
. Rahma perlahan melepaskan pelukannya, lalu meraih wajah Arisa dan beberapa kali mengecup kening Arisa.
"Maaf." Akhirnya setelah sekian lama Rahma bergelut dengan keraguan, sekarang kata maaf itu terucap. Arisa mengangguk lalu mencium tangan sang ibu sangat lama.
"Kau memaafkan mama kan?" Lirih Rahma menahan sesak dan isak tangisnya.
Arisa mendongak dan masih menggenggam tangan Rahma. "Bagaimana hidup Aris akan bahagia jika Aris tak memaafkan mama. Surga Aris ada pada mama. Bahagia Aris pun karena mama."
Entah malaikat apa yang kini menjelma menjadi putrinya, Rahma benar-benar beruntung memiliki putri yang berbesar hati memaafkan dirinya yang jelas sudah membuatnya kesepian selama ini. Bahkan karena dirinya juga, Arisa mengidap beberapa penyakit yang serius.
"Aris jawab dengan jujur. Apa kamu mencintai Rayyan?" Arisa terdiam, bahkan menghentikan tangisnya. Air matanya terasa mendadak kering seketika, dan wajahnya mendadak gugup. Arisa menggeleng kasar dengan tatapan yang serius.
"Tidak ma... Aris tidak mencintai Aray." Jawabnya menahan genangan air di kelopak matanya.
"Jujur Aris. Mama tak ingin membuat kesalahan lagi." Tegas Rahma meraih kedua bahu Arisa.
"Sungguh. Aris belum bisa melupakan Rama. Dan bukankah Aris dijodohkan dengan kak Bayu? Aris dan Aray hanya teman satu kelas saja. Tak ada ikatan selain teman diantara kita ma..." jelas Arisa lagi.
"Jangan berbohong nak. Mama tak pernah mengajarkanmu untuk berbohong. Jika kau mencintai Rayyan, mama akan batalkan perjodohan Rayyan dan Raisa apapun yang terjadi." Lagi-lagi Arisa menggeleng kasar lalu meraih tangan Rahma.
"Tidak ma.. jangan... Aris tak ada perasaan apapun pada Aray. Sungguh. Aris dekat dengan Aray hanya karena Aris merasa Aray seperti Rama. Aris tidak pacaran dengan Aray. Kami hanya dekat saja." Ucap Arisa lagi dengan berusaha meyakinkan.
"Aris..."
"Aris mohon ma.. jangan batalkan perjodohan Rais dan Aray. Rais sangat mencintai Aray. Aris tahu itu ma.. maaf karena memang Aris dekat dengan Aray. Aris hanya iri, mama begitu menyayangi Rais. Aris hanya ingin Rais merasakan hal yang sama. Tapi.. tapi sekarang Aris tidak akan mendekati Aray lagi. Aris janji ma..."
"Sudah hentikan Aris. Mama tahu kau dan Rayyan saling mencintai. Kenapa kau bersikeras melukai hatimu sendiri."
"Aris..." Arisa menunduk dengan terus mengusap pipinya yang basah.
"Aris... kau mimisan lagi?" Tanya Rahma setengah berteriak dan meraih wajah Arisa dengan panik.
"Panggil Dimas ya.." bujuk Rahma kemudian.
"Tidak ma... Aris baik-baik saja. Ini hanya panas dalam."
"Tidak Aris... kau harus diperiksa. Mama takut jika ada apa-apa padamu."
"Tidak ma... serius... kata dokter, kondisi Aris sudah membaik. Sekarang Aris hanya panas dalam saja."
"Jangan membuat mama khawatir..." Arisa hanya tersenyum menanggapi ucapan sang ibu. Rasanya benar-benar bahagia saat ini. Menjelang hari ulang tahunnya, kini Arisa bisa merasakan kehangatan meskipun sekedar memeluk mama dan merasakan kehangatan dari perhatian mama.
"Ma..." lirih Arisa dengan ragu.
"Iya? Kenapa nak?"
"Apa Aris boleh meminta sesuatu.?" Tanyanya dengan lesu. Rahma hanya menyernyit mencoba menebak apa yang diinginkan Arisa.
"Bisakah mama menemani Aris besok."
__ADS_1
"Memangnya kau mau kemana?"
