
. Suara pintu yang terbuka membuat Arisa terkejut dan menyembunyikan berkas itu dibawah sebuah buku tebal. Lalu Arisa beranjak dan menatap Yugito dengan gugup.
"Aris? Ada tidak?" Tanya Yugito dari ambang pintu.
"Ah? Oh? Su-sudah ayah. A-Aris sudah menemukannya." Jawab Arisa terbata.
"Kau menangis kenapa?" Arisa tersentak tak menyadari ada air mata di pipinya. Dengan cepat Arisa mengusap wajahnya lalu tersenyum tipis kearah Yugito.
"Tidak ayah."
"Apa kau membenci ayah karena sudah menyita kunci balkonmu?" Yugito berjalan perlahan menghampiri Arisa.
"Apa ayah terlalu berlebihan? Tapi ayah melakukan itu karena ayah tak ingin jika ada sesuatu yang terjadi padamu." Lanjut Yugito semakin dekat pada Arisa yang menundukkan pandangannya.
"Aris... maafkan ayah... sungguh ayah tak berniat membuatmu semakin tertekan." Lagi-lagi Arisa tak bicara apapun, dan hanya mendengarkan Yugito.
"Ayah... apa ayah menyayangi Aris?" Tanya Arisa dengan nada pelan.
"Tentu saja. Jadi jangan membuat ayah khawatir terus padamu." Yugito terhenti namun tak memperhatikan sesuatu yang disembunyikan Arisa. Melihat Arisa yang berderai air mata membuat Yugito merasa khawatir akan segala sesuatu tentang Arisa.
"Ayah... apa aku boleh meminta sesuatu?"
"Apa itu? Katakan pada ayah nak." Yugito meraih bahu Arisa dengan berbinar.
"Apa ayah akan mengabulkannya?"
"Tentu saja nak."
"Apapun itu?"
"Apapun itu nak. Asalkan kamu bahagia, ayah akan mengabulkannya."
"Aris menerima lamaran kak Bayu. Dan Aris ingin ayah meminta kak Bayu untuk melamar Aris secara resmi." Kalimat itu cukup membuat Yugito terkejut.
"Bagaimana dengan Rayyan? Bukankah kalian saling menyukai?"
"Ayah... Aris tahu Aray hanya akan di jodohkan dengan Rais kan? Jadi untuk apa Aris mempertahankan sesuatu yang sia-sia."
"Nak... tak apa jika memang kamu yang dipilih Rayyan. Toh mau siapapun antara kalian berdua, kalian sama-sama putri ayah."
"Tidak ayah... Aris serius. Jika memang Rais yang ayah jodohkan dengan Rayyan, Aris menerimanya."
"Nak.... sudah cukup ayah membuatmu kesepian, sekarang saatnya kamu menentukan kebahagiaanmu. Dan ayah tahu bahwa dengan Rayyan kamu akan bahagia." Yugito mendekap Arisa dengan hangat.
"Ayah akan mengabulkan permintaan Aris kan? Ayah tidak ingkar janji kan?" Yugito tak menjawab pertanyaan Arisa. Dirasanya sudah keterlaluan jika sampai Yugito kembali memisahkan Arisa dengan kebahagiaannya.
"Ayah...." lirih Arisa kemudian tersedu-sedu dipelukan sang ayah.
Tio membuka pintu ruangan dan mendapati momen mengharukan ini. Tio berjalan semakin dekat dengan Yugito dan Arisa.
"Ayah..." panggil Tio dengan nada pelan. Yugito melepas pelukan Arisa lalu beralih berhadapan pada Tio.
"Raisa sudah pulang ayah." Ucap Tio. Arisa memalingkan wajahnya dan mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Ayah. Aris izin ke kamar." Ucap Arisa kemudian berlalu meninggalkan ruang kerja Yugito.
"Aris...." panggil Yugito menghentikan langkah Arisa dan terdiam di ambang pintu sejenak menoleh ke belakang.
"Kau masih marah pada mama?" Tanya ayah yang tak di tanggapi apapun oleh Arisa. Arisa menutup pintu dengan pelan dan setengah berlari menaiki tangga.
"Aris..." lirih Raisa menatap lesu pada Arisa yang kembali mengabaikannya.
