
. Rahma menghentikan langkah Arisa yang begitu saja pergi dari tempat Raisa. Rahma berpikir ini hanya emosi Arisa yang tak terkendali saja karena kelelahan sepanjang acara ia terus mengawasi Raisa dan sesekali menghadap setiap tamu undangan dari teman-teman alumni semasa SMP dan SMA.
"Aris..." panggil Rahma namun tak membuat Arisa menoleh ke arahnya.
"Mama... Aris ingin ganti baju. Jadi Aris tak akan berfoto sebagai bridesmaid sekarang." Ujar Arisa penuh penegasan.
"Tapi kenapa Aris? Hanya baju Wina saja. Dan itu bisa di tutupi agar tak terlihat di fotonya nanti. Jadi, kalian kembali ke pelaminan ya! Lihat Rais. Dia pasti sedih."
"Maaf ma. Aku sudah tidak mood untuk berfoto."
"Iya kenapa? Kau dan Rais tidak bertengkar kan?"
"Ma... mama tahu? Siapa yang membuat baju Wina kotor begini? Bukan Wina ma." Rahma sedikit memiringkan kepalanya dan belum paham maksud Arisa.
"Teman dari putri kesayangan mama. Hanya karena cemburu, dia menumpahkan minuman pada dress Wina. Ma... jangan karena dia teman Rais dan sudah dekat dengan mama, dia bisa seenaknya pada temanku. Jika dia yang menjadi pacar Daffa, lalu Wina cemburu, Wina tak akan melakukan hal seperti ini ma." Jelas Arisa kemudian pergi dengan menarik tangan Wina menuju rumah. Raisa dan Fariz saling pandang. Ia tak menyangka, hanya karena hal sepele Arisa sampai marah seperti sekarang.
"Aris? Apa tidak keterlaluan?" Protes Wina saat keduanya sudah berada di dalam kamar Arisa.
"Sejak dulu aku memang tak menyukainya Win. Rasanya auranya selalu membuatku kesal." Arisa terus menggerutu meluapkan kekesalannya sembari membuka lemari untuk mengganti pakaian bridesmaid yang masih ia kenakan dari pagi. Begitupun dengan Wina, ia juga segera mengganti pakaiannya dengan dress yang ia bawa. Saat memilah di dalam lemari, pandangan Arisa tertuju pada dress pemberian Sonya dulu. Secara refleks, ia mengambil dan mengganti pakaian di ruang ganti.
Ketika keduanya selesai, mereka kembali ke tempat acara. Semua mata terpaku melihat Arisa yang berbeda dari sebelumnya. Dari gaya rambut, sampai pakaiannya begitu memukau. Ia tak kalah mempesona dari seorang artis sekalipun.
"Sesuai namanya. Dia benar-benar seorang putri." Ucap beberapa tamu undangan yang masih enggan memalingkan pandangannya dari Arisa. Hanya Fabio yang sengaja memalingkan wajahnya kembali menatap istrinya sambil tersenyum. Di balik senyum itu, ia menyimpan sebuah penyesalan di lubuk hatinya yang terdalam. Namun, apa boleh buat, takdir tak mengizinkan mereka bersama. Ia hanya bisa mengagumi dari jauh dan tanpa ada yang tahu.
"Apa kau mencintainya lagi? Wajahmu merona Fabio." Tegur istrinya membuat Fabio memasang wajah datar kembali. Kemudian, ia terkekeh membuat Lisa menyernyit keheranan.
__ADS_1
"Apa kau pernah berpikir sekali saja, jika memang dulu aku dan Arisa bersama, apa Arisa akan bahagia denganku? Dia tidak mencintaiku sama sekali. Sudah berapa kali aku katakan, aku sangat beruntung bisa mendapatkan istri sepertimu." Tutur Fabio dengan sejujur-jujurnya, namun Lisa seakan masih meragukan ungkapan Fabio.
"Jika dia bersamaku, dia tak akan seperti ini sekarang. Dia pasti sudah makan hati hidup denganku. Kenyataannya, dia memilih menghilang dari pada harus menikah denganku kan? Kau pikir sesakit apa aku dulu? Hanya saja, rasa sakit itu juga yang membuatku bisa menerima kehadiranmu." Lanjut Fabio kini ia semakin lekat menatap Arisa dari kejauhan.
"Kau benar-benar mencintainya. Sampai-sampai kau merasa bahagia melihatnya bahagia meskipun tidak bersamamu." Ujar Lisa membuat Fabio menoleh padanya seketika.
