TAK SAMA

TAK SAMA
81


__ADS_3

. "Fabio. Apa yang kau lakukan pada adikku?" Tanya Reza yang meraih Arisa lalu menatap tajam pada Fabio.


"Kau mungkin sudah tahu jawabannya. Aku akan membawanya pulang." Arisa menggeleng kasar sambil menutup wajahnya yang masih menangis.


"Tanpa kau pulang juga, keberadaan mu akan aku publik kan sekarang." Ucap Fabio meraih ponselnya lalu dengan cepat Arisa berlari dan hendak meraih ponsel Fabio. Namun karena refleks, Fabio menepis tangan Arisa dan tak sengaja mendorong tubuh Arisa hingga dadanya tertekan keras oleh tangan Fabio. Nafasnya tersenggal seketika dan Arisa ambruk sambil meraih dadanya yang sakit tak tertahan.


"Ku--mo-hon... ja-ngan." Lirihnya yang masih berusaha meraih Fabio. Fabio mematung dan menjatuhkan ponselnya lalu segera meraih Arisa yang menatapnya dengan tatapan memohon agar Fabio tak menyebarkan kabarnya yang masih hidup. Melihat Arisa yang terbatuk dan meringis kesakitan, Fabio semakin panik dan memeluk erat tubuh Arisa yang mulai terlelap.


Terdengar gumaman pelan sebelum Arisa benar-benar tak sadarkan diri.


"Ja-ngan... beri-tahu... ughhhh... sa-kit....."


"Arisa.... bangunlah. Maafkan aku." Ucap Fabio yang mengguncangkan tubuh Arisa dengan semakin panik.


"Fabio. Cepat kita bawa ke rumah sakit." Reza tak kalah panik mengingat kondisi kesehatan Arisa yang terhitung masih tak stabil karena cangkok hati yang pernah dialaminya.


Dengan cepat, Fabio dan Reza bergegas menuju rumah sakit dan pemandangan itu sukses membuat seisi kantor merasa heran pada kepanikan Fabio dan Reza saat membawa Arisa yang tengah terlelap.


Fabio tak henti-hentinya menyalahkan diri atas apa yang ia lakukan pada Arisa.


"Kenapa aku yang membuatmu seperti ini? Aku ingin membawamu pulang karena aku ingin melihatmu bahagia. Kumohon... jangan terjadi apa-apa. Aku berjanji padamu, aku tak akan memberitahu keluargamu jika kau baik-baik saja." Batin Fabio meraih tangan Arisa dan ia letakkan di pipinya, sesekali ia mengecup telapak dan punggung tangan Arisa. Bahkan ketika sampai di rumah sakit, Fabio tak henti-hentinya mondar-mandir tak karuan. Ia terlihat lebih gelisah dari Reza.


"Za...." panggi Zain yang berlari menghampiri Reza. "Bagaimana?" Tanya Zain yang terengah karena berlari.


"Masih diperiksa." Jawab Reza bersandar pada tembok lalu memejamkan matanya perlahan. Bukan ia tak peduli, namun ia mencoba untuk tenang dan hati yang terus berdoa agar Arisa baik-baik saja. Tak lama, dokter keluar dan segera Fabio menghampiri sebelum Reza.


"Dengan keluarga pasien?" Tanya dokter pada Fabio.


"Saya kakaknya dok." Jawab Reza menyela saat Fabio hendak menjawab pertanyaan dokter.


"Kondisi pasien sudah membaik. Tapi harus lebih hati-hati lagi pada bekas jahitan yang ada di dadanya. Meskipun sudah lama, tapi kita tidak tahu kondisi dalamnya bagaimana." Jelas dokter yang beralih menatap Reza.


"Apa saya boleh melihatnya dok?" Tanya Reza kini berada disamping Fabio.

__ADS_1


"Silahkan.!" Dokter memberi jalan pada Reza, dan seakan menyuruh Fabio untuk ikut masuk karena sikap Fabio yang lebih gelisah dari pada yang lain.


Fabio segera menyusul Reza dan memastikan bahwa Arisa memang baik-baik saja.


Terlihat Arisa sudah membuka mata dan menatap harap pada Fabio yang menatapnya dengan datar. Arisa tak tahu bahwa Fabio kini tengah khawatir padanya dan berharap untuk keselamatannya.