"Hanya di rumah. Tapi Aris ingin menghabiskan waktu dengan mama saja. Tak apa hanya sehari besok. Setelah itu, mama boleh mengabaikan Aris lagi. Tak di beri hadiah pun tak apa ma... itu pun jika mama mau menemani Aris." Rahma tertegun mendengar keinginan sederhana sang putri. Namun siapa sangka yang dianggap sederhana itu adalah keinginan terbesar Arisa selama ini. Rahma mengusap rambut Arisa dengan lembut seraya tersenyum.
"Memangnya kau tak akan bosan seharian dengan mama?" Arisa menggeleng mendapati pertanyaan sang ibu.
"Jika mama bosan, Aris bisa ajak mama jalan-jalan atau belanja. Aris punya tabungan untuk membeli apa yang mama mau." Kini giliran Rahma yang menggeleng menanggapi penuturan Arisa.
"Tidak nak. Jangan dipakai." Rahma menghela nafas dalam sebelum melanjutkan bicaranya. "Baiklah. Besok mama akan menemanimu." Lanjut Rahma dengan melemparkan senyum. Seketika, raut wajah Arisa menjadi berseri. Arisa kemudian tersenyum bahagia lalu memeluk Rahma dengan erat.
"Janji ya? Mama tak bohong kan?" Dan seketika itu juga raut wajah Rahma menjadi sendu. Tatapan matanya menjadi sayu dan tak menjawab pertanyaan Arisa.
"Ma... apa mama keberatan dengan permintaanku?" Tanya Arisa yang melepas pelukannya dari Rahma.
"Tidak... mama tidak keberatan. Lagi pula wajar jika ibu dan anak menghabiskan waktu bersama."
"Iya itu hanya pendapat mama saja. Tapi pendapatku berbeda. Itu adalah sebuah impian terbesarku yang mungkin sulit untuk diwujudkan. Bahkan aku menyebutnya sebagai cita-cita dan tujuan hidup. Apa aku tidak normal? Menjadikan kebersamaanku dan mama adalah cita-cita. Entahlah. Tapi aku senang mama bersedia menemaniku besok." Gumam Arisa yang terus memasang senyuman.
"Ya sudah... sekarang masuk dan tidur. Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu." Arisa mengangguk antusias menanggapi ajakan Rahma.
"Makananmu habiskan." Titah Rahma ketika menoleh pada makanan didepannya.
"Iya ma..." Rajuk Arisa kemudian melahap kembali makanannya dan bergegas memasuki kamar. Arisa meminum beberapa obat sebelum dirinya berbaring di tempat tidur.
Rahma menatap nanar pada Arisa yang kini tengah menjalani pemulihan diri. Rahma membandingkan pemulihan Arisa yang dijalaninya seorang diri, dengan Raisa yang selalu ia dampingi setiap saat.
"Mama sedih?" Tanya Arisa yang menatap heran pada Rahma yang menatapnya dengan rasa iba dan masih duduk di tepi ranjang meraih tangan Arisa yang kini terbaring.
"Aris tak akan meninggalkan mama. Aris akan selalu bersama mama." Ucap Arisa penuh keyakinan. Rahma tertegun lalu meraih wajah Arisa dan kembali mengecup keningnya.
"Mama benar-benar bangga padamu. Maaf nak.... harusnya kau membenci mama." Arisa menggeleng kasar mendapati penuturan Rahma.
"Tidak ma... mana mungkin Aris membenci mama. Aris tak pernah membenci mama." Rahma semakin terharu dengan kebesaran hati Arisa yang memang begitu tulus.
"Ya sudah... kamu tidur." Arisa mengangguk kemudian berbaring dengan wajah berseri.
Rahma tersenyum kemudian ikut menyelimuti Arisa sampai pinggang, lalu beranjak dan mengambil piring yang ia bawa beberapa saat yang lalu. Pandangan Rahma seketika tertuju pada dua kotak kado di meja rias Arisa.
"Ada yang sudah memberinya kado?" Gumam Rahma kemudian menoleh pada Arisa yang sudah menutup matanya. Teringat pada perkataan bi Ina tempo hari bahwa Arisa banyak yang menyukai karena hatinya yang baik. Jadi tak heran jika ada seseorang yang lebih awal memberikan hadiah sebelum hari ulang tahunnya. Rahma tersenyum tipis tanpa ingin tahu dari siapa kado itu.
