TAK SAMA

TAK SAMA
89


__ADS_3

. Arisa beralih ke belakang Reza dan hanya memperlihatkan sebagian wajahnya karena takut akan tatapan Fabio dan wajahnya yang begitu suram seperti mayat hidup.


"Su-sudahlah! Jika kau mau pergi, pergi saja. Aku tak akan meminta tanggung jawabmu." Teriak Arisa sambil meraih pipinya yang masih terasa panas. Mendengar teriakan Arisa, Fabio kembali berbalik dan berlalu semakin jauh dengan tersirat senyum yang mengembang.


. Di waktu yang sama, Raisa berdiri bersandar di samping mobilnya dengan gaya yang begitu elegan. Selama empat tahun ini, ia lebih di kenal sebagai tuan putri angkuh yang tak punya hati. Sering kali Raisa memarahi karyawannya terang-terangan di depan karyawan lain jika melakukan kesalahan. Hal itu menyebabkan semua orang merasa takut padanya, termasuk Yugito yang seakan tak bisa lagi mengendalikan sikap Raisa setelah kepergian Arisa.


Rayyan menurunkan kacamata hitamnya saat melihat Raisa dari kejauhan yang begitu berbeda. Ia kemudian berjalan menghampirinya dengan menyapu seluruh tubuh Raisa dengan tatapannya.


"Maaf nona? Apa anda yang di tugaskan menjemput saya?" Tanya Rayyan penuh dengan nada ejekan. Raisa tertawa sambil memukul lengan Rayyan dengan keras membuat keduanya tertawa bersamaan.


"Ahaha lucu sekali leluconmu tuan. Aku pastikan kau tidur di luar malam ini" jawabnya mendelik kesal lalu memasuki mobil tanpa kembali menoleh pada Rayyan.


"Wah.. bercandamu sungguh menakutkan nona." Rayyan berjalan memutari mobil dan memasukinya di kursi kemudi.


"Apa sikapmu sangat jahat setelah aku tinggalkan?" Tanya Rayyan lagi mengejek Raisa yang sedari tadi memilih diam tak berniat bicara sedikitpun.


"Aku mau ke makam." Ucap Rayyan kemudian, dan ini berhasil membuat Raisa menanggapinya.


"Baiklah." Jawabnya singkat. Keduanya memutuskan ke makam terlebih dahulu sebelum ke rumah. Setelah lulus dan menyandang gelar S2 di universitas ternama di Amerika, Rayyan tidak langsung pulang dan menetap sebentar dengan niat ingin mengistirahatkan pikirannya yang lelah berkecamuk dengan tugas-tugas kuliah. Tak jarang ia menghabiskan waktu dengan Michelle, adik Marcel yang menjadi juniornya di kampus. Bahkan, Michelle dengan berani menyatakan cintanya pada Rayyan.


"Maaf Michelle. Aku masih mencintai Arisa." Ucap Rayyan meluluh lantahkan hati Michelle seketika.


"Kenapa kak? Setelah empat tahun, kenapa kakak tidak bisa melupakan kak Arisa? Mau sampai kapan kakak menyimpan perasaan yang jelas mustahil untuk membuatnya kembali." Lirihnya menunduk dan tak bisa lagi menatap mata dingin Rayyan. Rasanya itu akan lebih menyakitkan bagi Michelle.


"Sampai aku membuktikan sendiri bahwa dia masih hidup."


"Kak.... itu mustahil. Kak Arisa juga dulu sepertimu, dia berandai-andai Rama bisa kembali, tapi nyatanya?"


"Kalau begitu, sampai dia menjemputku untuk satu dunia dengannya."

__ADS_1


. Sampai di makam, Rayyan menabur bunga dan menatap lekat pada nama yang terukir rapi didepannya.


"Siapapun kamu, aku harap kau bisa tenang. Dan jangan salahkan Arisa tentang ini. Aku yakin semua sudah tergariskan. Dan jika kau memang Arisa, aku masih menunggu kedatanganmu untuk menjemputku." Ucap Rayyan pelan semakin menundukkan pandangan Raisa. Setelahnya, mereka ke rumah Rayyan dan berkumpul dengan keluarga besar Pratama. Untuk menghargai Oma Galuh, Raisa selalu memakai kalung phoenix didepan Oma dan ia akan melepaskannya jika tak pernah ada pertemuan seperti ini.


