TAK SAMA

TAK SAMA
38


__ADS_3

. Tio memasuki ruangan lalu ikut menenangkan Arisa. Tio terheran mengapa Arisa menangis sampai seperti itu. Tio mengajak Rayyan keluar untuk berbicara dan membiarkan Arisa tenang dengan ditemani Daffa. Rayyan melirik tajam pada Daffa. Daffa tak kalah sinis melirik Rayyan. Rayyan menghela nafas sejenak kemudian menatap sayu pada Arisa.


"Baiklah. Denganmu lebih baik dari pada dengan dokter itu." Rayyan berdecih mengingat wajah Dimas.


Tio membawa Rayyan menuju taman.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Aris?" Tanya Tio memulai pembicaraan.


"Dia salah faham padaku. Dan dimarahi oleh tante Rahma." Tio menyernyit mencoba mencerna maksud Rayyan.


"Mama memarahi Arisa?" Rayyan mengangguk mengiyakan pertanyaan Tio.


. Beberapa jam yang lalu, Rayyan bergegas pergi ke rumah sakit membeli resep untuk Seina. Melihat bunda yang panik membuat Rayyan tak masuk kuliah. Rayyan menyusuri lorong rumah sakit dengan membawa beberapa resep ditangannya. Dari kejauhan, samar Rayyan melihat Rahma yang mendorong putrinya memasuki ruangan dengan kursi roda. Rayyan terkejut lalu berlari dan menerobos masuk tanpa izin.


"Risa." Rayyan membuka pintu dengan kasar lalu menghampiri dan bersimpuh meraih kedua tangan Raisa dengan wajah khawatir. Namun alangkah terkejutnya, Rayyan lalu melepaskan genggamannya ketika menyadari bahwa itu adalah Raisa.


"Ma-maaf." Rayyan mundur lalu menoleh pada Rahma.


"Tak apa." Jawab Raisa dengan tenang.


Mama tersenyum tipis melihat putrinya yang berbesar hati merelakan Rayyan dengan adiknya. Padahal Raisa sendiri tahu siapa nanti yang akan di jodohkan dengan Rayyan. Raisa sudah melihat sendiri isi surat perjanjian yang mungkin sudah lama dibuat. Terdapat tanda tangan kedua belah pihak menandakan bahwa ada persetujuan yang mutlak diantara keduanya.


"Nak... bolehkah mama minta tolong." Ucap mama pada Rayyan yang masih mematung.


"Minta tolong?" Tanya Rayyan menyernyit heran. Pikirnya jangan sampai berhubungan dengan Raisa.


"Tolong jaga Raisa dulu. Mama mau menyusul ayah ke ruangan Dimas."


"Ta-tapi tante.. saya..."


"Tak apa... Rais ataupun Aris sama saja. Sama-sama anak mama." Ucap Rahma kemudian berlalu meninggalkan Rayyan dan Raisa berdua. Rayyan terlihat sangat gelisah.


"Maaf.." lirih Raisa menunduk lesu.


"Apa Risa baik-baik saja?" Tanya Rayyan yang menghindari kontak mata dengan Raisa.


"Iya.. dia baik-baik saja." Setelah itu tak ada lagi kata yang terlontar. Keduanya diam tak bicara sepatah katapun.


"### Kau... benar-benar mencintainya?" Tanya Raisa dengan ragu.


"Mengapa bertanya? Apa meragukan bagimu?"


"Ti-tidak. Aku hanya ingin memastikan."


"Memastikan? Apa perasaanku tak bisa membuatmu percaya? Jika aku tak ingin kehilangannya, menurutmu apa artinya?" Raisa terdiam tak berani membalas dan berdebat dengan Rayyan.

__ADS_1


"Mengapa mamamu lama sekali?" Rayyan berdecih dengan gelisah. Takut jika Arisa tiba-tiba datang dan melihat mereka berdua. Meskipun tak melakukan apa-apa, tapi Rayyan tetap merasa tak nyaman dengan situasinya.


Raisa mencoba beranjak dari kursi rodanya hendak naik ke tempat tidur. Namun karena tubuhnya masih lemas, keseimbangannya tak stabil hingga Raisa terhuyung hampir terjatuh. Namun sebuah tangan menahan Raisa agar tak terjatuh.


