TAK SAMA

TAK SAMA
101


__ADS_3

. Arisa mengejar kemana Wina pergi, namun ia tak kunjung menemukan teman karibnya itu. Setelah ia lelah mencari, Arisa bersandar di sebuah tembok yang ia sendiri tak menyadari di baliknya ada Wina yang bersembunyi. Wina yang hendak beranjak karena berpikir Arisa sudah pergi, mengurungkan niatnya saat mendengar suara isak tangis yang terdengar pelan.


"Wina..." lirihnya disela isak tangis yang semakin keras. Wina hanya terdiam bersandar dengan hati yang seakan membeku. Ia merasa tak sedikitpun tersentuh oleh tangis Arisa karena mencarinya. Ucapan kemarin masih jelas terngiang di telinga Wina sampai sekarang.


"Apa yang kau tangisi Aris? Bukankah ini yang kau mau? Kau sudah benar-benar tak menginginkan kehadiranku." Gumam Wina masih tak merasa iba pada Arisa.


"Aris..." panggil Tio dari jauh. Wina tersadar dan merasa terkejut karena mungkin ia akan ditanyai langsung oleh Tio mengapa Wina sampai menjauhi Arisa.


"Sedang apa disini?"


"Aku mencari Wina kak...."


"Wina?"


"Iya... dia pergi saat melihatku. Dia seperti marah padaku kak."


"Marah? Jangan salah sangka Aris. Wina itu sangat peduli padamu."


"Buktinya dia menghindariku."


"Sudahlah. Sebaiknya kau ke kantor Pratama. Atau Rayyan akan menghukummu karena terlambat." Ucap Tio yang membawa Arisa berlalu menjauhi tempat itu.


"Aku ingin bertemu dengan Wina kak."


"Sut... sudah... nanti kakak bicara padanya."


"Tapi...."


"Jangan banyak tapi. Nyawamu lebih penting sekarang. Jika kau terlambat, habis kau di makan Rayyan."


"Ihhh kakak.... memangnya Aray harimau?"


"Memang iya kan?"


"Dia macan. Bukan harimau."


"Ehhh kau mengatai dia? Wahhhh kakak adukan ya.... tunggu saja nanti kau benar-benar di makan olehnya."


"Silahkan saja. Aku tidak peduli. Tidak mungkin berani berurusan denganku."


"Benarkah? Siapa?"


"Clara."


"Dan kau cemburu?"


"Tidak."


"Hemmmmm"


"Ishhh kakak... sudahlah. Aris pergi."

__ADS_1


"Ya sudah hati-hati ya..." Tio mengantarkan Arisa sampai depan gedung dan membiarkan Arisa di antar mang Ujang untuk berangkat ke perusahaan Pratama. Dari jauh, Wina menatap kepergian Arisa dengan tatapan datar dan seakan tanpa ada kehangatan sedikitpun.


Saat Tio berbalik dan mendapati Wina tengah melamun tak jauh dari area lift. Tio semakin heran dan penasaran apa yang di pikirkan Wina karena sepertinya gadis ini tak menyadari kehadirannya.


"Wina." Tegur Tio membuyarkan lamunan Wina seketika.


"Eh k-kak Tio." Sahutnya gugup. Tak heran jika Wina memanggil Tio dengan sebutan kakak, karena selain Wina teman Arisa, Tio juga menganggap Wina sebagai adiknya yang memang sangat membutuhkan perhatian dari keluarga. Tio merasa iba pada Wina yang menurut laporan dari bawahannya Wina tak memiliki keluarga, dan ia hanya seorang anak panti yang bertahan hidup sendiri. Selama kuliah pun Arisa turut serta dalam administrasi kuliah Wina tanpa keluarga Putra tahu kebenarannya. Uang saku Arisa yang dianggap cukup untuk biaya semester Wina, selalu Arisa sisihkan agar bisa membantu Wina tanpa membebani orang lain lagi.


"Kau melamunkan apa? Tadi Aris mencarimu. Dia bilang kau menjauhinya. Kenapa? Ada masalah?" Tanya Tio beruntun semakin menundukkan pandangan Wina. Perlahan Wina menghela nafas dalam dan menghembuskannya dengan pelan.


