
. Paginya, Raisa sudah rapi dan terlihat Rayyan sudah stay di ruang tengah menunggu Raisa turun dari kamar.
"Sudah siap?" Tanya Rayyan beranjak saat mendengar langkah kaki Raisa yang menuruni tangga.
"Aku masih mengantuk." Jawab Raisa dengan menguap dan ditutupi oleh tangannya.
"Itu salahmu. Aku sudah memperingatkanmu untuk tidur lebih awal, tapi kau malah begadang. Dan lebih parahnya, kau tak mendapat informasi apapun."
"Hei... sejak kapan kau jadi cerewet? Apa pendidikan di Amerika bisa membuat orang dingin sepertimu menjadi banyak bicara?"
"Kau mengejekku?"
"Ohh tidak tuan Pratama. Saya mana berani mengejek anda. Saya hanya mengatakan kenyataannya." Rayyan hanya menghela nafas berat seraya berlalu menyusul Raisa ke luar rumah.
"Ayo cepat.... bukankah Oma sudah menunggu?" Ucap Raisa menoleh sesaat.
"Kau yang terlambat, aku yang di omeli." Balas Rayyan dengan suara pelan berharap Raisa tidak mendengarnya.
"Jangan memakiku Aray." Ujar Raisa yang tiba-tiba berhenti di depan Rayyan. Sontak Rayyan mematung seketika mendapat panggilan yang selama ini ia rindukan dari pujaan hatinya.
"Risa...." batinnya yang mendadak mengingat Arisa di benaknya.
. "Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Daffa dengan ragu memperhatikan sikap Wina yang sedikit berbeda. Semenjak ia pulang dari Bandung, Daffa yang selalu bersamanya merasa ada yang di sembunyikan oleh Wina.
"Se-sebenarnya ada. Ta-tapi mungkin belum saatnya untuk memberitahumu. Dan apa aku boleh membuat perjanjian denganmu?" Daffa menyernyit, ia mencoba mencerna setiap kata yang di lontarkan Wina yang menurutnya sangat mencurigakan.
"Apa?" Tanya Daffa ragu.
"Jika nanti ada sebuah kebenaran terungkap, tentang apapun itu, aku ingin kau berjanji padaku bahwa kau tak akan marah."
"Apa kau menyembunyikan sesuatu?" Daffa semakin dalam menatap wajah Wina yang semakin gelisah. Perlahan ia mengangguk menjawab pertanyaan Daffa yang mungkin begitu penasaran dengan apa yang di sembunyikan Wina.
"Baiklah. Tapi aku sendiri tak menjamin akan menepati janji itu jika kenyataannya kau membohongiku."
"Aku tak tahu ini disebut membohongi atau tidak, tapi.... jujur aku belum bisa memberitahumu."
"Aku mengerti. Sekarang, sebaiknya kita bergegas, jam kerja sebentar lagi dimulai." Ucap Daffa beranjak setelah ia melirik jam yang terpasang di tangannya.
__ADS_1
. "Kak... hari ini ada tamu, dari perusahaan B.A Respati Grup. Jam 10, beliau akan membahas kontrak dengan kakak. Emmm maksudku tuan." Jelas Arisa dengan fokus pada agenda Reza ditangannya, sesekali ia melirik kearah Reza, lalu menatap dalam pada nama belakang perusahaan yang menurutnya tak asing.
"Baiklah... kau boleh kembali." Jawab Reza yang memejamkan matanya dengan bersandar pada kursi dan sedikit memutarnya pelan.
"Apa kakak sedang gelisah?" Tanya Arisa yang mengurungkan niatnya untuk beranjak dari tempatnya.
"Jika aku mempertemukanmu dengan keluargamu, apa kau--"
"Aku tidak mau." Ucap Arisa menyela dengan suara tinggi sebelum Reza menyelesaikan kalimatnya. Melihat tatapan Reza yang mungkin bertanya-tanya, Arisa kemudian menghela nafas sejenak dan menunduk perlahan.
"Entah kenapa, aku tidak mau pergi dari sini kak. Beberapa kali aku berpikir aku akan sebahagia apa jika bertemu dengan keluargaku yang selalu di sebut kakak dan bunda, tapi beberapa kali juga sebuah bayangan menyakitkan terlintas di kepalaku. Dan aku tak bisa mengontrol emosiku. Maaf" lirihnya kemudian. Reza terdiam tak menanggapi sampai Arisa berlalu meninggalkan ruangannya.
