
. Arisa menghampiri Rayyan yang sedang berbincang dengan ayah. Hatinya mendadak risau tak karuan.
Ayah sedikit menyernyit melihat Arisa menghampirinya.
"Ayah pikir yang kau jemput itu Raisa?." Tanya ayah pada Rayyan sesaat setela melirik Arisa. Deg... rasanya lebih perih dari ucapannya tadi malam.
Arisa hanya tersenyum.
"Memang--"
"Aray memang menunggu Raisa. Iya kan Aray?" Tio menoleh pada Arisa ketika Arisa menyela. Begitupun Rayyan yang menyernyit mendengar apa yang Arisa ucapkan. Sudah jelas Rayyan menjemput Arisa. Apa maksudnya?
"Tapi om.." ucap Rayyan ragu dan tak melanjutkan.
"Memang Raisa sangat lama. Dia sepertinya membantu mamanya didalam sebelum berangkat." Ucap ayah menoleh dan menerawang kedalam rumah.
"Kakak.. kita harus cepat. Bukankah kakak buru-buru?" Arisa memalingkan wajahnya lalu berlalu memasuki mobil Tio.
"Mang Ujang. Aris berangkat ya.." lanjutnya ketika melewati mang Ujang.
"Iya non. Hati-hati"
. Rayyan terlihat kesal menatap Arisa yang meninggalkannya begitu saja. Tak lama, Raisa keluar dengan mama disampingnya. Raisa terdiam, dirinya terkejut menatap Rayyan yang kini berada didepannya. Sedang apa? Apa kebetulan? Pikirannya berkecamuk bertanya-tanya mengapa Rayyan di rumahnya.
"Mengapa kau lama? Rayyan menunggumu dari tadi." Ucap ayah seketika membuat raut wajah Raisa menjadi terheran. Tidak mungkin Rayyan yang begitu dingin padanya dengan tiba-tiba datang kerumah, walau sekedar menjemputnya. Hatinya senang, tapi juga merasa aneh.
Rayyan pun menatap Raisa dengan datar, pantas saja Arisa begitu dingin dan seperti tak peduli dengan apapun. Rayyan melihat perbedaan dari perlakuan orang tua mereka.
"Apa kau Nak Rayyan putra Sonya?" Tanya mama
"Iya tante." Jawab Rayyan mendadak bersikap sopan. Mama tersenyum menoleh pada ayah yang sedari tadi bersikap santai.
"Ya sudah... kalian berangkat. Sudah siang nanti terlambat." Ucap mama mendorong Raisa yang terlihat gugup. Hanya Raisa yang merasa ada yang salah disini.
Keduanya memasuki mobil dan Rayyan melajukan mobilnya perlahan meninggalkan kediaman Yugito.
. Setelah mobil Rayyan sudah berlalu, mama mendekati ayah dengan riang.
"Ternyata, kau dan keluarga Danu tak usah menjodohkan mereka. Mereka sendiri yang berjodoh." Ucap Mama.
"Sepertinya kau sangat senang?" Tanya ayah heran.
"Tentu saja. Aku senang jika Raisa mendapat pendamping dari keluarga baik seperti keluarga Danu.
"Tapi aku lihat kau tak begitu senang saat Arisa berpacaran dengan Rama."
"Apa yang kau bicarakan? Rama sudah meninggal. Lagi pula Arisa gadis yang sangat sulit dimengerti. Aku saja selalu salah perhitungan jika mengenai dirinya."
"Aku ada rekan bisnis. Dia punya anak laki-laki, baru lulus tahun ini. Dan dia bilang ingin mengenalkannya pada putri kita. Siapa tahu berjodoh." Jelas ayah ketika mengingat pertemuan dengan temannya.
"Siapa?" Tanya mama yang tak bisa menebak pertanyaan yang muncul dikepalanya.
"Arya. Jika tidak salah, nama anaknya Bayu. Katanya dia anak yang dingin, yaaa.. sama seperti Rayyan."
"Tapi menurutku Rayyan hangat. Dan sopan."
"Iya... tapi kita kan belum tahu siapa dan bagaimana nak Bayu itu."
"Baiklah. Kapan mereka akan bertamu?"
"Nanti kita bicarakan dulu dengan anak-anak."
__ADS_1
"Semoga saja."
"Semoga apa?"
"Rayyan menjadi menantuku."
"Isshh kau ini memaksa takdir."
"Biarkan saja. Meminta dan berdoa tak masalah kan? Siapa tahu jadi nyata."
Ayah menggeleng pasrah dengan kembali melanjutkan acara membaca korannya.
