
"Ma... maafkan Aris." Ucap Arisa mencium tangan Widia dengan rasa bersalah yang teramat besar.
"Tak apa nak. Kau berhak memutuskan kebahagiaanmu sendiri. Meskipun mama sedikit kecewa, tapi itu tidak membuat mama membencimu. Mama tetap menyayangimu. Dan mama selalu berharap, bahwa kau dan Bayu bisa menikah." Tutur Widia dengan membelai lembut pipi Arisa yang terharu mendengar penuturan Widia. Widia kemudian mengecup kening Arisa dengan lembut membuat Sonya memalingkan wajahnya.
"Sudahlah. Dia sudah dijodohkan dengan keluarga Arya. Jadi kau tak perlu berharap anak itu yang akan mendampingi Aray."
"Tapi apa Ibu tidak melihat bahwa Raisa juga sudah memiliki kekasih?" Tanya Sonya dengan cepat setelah ucapan Oma Galuh terhenti. Dan bahkan belum menghela nafas walaupun sejenak. Oma diam seribu bahasa tak menanggapi apapun yang terlontar dari mulut Sonya, menantunya yang ia jodohkan dengan putranya dulu.
Lalu, Arisa beralih berjalan menghampiri Sonya yang kini memasang senyuman untuk menyambutnya. Seina dengan antusias memeluk Arisa dengan erat.
"Sein rindu kakak. Selamat ulang tahun kakak putri yang cantik." Ucapnya mengecup pipi Arisa dengan riang.
"Sein juga cantik." Balas Arisa yang mengecup pipi Seina. Kemudian Arisa beralih mencium tangan Sonya dengan sopan. Namun saat Arisa hendak bersalaman dengan Oma, Oma bergegas beranjak dari duduknya dan melempar senyum pada Arisa kemudian berlalu pergi menuju Raisa. Seketika itu, raut wajah Arisa mendadak sendu mendapati perlakuan dari Oma. Rayyan mengepalkan tangannya kesal menyaksikan sikap Oma pada kekasihnya. Dengan cepat Rayyan menghalangi jalan Oma sebelum Oma sampai ke depan Raisa.
"Ada yang ingin Aray bicarakan dengan Oma." Ucap Rayyan menatap serius pada Oma yang tenang membalas tatapan Rayyan. Oma menurut dan mengikuti langkah Rayyan menuju sebuah tempat yang tak banyak orang berlalu lalang.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Kenapa Oma mengabaikan Risa?" Mendengar pertanyaan itu, Oma terkesiap dan diam beberapa saat. Namun kemudian Oma tersenyum menatap Rayyan dengan tajam.
"Sudah Oma duga kau akan bertanya ini." Ucapnya sedikit tertawa.
"Apanya yang lucu Oma? Oma bersikap seperti itu juga seakan membuat Aray sesak nafas. Aku mencintai Risa, dan Risa pun sama. Harus berapa kali Aray tegaskan pada Oma? Jika Oma tetap dengan pendirian Oma, maka Aray pun tetap dengan pendirian Aray." Tegas Rayyan dengan penuh penekanan.
"Kau mengancam Oma? Kau lupa janjimu? Kau hanya bisa bersamanya sampai lulus. Kuliahmu selesai, hubungan kalian pun juga selesai." Oma tak kalah menegaskan.
"Jika Oma bersikap seperti ini, Aray akan mengingkari janji Aray. Aray akan menikahi Risa meskipun tanpa restu Oma. Aray tak peduli dengan ancaman Oma, Aray tak peduli jika Aray tak punya apa-apa, yang penting Aray tetap bersama Risa." Ucap Rayyan lagi masih mempertahankan egonya yang seakan menekan sang nenek. Oma kembali tersenyum sinis menanggapi celotehan cucunya. Karena pikirnya, Rayyan tak akan bertahan lama hidup tanpa memiliki apa-apa.
"Sungguh mengesankan. Cintamu luar biasa nak." Oma bertepuk tangan dengan memasang wajah kagum namun tak menyembunyikan tatapan ejekan yang ia tujukan pada cucu kesayangannya itu. "Baiklah.. Oma akan baik pada pacarmu itu, tapi Oma akan menuntut janjimu setelah ini. Dan Oma sendiri yang akan memberikan Raisa kalung Phoenix milik keluarga kita, sebagai tanda dialah yang terpilih menjadi menantu keluarga Pratama." Lanjutnya kemudian berlalu meninggalkan Rayyan yang mematung atas apa yang dikatakan sang nenek. Niat ingin memojokkan, namun dirinya seakan kalah dalam taruhan. Apalah daya, Rayyan harus mau menerima perjodohan dengan Raisa jika dirinya sudah lulus.