"Kak Fabio..." rengek Arisa kembali berkaca-kaca karena ketakutan akan hal yang Fabio lakukan karena menemukannya. Arisa mencoba bangkit dan duduk lalu meraih tangan Fabio seraya menunduk lesu.


"Aris mohon. Jangan beritahu siapapun bahwa Aris disini. Aris akan melakukan apa saja asal kakak membantu Aris. Aris bersedia jika harus menikah dengan kakak disini sekarang. Aris juga tak akan pergi lagi dari hidup kakak. Aris janji akan berada disamping kakak. Tapi hanya satu hal saja yang Aris inginkan." Ucapnya semakin menunduk dan terdengar ia terisak semakin keras.


"Semudah itu? Tidak. Dia mau bersamaku karena terpaksa. Dia tidak benar-benar menginginkanku. Dia hanya takut aku memberitahu keluarganya bahwa dia belum mati. Kau pikir hatiku apa Arisa?" Batin Fabio menatap tajam wajah Arisa dengan mata semakin menyipit dan menahan amarahnya. Ya, saat ini Fabio sangat marah karena Arisa tak bisa mencintainya.


"Kak Reza... bantu Aris untuk mempersiapkan pernikahan Aris dengan kak Fabio." Ucap Arisa beralih menatap Reza yang menatapnya tak kalah datar dari Fabio.


"Apa rasa takutnya sebesar itu? Sampai ia bersedia saja menikah dengan iblis ini. Cihhh murahan sekali. Dia memberikan dirinya hanya karena takut keberadaannya diketahui keluarganya." Batin Reza mendelik memalingkan pandangannya dari Arisa.


"Cukup Arisa.... aku tak akan menikahimu jika kau tak mau. Berhenti bicara. Aku tak akan menerima tawaran konyolmu itu." Ucap Fabio mencengkram kedua bahu Arisa dengan kuat.


"Apa dia tidak sadar Fabio mencintainya?" Gumam Reza menghela nafas berat sambil menutup pintu dengan rapat.


"Kak... jika memang pernikahan jalannya, yasudah kita menikah saja sekarang." Rengek Arisa semakin erat menggenggam tangan Fabio di pundaknya.


"Untuk apa? Untuk apa jika kau tak menginginkanku hah?" Fabio setengah berteriak menahan diri agar tidak berisik namun ingin meluapkan emosinya. Matanya memerah menatap tajam pada Arisa yang tak henti menangis sendu didepannya.


"Cih... kenapa aku malah mencintainya. Rencanaku yang ingin menguasai Yugito tiba-tiba hilang. Aku malah ingin menemaninya. Padahal, jika perusahaan Artaris sudah aku kuasai, seluruh keluarga Yugito akan aku buang tanpa terkecuali. Tapi ini, melihatnya yang seperti ini membuatku tak bisa apa-apa. Siapa dia? Kenapa hanya dia yang membuatku merasa hal yang sangat aku benci. Aku benci jatuh cinta. Berani sekali gadis ini membuatku merasakannya." Batin Fabio terus berkecamuk bersamaan dengan tangis Arisa yang tak kunjung mereda.


Perlahan Fabio melepaskan cengkramannya lalu mengusap pelan wajah Arisa yang berderai air mata.


"Sudahlah. Apa yang kau tangisi. Aku tak akan memberitahu keluargamu." Ucap Fabio dengan suara yang datar.


"Apa syaratnya?" Tanya Arisa lirih namun masih enggan menatap pada Fabio.


"Tanpa syarat apapun. Jika kau tak mencintaiku, aku tak akan memaksamu menikah denganku." Jawab Fabio masih dengan suara datar.

__ADS_1


"Apa aku bisa mempercayaimu?" Kini Arisa berani mendongak dan bertatapan dengan Fabio.


"Apa wajah dan ucapanku tidak bisa kau percaya?" Fabio balik bertanya dengan menyipitkan matanya seakan menunjukkan bahwa ia tersinggung.


"Janji? Apapun yang terjadi padaku disini, kakak tak akan memberitahu siapapun tentangku."


"Aku janji. Tapi jika kau masih tak percaya, aku bisa menyayat tanganku untuk meyakinkanmu bahwa aku tidak bercanda." Arisa terbelalak lalu meraih lembut tangan Fabio.