. Tio memanggil Wina dan Daffa ke ruangannya. Kedua anak itu kini bekerja di perusahaan Artaris selama 3 tahun. Dan Wina bekerja disana atas rekomendasi Daffa yang mengatakan bahwa Wina sangat menyayangi Arisa layaknya seorang saudara. Dan dengan alasan itu juga, Tio begitu baik memperlakukan Wina layaknya adik sendiri.


"Untuk seminggu kedepan, ada project di Bandung, dan kau akan ditugaskan untuk bekerja di Artaris cabang yang di pegang oleh Fahreza selaku presdir."


"Baik tuan." Jawabnya yang kembali berlalu dari ruangan Tio. Ia berpapasan dengan Raisa di lorong yang dekat dengan lift. Sikap Raisa memang menjadi dingin pada siapa saja termasuk Wina.


Dengan arahan yang diberikan Daffa, Wina berangkat ke kota yang sudah di tunjukkan Tio. Hingga sampai ia tiba, Wina merasakan dadanya berdenyut keras, seakan-akan ada sesuatu yang terjadi padanya nanti. Ia segera menuju penginapan yang sudah dipesan sebelumnya oleh pihak perusahaan.


Dan besoknya, Wina mendatangi kantor Artaris yang dipegang oleh Reza. Reza yang tak tahu bahwa Wina adalah teman baik Arisa, ia menyuruh Wina bergabung di departemen yang sama dengan Arisa. Saat masuk ke ruangan, Wina di suguhkan dengan suasana yang mencekam karena begitu hening. Zain kemudian menjelaskan sesuatu hal yang penting mengenai perusahaan disini. Saat melewati salah satu staf, Wina terhenti seketika seolah tubuhnya bereaksi sendiri. Namun ia tak menoleh pada staf itu, dan malah terdiam disana. Saat Arisa beranjak hendak mencetak laporannya, ia tak sengaja berhadapan dan bertatap muka dengan Wina. Sontak Wina menjatuhkan berkas yang ia pegang dan seketika tubuhnya membeku. Matanya membulat dengan air mata berderai menatap Arisa. Ia tak percaya pada gadis berwajah yang mirip dengan temannya, kini ada di hadapannya. Ia memperhatikan seluruh wajah Arisa, rambut hitam panjang, mata bulat, bulu mata yang lentik, dan senyum yang khas membuat Wina refleks meraih wajah Arisa.


"A-ris..." lirihnya dengan tangis yang pecah.


"Kau Aris kan? Arisa Fandhiya Putri? Putri bungsu Yugito Syahputra, kau teman baikku. Apa kau lupa? Ini aku Wina..." mendengar itu, Arisa hanya menyernyit dan memperlihatkan wajah herannya membuat hati Wina semakin tercabik-cabik.


"Arisa.... kau tak--"


"Saya tidak tahu siapa anda." Dan untuk kesekian kalinya, Arisa mengatakan kalimat yang membuat semua orang di masa lalunya merasakan rasa sakit di hatinya.


"Apa kau begitu membenciku karena aku tak menepati janjiku, sampai kau bersikap tak mengingatku?"


"Sungguh nona, saya tak mengenali siapa anda. Dan nama saya Putri. Tapi, apa anda teman saya? Bisakah anda menceritakannya? Kak Zain bolehkah aku berbincang sebentar. Kumohon!" Bujuknya beralih menatap harap pada Zain di sampingnya. Dengan ragu, Zain mengangguk pelan dan membiarkan Arisa menarik tangan Wina sampai di taman kantor.


"Empat tahun lalu, saya mengalami kecelakaan. Dan itu membuat saya amnesia. Tapi, saat saya sadar, saya hanya mengingat satu nama yang saya sendiri pun tak tahu siapa orangnya." Ucap Arisa memulai pembicaraan setelah keduanya duduk dan Wina yang tak berhenti menangis.


"Apa aku membuatmu sedih? Kenapa kau terus menangis?" Mendapati pertanyaan itu, Wina langsung memeluk Arisa dengan erat. Dan Arisa pun membalas pelukan hangat Wina yang ia rasa memang tak asing dan begitu nyaman.

