
. "Bukan aku." Ucap Fabio yang duduk santai dengan kaki bersilang seakan acuh pada dua orang yang datang menemuinya langsung ke perusahaan. Meskipun hatinya puas, namun Fabio terus menyembunyikannya dengan sikap dinginnya.
"Tidak mungkin jika itu kebetulan Fabio." Geram Seno yang beranjak dan hendak menghampiri Fabio, namun Arisa segera menenangkan Seno agar tak bertindak sembrono.
"Kak... aku hanya ingin memastikan saja. Maaf jika mengganggu waktu kakak." Ucap Arisa menarik ujung baju Seno dan berniat meninggalkan ruangan itu.
"Bawahanku yang memukulinya. Aku hanya mengancamnya saja." Sontak, Seno dan Arisa terhenti, lalu keduanya berbalik bersamaan kembali menghadap pada Fabio.
"Jadi benar? Kenapa kau melakukan itu? Bisa saja itu akan mempersulit kami nanti di pengadilan." Seno masih tak bisa menahan emosinya yang meluap. Beberapa kali ia mencoba ingin menyerang Fabio, namun Arisa terus menahannya.
"Hanya meluapkan kekesalanku saja. Karena dia sudah berani membuat Arisa sampai seperti itu. Tapi, mendengar Haidar tak lagi macam-macam padamu, membuatku sangat lega. Dia mendengarkan ancamanku ternyata." Lanjut Fabio namun Arisa tak menanggapi lebih jauh. Ia memilih untuk berlalu meninggalkan Fabio di ruangannya.
. Di jalan, Seno masih diam dan tak ingin memulai percakapan dengan Arisa. Melihat Arisa yang seakan kembali ke mode dinginnya, rasanya terasa kembali ke waktu 5 tahun yang lalu.
"Aku tak menyangka kak Fabio sampai melakukan itu." Ucap Arisa secara tak langsung memecah keheningan diantara mereka.
"Mungkin masih cinta." Cetus Seno begitu saja. Namun Arisa malah semakin takut, bagaimana jika Haidar berencana untuk membalas Fabio? Selama perjalanan, Arisa tak lagi bicara. Seno mengantarkan Arisa sampai depan rumahnya karena takut hal kemarin terjadi lagi.
. Hari persidangan sudah tiba, seluruh anggota keluarga Pratama dan Putra hadir tanpa terkecuali. Terlihat Clara berada di sisi yang berbeda, ia menunduk tak berani mengangkat kepalanya untuk memperlihatkan wajahnya. Rasanya tatapan Fabio sangat mengintimidasinya. Fabio sengaja hadir untuk memastikan Haidar tidak mengelak atau bahkan membela dirinya sendiri.
Semua hukuman dan denda sudah di tentukan. Sesuai pasal yang berlaku, Haidar dijatuhi hukuman kurungan penjara selama 5 tahun untuk kasus penculikan, dan 2 tahun penjara untuk hukuman kasus penganiayaan. Namun, atas permintaan Yugito, hukuman penjara di kurangi dan sebagai gantinya, Haidar harus membayar denda atas tindakannya. Sudah di tentukan, Haidar hanya di penjara selama 2 tahun. Sedangkan Clara, kesalahannya ditanggung oleh ayahnya. Meski begitu, ia tak bisa bebas begitu saja. Clara harus bersedia menerima konsekuensinya sendiri dengan hidup yang menjadi sederhana tanpa sedikitpun kemewahan karena semua asetnya sudah di sita akibat denda yang besar, dan saham yang ditarik kembali oleh seluruh rekan bisnis Haidar.
. Hari berganti, Arisa lebih sering menemui Rega di bandingkan Rayyan. Semula Rayyan memaklumi, namun ia merasa Arisa terlalu berlebihan. Sudah 1 minggu terakhir, keduanya sulit untuk bertemu dengan alasan yang di buat Arisa untuk menghindari pertemuannya dengan Rayyan. Suatu ketika, Rayyan sengaja mengikuti Arisa ke rumah sakit. Ia benar-benar dibuat cemburu oleh sikap Arisa yang begitu dekat dengan Rega. Apa lagi saat Arisa menemani Rega di taman. Rayyan yang tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, akhirnya memilih untuk pergi.
"Putri... sudah cukup sampai hari ini saja. Aku takut jika calon suamimu salah faham."
"Tapi..."
"Aku mohon Putri. Jangan bersikap baik lagi padaku. Selain Rayyan yang salah faham, maka aku juga akan salah mengartikan sikap baikmu ini. Aku ingin menghapus perasaanku padamu Put. Jadi, sampai disini saja. Aku juga sudah melupakan perjanjian kita."
__ADS_1
Arisa menunduk kemudian ia kembali menatap Rega dengan menahan tangisnya.
"Apa kakak membenciku?"