Rahma turun dan berpapasan dengan Tio yang hendak memasuki kamarnya. Tio mendelik ketika melihat piring yang ada ditangan Rahma. Dirinya berpikir bahwa Rahma dari kamar Raisa.
"Raisa mogok makan ma?" Tanya Tio yang memegang gagang pintu dan enggan membukanya dan enggan menoleh pada sang ibu.
"Tidak... Rais tadi sudah makan. Aris yang mogok. Mungkin jika mama tidak ke kamarnya, Aris tak akan makan sampai besok." Jawab Rahma yang berjalan melewati Tio begitu saja. Tio terdiam dan beberapa kali menghela nafas dalam. Menoleh pada arah kamar Arisa, lalu pada ruang makan. Tio kemudian memasuki kamar dengan rasa heran di benaknya.
Yugito duduk bersandar di tempat tidur sambil membaca sebuah buku tentang bisnis.
"Kata mang Ujang tadi Aris ke makam Rama." Ucap Yugito ketika Rahma memasuki kamar.
__ADS_1
"Lalu?" Tanya Rahma yang ikut duduk di dekat Yugito.
"Ini tahun kedua Aris ditinggal Rama kan?" Tanya Yugito lagi.
"Kurasa iya."
"Bagaimana kalau besok kita rayakan ulang tahun mereka diluar?" Yugito menutup buku dan bertanya dengan antusias.
"Kebetulan besok Aris ingin aku menemaninya seharian. Mas... apa menurutmu jika hanya makan diluar, itu terlalu sederhana. Apa lagi, melihat hubungan kita dan Aris sudah membaik, rasanya aku ingin memberikan yang lebih istimewa." Ucap Rahma menunduk lesu.
"Bagaimana jika kita umumkan saja hubungan Aris dan Rayyan?"
"Tapi bagaimana dengan Oma Galuh?. Dia pasti akan menentang keputusan kita. Dan itu akan berpengaruh pada saham yang pak Halim berikan pada kita dulu."
"Itu akan terjadi jika keluarga putra yang melanggar janjinya kan? Coba hubungi Danu. Jika kita membicarakan kembali, mungkin.."
"Tidak ma... Oma Galuh lebih keras dari pada mendiang pak Halim."
"Lalu bagaimana mas... Aris dan Rayyan saling mencintai. Aku tidak mau jika Aris bersedih karena kita lagi. Sudah cukup kita membuatnya kesepian selama bertahun-tahun ini."
"Kita berdoa saja. Semoga ada jalan keluarnya."
"Aku menyayangi Aris mas... tapi Rais juga putriku."
"Iya aku mengerti... aku juga menyayangi mereka."
. Arisa terlelap dalam mimpinya, alisnya berkerut seperti sedang merasakan tak nyaman. Arisa terbangun ketika merasakan sebuah sentuhan di dahinya.
"Kakak." Pekik Arisa menyentuh dadanya pelan.
"Kau bermimpi?" Tanya Tio menatap lekat wajah Arisa. Arisa mengangguk lesu menanggapi pertanyaan Tio.
"Mimpi Rama?" Namun Arisa semakin lesu dengan pertanyaan Tio. Arisa menggeleng dan kembali berbaring dengan wajah sedih.
"Kenapa kakak disini?" Tanya Arisa menarik selimutnya sampai leher karena dingin.
"Selamat ulang tahun" ucap Tio yang beranjak lalu mengambil kue dengan tersemat lilin angka 1 dan 2 yang di susun menjadi angka 12. Arisa mengembungkan pipinya kesal ketika melihat lilinnya. Arisa menoleh pada jam dinding di kamarnya yang sudah menunjukan pukul 1 malam.
"Ehh wajah apa itu?" Tio mencubit pipi Arisa dengan gemas. Arisa kemudian memeluk Tio dengan erat.
"Ehhh nangis lagi." Ejek Tio
"Terima kasih kak." Rengek Arisa.
"Ada yang kau inginkan?" Tanya Tio kemudian.
"Ubah lilinnya." Rengek Arisa lagi. Tio tertawa kemudian mengubah posisi lilinnya menjadi 21.
"Ada lagi?" Tanya Tio berwajah serius.
__ADS_1
"Semoga perjodohan Aray dan Raisa di lanjutkan." Lirih Arisa kemudian meniup lilin didepannya.
-bersambung