
. Arisa semakin menghimpit ketika Rayyan membuka kancing kemejanya satu-persatu. Kembali Rayyan mendekati Arisa dan membuka selimutnya dengan kasar membuat Arisa berteriak.
"Rayyan." Teriakan itu cukup membuat Rayyan tersadar dan ia beberapa kali mengusap wajahnya lalu menjauh dari tempat tidur.
"Apa yang aku lakukan?" Batinnya menatap lekat pada Arisa yang ketakutan.
"Risa..." lagi, Rayyan mencoba mendekati Arisa untuk menenangkan.
"Menjauh dariku." Teriak Arisa menggeser tubuhnya menjauh dari Rayyan.
"Risa maafkan aku. Aku tidak bermaksud."
"Kau pikir aku wanita apa?" Lagi, Arisa berteriak sambil menangis karena masih terkejut dengan sikap Rayyan yang diluar dugaan. Rayyan bersimpuh dibawah Arisa dan meraih tangannya lalu menciumnya lembut.
"Aku hanya tak ingin berpisah denganmu."
"Tapi tidak begini Aray..." lirih Arisa masih sesenggukan menangis.
"Lalu harus bagaimana? Aku tak sanggup melihatmu menikah dengan Fabio."
"Aku juga tidak mau. Tapi aku harus menikah dengannya."
"Kenapa Risa? Kau tidak serius mencintaiku? Apa waktu itu aku memang hanya bahan pelampiasanmu saja?" Arisa menggeleng kasar sambil menyeka air matanya.
"Bukan... bukan seperti itu. Sejujurnya aku juga mencintaimu. Tapi apa daya, kau juga di jodohkan dengan Raisa."
"Risa...."
"Maaf Rayyan. Kita memang tak ditakdirkan bersama."
"Kau serius akan meninggalkanku?"
"Maaf... sungguh aku minta maaf." Lagi, pecah kembali tangis Arisa yang semula mereda.
Rayyan beranjak lalu memeluk Arisa dengan erat. Dan ia tak sedikitpun berniat melepaskan Arisa. Beberapa kali Rayyan mencium kepala Arisa, kemudian ia meninggalakan kecupan hangat dan dalam pada kening Arisa.
__ADS_1
"Aku boleh meminta sesuatu?" Tanya Arisa dengan suara pelan.
"Apa itu?" Tanya Rayyan dengan suara seraknya yang ikut menitikkan air mata saat meninggalkan kecupan selamat tinggal pada Arisa.
"Kumohon jaga Raisa. Dia kakakku, bagaimanapun dia yang menjadi salah satu alasanku untuk hidup. Jangan sakiti dia. Cintai dia seperti kau mencintaiku. Jangan membuatnya bersedih atau menangis. Dan jangan mengejarku saat aku pergi sekarang." Ucapnya lirih lalu membalas mencium kening Rayyan dengan dalam dan seakan penuh arti. Rayyan benar-benar merasakan sebuah salam perpisahan diantara mereka. Kemudian Arisa turun mencium bibir Rayyan dengan lembut. Saat ini, Rayyan yang membalas ciuman Arisa merasa bahwa Arisa akan pergi jauh meninggalkannya dan seakan tak akan kembali. Mengingat sikap Arisa yang bertolak belakang dari biasanya, Rayyan semakin takut melepaskan Arisa. Sangat tak bisa dipercaya Arisa memulai hal yang mungkin ia hindari sejak dulu. Rayyan menatap matanya yang terpejam seakan Arisa tak ingin membuka mata saat ini. Setelahnya, Arisa kembali mencium kening Rayyan sebelum akhirnya ia benar-benar pergi dari apartemen Rayyan. Rayyan yang mengingat permintaannya, mengurungkan niat untuk mengejar Arisa. Sepanjang jalan, Arisa tak henti menangis membuat supir taksi merasa tak nyaman.
Sampai dirumah, Arisa berlari dari gerbang menuju teras dengan susah payah. Tak biasanya Yugito menunggunya pulang dengan tatapan tajam seakan sedang mengintimidasi Arisa.
"Ay--" 'plak' seketika wajah Arisa berpaling kasar. Pipinya benar-benar panas dan berdenyut menyakitkan. Tamparan itu lebih menyakitkan dari tamparan pertama ayahnya saat ia hendak bunuh diri saat itu.
