TAK SAMA

TAK SAMA
186


__ADS_3

. "Kapan kalian menikah?" Tanya Oma membuat Arisa gugup.


"Secepatnya Oma." Jawab Rayyan dengan percaya diri.


"Risa... kau terlihat pucat. Apa kau sedang sakit?" Tanya Oma selanjutnya. Kemudian Rayyan meraih dahi Arisa yang ternyata memang terasa hangat.


"Oma.. Aray bawa Risa dulu." Ucap Rayyan kemudian menarik Arisa keluar dari kamar Oma. Meskipun terdengar Arisa terus protes, namun Rayyan tak mendengarkan dan memilih terus menariknya sampai ke ruangan Dimas.


"Dok. Tolong Risa dok." Ucap Rayyan dengan nada menekan.


"Kau kenapa Rayyan?"


"Bukan aku, tapi Risa."


"Maksudku..... emmh sudahlah tidak jadi." Delik Dimas kemudian beranjak dari kursinya.


"Boleh aku memeriksa tensi dan suhu tubuhmu?" Tanya Dimas ditanggapi anggukan oleh Arisa.


"Sepertinya kau masuk angin Aris." Ucap Dimas setelah selesai memeriksa Arisa.


"Tuh kan Aray. Sudah aku bilang." Arisa melirik sinis pada Rayyan di iringi ekspresi angkuhnya.


"Eh. Jangan anggap remeh. Masuk angin juga bisa fatal loh." Tutur Dimas menjawab anggapan Arisa yang seolah tengah menyepelekan gejala tersebut.


"Kau tidak di klinik dok?" Tanya Arisa yang merasa heran mengapa Dimas berada di rumah sakit.


"Jadwalku hari ini ya disini."


"Lalu, kau tak datang ke pernikahan kak Bayu?" Semula aktifitas Dimas mengemas beberapa obat pun terhenti. Ia tersenyum getir dan tak berniat memperlihatkan wajahnya pada Arisa.


"Aku sedang sibuk. Banyak pasien. Dan aku tak bisa cuti semauku." Jawab Dimas hanya demikian. Namun dalam hati terdalamnya ia merasa iri pada Bayu yang sudah mendahuluinya menikah.


"Padahal kenapa harus iri." Batin Dimas.


Setelah Arisa di beri beberapa obat, Dimas menyuruh Arisa untuk pulang dan beristirahat. Rayyan mengabari Oma terlebih dahulu agar tak ada yang mempertanyakan keberadaannya.

__ADS_1


Seno tersenyum lega melihat Arisa yang sudah pulih dari penyakit perasaan yang membuat Arisa menutup diri dan jarang berinteraksi dengan manusia. Tak jarang Seno memergoki Arisa tengah mengajak bicara pada tanaman bunga anggrek yang ada di balkon kamarnya. Sontak Seno terkekeh sendiri membuat Oma dan istrinya merasa heran.


"Kenapa kau Seno?" Tanya Oma dengan menyernyitkan alisnya karena terheran dengan tingkah Seno.


"Tidak Oma.. hanya saja aku lega melihat Aray dan Aris yang sudah berubah."


"Berubah bagaimana? Aray sama saja."


"Tidak Oma. Dulu Arya sangat tertutup pada wanita. Tapi sekarang, dia begitu terbuka pada Aris." Mendengar apa yang di katakan Seno, Oma hanya tersenyum tipis menanggapinya, ia kemudian menoleh ke arah pintu dan senyumnya semakin mengembang ketika menoleh kembali pada Seno.


"Kau salah Seno. Aray masih sama. Yang membedakannya hanya perlakuan andara pada Risa dan pada gadis lain. Pada Risa mungkin benar dia sangat terbuka dan hangat. Tapi pada gadis lain, sikapnya masih sama seperti dulu. Acuh, dan dingin."


"Benarkah? Hemm ternyata Oma memperhatikan mereka juga."


"Kalau sekarang Aray bersama dengan Raisa, apa dia akan tertawa begitu atau tidak ya Sen?"


"Entahlah Oma. Aku juga tak bisa membayangkannya. Meskipun Raisa saudari kembar Aris, tapi perasaan tetaplah perasaan. Tak akan tertukar meskipun pada orang yang memiliki wajah sama."


"Dengan cara apa Oma harus menebus kesalahan Oma?"


