
. Selama berada di kediaman Pratama, Arisa terus menemani Seina seharian setelah Seina pulang sekolah. Sampai di malam terakhir, Seina yang tahu Arisa akan pindah ke rumah baru bersama kakaknya pun berkali-kali memeluk Arisa setelah makan malam. Sonya terus membujuk Seina agar bisa lepas dari Arisa yang mungkin kelelahan karena tadi siang Arisa sudah membantu Sonya untuk menghias beberapa bagian rumah. Setelah lelah Sonya dan Danu membujuk, akhirnya Seina berhasil melepaskan Arisa dan membiarkan kakak iparnya itu untuk beristirahat.
Arisa terbaring begitu saja karena matanya sudah terasa mengantuk sejak tadi, sementara Rayyan masih sibuk dengan ponsel dan laptopnya di meja kerja. Menyadari Arisa yang tak bergerak, Rayyan menoleh lalu menghentikan pekerjaannya dan segera menyusul Arisa ke tempat tidur. Rayyan hendak membenahkan posisi Arisa agar tidurnya lebih nyaman, ia perlahan menyelimuti Arisa sampai pinggangnya lalu berbaring di sisi yang lain. Rayyan menyentil dahi Arisa yang berkerut saat tidur.
"Kebiasaan." Ucapnya seraya mengecup dahi Arisa sebelum ikut terlelap.
"Selamat malam sayang."
Esoknya, Rayyan dan Arisa bersiap untuk pindah ke rumah baru dengan di antarkan oleh Sonya dan Danu. Tanpa di duga, ternyata keluarga Putra beserta Sarah dan Reza sudah menunggu mereka di sana. Arisa tersenyum haru melihat kebersamaan Sarah dan keluarganya yang sudah tak lagi mendapat penolakan.
. Singkat cerita, Arisa sudah menghuni rumah barunya selama 3 bulan, ia meminta pada Yugito untuk membawa bi Ina sebagai kepala pelayan di rumahnya dan sebagai penanggung jawab urusan rumah tangga. Setiap pagi, bi Ina selalu menyediakan teh hangat untuk Arisa di taman kecil yang berada di lantai 2. Suasananya hampir sama dengan kamar Arisa di kediaman Putra, namun kali ini tamannya lebih besar, berbagai jenis bunga tertata rapi di setiap sudut. Namun, pagi ini bi Ina merasa heran mengapa Arisa belum ada di taman, biasanya anak asuhnya itu sudah stand by menunggunya seraya menyirami setiap bunga sendirian. Karena penasaran dan takut terjadi apa-apa pada Arisa, bi Ina bergegas segera ke kamar untuk sekedar memastikan. Dengan nafas terengah, bi Ina mengetuk pintu kamar di lantai teratas rumah itu beberapa kali. Namun sudah lama menunggu, tetap tak ada jawaban, ia semakin khawatir dan segera membuka pintu tanpa izin pemilik kamar. Ia berani masuk karena Rayyan sudah berangkat kerja sejak tadi. Alangkah terkejutnya ketika melihat Arisa tengah terduduk di samping ranjang dengan menutupi wajahnya.
"Non Aris? Apa non Aris sakit?" Tanya bi Ina dengan meraih Arisa yang terlihat lemas.
"Bi... bisa bawakan obat lambung Aris?"
"Loh... tidak ada non. Harus beli dulu. Kan non Aris sudah tidak kambuh lagi setahun ini."
"Bisa tolong beli?" Belum sempat bi Ina menyanggupi, Arisa beranjak lalu berlari ke kamar mandi dan di susul oleh bi Ina yang sudah panik melihat kondisi Arisa.
"Ahh.... perutku tidak nyaman bi." Keluhnya setelah mencoba mengeluarkan apa saja yang membuatnya mual.
"Panggil pak dokter saja non." Arisa mengangguk pelan menanggapi saran bi Ina yang berlalu sesegera mungkin meraih telepon yang ada di kamar Arisa.
. Tak perlu menunggu lama, Dimas datang dengan seorang perawat agar kedatangannya tak menjadi masalah bagi dirinya. Rayyan yang cemburuan bisa saja menyangka bahwa Arisa berselingkuh dengan mantan calon kakak iparnya yang tidak jadi.
__ADS_1
Setelah memeriksa keadaan Arisa, Dimas menyernyit lalu menepuk dahi Arisa dengan gemas.