"Anak kurang ajar. Tidak tahu malu." Teriak Yugito membuat Arisa menciut ketakutan.
"Ayah..."
"Jangan memanggilku ayah. Jika aku ayahmu, kau mungkin bisa menjaga kehormatanmu. Berhenti berperan sebagai anakku. Kau terus berkata bahwa kau tak mencintai Rayyan, kau bilang kau rela Rayyan dengan kakakmu. Tapi apa? Kau malah pergi dan tidur dengan Rayyan." Arisa tersentak mengapa ayahnya berpikir bahwa ia tidur dengan Rayyan.
"Ayah... Aris tidak--" belum sempat ia menjelaskan, Yugito dengan paksa menarik tangan Arisa menuju kamarnya. Arisa meringis kesakitan sambil terus memanggil ayahnya, namun sedikitpun Yugito tidak menghiraukan Arisa. Dirasanya Arisa sudah kelewatan menghancurkan kepercayaannya, Yugito yang berpikir bahwa Arisa lebih mandiri dan bisa menjaga diri, ternyata malah membuat dirinya malu pada keluarga Pratama sendiri dan keluarga Fabio.
Yugito menghempaskan Arisa masuk ke dalam kamar, dan ia mengunci pintu dari luar. Arisa menggebrak pintu dengan keras sambil terus berteriak, namun tak ada hasilnya. Yugito sampai menitikkan air matanya karena kecewa yang teramat dalam pada putri yang ia besarkan, dan pikiran yang dulu salah menilai, kini malah terjadi padanya. Apa lagi saat melihat wajah Arisa yang berantakan dan kenyataan Rayyan tidak mengantarkan pulang, membuat Yugito semakin yakin pada foto yang ia terima setelah beberapa saat Arisa meminta izin pergi dengan Rayyan. Yugito berjalan meninggalkan kamar Arisa yang masih terdengar suara pintu yang di pukul-pukul.
Arisa memeluk lututnya bersandar pada pintu dengan terisak keras sambil bergumam pelan menjelaskan meskipun sia-sia.
. Malamnya, saat Arisa terbaring di tempat tidur dengan masih menangis tanpa suara, Raisa membuka pintu dengan membawa sepiring makan malam untuk Arisa.
Arisa menoleh kearah Raisa yang menghampirinya setelah menutup pintu rapat.
"Aris... mak--"
"Aku tak ingin makan. Tinggalkan saja aku sendiri." Jawab Arisa menyela cepat.
"Aris... jangan begitu.." lirih Raisa duduk ditepi ranjang dan meletakkan makanan di meja.
"Jangan begitu? Lalu? Kau pikir siapa yang membuatku begini? Kau juga tidak percaya padaku kan? Jadi untuk apa kau kesini? Keluar, tinggalkan aku sendiri. Lebih baik aku mati saja jika kalian tidak mempercayaiku." Teriak Arisa dengan suara yang hampir habis. Saking lamanya ia menangis, sampai suaranya pun menjadi serak dan hampir tak ada.
Sesegera mungkin Raisa memeluk adiknya yang tengah putus asa dan jelas kehilangan arah ini. Ia menenangkan dengan mengusap punggungnya lembut sambil terus memberi kehangatan pada Arisa.
__ADS_1
"Aku percaya padamu." Ucapnya yang bertolak belakang dengan hatinya. Sebenarnya Raisa lebih mempercayai bukti foto yang ia terima dari bawahan Fabio yang mengikuti perginya Rayyan dan Arisa. Merasa Arisa sudah tenang, Raisa dengan pelan melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Arisa yang sudah membasahi wajahnya.
"Jangan menangis. Nanti cantiknya hilang." Biasanya Arisa akan tertawa mendapati ejekan Raisa yang satu ini, namun sekarang jangankan tertawa, hatinya terasa membeku setelah menerima tamparan keras dari ayahnya.
"Apa kau benar-benar percaya bahwa aku tak pernah melakukan apapun dengan Rayyan?" Raisa mengangguk meyakinkan Arisa dan melemparkan senyum manisnya.
"Kalian dapat berita bohong itu dari mana? Kenapa ayah sampai menamparku?"
"Aku tidak tahu." Jawab Raisa singkat. "Sudah jangan dipikirkan. Sebaiknya kau makan agar tidak sakit."
