TAK SAMA

TAK SAMA
168


__ADS_3

. Arisa mencoba mencari tahu mengapa rumah Sarah di sita dan mengapa tak ada orang yang memberitahunya. Setelah bertanya pada beberapa tetangga, jawaban mereka sama. 'Tidak tahu', seakan menjadi kalimat untuk mewakili hal yang tak penting bagi mereka. Melihat gelagat dan raut wajah orang-orang, Arisa merasa mereka tengah menyembunyikan sesuatu. Tujuan terakhir sumber informasinya ialah Rega. Ia berpikir mungkin Rega tahu sesuatu mengapa rumah Sarah bisa di sita.


Sebelum itu, ia terlebih dahulu ke apartemennya untuk menyimpan barang-barang yang ia bawa.


"Apa Reza tidak memberitahumu? Dia menjual perusahaannya padaku, dan secara tidak langsung kau sudah bukan pimpinan perusahaan itu lagi." Ucap Rega setelah Arisa bertanya tentang apa yang terjadi pada Reza. Arisa hanya memasang wajah tak percaya setelah mendengar ungkapan Rega.


"Ya... sebagai ganti nyawaku yang hampir melayang karena menolongmu. Bukankah perusahaan kecil itu sepadan dengan harga jasaku? Tapi, aku masih berbaik hati memberikan uang yang cukup untuk kehidupan Reza setelah mereka meninggalkan kota ini." Lanjut Rega membuat Arisa mematung seketika, tubuhnya benar-benar membeku. Ia tak menyangka mengapa bisa Rega selicik itu?


"Aku benar-benar--"


"Tak menyangka? Memang kau bersangka seperti apa padaku?" Masih bersikap santai, Rega seakan menyudutkan Arisa dengan kenyataan-kenyataan tak terduga.


"Aku tak percaya. Jika benar, mana buktinya perusahaan itu sudah kau ambil alih!"


Rega tersenyum, ia sudah menduga Arisa pasti menginginkan bukti. Dengan santai, Rega mengambil berkas di nakas yang tak jauh dari sofa. Ia kemudian melemparkan berkas itu ke atas meja dengan kasar.


Arisa tersenyum dan tertawa miris sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Aku pikir kau baik. Ternyata kau lebih jahat dari seorang penjahat sekalipun. Jika akhirnya kau akan meminta balasan, kenapa kau tak menuntut keluargaku saja yang jelas lebih kaya dari dari kak Reza. Ternyata kau jauh berbeda dengan Rama."


"Berhenti berpikir aku seperti orang yang ada di masa lalumu. Aku dan Rama berbeda. Aku memiliki perusahaan, sedangkan Rama itu hanya anak dari keluarga yang biasa, dan kebetulan kakaknya menjadi dokter. Tapi, Dimas itu tidak berguna ya? Bahkan dia tak bisa menyembuhkan adiknya sendiri." 'Plakk' wajah Rega berpaling kasar. Tamparan itu terdengar begitu nyaring sampai Mega, ibunya Rega pun menghampiri mereka.


"Apa yang kalian lakukan? Siapa yang--Putri.. kamu menampar anak saya?" Mega yang semula hanya ingin memastikan, namun ia tak bisa menahan kekesalannya karena mendapati Rega masih berpaling sembari meraih pipinya. Dan Arisa beranjak tanpa berucap sepatah katapun meninggalkan kediaman Rega. Setelah Arisa berlalu, wajah Rega yang semula angkuh dan dingin tanpa perasaan, kini berubah sendu. Apa lagi saat mengingat kekecewaan Arisa padanya, terlihat mata Arisa berkaca-kaca ketika ia pergi.


"Rega...." panggil Mega yang sudah tahu kebenarannya. Rega tak menjawab, ia malah menunduk lalu memeluk ibunya dengan erat.


"Kalau kau bersedih, menangis saja tak apa." Ucap Mega yang mengelus lembut punggung Rega.


"Apa aku sejahat yang dia ucapkan ma?"

__ADS_1


"Tidak nak. Dia hanya tak tahu yang sebenarnya."


"Tapi tetap saja dia pasti sakit hati dengan ucapanku."