__ADS_1
Dengan cepat Arisa membuka pintu balkon dan mulai membersihkannya. Ditengah kesibukannya, mama terdiam di dekat pintu menatap pada Arisa yang seolah tak melihatnya dan terus sibuk membersihkan balkon yang sudah lama tak dibersihkan. Bunga-bunga yang layu membuat Arisa menghela nafas berat dan sorot matanya menjadi sayu.
"Aris..." panggil mama yang tak di tanggapi oleh Arisa.
"Aris..." kini nada suara mama terdengar membentak menghentikan aktifitas Arisa.
"Sebenci itukah kau pada mama?" Arisa menoleh pada mama mendengar pertanyaan itu.
"Bukankah mama yang membenci Aris?" Mendengar itu, mama berjalan semakin dekat dan 'plak', Arisa meraih pipinya yang memanas karena tamparan mama.
"Apa seperti ini kau berbicara pada orang tua?" Arisa terdiam dan masih memegang pipinya dengan wajah dingin dan sorot mata yang datar. Seakan kini dirinya sudah tak memiliki emosi.
"Mama pikir kamu sama seperti Rais." Mama berlalu dengan wajah kesal meninggalkan Arisa.
Arisa terduduk lesu dan mulai terisak sendirian. Namun, Arisa mengusap wajahnya dan dengan paksa lalu bangkit dan kembali sibuk dengan aktifitasnya.
Diambilnya sebuah plastik berukuran sangat besar, kemudian Arisa memasukan semua tanaman bunga kesayangannya yang telah layu,dan sebagian sudah mati kedalam plastik. Setelah balkon bersih tanpa satupun tanaman disana, Arisa menyeret plastik besar itu lalu meraih kunci mobilnya. Tio menyernyit melihat Arisa yang dengan susah payah menarik sebuah beban yang bisa di tebak itu sangat berat.
"Aris..." panggil Tio yang berlari menghampiri Arisa yang sudah berada di tengah tangga.
"Mau dikemanakan? Sini kakak bantu." Tio meraih dan membantu Arisa membawa plastik besar berisi barang kesayangan yang Arisa jaga sejak dulu. Arisa kemudian berlalu menuju mobilnya setelah meletakkan sampah itu di dekat pilar rumahnya.
"Kamu mau kemana Aris.?" Tanya Tio yang tak di jawab oleh Arisa. Melihat Arisa yang tengah marah, Tio segera menyusul dan menarik tangan Arisa sebelum membuka pintu mobilnya.
Tio mendahului masuk ke dalam dan menyuruh Arisa duduk di samping kemudi. Tio masih terheran kenapa Arisa sampai bersikap seperti ini lagi. Tio melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Apa kau marah karena bunga-bunga mu mati?" Tanya Tio lagi-lagi tak di tanggapi oleh Arisa.
"Aris.... bicaralah. Apa kau putus dengan Rayyan?" Pertanyaan itu cukup membuat Arisa berhenti dari diamnya.
"Apa ayah punya anak lain selain kita?" Tio terbelalak mendapati pertanyaan itu.
"Apa Nadhira yang mendonorkan hati untukku ada hubungannya dengan pemilik nama Nadhira Permata Putri? Siapa dia kak? Kenapa nama ayahnya sama dengan ayah kita? Kakak tahu sesuatu kan?" Tio memalingkan wajahnya dari Arisa dan kemudian fokus lurus pada jalanan.
"Ya sudah. Jika kakak tidak mau memberitahuku."
"Tahu dari mana kau tentangnya?" Tanya Tio tanpa menoleh.
"Tak penting aku tahu dari mana kak. Kakak hanya perlu menjawab pertanyaanku saja. Apa benar ayah--"
"Iya benar. Karena sudah terlanjur kau mengetahuinya, untuk apa di rahasiakan juga."
"Apa hanya aku yang tak tahu tentang ini?"
"Tidak. Rais juga tak tahu. Dan orang lain pun tak tahu, kecuali Seno."
"Apa? Kak Seno tahu?"
Tio mengangguk pelan dan lalu diam seakan tak ingin membahas lebih jauh.
. Sampai di sebuah toko tanaman, Tio turun dan mengajak Arisa untuk memilih beberapa bunga untuk ia pajang kembali di balkonnya.
"Kenapa kakak tahu aku akan membeli tanaman?" Tanya Arisa memalingkan wajahnya.