"Jangan bicara seperti itu. Terluka itu menyakitkan. Yang berdarah, atau pun yang tidak. Semua kata luka itu sungguh menyakitkan." Lirih Arisa menatap lekat pada Fabio.


"Aku merasakannya sekarang. Dan kau lah penyebabnya." Seketika Arisa terkejut dan memalingkan wajahnya karena ucapan Fabio. "Tapi aku sadar. Posisi Rayyan lebih istimewa dihatimu dari pada aku. Bahkan kau sendiri yang meninggalkanku saat aku ingin membuktikan keseriusanku. Bukan lagi untuk niat jahatku, tapi aku memang ingin hidup bersamamu." Arisa semakin merasa sesak mendengar setiap kata yang diucapkan Fabio.


Tanpa menunggu tanggapan Arisa, Fabio beranjak dan berlalu dengan wajah tanpa ekspresi meninggalkan Arisa sendiri.


Mendengar nama Rayyan semakin membuat Arisa putus asa. Ia menebak bahwa sekarang mantan pacarnya itu sedang bahagia atas pernikahan mereka. Arisa menjambak rambutnya sambil terisak dengan keras membuat Reza panik saat membuka pintu.


"Apa yang kau lakukan?" Dan saat itu juga, Arisa memeluk Reza dengan erat lalu kembali menangis tersedu-sedu.


"Kenapa bukan aku yang mati kak? Kenapa malah Nadhira dan Citra? Jika saja hidupku akan seperti ini, aku ingin mati saja. Andai saja Nadhira tidak memberikan hatinya padaku, mungkin kalian sedang bahagia menjalani hidup kalian dan menghabiskan waktu bersama. Sedangkan aku, aku hidup tak berarti seperti ini. Untuk apa kehidupanku ini kak?" Reza hanya mematung tak menanggapi celotehan Arisa yang sudah ia anggap sudah keluar batas. Hatinya sudah mulai luluh karena Arisa sangat menyayanginya seperti pada Tio. Padahal Arisa sendiri sering mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari Reza. Reza tak membalas pelukan Arisa, ia hanya mengelus kepala Arisa dengan pelan sambil menenangkan tangisnya.


"Jangan pergi. Kakak menyayangimu. Kau satu-satunya adik yang kakak punya." Seketika itu, Arisa terhenti menangis karena baru pertama kali ia mendengar pengakuan Reza secara langsung dan menyebut dirinya sebagai kakak dan menganggapnya adik.


"Jika kau pergi, kau sama saja dengan Nadhira. Lalu, siapa yang akan menemani kakak disini jika kau tak ada." Arisa semakin tersentuh mendengar pengakuan yang Reza ucapkan lagi.


. Beberapa hari setelahnya, Arisa tak mendapati keberadaan Fabio dan kabarnya pun ia tak tahu. Namun, Fabio menepati janjinya untuk tidak memberitahu siapapun tentang keberadaannya. Jika Fabio melakukannya, sekarang pasti sudah banyak yang menjemputnya pulang.


Suatu hari, lambung Arisa kambuh saat bekerja membuat Zain turun tangan dan memberi perhatian pada Arisa secara terang-terangan. Hal itu membuat pacar Zain yang bekerja satu departemen dengan Arisa menjadi cemburu dan berdampak buruk pada Arisa sendiri. Ia di cap sebagai wanita perusak hubungan orang lain karena hal ini. Hingga Zain menegaskan pada Vera bahwa dirinya dan Arisa tidak mempunyai hubungan apa-apa. Namun, Vera tidak percaya dan malah terus menyalahkan Arisa.


Arisa yang memang memiliki sifat pendiam dan dingin, ia lebih memilih untuk tidak menanggapi gosip miring tentangnya. Setiap Vera bersikap tak menyenangkan, Arisa hanya menganggapnya sebagai angin lalu saja.


. Suatu malam, seseorang mengetuk pintu apartemen milik Arisa. Ia bergegas membuka karena ia berpikir bahwa itu adalah Reza dan Sarah yang berkunjung. Namun, ia mematung ketika mendapati siapa yang ada di depannya saat ini. Bagaimana bisa Fabio tahu dengan apartemennya?


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2