. Di tengah perjalanan, jelas terlihat kecanggungan diantara keduanya.
"Jangan salah faham. Ini karena adikmu." Ucap Rayyan terdengar kesal.
"Maaf." Lirih Raisa.
"Tidak... kau tak perlu meminta maaf."
"Tapi.. kau berniat menjemput Arisa kan?"
"Iya memang."
"Kau menyukainya?" Tanya Raisa dengan seakan mengiris hatinya sendiri. Namun Rayyan tidak menjawab pertanyaan itu. Rayyan sendiri tidak tahu apa itu perasaan suka. Dirinya hanya tahu kini hidupnya akan terasa hampa jika tak melihat wajah Arisa. Meskipun yang disampingnya sekarang sangat terlihat sama, namun hatinya tetap merasa tidak tenang.
"Apa Arisa masih suka menyendiri?" Tanya Raisa lagi setelah hening karena pertanyaan konyolnya.
"Tidak." Jawab Rayyan singkat. Memang benar, Arisa suka menyendiri namun selalu ada Wina yang menemaninya.
"Syukurlah... aku akan sangat berterima kasih pada siapa saja yang menemaninya." Raisa menghela nafas lega dan tak merasa canggung pada Rayyan.
"Apa sikapnya dingin di kampus?" Tanya Raisa dengan antusias. Terlihat rasa ingin tahunya tentang Arisa. Rayyan seketika mengingat senyuman Arisa saat di koridor kampus, dengan Seina, bahkan saat di kelas. Rayyan tak bisa menahan senyumnya.
"Apa yang kau bicarakan?" Delik Rayyan.
"Ehh aku kakak iparmu loh." Rayyan terdiam seakan tak menanggapi Raisa. Melihat Rayyan yang diam, Raisa kembali merasa canggung. Suasana kembali hening, keduanya tak ada yang berbicara, hanya deru nafas kasar Rayyan saja yang terdengar. Raisa berfikir bahwa perkataannya pasti menyinggung perasaan Rayyan. Jujur saat ini, hatinya terasa sakit ketika berusaha terlihat baik-baik saja saat berbicara seolah dirinya senang jika Rayyan dengan adiknya. Rasanya ingin menangis saat itu juga. Pria yang dicintainya, mencintai adiknya sendiri.
Seketika Raisa berfikir, apa ini balasan untuknya karena sudah sepenuhnya merebut perhatian orang tuanya, ayah dan mama memang dengan terang-terangan menyayanginya, tapi sakit juga jika melihat Tio dengan terang-terangan menunjukan perasaan sayangnya pada Arisa didepan matanya. Dan sekarang, Rayyan pun ikut peduli pada Arisa melebihi seorang teman. Dimas saja yang sudah lama kenal dengan Arisa, belum pernah menjemputnya untuk pergi kemana pun. Tapi Rayyan, baru kenal dan dekat beberapa pekan saja, sudah menunjukan bahwa Rayyan benar-benar menyukai Arisa.
"Apa kau tahu hubungan Risa dengan si dokter itu?" Raisa mengerutkan dahinya. Heran dengan dua pertanyaan. Pertama, mengapa Rayyan memanggil Arisa dengan Risa? Apa mereka sedekat itu? Dan yang kedua, mengapa Rayyan terlihat kesal ketika menyebutkan profesi Dimas.
"Maksudmu Dimas?" Tanya Raisa ragu-ragu.
"Mungkin?" Ucap Rayyan seolah tak peduli siapapun namanya.
"Dia kakaknya Rama. Pacar--"
"Pacar Arisa yang sudah meninggal. Iya kan?"
"Kau tahu?" Tanya Raisa memiringkan kepalanya. Rayyan hanya menaikan bahunya.
"Bahkan Rayyan sampai tahu tentang Rama." Gumam Raisa. Rasanya sekarang ada sesuatu yang manghalangi tenggorokannya. Sebisa mungkin Raisa menahan diri agar tidak menangis didepan Rayyan.
Mobil menepi tepat didepan gerbang kampus Yyyy. Pandangan semua orang kini tertuju pada mobil sang idola, mereka masih mengingat mobil Rayyan. Terlihat beberapa gadis terkejut ketika Raisa turun. Yang lebih terkejut adalah teman Raisa. Merasa tidak nyaman, Rayyan kembali melajukan mobilnya sesaat setelah Raisa menutup pintu. Tak ada ucapan ataupun senyuman selamat tinggal.
Raisa benar-benar canggung di situasi ini. Pasti banyak berita yang akan menggosipkan nya berpacaran dengan Rayyan.