. Sesuai perjanjian yang di sepakati, Reza hendak menyuruh Arisa untuk menjemput tamu hari ini. Namun diluar dugaan, Reza mendapati Arisa tertidur di mejanya dengan lelap.
"Put..." ucapnya membangunkan pelan.
"Kak Tio.... Aris rindu...." gumamnya dalam tidur membuat Reza terbelalak dan segera membangunkan Arisa dengan tergesa karena berpikir bahwa Arisa sudah mengingat semuanya.
"Putri...." pekiknya membuat Arisa terbangun seketika.
"Ehhh apa? Mana Rama?" Tanyanya terbangun dan menoleh kesana kemari dengan panik sendiri.
"Kak... a-aku minta maaf. Aku mengantuk, jadi tak sadar aku tertidur. Kakak tidak marah kan?" Lirihnya menatap harap pada Reza.
"Aris... jawab aku! Kau sudah mengingat semuanya?" Arisa hanya menyernyit mendapati pertanyaan Reza yang terasa tiba-tiba.
"Haihhh kakak ini kenapa? Aku tidak mengerti. Kakak sendiri tahu aku belum ingat apa-apa." Jawabnya dengan mendelik malas. Melihat sikap Arisa yang masih sama, Reza menghela nafas yang ia sendiri tak tahu itu nafas lega atau kecewa.
"Baiklah... jika kau lelah, tidur saja di ruanganku." Ucap Reza yang di tanggapi anggukan oleh Arisa. Saat Arisa melihat jam di tangannya, ia terkejut karena sudah waktunya Reza meeting dan ia harus menyelesaikan proposal dan perjanjian kontraknya. Karena setelah Reza meeting, Reza harus stay dengan tamu yang di janjikan. Melihat Arisa yang panik tak karuan, Reza kembali menghela nafas berat dan ia tersenyum tipis karena mungkin ini kali terakhir kesempatan untuknya bisa merasakan bagaimana rasanya mempunyai adik.
"Sudah.... jangan panik. Sebaiknya kau temui tamu yang hari ini datang. Dan ingat! Cuci wajahmu dulu. Dasar jelek." Ejeknya membuat Arisa menjadi cemberut manja. Reza hanya terkekeh kemudian berlalu menuju ruang meeting. Sementara itu, Arisa bergegas menuju loby dan menyambut tamu yang di maksud.
Karena ia yang merasa panik sendiri, ia setengah berlari menuju meja resepsionist dan menunggu tamu sambil mengobrol dengan Rina.
"Bu... maaf ya kalau Rina lancang. Tapi serius deh bu. Bu Putri itu rasanya mirip dengan putri tunggal perusahaan Artaris pusat. Atau mungkin bu Putri ini reinkarnasi nona Arisa?" Arisa tersentak mendengar penuturan Rina dan berhasil membuat Rina menunduk dengan rasa bersalah di hatinya.
"Ma-maaf bu saya tidak bermaksud." Ucap Rina lirih dan segera ia menyesali ucapannya.
__ADS_1
Tak lama, terlihat beberapa pria berpakaian rapi di iringi para petugas kantor dan mungkin beberapa orang lainnya adalah pengawal untuk menjaga bos yang berjalan paling depan.
Arisa yang terus fokus pada ponselnya tak menyadari bahwa tamu yang ia tunggu sudah sampai. Kemudian ia merasakan sebuah tangan perlahan meraih bahunya dan sontak ia menoleh kasar ke belakang membuatnya terbentur dada Bayu. Rambutnya sedikit berantakan menutupi wajahnya dan terdengar ia meringis kesakitan sambil memegangi bagian wajahnya.
"Ma-maaf." Lirihnya. Namun bukannya mendapat cacian dari sang tamu, Bayu malah memeluk Arisa dengan erat sambil terisak membuat seisi loby yang melihat merasa heran.
"Ternyata benar kau masih hidup..." lirih Bayu menahan sesak dan semakin erat memeluk tubuh Arisa.