"Aris sendiri yang ingin jauh dariku kak. Dan memang sudah seharusnya Aris tak terlalu dekat denganku. Aku hanya orang luar dan harusnya Raisa yang lebih dekat dengan Aris." Mendengar jawaban Wina, Tio menyernyit mencoba mencerna maksud dari jawaban itu.


"Apa Raisa mengancammu?" Dengan cepat Wina menggeleng kasar menampik pertanyaan yang diluar pikirannya.


"Ti-tidak kak."


"Kenapa gugup? Jawab jujur!"


"Sungguh kak. Raisa tidak mengancamku."


"Lalu?"


"Aku mendengar, Aris berjanji pada Raisa bahwa dia tak akan terlalu dekat denganku lagi. Karena jika itu masih terjadi, Raisa akan merasa tersisihkan. Aku siapa? Raisa saudari kembarnya, tapi Aris dekat denganku, apa itu tak melukai hati Raisa?"


"Dan kau begitu saja menjauhi Aris? Kau sudah tak peduli pada Aris?"


"Iya. Sebaiknya begitu."


"Lalu, apa yang membuatmu menangis jika memang kau tak peduli lagi pada Aris?" Wina tersentak lalu meraih wajahnya. Dan benar saja, ia mendapati embun yang sudah mengalir di pipinya.


"Maaf kak." Lirih Wina masih terisak didepan Tio.


"Sudahlah. Sebaiknya kau kembali ke tempatmu, sebentar lagi jam kerja dimulai." Ucap Tio yang menepuk bahu Wina seraya menenangkan sebelum dirinya berlalu meninggalkan Wina yang sudah mulai tenang.


. Arisa berlari memasuki lift, dan beberapa kali ia melirik jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 08:02.


"Ah sial... laporan kemarin belum siap." Gerutunya kesal sendiri. Ia kembali berlari sesaat setelah pintu lift terbuka. Ia menyimpan tas nya di dekat komputer mejanya, lalu meraih sebuah map dan segera membuka pintu ruangan Rayyan.


"Maaf Aray aku terlam...... bat... eh?" Matanya membulat dan lidahnya mendadak kelu melihat pemandangan menyesakkan di pagi hari.


"Ehh kak Arisa. Baru sampai?" Tanya Clara yang lanjut menyelesaikan acara memasangkan dasi Rayyan. Yang membuat Arisa sesak adalah Rayyan yang begitu nyaman berada di dekat gadis lain. Seketika Arisa berpikir, apakah kemarahan Rayyan tempo hari hanya sandiwara saja? Dia tidak benar-benar mencintainya. Dan apa arti ungkapan cinta yang Rayyan ucapkan dengan putus asa kemarin?


"Maaf mengganggu." Ucap Arisa kembali menutup pintu dengan pelan. Mata Rayyan menyipit tak percaya jika Arisa tak merasa cemburu sedikitpun pada Clara. Padahal mereka sudah begitu dekat dan bisa saja adegan ini akan membuat Arisa cemburu dan bahkan bisa saja membuatnya marah dengan melemparkan sesuatu ke dinding, atau membanting pintu dengan kasar. Namun, Rayyan merasa kecewa dengan reaksi Arisa yang biasa saja.


Rayyan melepas paksa tangan Clara yang mulai meraba ke sembarang arah dan semakin membuat Rayyan kesal. Clara sedikit menjauh saat mendapati tatapan Rayyan yang begitu tajam menatapnya. Rayyan beranjak dan membuka pintu dengan kasar dan mendapati Arisa yang tengah fokus pada layar komputer didepannya. Dan dengan tanpa ada ekspresi lain, Arisa menoleh pada Rayyan yang berdiri di ambang pintu dengan menatap kearahnya.


"Ada yang anda inginkan tuan?" Tanya Arisa sopan.


"Kau." Jawabnya singkat dan berhasil membuat Arisa menyernyit heran.


"Maksud tuan?"

__ADS_1


"Aku hanya menginginkanmu RISA.!" bentak Rayyan mengejutkan Arisa.


"Apa maksud tuan?" Arisa mengulang pertanyaannya membuat Rayyan kembali merasakan emosinya naik seketika.


"Kau tidak mengerti?" Arisa menggeleng menanggapi kemarahan Rayyan. Segera Rayyan menarik tangan Arisa dengan kasar hingga Arisa sendiri meringis kesakitan.