"Kenapa kau menyukainya Rega?" Lagi, Rega memilih untuk membisu, ia sendiri tak tahu alasan mengapa ia menyukai Arisa.


. Arisa menangis sejadi-jadinya di kamar apartemen miliknya. Mengapa Sarah begitu tega meninggalkannya tanpa memberi pesan atau pemberitahuan. Nomor yang tertera di ponselnya, tak ada satupun yang dapat di hubungi. Reza dan Sarah seakan menghilang di telan bumi. Zain pun hari ini tidak bisa di hubungi, sehingga ia meminta Tio untuk menjemputnya. Rasanya ia tak ingin pulang sendiri dengan kondisi sekarang. Tubuhnya mendadak lemas dan tak ingin bergerak. Arisa sudah begitu putus asa, hidup segan mati tak mau. Ia berniat untuk mencari keberadaan Sarah setelah Tio sampai di Bandung.


. "Bunda... apa sebaiknya..."


"Tidak ada yang lebih baik selain ini Za. Sudah cukup Putri tinggal bersama kita, dan menjadi bagian dari keluarga kita. Sekarang bunda ingin hidup tenang, bunda tak ingin lagi di sebut perebut kebahagiaan orang. Putri punya keluarga, bunda yakin mbak Rahma sekarang sudah berubah. Dia pasti sangat menyayangi Putri."


"Tapi.... dengan melarikan diri, masalah tak akan selesai bunda."


"Lalu, apa kau akan terus berurusan dengan Yugito Za? Bunda tahu, kau sangat menyayangi Putri. Tapi apa kau pernah berpikir, kau dan Putri itu tidak terikat darah. Bagaimana jika salah satu dari kalian menyimpan sebuah perasaan? Justru itu akan menjadi masalah besar Za."


"Apa bunda akan merasa tenang jika berpisah dengan Putri?"


"Kenapa tidak Za?"


"Lalu, apa yang dari tadi terus mengalir di pipi bunda?"


"Bukan apa-apa."


Reza tahu, dibalik kalimat itu ada sebuah kesedihan yang tak bisa di sembunyikan. Sekuat apapun Sarah menyembunyikan lukanya, namun air mata tak bisa berbohong.


Tio yang kebetulan masih berada di Bandung, ia segera menuju apartemen Arisa.

__ADS_1


"Aris!" Panggilnya ketika membuka pintu. Ia semakin merasa bersalah saat melihat Arisa yang berbaring di sofa dengan menangis tanpa suara, wajahnya sayu tak bertenaga. Ia kembali mengingat perjanjian yang dibuat Sarah padanya.


Beberapa hari yang lalu.


"Jadi apa syaratnya?" Tanya Tio setelah keduanya berjabat tangan.


"Jangan beritahu Putri mengenai hal ini. Bunda dan Reza akan pindah ke Surabaya." Bukan hanya Tio, Reza pun ikut terkejut karena ia tak mengetahui rencana Sarah.


"Bunda..." Reza berniat menyela namun kembali diam saat Sarah memberi kode agar dirinya tetap diam.


"Tio. Bunda tahu, keluarga kalian tidak ingin Putri pergi lagi kan? Apa lagi tinggal disini lebih lama. Bunda mengerti, dan ini akan menjadi keputusan yang terbaik."


"Tapi, Aris sangat menyayangi kalian."


"Kebersamaan kami dan Putri hanya sampai disini saja. Dan tolong rahasiakan. Atau, kalau sampai kau memberitahu Putri tentang keberadaan kami, maka Putri akan selamanya tinggal bersama kami." Tio diam, ingin rasanya membantah, namun sia-sia saja.


"Kau masih ada project di sini kan? Tinggal lah semalam disini, anggap sebagai tanda perpisahan dari bunda."


"Kapan kalian akan pindah?"


"Besok. Sebelum Putri kesini."


"Lalu? Saat Aris kesini, kalian sudah tak ada begitu?"


Sarah hanya terdiam, ia tahu Tio akan marah jika sampai itu terjadi. Dan Reza memilih untuk tidak menimpali obrolan mereka, ia tak tahu harus berkata apa. Rasanya mengiyakan keputusan Sarah malah membuatnya semakin tertekan.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2