"Tidak Putri. Mana mungkin aku membencimu."
"Lantas?"
"Aku hanya membenci pada diriku sendiri. Sudah tahu kau milik orang lain, tapi aku malah terus mengagumimu."
"Kak... apa kau tahu? Melihat kakak, aku seperti melihat Rama." Lirih Arisa semakin sendu.
"Emmm pacarmu yang sudah meninggal dan adiknya dokter Dimas itu?" Arisa terhenyak, bagaimana Rega tahu Rama itu adik Dimas.
"Ahaha aku tahu dari dokternya langsung Putri. Sudahlah jangan memasang wajah begitu."
"Emmm.... aku hanya mendengar tentang sikapmu, cerita pilu, lalu.... penyakitmu." Khusus kata terakhir, nada suara Rega berubah pelan karena takut Arisa tersinggung.
"Dasar dokter yang tak bisa menjaga rahasia." Ucap Arisa menghela nafas berat dan kesal sekaligus. Rega termangu, ia pikir Arisa akan marah padanya.
"Emmm Putri. Jika di bandingkan antara Rayyan dan Rama, siapa yang paling kau cintai?"
"Hem? Siapa ya? Mereka punya cara yang berbeda, dan karena sekarang Rayyan yang bersamaku, maka jawabannya adalah Rayyan."
"Tapi dokter Dimas bilang, kau hanya mencintai Rama meskipun Rama sudah meninggal." Protesnya yang merasa kecewa dengan jawaban Arisa karena tak sesuai dengan dugaannya.
"Mungkin iya, karena perpisahan kita ada di jalan maut, bukan di jalan egois atau salah faham. Jalan ini lebih sulit, bahkan aku nyaris tak bisa mencintai orang lain selain Rama. Tapi, aku berpikir ulang setelah aku menjalani hidupku dengan Rayyan sekarang. Jikalau Rama masih hidup, mungkin karena kita tak di takdirkan bersama, tetap saja Rama dan aku pasti akan berpisah juga. Bagaimana pun jalannya." Jelas Arisa dengan melempar senyum di kalimat terakhirnya.
"Apa Rama seistimewa itu?"
__ADS_1
"Lebih dari istimewa."
"Boleh aku tahu kenapa dia meninggal?"
"Aih... apa Dimas tidak menceritakannya?" Rega menggeleng pelan dengan ekspresi penasarannya.
"Sama denganku. Kanker hati. Tapi aku heran, Rama meninggal, sementara aku tidak. Padahal kita punya penyakit yang sama dan bahkan aku yang lebih parah. Namun, yang lebih menyakitkan bukan kematiannya, tapi kenangan saat bersamanya masih terus menghantui pikiranku. Ahhhh padahal aku ingin menyusulnya. Aku merindukannya." Ucap Arisa.
"Aku sangat penasaran bagaimana orangnya."
"Mau bertemu?" Pertanyaan Arisa berhasil membuat Rega bergidik dan meliriknya dengan kesal.
"Aku harus mati dulu? Iya?" Bukannya menjawab, Arisa malah tertawa lepas melihat wajah konyol Rega.
. Selepas dari rumah sakit, Arisa langsung bergegas menuju kantor Rayyan. Setelah ia mengajukan pertemuan pada resepsionis, seperti biasa tamu selalu di arahkan menuju lantai 6 untuk menunggu atasan tertinggi itu. Sudah lewat 1 jam, tidak biasanya, Rayyan tak kunjung datang. Padahal jika sibuk, Rayyan selalu mengabari Arisa lewat notifikasi pesan atau telepon. Sampai 2 jam pun menunggu, Arisa merasa ada yang ganjil. Ketika ia beranjak dan hendak pergi, terlihat Daffa menghampiri Arisa. Melihat wajah Arisa yang sudah kesal, Daffa mengerti dan ia tak tahu harus membujuk Arisa bagaimana.
"Aris maaf. Dia bilang tidak ingin diganggu." Katanya dengan ragu. Arisa hanya tersenyum ketus menanggapi ucapan Daffa.
"Setelah 2 jam aku menunggu?" Daffa mengangguk lalu menggeleng pelan karena ia benar-benar membeku sekarang. Rayyan yang tak ingin bertemu dengan Arisa yang ia sendiri tak tahu alasannya, dan Arisa yang marah karena sikap Rayyan.
"Apa dia sesibuk itu?" Lirih Arisa dengan wajah berpaling ketika keduanya saling membelakangi.
"I-iya. Mungkin." Jawab Daffa dengan suara yang begitu pelan.
"Katakan pada temanmu, aku menunggu kabarnya malam ini." Setelah mengucapkan kalimat itu, Arisa kembali melangkah meninggalkan Daffa yang masih mematung di tempatnya.
"Maaf Aris."
-bersambung
__ADS_1