"Biarkan aku sakit saja Rais. Aku tak mau hidup jika seperti ini. Aku benar-benar ingin menyusul Rama."
"Ishhh sudah... jangan bicara sembarangan. Aku percaya padamu. Ingat! Kita ini saudara kembar. Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan. Jika kau bohong, maka aku akan tahu." Lagi, Raisa seakan membohongi dirinya sendiri. Kata yang ia simpan didalam hatinya bukan yang terlontar sekarang.
. Beberapa hari, hanya Raisa yang menemui Arisa dengan membawa makanan dan camilan. Tio kini sudah berpisah rumah semenjak ia dan Diana menikah. Sudah jelas ia terasa dipenjara oleh ayahnya dan tak di izinkan keluar. Bahkan Arisa mendengar bahwa Yugito mengusir Rayyan yang ingin menemui Arisa.
Hingga suatu malam, Oma Galuh datang ke rumah Yugito. Raisa terkejut mendengar bahwa mereka datang untuknya. Karena merasa gelisah, Raisa mengajak Arisa untuk menemaninya. Saat keduanya turun, terlihat Yugito memasang wajah yang dingin dan sangat berbeda dari terakhir Arisa bercanda dengan Yugito. Arisa pun tak kalah dingin melewati Yugito, dan seakan hatinya benar-benar membeku sekarang. Ia seketika mengingat ucapan Raisa yang berkata bahwa ayahnya kini menjadi lebih menakutkan. Bahkan Raisa pun tak di izinkan kemana-mana setelah Arisa yang ia anggap sudah tidak berharga lagi. Itulah kenapa Raisa menemani Arisa di kamarnya setiap saat.
Seperti sebelumnya, mereka berbincang di meja makan sambil menikmati hidangan yang di sajikan istimewa oleh Rahma. Seina kembali memeluk Arisa tanpa menghiraukan larangan dari Oma. Ia sudah berumur 6 tahun, setidaknya Seina tahu dan merasakan sesayang apa Arisa padanya.
"Sein rindu kakak." Rengek Seina terisak kecil di pangkuan Arisa. Rayyan menatap nanar pada kedua gadis yang sangat ia sayangi. Yang satu, dia adalah adik kandung dengan terikat darah, dan yang satunya, dia cinta pertama yang membuat hidupnya menjadi lebih berwarna.
"Kedatangan kami kesini untuk secara resmi melamar Raisa." Ucap Oma dengan serius dan menyerahkan kotak perhiasan pada Yugito. 'Deg' jantung kedua anak kembar itu berdetak begitu keras mendengar penuturan Oma. Raisa menoleh pada Arisa yang masih erat memeluk Seina dengan manja dan seakan tak peduli dengan obrolan didepannya. Rayyan menatap lekat Arisa yang tak sedikitpun melirik kearahnya. Perbincangan kedua keluarga itu masih terdengar oleh Rayyan, namun tak ia pedulikan sedikitpun.
"Saya hanya mengusulkan secepatnya saja pernikahan mereka di gelar." Ucap Yugito sesekali tertawa bercanda dengan Danu dan Oma. Namun, Raisa merasa hatinya sesak saat Rayyan tak sedikitpun memalingkan pandangannya dari Arisa.
"Ahhh satu hal lagi yang ingin saya bicarakan." Ucap Oma di sela canda tawa Yugito dan Danu.
"Mohon maafkan Rayyan yang sudah bersikap tidak sopan pada putri bungsu anda. Mungkin jika Arisa tidak menggoda Rayyan, kesalah fahaman itu tak akan terjadi. Karena saya percaya bahwa Rayyan tak mungkin melakukan hal yang sangat tidak senonoh, apa lagi pada perempuan."
"Apa Oma mengatakan bahwa putri saya adalah wanita murahan?" Tanya Rahma yang merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan Oma.
"Tidak... bukan begitu maksud saya. Kamu sendiri tahu bahwa Arisa berada diantara Raisa dan Rayyan bukan? Jadi bisa saja ia mengajak Rayyan agar ia menggantikan posisi Raisa." Balas Oma menjelaskan dengan santai sambil melirik tajam pada Arisa.
"Sepertinya anda salah menilai calon istri saya." Ucap Fabio tiba-tiba saat ia baru sampai di ruang makan dengan Tio di sampingnya.
__ADS_1
-bersambung.