"Rayyan." Ucap Raisa pelan. Rayyan lalu menggendong Raisa dan berniat menidurkannya di ranjang. Namun sebuah kesialan memang sedang menimpa Rayyan, Arisa membuka pintu saat Rayyan tengah memeluk Raisa. Dengan cepat Rayyan menarik diri dan menghampiri Arisa mencoba menjelaskan yang sebenarnya. Namun, sampai Raisa terjatuh dan Arisa mengabaikannya. Rahma dan Yugito yang salah faham memarahi Arisa sampai Arisa keluar dari ruangan dengan menangis. Namun lagi-lagi Rayyan mendapati pemandangan yang tak ingin di lihatnya. Tak lain, Arisa yang memeluk pria lain dengan menangis tersedu-sedu.


"Sesakit itukah sampai Risa menangis dipelukan orang lain." Gumam Rayyan tak bisa memalingkan wajahnya dari Dimas. Sampai Tio datang dan Arisa tak sadarkan diri.


. "Mama seperti itu lagi." Tio berdecih memalingkan wajahnya.


"Apa maksud kakak?" Rayyan menyernyit tak mengerti dengan yang dikatakan Tio.


"Tidak.... aku hanya berharap hanya Rama saja yang pernah terbebani oleh Aris." Rayyan semakin menyernyit bahkan beberapa kali memalingkan wajahnya untuk sekedar berpikir.


"Sudah jangan dipikirkan. Aris tak merepotkan. Aku hanya becanda. Tapi jujur aku terkesan padamu. Kau bisa membuat Aris berhenti, oh bukan. Maksudku... Aris tampak tak terlalu memikirkan Rama sejak kau terang-terangan menyatakan kalian pacaran." Tio menepuk bahu Rayyan dengan penuh kagum.


"Memang itu tujuanku kak. Awalnya aku hanya penasaran padanya karena sikap dinginnya. Tapi... ada sesuatu yang lebih membuatku tertarik, dan berusaha ingin membahagiakannya." Rayyan tersenyum tipis seraya menunduk lalu kembali menoleh pada Tio.


"Aray... aku harap kau bisa, bahkan lebih bisa membuat Aris bahagia setelah Rama. Bukan aku tak menghargaimu dengan bercerita tentang masa lalunya, tapi itu yang aku saksikan. Dan mungkin tak ada salahnya aku menceritakan kisah tentang Aris." Rayyan terdiam tak menanggapi. Namun melihat sikapnya yang penasaran, bisa dipastikan bahwa Rayyan tertarik mendengarkan cerita Tio.


"Aris yang dulu sangat kesepian karena ayah dan mama lebih memperhatikan Raisa. Itu bukan tanpa alasan, Raisa sakit. Sama dengan Aris. Kanker. Dan mungkin karena ketakutan kehilangan Raisa, mama mengabaikan Aris. Mama hanya tahu bahwa Aris adalah anak yang kuat. Bertahun-tahun Aris selalu sendirian. Sampai akhirnya aku melihat untuk pertama kalinya Aris tersenyum riang saat diketahui berpacaran dengan Rama." 'Deg' lagi-lagi Rayyan merasa sesak mendengar nama Rama.


"Namun itu tak bertahan lama, aku bisa melihat senyum Aris hanya dalam waktu 1 tahun. Rama meninggal karena penyakit kanker juga. Dan saat itu pula, senyum Aris menghilang selama ini. Setelah itu dengan tiba-tiba ditengah sakitnya, Aris selalu tersenyum riang didepanku. Tapi itu tak menutup kenyataan bahwa dia sedang menghadapi masalah serius. Kanker hati stadium 3. Berita tiba-tiba yang membuatku berhenti bernafas. Dan seakan membuat jantungku berhenti berdetak. Aku tak bisa membayangkan hidupku tanpa Aris." Tio sesekali melirik kearah Rayyan yang serius mendengarkannya tanpa menyela.


"Jadi benar apa yang bunda katakan tentang mereka. Jadi, Raisa yang mengidap penyakit, dan Risa yang dianggap kuat." Gumam Rayyan.


"Aku berjanji kak." Rayyan mengangguk pelan dengan penuh semangat. "Tapi aku masih ragu kak. Apa nantinya aku dan Risa memang bisa bersama?"


"Dari bicaramu aku yakin kau sudah membaca surat perjanjiannya." Rayyan terbelalak menatap tajam pada Tio.


"Aku tahu Rayyan. Sebelum kau bisa membaca pun, aku yang menjadi saksi ayahku dan om Danu menandatangani surat itu." Ucap Tio seakan tahu apa yang dipikirkan Rayyan.


