat Fahri mengangkat kedua alisnya seakan menggoda dan mengejek Arisa. Arisa menyernyit heran sekaligus penasaran dengan maksud sikap Fahri.
"Cantik" ucap Fahri dengan tanpa suara dan gerakan tangan yang memutari wajahnya dengan jari. Arisa tersenyum simpul dan begitu manis menanggapi pujian senior jahilnya. Dengan cepat Fahri kembali mengambil poto yang dirasanya sangat langka itu. Kemudian Fahri berjalan cepat dan melambaikan tangannya menjauh dari tempat Arisa.
"Siapa hei..." ejek Raisa ketika Fahri sudah berlalu.
"Seniorku." Jawabnya singkat lalu kembali berjalan menuju Yugito.
"Bagaimana ayahanda? Apakah ananda putri sudah pantas mengikuti pesta dansa sang pangeran?" Tanya Arisa yang menunduk layaknya seorang putri raja pada sang ayah. Yugito terkekeh mendengar pertanyaan yang menurutnya sangat konyol itu.
"Bagus." Jawab Yugito sembari manggut-manggut menilai penampilan Arisa.
"Hanya seperti itu?" Tanya Arisa berdecak kesal dan sedikit menghentakkan kakinya dengan memangku tangan dan berjalan menghampiri Yugito seakan dirinya sangat kecewa pada jawaban sang ayah.
"Kau sangat cantik nak. Gaun itu sangat cocok untukmu." Kini Rahma yang memberi penilaian atas apa yang ia lihat.
"Terus... dress yang tadi bagaimana?" Tanya Arisa dengan wajah polosnya.
"Ambil saja jika kau mau." Jawab Yugito cepat dengan sedikit antusias.
"Tidak ayah... jika yang terpilihnya satu, maka satu saja." Ujar Arisa tersenyum dengan lembut.
"Jika bisa dua-duanya, kenapa harus satu. Jika ayah bilang ambil, ya ambil. Jika ayah bilang jangan, baru kau tak boleh memilikinya." Arisa menunduk mendengar penuturan sang ayah lalu mengangguk pelan tanda mengerti. Arisa berbalik perlahan hendak mengganti pakaiannya kembali.
"Om... tak usah. Anggap itu sebagai kado ulang tahun untuk Aris." Ucap Fariz ketika Yugito hendak mengeluarkan black card miliknya dan bersiap untuk melakukan transaksi.
"Tak apa Aris. Jika kau suka yang lainpun, ambil saja." Ucap Fariz lagi dengan meyakinkan.
"Kak Fariz bicaranya seperti pemilik mall nya."cetus Arisa sedikit tertawa kecil membuat Raisa terbelalak lalu memukul lengannya dengan keras.
"Kau benar-benar...." Raisa geram sendiri dan mencengkram jemarinya sendiri.
"Kenapa?" Arisa kini merasa heran ketika memperhatikan tatapan heran pelayan disana.
"Kak Fariz ini memang pemilik mall nya." Bisik Raisa dengan masih menggeram kesal. Arisa mematung lalu melirik pada Fariz yang tersenyum kearahnya. Bagaimana bisa dirinya tak tahu siapa Fariz. Arisa tersenyum lebar dengan menutupi rasa malu karena ketidaktahuannya.
Sampai siang, kedua anak kembar itu baru mengajak orang tuanya keluar dari mall dan mencari tempat untuk makan siang. Lagi-lagi keduanya menjadi pusat perhatian. Apalagi dengan kejahilan Raisa yang memanfaatkan kesempatan atas perjanjian mereka. Kini Arisa memakai bando untuk anak kecil membuat wajah Arisa merah karena malu.
Setelah memasuki mobil, mang Ujang melajukan mobil menembus jalanan yang ramai namun masih lenggang untuk di lewati. Seakan sudah tahu harus kemana, mang Ujang menepikan mobil disebuah restauran terlebih dahulu untuk makan siang. Kemudian dilanjutkan Yugito yang mengajak mereka ke kantor Artaris karena Yugito mendapat panggilan meeting mendadak dari beberapa sumber. Arisa menggandeng tangan Rahma ketika memasuki loby. Sedangkan Raisa berjalan didepan dengan mengikuti langkah ayahnya. Tak sedikit para karyawan memuji keluarga Yugito yang dikenal harmonis.
Sampai menjelang sore, sudah lelah Arisa membaca buku panduan bisnis milik ayahnya, dan Raisa yang lelah dengan proposal perjanjian kontrak dari beberapa perusahaan untuk bekerja sama. Yugito membuka pintu ruangan perlahan membuat ketiga orang didalam menoleh bersamaan kearahnya.
"Maaf ayah lama" ucap Yugito kemudian duduk di kursi kebanggaannya.
"Ayah... bolehkah Aris duduk dikursi ayah itu?" Arisa menunjuk kursi yang tengah diduduki Yugito.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu mau di posisi ini?" Tanya Yugito beranjak dan tersenyum kecil pada Arisa.