"Maafkan aku Risa..." gumam Rayyan menjambak rambutnya dengan frustasi.
Seno melihat betapa putus asanya Rayyan saat ini. Mengingat ia yang menyaksikan pertumbuhan dan kehidupan Rayyan, Seno segera menghampiri Rayyan dan mencoba menenangkannya.
__ADS_1
"Sudah Aray... kita cari solusinya." Ucap Seno mengusap punggung Rayyan.
"Tau apa kau tentang masalahku? Kau beruntung bisa memilih orang yang kau cintai. Tapi aku? Apa salah aku ingin hidup dengan orang yang aku cintai? Aku iri padamu kak." Ucap Rayyan semakin putus asa.
"Aray sudah... kau kenapa? Kakak mengerti perasaanmu. Sudah.. Tio juga sedang berusaha agar kau dan Aris bisa bersama." kata-kata penenang Seno berhasil membuat Rayyan sedikit tenang.
"Kak Tio?" Rayyan menatap heran pada wajah Seno yang serius namun mungkin tak bisa dipercaya.
"Sudahlah... jauhkan pikiran negatifmu. Sekarang kau temani Aris saja. Lihatlah. Jangan biarkan kebahagiaannya malam ini hilang karena kau yang terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi." Seno mendorong tubuh Rayyan untuk kembali pada Arisa yang kini tengah berhadapan dengan Oma. Sempat Rayyan khawatir jika Oma menyinggung perasaan Arisa atau membuat Arisa tertekan. Tapi semakin dekat, Rayyan melihat bahwa obrolan neneknya tak sedikitpun melukai hati Arisa, tapi sebaliknya. Oma menyemangati dan berkata bahwa Oma merestui hubungan mereka untuk saat ini. Kata "saat ini" membuat Rayyan yang mengetahui kebenarannya merasa sesak. Namun tidak dengan Arisa yang merasa bahagia. Ia tak tahu bahwa setelah kebahagiaan ini, akan ada perpisahan menyakitkan yang tengah menunggu mereka didepan. Perpisahan yang bukan sekedar perpisahan semata.
Rayyan tersenyum sendu melihat senyum bahagia yang dipancarkan Arisa malam ini. Rayyan kemudian merangkul pundak Arisa seakan dirinya pun bahagia dengan apa yang Oma katakan. Namun Rayyan mengingat perkataan Seno, dirinya harus turut bahagia malam ini.
Kemanapun Arisa pergi, Rayyan selalu mengikutinya. Sampai Daffa yang ingin memberi selamat pun, Rayyan tepis tangannya, lalu memeluk Arisa dengan erat seakan Arisa adalah properti berharga yang tak boleh di sentuh orang lain selain dirinya. Bahkan Tio yang hendak memberikan ponsel Arisa pun hampir Rayyan tepis.
"Kau berani? Aku kakaknya." Ucap Tio dengan menatap kesal pada Rayyan.
"Hehe maaf kak. Aku kira ada serangga lain yang ingin mengganggu Risa." Jawabnya tertawa kikuk sambil mengusap lehernya dengan salah tingkah.
"Mau aku pecat jadi adik ipar?"
"Apa sayang?" Goda Rayyan membalas perlakuan Arisa dengan mengelus rambut Arisa dengan lembut dan mengecup pipinya dengan gemas setelah Tio berlalu meninggalkan mereka.
"Aku ingin menggigit pipimu." Bisik Rayyan membuat wajah Arisa memerah. Biasanya jika Arisa tersipu, Arisa selalu memukul lengan Rayyan karena kesal. Gadis yang mungkin tak pernah berhubungan langsung dengan laki-laki, dan mungkin hanya dengan satu laki-laki saja ia diperlakukan seperti ini, ia akan merasa salah tingkah dan ditutupi rasa kesal pada laki-laki itu. Dan benar saja, Arisa memukul lengan Rayyan semakin keras.