"Aray.. sakit. Kumohon berhenti." Rengeknya mencoba melepaskan diri dari Rayyan yang ia sendiri tak tahu akan di bawa kemana. Adegan ini terlintas kembali di benak Arisa dimana saat ia ditarik kasar oleh Rayyan saat hari pertama Rayyan pindah kampus.


"Rayyan berhenti.!" Teriak Arisa memaksakan berhenti dan menarik kasar tangannya agar terlepas dari Rayyan.


"Kau berubah Risa." Lirih Rayyan yang enggan membalikkan tubuhnya dan memilih membelakangi Arisa.


"Aku tak tahu apa yang kau pikirkan."


"Iya. Karena kau sudah berbeda. Kau sudah tak mencintaiku lagi."


"Untuk apa Aray? Kau sudah memiliki Clara. Kau pikir aku wanita apa?"


"Aku hanya milikmu. Dan kau hanya milikku. Camkan itu Risa." Tegasnya kemudian berlalu meninggalkan Arisa yang mematung di tempatnya. Hatinya terasa begitu sakit, hingga ia meraih dadanya dengan hati-hati. Ia berusaha sekuat tenaga agar tak menangis disana.


. Waktu berlalu, dan Arisa sudah tak lagi bertegur sapa dengan Rayyan selain urusan pekerjaan. Keduanya sangat profesional menjalankan proyek yang diberikan Danu. Hingga suatu hari, Danu meminta Arisa untuk menemuinya di ruangannya.


"Untuk merayakan kesuksesan proyek yang aku percayakan pada kau dan Rayyan, aku mengundangmu untuk makan bersama di rumahku. Istriku sangat ingin bertemu denganmu."


"Nyonya? Ke-kenapa nyonya ingin bertemu dengan saya?"


"Bunda. Panggil saja bunda. Dulu kau selalu memanggilnya begitu."


"Ma-maaf. Saya masih belum terbiasa."


"Tak apa nak. Aku mengerti." Ucap Danu memaksakan senyumnya yang jelas tak ingin ia tunjukkan pada Arisa. Ia hanya ingin tersenyum begitu tulus didepan calon menantunya ini.


. Sampai malam tiba, Arisa ikut turun dari mobil Danu dan ia mengikuti langkah Danu dari belakang. Terlihat seorang wanita yang menunggu kedatangan mereka didepan pintu.


"Aris...." ucapnya meraih wajah Arisa lalu mencium dan memeluknya begitu erat. Arisa merasakan sebuah kerinduan yang teramat dalam.


"Putriku... kau kemana saja?" Lirih Sonya semakin erat memeluk Arisa. Arisa terhenyak mendengar suara yang membuatnya membeku. Rasanya begitu familiar namun ia sendiri tak tahu siapa.


"Bunda..." balas Arisa tak kalah lirih dengan membenamkan wajahnya di bahu Sonya.


"Kau mengingat bunda?" Namun Arisa tak menjawab pertanyaan itu, ia hanya memeluk Sonya semakin erat membuat Sonya sendiri terhanyut dalam kehangatan Arisa malam ini.


"Kakak putri." Panggil Seina kini terdengar kalem. Tak seperti dulu yang berlari sambil berteriak jika memanggil Arisa.


"Sayang..." sambut Arisa beralih memeluk Seina. Rayyan hanya mematung menyaksikan momen haru di depan matanya yang ia sendiri berpikir mustahil jika Sonya bisa kembali memeluk Arisa.


"Kau masih menjaga kalungnya?" Tanya Sonya dengan nada pelan. Sontak Arisa meraih kalung Phoenix yang selama ini ia pakai tanpa tahu itu kalung apa.


"Saya tidak tahu mengapa saya terus menjaga kalung ini. Mungkin sebelum kecelakaan, saya tahu alasannya. Tapi selama empat tahun ini saya hanya bertanya-tanya ini kalung apa, dari siapa, dan simbol apa?" Mendengar keluhan menantunya, Sonya menarik senyum tipis di bibirnya.


"Itu adalah kalung keluarga kami untuk menantu istimewa kami." Jawab Sonya membuat mata Arisa membulat.

__ADS_1


"Me-menantu?"


-bersambung


__ADS_2