Sudah bisa di tebak, seisi kampus yang menyaksikannya, menjadi ribut dan terdengar salah satu dugaan-dugaan netizen bahwa Raisa dan Rayyan memang berpacaran.
. Diwaktu yang sama, Arisa terus terdiam ketika berada di mobil. Tio tak tahu harus berbuat apa melihat adiknya yang mendadak menjadi pendiam, meskipun sudah tahu alasannya.
__ADS_1
"Mengapa kau berbohong pada ayah? Rayyan datang menjemputmu kan?" Tanya Tio.
"Lalu?"
"Aris... kakak tahu, kau menyukainya kan?"
"Tidak. Raisa yang menyukainya."
"Jadi kau rela berkorban demi Raisa? Bagaimana jika Rayyan hanya menyukaimu?"
"Itu tidak mungkin."
"Bagaimana jika menjadi mungkin?"
"Kakak ini kenapa? Padahal kakak tahu hidupku tak lama lagi. Aku ingin pergi dengan tenang kak. Aku tak ingin meninggalkan kesedihan didunia ini. Jika seandainya benar Aray menyukaiku, lalu aku mati, dia pasti akan bersedih. Aku sudah merasakannya kak. Aku tak ingin orang lain merasakan yang aku rasakan. Bayang-bayangnya masih melekat jelas didepanku. Senyumnya masih terus menghantui dipikiranku. Aku tak ingin jika Aray merasakan itu kak." Pecah sudah emosi dan air matanya.
"Kau sangat peduli pada Rayyan. Bahkan kau memanggilnya berbeda dari yang lain. Itu cukup menunjukan bahwa kau menyukainya." Ucap Tio yang acuh tak acuh.
"Aku hanya ingin mencintai Rama saja."
"Kau bicara seolah kau akan meninggalkan kakak besok. Bagaimana jika kau mendadak sembuh?"
"Itu mustahil kak."
"Tak ada yang mustahil selagi kita percaya kan? Apapun resikonya, kakak janji akan menyembuhkanmu."
"Tapi..."
"Kakak tak mau kehilanganmu. Jadi jangan membantah." Tegas Tio dengan air mata yang mengalir dipipinya membuat Arisa terdiam.
"Satu-satunya cara untuk sembuh, hanya melakukan transplantasi hati. Itupun jika operasi dan pembedahan berhasil." Lirih Arisa.
"Kau sudah tahu, tapi kenapa kau diam saja. Setidaknya kau melakukan kemoterapi untuk mencegah penyebaran, atau mungkin kau bisa sembuh dengan kemoterapi."
"Tidak kak. Jika aku melakukannya, akan sangat jelas aku mengidap kanker. Dengan rambut yang utuh, tidak akan ada yang curiga kan?" Arisa menoleh dan melemparkan senyuman pada Tio. Tio mendelik kesal, dan membenci senyuman itu.
"Kakak kapan melamar kak Diana?" Tanya Arisa membuyarkan lamunan dan keheningan.
"Nanti jika kau sembuh." Jawab Tio tak sedikitpun menoleh pada adiknya. Jantung Arisa mendadak berdebar dan terasa sakit. Memang dirinya ingin menyaksikan sang kakak menikah. Tapi mengingat kondisinya, sangat mustahil jika Tio akan menikah dalam waktu dekat.
. Tio menepikan mobilnya, bersamaan dengan Rayyan yang berhenti tepat didepan mobilnya. Rayyan turun dan menghampiri Arisa yang masih duduk di dalam mobil.
"Temui pacarmu. Dan jelaskan masalahnya." Ucap Tio datar.
"Dia bukan pacarku." Arisa mendelik kesal. Arisa keluar dari mobil lalu berhadapan dengan Rayyan.
Rayyan menyernyit menatap mata sayu Arisa.
Tio melajukan mobilnya, meninggalkan Arisa dan Rayyan membicarakan masalahnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Rayyan meraih pundak Arisa. Semua yang berlalu lalang menoleh heran dan terkejut pada Rayyan. Arisa gemetar ketika menatap sorot mata Rayyan yang tajam menatapnya.
"Apa kau tidak menghargaiku? Aku menjemputmu, bukan kakakmu."
"Aray..." lirih Arisa.
"Apa kau tak bisa sedikit saja menghargai usahaku untuk lebih dekat denganmu?" Arisa tercengang mendengar apa yang Rayyan katakan.
Jadi benar, Rayyan menyukainya.
Arisa melepaskan tangan Rayyan dari pundaknya.
__ADS_1
"Maaf Aray. Tapi aku ada urusan." Arisa melangkah melewati Rayyan.
-bersambung