"Wajahmu merah." Bisik Rayyan lagi dengan nada ejekan. Ia sangat senang melihat Arisa yang kesal karena dirinya.
"Kau tidak mau membalas kecupan dariku?" Bisik Rayyan lagi membuat Arisa semakin merona.
"Berhenti bicara Aray. Aku sudah malu karenamu." Kesal Arisa menatap tajam pada Rayyan.
Sampai saatnya sudah di penghujung acara, Rayyan kembali mengecup pipi Arisa dengan gemas.
"Selamat ulang tahun. Maaf terlambat. Tapi aku ingin berbeda dari orang lain. Kau mau memaafkanku?" Ucap Rayyan yang tersenyum menatap kedua mata Arisa yang terkesiap lalu menjatuhkan bulir bening dari kelopak matanya.
__ADS_1
"Risa... kau marah? Maaf. Tapi aku suka mengucapkan selamat pada seseorang di akhir waktu. Ini mungkin kebiasaanku, tapi..."
"Kebiasaan Rama juga." Arisa menyela sebelum Rayyan menyelesaikan kalimatnya. Rayyan mematung membalas tatapan Arisa.
Raisa yang menyadari sesuatu dari adiknya, menoleh dan terkejut mendapati Arisa tengah menangis.
"Aris... kau baik-baik saja?" Tanya Raisa yang beralih posisinya menjadi membelakangi para tamu untuk menutupi Arisa.
Tio yang menyadari ada yang tidak beres pada Arisa, ia langsung mengucapkan terima kasih pada tamu yang sudah datang. Kemudian Tio menyuruh MC untuk segera menutup acara dan membubarkan para tamu malam ini. Setelah menyelesaikan kata terakhirnya, MC tersebut memberi isyarat dan seketika itu, lampu yang gemerlap menjadi gelap. Daffa setengah berlari menyusul Arisa dan Tio yang bergegas memasuki rumah.
Arisa duduk di sofa ruang tamu dengan Raisa yang memeluknya.
"Kau kenapa lagi? Sakit? Atau.."
"Rama." Arisa menyela cepat. Semua terbelalak heran mendengar apa yang dikatakan Arisa.
"Apa?" Tanya semuanya serempak.
"Aris... kenapa kau selalu saja--"
"Ayah... Aris tak apa. Lupakan saja." Ucap Arisa menyela kekesalan sang ayah dengan melempar senyuman dan air mata yang masih mengalir di pipinya.
"Aris..." lirih Raisa menatap sendu wajah saudari kembarnya. Raisa tahu bahwa Arisa kini tengah merindukan sosok Rama, atau mungkin ada sesuatu yang membuat Arisa mengingat pada Rama secara mendadak seperti ini. Apalagi didepan Rayyan. Arisa mengusap wajahnya lalu meraih tangan Rayyan yang menatapnya dengan sendu. Arisa menyadari bahwa Rayyan merasa cemburu saat ini. Meskipun Rama sudah meninggal, namun tidak menutup fakta bahwa Arisa masih mencintai Rama.
"Sebesar apa cintamu pada Rama? Sampai di depanku saja kau berani menyebutkan nama itu. Dan menangis untuknya. Dia sudah lama meninggalkanmu Risa. Lupakan dia. Bukankah hanya aku yang selalu berada di sisimu?" Batin Rayyan yang semakin erat membalas genggaman Arisa.
"Apa perkataanku ada yang melukai hatimu?" Tanya Rayyan yang ditanggapi gelengan kepala oleh Arisa sambil tersenyum tipis.
"Tidak Aray... hanya saja kebiasaanmu sama dengan kebiasaan Rama dulu. Dia juga selalu mengucapkan selamat ulang tahun di akhir waktu seperti ini. Jadi aku hanya tak bisa menahan diri untuk menangis jika mengingatnya. Maaf Aray. Tak seharusnya aku menangis untuk orang lain di depanmu." Jelas Arisa dengan tatapannya yang berharap agar Rayyan memaafkannya.
"Aku maafkan. Aku juga minta maaf sudah mengingatkan pada hal yang tak seharusnya kau ingat." Balas Rayyan mengusap kepala Arisa dengan lembut.
"Wah... susah ya bersaing dengan orang yang sudah meninggal." Cetus Daffa menarik perhatian semua yang ada disana.
__ADS_1
-bersambung