"Menjauh dariku...." teriak Arisa mendorong tubuh Bayu dengan keras sehingga Bayu sendiri melepaskan pelukannya. "Kau pikir aku wanita apa? Jangan karena kau tamu kakakku dan kau punya kekuasaan, kau seenaknya bersikap tidak sopan pada perempuan. Siapa kau? Berani sekali memelukku." Teriaknya masih menahan rasa malu atas adegan yang baru saja disaksikan banyak orang.
"Aris... ini aku Bayu. Kau tak ingat?"
"Bayu siapa? Jangan bersikap seolah kau mengenalku. Jadi kau bisa leluasa menyentuhku. Dasar bajingan.." teriak Arisa masih tak bisa menahan emosinya yang meluap.
"Kau Arisa kan? Tidak mungkin kau tidak mengenalku."
"Aku tidak mengenalmu. Sama sekali.!" Tegasnya kemudian berlalu menuju lift. Bayu dengan cepat mengejar dan menarik tangan Arisa hingga Arisa kembali berhadapan dengannya. Dan 'plak' suara yang begitu nyaring terdengar memenuhi ruangan.
"Putri... apa yang kau lakukan?" Tegur Reza yang baru keluar dari lift dan kebetulan menyaksikan adegan itu. Segera Arisa berlari ke belakang tubuh Reza dan mencengkram jas yang di kenakan oleh Reza sambil menahan tubuhnya yang gemetar.
"Kenapa kau ketakutan?" Tanya Reza sedikit menolehkan wajahnya.
"Dia tiba-tiba memelukku. Dan terus memanggilku Aris." Jawab Arisa terdengar dengan suara sedikit gemetar.
"Tuan... maaf... sepertinya kita harus segera ke ruangan saya." Ucap Reza beralih menatap Bayu yang begitu dalam menatap Arisa. Meski begitu, Bayu tetap mengikuti Reza ke ruangannya dan seraya ingin meminta penjelasan siapa gadis yang begitu mirip dengan pujaan hatinya yang di anggap sudah meninggal empat tahun yang lalu.
Setelah Reza mempersilahkan Bayu untuk duduk, Bayu langsung mengintrograsi Reza.
"Apa gadis yang memanggil anda dengan sebutan kakak itu adalah Arisa? Apa selama ini Arisa memang belum meninggal? Dan apa anda juga yang menyembunyikan Arisa? Mengapa anda melakukan itu? Anda pasti tahu bagaimana Tio susah payah mencari keberadaan Arisa dan..."
"Tuan mohon tenang dulu. Biar saya jelaskan." Ucap Reza dengan tenang menyela pertanyaan beruntun dari Bayu.
"Zain.. tolong panggilkan Putri." Ucap Reza selanjutnya dan dengan patuh, Zain membawa Arisa ke ruangan Reza. Semula Arisa menolak ajakan Zain, namun setelah ia mengingat bahwa Bayu menangis saat memeluknya, terasa ada sebuah perasaan yang begitu sulit ia jelaskan. Dengan terpaksa dan penuh kewaspadaan, Arisa mengikuti ajakan Zain dengan ia yang menguntit di belakang Zain.
"Putri... apa kau ingat siapa dia?" Tanya Reza menunjuk sopan pada Bayu. Dengan cepat Arisa menggelengkan kepalanya pelan membuat Bayu terkejut dan sekaligus merasa heran. Di waktu yang sama, Bayu pun berpikir mungkin gadis ini hanya mirip. Mengingat namanya yang berbeda dan bahkan tak mengenalinya, Bayu menunduk merasa bersalah pada Reza.
"Sebelumnya saya minta maaf atas sikap saya yang kurang sopan pada adik anda. Tapi jujur itu tidak saya sengaja. Karena dia mirip seseorang yang sangat berarti di hidup saya. Melihat nona Putri sekarang, saya merasa sedang melihat Arisa." Jelas Bayu. Ia menyeka embun yang menggenang di kelopak matanya saat begitu dalam menatap wajah Arisa.
__ADS_1
"Anda tidak salah. Justru saya yang ingin meminta maaf pada anda dan semua orang. Sebenarnya saya mengajukan kontrak dengan anda bukan semata-mata ingin menjalin kerja sama saja, tapi memang saya ingin mempertemukan Arisa dengan orang terdekatnya." Imbuh Reza membuat Bayu merasa heran dan tak mengerti. "Dia memang Arisa. Putri Yugito Syahputra yang dianggap sudah meninggal." Lanjutnya semakin membuat Bayu menangis diam.
-bersambung.