"Tanamanmu mati, dan sudah pasti kau akan kesepian tanpa mereka." Jawab Tio mendahului Arisa dan ikut memilih warna bunga anggrek kesukaan Arisa.
"Bang. Anggrek ungu, pink, dan putih." Ucap Tio menunjuk pada bunga yang dipilihnya.
"Baik bang." Ucap sang penjual dengan sopan. Wajar saja mereka tampak begitu santai dengan Tio, karena kini Tio hanya memakai kaos dan celana jeans saja.
"Ada lagi?" Tanya penjual setelah memindahkan ketiga bunga yang dipilih Tio.
__ADS_1
"Aris... kau mau aster?" Tanya Tio menoleh pada Arisa yang sedang memilih bunga tulip.
"Aku lebih suka tulip kak." Jawab Arisa yang menimbang memilih warna dari bunganya.
"Bukankah kau tak suka warna merah?" Tanya Tio lagi.
"Iya... tapi tak ada salahnya kan kita menjaga sesuatu yang tidak kita suka?" Arisa melemparkan senyuman yang memuakkan bagi Tio.
"Kau sedang menyindir siapa?"
"Tak ada." Arisa meraih tulip berwarna pink.
"Biar saya dek." Ucap sang penjual kemudian membawa bunga tulip untuk dipisahkan.
Setelah memutuskan apa saja yang akan di beli, Arisa terheran melihat satu pot bunga aster berwarna putih.
"Anggap saja itu hadiah dari kakak." Ucap Tio menyadari keheranan Arisa.
"Sudah yu..." ucap Tio setelah semua yang dibeli dipindahkan di bagasi mobil. Karena tak muat, sebagian bunga kecil disimpan di jok belakang.
"Aku ingin beli kue." Ucap Arisa dengan tanpa menoleh pada Tio. Lama menyusuri jalan, Tio menepikan mobil di sebuah toko kue. Arisa turun dan Tio hanya menunggu di mobil.
Sebuah kebetulan, Arisa bertemu dengan Rayyan dan bunda disana.
"Kakak putri." Teriak Seina berlari dan langsung memeluk kakinya.
"Kakak kemana saja? Kenapa kakak tak pernah main dengan Sein lagi?"
"Maafkan kakak Sein..." Arisa kemudian memeluk Seina dengan erat. Hatinya tengah bimbang saat ini. Niat hati ingin menjauhi Rayyan, namun dirinya masih tidak tega jika harus membuat Seina kehilangannya.
"Kakak jangan pergi lagi. Sein rindu kakak. Sein sayang kakak putri." Rengek Seina semakin erat memeluk Arisa.
"Nak..."
"Bunda..." Arisa mencium tangan bunda dan melemparkan senyumnya.
"Syukurlah nak... kau baik-baik saja." Bunda meraih pipi Arisa dengan hangat. Rayyan terdiam menatap Arisa yang terasa kini tengah menjauhinya.
"Sein mau beli apa?" Tanya Arisa kemudian menggendong Seina.
"Biar aku yang gendong." Ucap Rayyan yang meraih Seina karena khawatir pada Arisa yang masih dalam proses penyembuhan.
"Tak apa Aray..."
"Tapi luka mu...."
"Iya Risa... biarkan Seina dengan Aray." Ucap bunda ikut khawatir.
"Sein jalan sendiri saja." Ucap Seina yang memberi kode meminta turun.
"Kamu mau beli kue apa?" Tanya bunda yang ikut memilih pada etalase.
"Aku mau kue cappucino." Jawab Arisa tersenyum pada bunda kemudian menoleh pada pelayan.
"Maaf nona. Kue cappucino sudah habis." Ucap pelayan dengan ramah.
"Sein caramel..." Sein sedikit melompat antusias menarik hoodie Rayyan.
"Mbak. Caramel 1 dan coklat 1." Ucap Rayyan dengan dingin. Bunda menggeleng melihat sikap Rayyan pada orang lain.
"Coklat untuk siapa?" Tanya Sein mendongak polos.
__ADS_1
"Untuk kakak iparmu ini sayang." Rayyan merangkul pundak Arisa dengan gemas. Tindakan itu cukup membungkam para pelayan wanita yang menatapnya penuh kagum. Sekaligus menghindari godaan pelayan pria pada Arisa. Siapa yang tahu jika Arisa tersenyum tiba-tiba saat ini.
-bersambung