"Iya kau benar. Aku bahagia karena dia tidak bersamaku. Dan aku bersyukur dia tidak tersakiti karena ulahku. Dia memang tangguh, tapi dia tidak setangguh dirimu. Jika seandainya Arisa menikah denganku, bisa saja dia sudah mati sekarang. Nasibnya akan sangat malang. Dia harus menikah dengan orang jahat sepertiku, dan ia juga harus menyaksikan orang terkasihnya berkeluarga dengan kakaknya sendiri. Aku tak bisa membayangkan sehancur apa dia jika itu benar-benar terjadi." Lagi, Fabio menuturkan hal yang mungkin bisa membuat Lisa percaya padanya dan tidak terus mencurigainya. Masih beruntung rumah tangga mereka tidak jadi hancur hanya karena kesalah fahaman.
. Sonya menangis haru melihat betapa anggunnya Arisa mengenakan gaun pemberiannya. Meskipun sudah lama, namun design nya tidak buruk. Rasanya seperti gaun keluaran terbaru dan tak ada seorangpun yang memilikinya selain Arisa saja. Tentu saja, Sonya meminta Diana untuk membuat gaun itu dengan design yang berbeda dari yang lain.
"Kakak putri terlihat seperti putri sungguhan." Puji Seina yang terpaku pada penampilan kakak idolanya itu.
"Kamu juga seperti peri."
"Aku sudah besar kakak. Peri itu untuk yang kecil."
"Aray!" Kali ini Arisa memanggil lebih keras sambil mencubit pinggang Rayyan agar tersadar dari lamunannya.
"Aku tidak rela Rama." Ucap Rayyan membuat Arisa semakin kebingungan.
"Aku tak rela berbagi Arisa di dunia selanjutnya. Di dunia ini, dan nanti, Arisa hanya milikku saja Rama." Lanjut Rayyan dengan pengharapan yang begitu serius.
"Aray... kau bicara apa?" Tanya Arisa yang tak mengerti dengan apa yang Rayyan katakan.
"Risa. Berjanjilah kau akan bersamaku sampai nanti di dunia selanjutnya. Jangan kembali pada Rama ya! Pliiisssss." Bujuk Rayyan seperti anak kecil yang sedang meminta uang jajan pada ibunya.
__ADS_1
"Rama itu siapa kak?" Tanya Seina yang penasaran mengapa kakaknya sampai begitu meminta Arisa untuk tidak kembali pada pemilik nama itu.
"Bukan siapa-siapa sayang." Jawab Arisa tersenyum meyakinkan, namun Seina tidak percaya akan jawaban Arisa yang jelas meragukan.
"Kakak bohong. Kalau bukan siapa-siapa, kenapa kak Aray begitu?" Arisa mendadak gugup seketika. Ia melirik pada Rayyan yang hanya menaikan alisnya seakan menyuruh Arisa untuk menjawab sendiri saja.
"Dia teman kakak dulu. Dan sudah meninggal." Jawab Arisa membuat Seina menutup mulutnya karena terkejut.
"Hentikan wajahmu itu Sein." Tegur Rayyan menepuk dahi Seina sedikit keras membuat anak itu terkekeh konyol.
"Terus, kak Aray dan kakak putri kapan menikah? Aku tidak sabar ingin cepat-cepat tidur dengan kakak putri." Tutur Seina dengan berbinar dan berkhayal tinggi.
"Aih... kenapa jadi Sein yang tidur dengan kakak putri? Sein, kakak putri itu tidurnya dengan kakak." Rayyan tak ingin kalah memperebutkan Arisa yang jelas ingin di rebut oleh adiknya.
"Jangan. Kakak putri itu punya Sein." Protes Seina langsung memeluk Arisa.
"Sein kau sudah besar. Tidur sendiri saja."
"Kakak juga sudah besar. Kenapa mau tidur dengan kakak putri?" Rayyan terdiam seketika, ia tak tahu harus menjawab apa. Arisa yang menyaksikan keduanya hanya menggeleng sambil sesekali tertawa melihat Rayyan yang ikut memeluknya dari samping.
"Mereka seperti seumuran." Batin Arisa di balik senyumannya.
"Lihat Sonya. Bayi besarmu membuat onar di tengah keramaian." Ucap Oma yang menunjuk cucunya dengan sorot mata. Sonya yang sudah memperhatikan mereka hanya menjawab iya lalu tertawa kecil karena Seina terlihat begitu bahagia.
"Terima kasih bu." Lirih Sonya merubah senyum haru saat melirik pada mertuanya itu.
__ADS_1
"Ada apa? Sepertinya kau mau menangis?" Tanya Oma yang terkejut mendapati Sonya berkaca-kaca.
-bersambung