"Apa kau tidak sadar atau tidak punya naluri?" Cetus Dimas membuat Arisa keheranan dan tak mengerti maksud Dimas.
"Apa maksudmu dokter sialan?"
"Kau tidak sakit Aris."
"Terus?"
"Kau hamil kan?"
"Eh?"
"Tunggu-tunggu. Dimas, apa kau serius?"
"Ishhh terakhir haid kapan?" Arisa kemudian terdiam mengingat kapan ia datang bulan.
"Aaahhhh sepertinya 2 bulan yang lalu." Mendengar jawaban Arisa ini, Dimas kembali mendelik lalu memberikan alat test kehamilan pada Arisa. Arisa segera ke kamar mandi untuk membuktikan ucapan Dimas ini benar atau tidak. Beberapa saat kemudian, Arisa keluar dengan tersenyum dan air mata sudah berderai.
"Dimas... kau benar." Ucapnya kemudian tertawa kecil karena bahagia.
"Saranku sebaiknya kau ke dokter kandungan untuk melakukan USG."
"Baiklah. Terima kasih Dimas." Dibalik kebahagiaan Arisa, ternyata menyisakan rasa sesal di hati Dimas mendengar kabar tersebut.
__ADS_1
"Dan pada akhirnya, anak itu bukan keponakanku ya?" Tuturnya terlihat air mata jatuh dari pelupuk mata Dimas. Arisa yang mengerti perasaan Dimas pun hanya tersenyum getir dan tak ingin menanggapi lebih lanjut.
Sesuai saran Dimas, Arisa bergegas untuk ke rumah sakit secepatnya tanpa memberitahu siapapun, baik itu keluarga Putra atau keluarga Pratama.
. Setelah mendapatkan hasil, Arisa tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya, ia segera pulang dan menunggu Rayyan selesai bekerja. Setibanya di rumah, Arisa mengabari Rayyan agar bergegas pulang setelah urusannya selesai dan tidak kemana-mana lagi. Namun mendengar suara Arisa yang berbeda dari biasanya, dan beberapa kali Arisa terbatuk, Rayyan memutuskan untuk pulang saat ini juga. Meski Arisa sudah menyuruhnya menyelesaikan pekerjaan, namun Rayyan beralasan bahwa pekerjaannya sudah selesai.
Sampai di rumah, Rayyan berlari menaiki tangga menuju kamar dimana Arisa berada, namun ia tak menemukan istrinya di sana, Rayyan beralih ke taman dan akhirnya ia mendapati Arisa tengah memetik beberapa daun kering yang terlihat.
"Sayang." Sontak Arisa menoleh mendengar panggilan suaminya.
"Apa kau sakit? Kenapa tadi kau batuk terus di telepon?" Lanjutnya bertanya seraya meraih wajah sang istri yang tersenyum menanggapi pertanyaan paniknya. Arisa menggeleng lalu menarik tangan Rayyan menuju kamar. Rayyan merasa penasaran akan sikap istrinya yang terlihat begitu bahagia, wajahnya terlihat berseri sepanjang waktu padahal ia bisa melihat istrinya ini dengan susah payah menahan diri untuk tidak muntah.
Sampai di kamar, Arisa menyuruh Rayyan menunggu di ujung ranjang, sedangkan ia mengambil sesuatu dari laci. Sebuah berkas dan sebuah kotak kecil di berikan pada Rayyan yang semakin penasaran. Matanya membulat ketika ia membuka isi dari barang-barang tersebut.
"Sayang kau?" Arisa tersenyum seraya mengangguk membuat Rayyan tak bisa menahan air matanya yang memaksa keluar.
"Sudah 7 minggu." Lanjut Arisa. Rayyan yang terlanjur bahagia pun beranjak lalu meraih kedua tangan Arisa dan memberi kecupan di dahi dan pipinya bertubi-tubi.
"Terima kasih sayang. Terima kasih."
"Aray... geli." Arisa tertawa lepas mendorong wajah Rayyan yang ikut tertawa melihatnya. Rayyan beralih mencium perut Arisa lalu memeluknya dengan penuh kehangatan.
"Kami menyayangimu nak." Lirih Rayyan dengan hati berbunga menerima kehadiran belahan jiwanya setelah Arisa.
-bersambung
__ADS_1