"Ehh tidak ayah.... hanya..."
"Duduklah." Ucap Yugito cepat sebelum Arisa mengungkapkan keraguannya. Arisa kemudian berjalan kearah sebaliknya, yaitu jendela, bukan ke meja Yugito. Arisa lalu menatap hamparan kota dengan wajah yang sendu.
"Nadhira, apa kau merasakan kebahagiaan seperti ini juga saat hidup. Ulang tahun yang di ingat oleh keluargamu dan menghabiskan waktu dengan ayah. Apa dulu kau bahagia memiliki ayah yang sama denganku? Apa kau selalu merasa kesepian sepertiku? Atau merasa bahagia setiap saat seperti Rais? Atau mungkin kau tak tahu bahwa ayah sudah berkeluarga disini?." Gumam Arisa yang menatap lekat keluar dan menerka-nerka bagaimana wajah Nadhira dan bagaimana kehidupannya selama ini.
"Aris." Suara Yugito kian meninggi dan menepuk bahu Arisa hingga Arisa terkejut menoleh kasar pada Yugito.
"Kenapa melamun?" Tanya Yugito mendadak membuat Arisa menjadi gugup.
"Tidak... Aris hanya...."
"Memikirkan Rayyan. Iyakan? Karena hari ini kau tak bertemu dengannya." Ejek Raisa menyela jawaban Arisa. Yugito menatap kedua putrinya bergantian dan menghela nafas berat lalu beranjak dan berjalan menuju pintu.
"Ayo pulang. Sudah sore." Yugito terhenti dan sengaja mematung sambil memegangi gagang pintu.
Arisa berjalan menyusul Yugito lebih dulu dari pada kakak dan mamanya.
"Kak Tio dimana? Dari tadi Aris tak menemukan kakak." Tanya Arisa yang masih mengikuti langkah Yugito di belakang.
"Ohh... jadwalmu dan Raisa sekarang tinggal ke salon. Ayah ingin kau hitamkan lagi rambutmu." Tutur Yugito dengan tegas tanpa menjawab pertanyaan Arisa. Dan seolah Yugito menghindari pembicaraan tentang Tio.
"Tapi ayah..."
"Jangan membantah." Tegas Yugito lagi menyela ungkapan Arisa.
Sampai didalam mobil, tak ada yang berbicara setelah kata terakhir itu. Arisa merasa tak senang dengan permintaan Yugito, dirinya ingin tampil berbeda dengan Raisa.
Selama perjalanan, Arisa terus menatap keluar dan enggan terlibat dalam obrolan.
Sampai akhirnya, dengan berat hati, Arisa melangkah memasuki salon kecantikan yang dipercaya Yugito untuk merias kedua putrinya.
"Aku kira ayah mengerti." Batin Arisa masih memasang wajah sendu nya.
"Maaf ya... tapi ayah ingin melihatmu yang dulu." Ucap Yugito seakan menyadari isi hati putri bungsunya.
"Ayah egois. Ayah ingin melihat penampilanku yang dulu, tapi ayah sendiri tidak bersikap seperti dulu." Batin Arisa kembali menyesakkan dadanya.
Pada akhirnya, Arisa menurut apa yang dikatakan sang ayah, dan mengenakan gaun yang Yugito pilihkan tadi siang. Sangat anggun, kulit putih dan pakaian yang manis dengan heels berwarna cream cerah yang dipilihkan Raisa untuknya.
Lama menunggu, Raisa dan Arisa berjalan menghampiri Rahma yang tengah fokus membaca majalah. Rahma mendongak dan terkejut dengan penampilan baru dari putri bungsunya. Dimana kini Arisa tampil dengan rambut hitamnya yang curly, dan Raisa masih rambut lurus sebagai tanda perbedaan mereka. Bahkan Rahma sempat terkecoh ketika menatap Arisa yang dikiranya adalah Raisa karena rambut hitam nya. Namun saat di tatap lebih teliti, ada sebuah perbedaan yang jelas terlihat, yang tak lain adalah Raisa yang memiliki lesung pipi yang tipis, sedangkan Arisa memiliki bulu mata yang lentik. Arisa terlihat tak nyaman dengan penampilan terbarunya. Begitupun dengan Raisa yang terlihat ceria melihat penampilan baru adiknya yang tak pernah terpikirkan olehnya akan di ubah seperti itu. Keduanya kembali memiliki rambut berwarna hitam, namun hanya berbeda model.
"Sudah?" Tanya Yugito. Tetap, Arisa masih enggan berbicara pada Yugito karena hal itu.
__ADS_1
"Sudah... ayo cepat. Malam ini banyak tamu yang datang." Tutur Yugito mengusap kepala Arisa yang terlihat mendadak keheranan. Siapa tamu yang dimaksud?
-bersambung