__ADS_1


"Aku merindukanmu Aris.... aku merindukanmu.... kenapa kau tidak pulang? Dan kenapa tak ada yang tahu kau disini?" Wina semakin erat memeluk Arisa dengan terisak begitu keras.


"Aku akan memberitahu kak Tio dan membawamu pulang." Ucapnya kemudian dengan meraih ponselnya. Namun secepat mungkin, Arisa menghentikannya dengan tanpa sadar.


"Tidak jangan. Aku tidak ingin kau melakukannya."


"Kenapa? Apa kau memang pura-pura amnesia?"


"Tidak... tapi rasanya aku tidak ingin ada yang tahu aku disini. Entah apa alasannya aku tidak mengerti. Jika kau memang temanku, kau pasti tahu alasanku kesini."


"Tidak... tapi mungkin iya. Ahhh Aris.... aku tak bisa berhenti menangis..." rengeknya membuat Arisa kembali meringis memegangi kepalanya karena beberapa memori kembali muncul di ingatannya. Terlihat juga wajah Wina yang begitu jelas. Dan seketika itu, kini giliran Arisa yang memeluk Wina dengan erat dan terisak begitu keras.


"Entah dorongan apa, tapi kumohon jangan pergi lagi dari hidupku... aku membutuhkanmu... meskipun aku tidak mengingatmu, tapi aku merasakan ada hal yang berbeda darimu. Jangan pergi....." Wina semakin tak bisa menahan tangisnya dan keduanya menangis keras di taman itu membuat petugas keamanan turun tangan menenangkan mereka.


. Hari-hari berlalu, Arisa begitu dekat dengan Wina dan perlahan ingatannya kembali berwarna, dan ia tak segan menceritakan tentang mimpinya yang sebenarnya itu semua adalah ingatannya sendiri. Dengan ragu, Wina menanyakan tentang Rayyan dan sikap Arisa yang biasa saja membuat Wina kembali bersedih. Disisi lain, Wina pun merasa senang karena Arisa lupa dengan rasa sakitnya yang terus memikirkan Rama yang mustahil Arisa gapai kembali. Melihat betapa bahagianya Arisa, Wina mengurungkan niatnya untuk memberitahu Tio tentang keberadaannya. Dan saat tiba kepulangannya, Reza meminta Wina untuk merahasiakan keberadaan Arisa lebih lama. Dan Reza berjanji akan segera mengungkapkan kebenaran dan mengembalikan Arisa ke keluarganya. Dan hal itu di setujui oleh Wina sendiri.


Dan benar saja, saat ia kembali, Tio dengan tidak langsung menanyakan sesuatu mengenai keberadaan Arisa. Wina dengan menutupi kegugupannya menjawab tak pernah bertemu dengan gadis yang memiliki ciri-ciri yang di sebutkan Tio.


. Reza membawa Arisa ke tempat perbelanjaan terlebih dahulu sebelum pulang. Berkali-kali Arisa menjahili Reza yang sedang mendorong troli belanjaan di sampingnya. Melihat kebahagiaan Arisa, Reza semakin tak rela jika sampai Yugito mengetahui keberadaan Arisa di rumahnya. Saat Arisa meraih sebuah bando untuk anak-anak, kembali muncul sebuah ingatan dan ia selalu merasa heran kenapa memori itu selalu terlintas bersamaan dengan rasa sakit di kepalanya.


"Putri.. kau baik-baik saja?"


"Kak... apa belanjanya sudah? Aku mau pulang."


"Yasudah... kita pulang saja." Reza masih mendorong troli dengan satu tangan dan tangan lain menggandeng tangan Arisa. Sampai di mobil, Arisa langsung masuk dan memejamkan matanya karena akhir-akhir ini kepalanya benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Ingatan-ingatan tentang keluarganya semakin sering bermunculan dan selalu di iringi rasa sakit yang begitu menyakitkan.


Saat keduanya tiba di rumah, Reza menghela nafas kasar saat Arisa tak bisa dibangunkan dari tidurnya. Ia dengan terpaksa menggendong Arisa dan membiarkan Arisa tertidur di pundaknya. Terdengar Arisa bergumam pelan dan terus memanggil nama Tio dalam tidurnya, membuat Reza merasa kesal dan seakan tidak terima jika Arisa begitu kuat mengingat nama kakaknya.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2