. "Kakak putri? Kakak putri sakit?" Tanya Seina yang menyambut kedatangan Rayyan dan Arisa.


"Tidak sayang. Kakak baik-baik saja. Jelas-jelas kamu yang sakit. Wajahmu pucat." Mendengar hal itu, Seina menggeleng kasar lalu menarik Arisa memasuki rumah.


"Sein tidak sakit. Setelah bertemu dengan kakak putri, Sein sembuh. Iya kan bunda?" Sontak Sonya mendongak mendengar suara putri bungsunya.


"Apanya yang iya? Kalian sedang sakit. Harusnya istirahat." Ucap Rayyan yang mengikuti mereka dari belakang.


"Risa? Kau sedang sakit? Sudah ke dokter?" Tanya Sonya terlihat terkejut saat Rayyan berkata demikian.


"Tidak bunda. Hanya masuk angin saja." Jawab Arisa tersenyum sedikit memaksa. Sebenarnya ia merasa pusing, namun didepan Sonya, ia harus terlihat baik-baik saja.


"Mau bunda pijat?" Tanya Sonya membuat Arisa terkejut dan mendadak gugup.


"Ti-tidak bunda. Tak perlu. Setelah minum obat, Aris pasti sudah sembuh." Ucapnya mencoba menghindari tawaran Sonya.

__ADS_1


"Tak apa nak. Jangan sungkan. Jangan meremehkan bunda loh.. kalau Aray pulang kerja larut malam, dia juga sering masuk angin, dan bunda selalu memijitnya. Hasilnya, dia keenakan." Terang Sonya kemudian melirik pada Rayyan yang ikut gugup dan terkekeh.


"Mau aku bantu bunda?" Tanya Rayyan berhasil membuat Arisa terbelalak.


"Apanya yang dibantu?" Sonya balik bertanya dengan keheranan.


"Memijat Risa." Jawabnya polos.


"Boleh..." jawab Sonya pun memasang senyum yang mengembang.


"Serius bunda?" Kali ini Rayyan begitu berbinar dan menatap Sonya penuh harap.


"Bunda..." rengek Arisa yang lebih terkejut dengan jawab Sonya.


"Tapi, sebelum kau memijat Risa, kau harus menandatangani surat penghapusan namamu dari daftar alhi waris keluarga Pratama, dan mengakui kau bukan anak bunda." Tutur Sonya masih memasang senyum yang mengembang. Mendengar hal itu, Arisa tertawa kecil melihat Rayyan yang mematung karena mendengar hal mebgerikan dari mulut ibunya sendiri.


"Bunda... Sein juga mau di pijat." Pinta Seina dengan antusias.


"Boleh. Ayo Risa. Di kamar tamu saja. Atau mau di kamar Sein?" Ajak Sonya ternyata serius menawarkan pijatan pada Arisa.


"Tapi bunda?"


"Jangan sungkan. Bunda ini ibu kamu juga kan?" Kali ini, Arisa langsung terdiam dan menunduk. Perlahan ia mengangguk pelan menanggapi. Benar, Arisa sudah menganggap Sonya sebagai ibunya sendiri. Dengan begitu, ia mengikuti Sonya ke kamar tamu, Seina yang terus menggenggam tangan Arisa pun terlihat riang menyusul ibunya.


"Aray ikut ya bunda..." ucap Rayyan ikut menusul dan hendak memasuki kamar, namun dengan cepat Sonya menutup pintu sedikit keras. Di balik kekonyolannya, terselip perasaan lega melihat kebersamaan Sonya dan Arisa yang semakin dekat.


"Lepas bajumu." Titah Sonya ketika keduanya sudah berada di atas ranjang.


"Eh?" Terlihat Arisa kebingungan mengapa harus lepas pakaian.


"Kalau tidak di lepas, bagaimana bunda mengoleskan minyaknya nak?" Mezki ragu, Arisa perlahan membuka pakaian atasnya dan langsung menutupi bagaian depan tubuhnya.


"Apa jahitanmu sudah membaik?" Tanya Sonya selanjutnya.


"Sudah bunda." Jawabnya singkat-singkat saja. Sementara itu, Rayyan memilih untuk membersihkan diri. Sepanjang langkahnya, Rayyan tak berniat untuk menarik senyumnya yang mengembang.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2