"Kenapa kau tak menghentikan mereka?"


"Kau pikir aku akan tahu masa depan? Jika saja aku tahu bahwa yang kau sukai itu Arisa, mungkin saja aku akan membuat ayah membatalkan perjanjiannya. Lagi pula, saat kau kecil, kau sangat lugu. Aku pikir kau akan setuju berdampingan dengan siapapun." Tio tersenyum mengejek pada Rayyan.


"Tapi sepertinya ayahmu tak keberatan jika perjodohan kau dan Raisa dibatalkan." Ucap Tio kemudian.


"Aku rasa begitu." Rayyan menunduk dengan wajah sendu.


"Bukankah kau buru-buru? Kau kesini membeli obat untuk adikmu kan?" Rayyan menepuk dahinya. Mengapa dirinya sampai lupa bahwa Seina membutuhkan obat ini.


"Kak. Aku pulang dulu. Katakan pada Risa aku mencintainya. Dan aku akan menemuinya nanti." Ucap Rayyan bergegas beranjak dengan terburu-buru. Tio hanya menggeleng melihat Rayyan yang berjalan cepat sesekali berlari kecil menyusuri lorong-lorong.


. "Daf... kau mencintaiku kan?" Tanya Arisa masih dengan pertanyaan yang sama.

__ADS_1


"Aris... sudah. Apa yang kau bicarakan dari tadi?" Daffa mendelik kesal. Meskipun dirinya jujur, Arisa tak akan pernah menjadi miliknya.


"Kita pacaran." Cetus Arisa menatap harap pada Daffa.


"Aris... ini bukan lelucon." Daffa masih mendelik kesal.


"Atau kau rela aku dengan kak Bayu?"


"Aris cukup.!" Bentak Daffa yang beranjak dari duduknya. Arisa membisu seketika dengan air mata yang kembali berderai di pipinya.


"Aku tak tahu apa maksudmu, apa maumu, dan apa masalahmu. Untuk apa Aris? Untuk apa aku mencintaimu, tapi aku tak sepenuhnya memilikimu. Mungkin iya kau bisa menjadi pacarku. Tapi apa hatimu benar-benar untukku?" Arisa terdiam menghela nafas berat.


"Daf... aku mulai mencintai Aray. Aku mulai takut kehilangannya. Aku mulai tak rela jika Aray dengan orang lain." Arisa mengusap wajahnya perlahan sambil terus terisak kecil.


"Lalu kenapa kau ingin meninggalkannya?"


"Sebelum perasaanku dan Aray semakin dalam, aku ingin mengakhiri semuanya."


"Lalu bagaimana dengan Sein? Dia menyayangimu. Dan bunda juga."


"Bukankah aku dan Raisa sama saja?"


"Tidak Aris. Kalian tak sama. Semirip apapun kalian, tetap saja kalian adalah orang yang berbeda." Arisa kembali tertegun. Masih ada orang yang membedakan mereka.


"Terima kasih Daf... tapi sebaiknya kau pulang. Aku ingin sendiri." Daffa menyernyit dengan Arisa yang tiba-tiba mengatakan itu.


"Aris..."


"Daf.... aku ingin sendiri." Daffa semula terdiam lalu perlahan berjalan meninggalkan Arisa.


"Apa yang akan dia lakukan?" Gumam Daffa yang terdiam sebelum menutup pintu.


. Beberapa hari berlalu, setiap harinya, Arisa hanya menghabiskan waktu dengan laptop ditempat tidur. Bahkan kunci balkon pun masih disita oleh ayahnya.


Suatu ketika, Arisa mendatangi Yugito di ruang tengah.


"Ayah... apa kunci balkon sudah bisa aku ambil? Aku berjanji tidak akan macam-macam." Arisa mengangkat dua jari dengan serius.


"Ada di laci meja kerja ayah." Jawab Yugito setelah menghela nafas panjang.


Arisa bergegas keruang kerja dan mengambil kunci dengan gantungan hati berwarna merah terang.


Ketika hendak melangkah, Arisa terfokus pada sebuah kertas yang sedikit menunjukan ujungnya saja karena tertimpa buku di rak yang paling bawah. Akta kelahiran dengan nama Nadhira Permata Putri. Dan dengan nama ayah yang sama dengan ayahnya.


"Apa maksudnya ini?" Arisa gemetar menatap kertas ditangannya.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2