
. Raisa masih terdiam berpikir mengapa Arisa bisa sampai mengira bahwa dirinya masih mencintai Rayyan. Padahal saat Fariz dan keluarganya datang, jelas Arisa ada disana dan menyaksikan bagaiman Raisa bahagia dibuatnya.
"Kenapa Rais? Kau tak bisa menjawab? Karena memang iya kan kau masih mencintai Rayyan sampai detik ini. Dan Rayyan pun mencintaimu juga."
"Aris. Kenapa kau berpikir begitu?"
"Karena sejak dulu kau memang mencintainya, dan aku pun melihatnya sendiri."
"Melihat apa Aris? Bukankah sudah jelas dengan aku menerima kak Fariz sudah menunjukkan kau yang akan menjadi istrinya?" Arisa tersenyum sinis menanggapinya.
"Berpelukan dan dia bilang bawa dia menyayangimu? Dan kau bilang jangan memeluk, nanti Aris melihat. Apa artinya itu? Hemmm?"
"A-Aris... kau salah faham."
"Sudahlah Rais... dimana ada orang selingkuh akan mengakui perselingkuhannya?"
"Sungguh Aris. Kau salah faham. Aku dan Rayyan tidak melakukan apapun. Justru aku membuat rencana untuk memberimu kejutan, dan dia menyukai rencanaku. Makanya mungkin karena kegirangan, dia memelukku begitu."
"Kau pikir aku percaya? Sudah... sebaiknya kau pulang ke rumah yang di dalamnya ada orang-orang yang mengkhawatirkanmu. Sebelum kak Tio murka, bukankah kau sangat menginginkan kasih sayang kak Tio? Jadi, sekarang lah kesempatannya. Silahkan. Aku beri kau jalan. Dan ku harap, setelah ini kau dan semua orang yang ada di sana tak pernah lagi mengusik hidupku. Biarkan aku bahagia disini dengan kehidupanku sendiri." Tegas Arisa mempersilahkan Raisa untuk pergi dari hadapannya.
"Kau mengusirku?" Arisa hanya mengedikan bahunya sesaat sambil berekspresi menyebalkan. "Mengapa kau jadi begini Aris?" Lanjutnya penuh tanya akan sikap Arisa yang benar-benar diluar dugaannya.
"Aku bukan Aris. Aku Putri."
"Oh... jadi kau benar-benar sudah membuang identitasmu sebagai putri bungsu keluarga Putra?"
"Aku tidak membuang, tapi ayah sendiri yang bersikap agar aku melakukan ini."
"Aris... mau sampai kapan kau terus salah faham begini?"
"Sampai aku melihat mama menatapku dengan penuh kasih sayang seperti padamu. Jelas?"
"Aris bukankah selama ini mama selalu bersikap begitu?"
"Iya memang."
"Lalu kenapa kau bersikeras ingin pergi?"
__ADS_1
"Karena mama bersikap begitu hanya padamu saja." Raisa memalingkan wajahnya dan ia membisu karena untuk bicara pun ia rasa sia-sia saja.
"Benarkan? Jadi, sebaiknya kau kembali ke Jakarta. Kak Tio dan ayah pasti mencarimu."
"Mereka juga mencarimu Aris. Mengapa kau tak mengerti. Kau selalu bersikap seakan kau yang menderita, tak di perhatikan, seperti dibenci mama, dan seakan kau hidup sendirian di rumah. Aris, asal kau tahu, saat kau dinyatakan meninggal, mama bersikeras untuk mencarimu karena dia yakin jasad itu bukan dirimu meskipun mobil kesayanganmu yang sedang terbakar. Dan kak Tio selalu mencari dirimu sampai dia disebut gila oleh semua orang karena mencari adiknya yang meninggal. Ironis bukan? Dan Rayyan, dia tak henti mencari keberadaanmu walaupun dari Amerika sekalipun. Tapi kau? Kau bahkan tak menghargai mereka. Aku kecewa padamu." Meskipun Raisa berkata penuh amarah, namun Arisa masih memasang wajah datarnya seakan tak peduli pada ucapan Raisa. Raisa berlalu meninggalkan Arisa yang seakan enggan menoleh dan menghantarkan dirinya pergi dari rumah. Namun Arisa masih melihat dengan sudut matanya bahwa Raisa beberapa kali menyeka matanya sebelum ia masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan Raisa berlalu, Arisa terduduk lemas di kursi yang berada di teras rumah. Ia memijit kepalanya yang berdenyut dan air matanya tak bisa ia tahan meskipun kini hatinya terasa membeku.
"Non Putri... bukannya tadi naik mobil ya?" Tanya Mang Asep yang belum sepenuhnya sadar bahwa ada dua gadis yang sama persis di rumah itu.
"Itu bukan saya mang." Jawab Arisa tersenyum karena ia menebak mungkin mang Asep tak melihat dirinya saat di ruang makan tadi, makanya mang Asep membawa Raisa langsung masuk ke rumah.
. "Kalian jemput Rais ke Bandung. Kenapa bisa kalian kecolongan hah? Bukankah aku menugaskan kalian untuk mengawasi Rais dan Aris? Kalian bisa di bodohi oleh Aris, dan kalian juga tak bisa menjaga Rais?" Teriak Yugito dengan menggebrak meja kerjanya.
"Maaf tuan." Ucap Juna dengan menunduk.
"Aku tak mau tahu. Jika sampai terjadi apa-apa pada Rais, kalian semua akan tahu akibatnya."
"Ba-baik tuan." Kali ini mereka menjawab serempak dan langsung berlalu dari hadapan Yugito.
"Tio... bagaimana bisa kau tak menyadari kepergian Raisa?" Yugito beralih menatap anak sulungnya yang sedari tadi hanya menatap kosong pada apa yang di lihatnya.
"Maaf ayah. Aku hanya terfokus pada Aris saja. Ku kira Rais tak akan mencari Aris sendiri." Jawab Tio yang beranjak dari duduknya dan berniat untuk meninggalkan ruang kerja Yugito.
"Kenapa? Ayah merindukannya?" Tanya Tio tanpa menoleh sedikitpun.
"Apa yang kau bicarakan? Ayah hanya bertanya. Bukankah Aris kesana kan? Jadi, mungkin saja kau bertemu dengan Sarah."
"Iya aku bertemu. Dia sedang sakit parah. Sangat parah. Obat dokter saja tak bisa menyembuhkannya. Itu yang dia katakan padaku kemarin." Kini, Tio berani berbalik dan menatap nanar wajah Yugito.
"Apa maksudmu Tio?" Yugito mendadak khawatir pada mantan istrinya itu.
"Dia hampir mati ayah." Lagi, Tio berkata dengan wajah yang dingin.
"Sakit apa dia? Apa penyakitnya separah itu?" Yugito semakin panik, hatinya tak bisa berbohong bahwa Yugito masih mempedulikan Sarah.
"Penyakit rindu ayah. Dia sakit karena merindukan Aris. Dan hanya Aris yang bisa menyembuhkan penyakitnya itu. Aris pun sama. Disini dia tidak mendapatkan apa yang selama ini dia inginkan dari sosok orang tua dan saudara. Jadi, aku harap ayah dan mama tidak menyalahkan tante Sarah atas kepergian Aris. Biarkan Aris mendapatkan kasih sayang dari sosok ibu. Reza pun tidak terlalu buruk dalam menjaga nya. Aku mempercayainya untuk menggantikan peranku sebagai kakak." Jelasnya kembali berbalik dan ia benar-benar berlalu meninggalkan Yugito yang termangu mendengar ungkapan Tio.
. Raisa menatap tajam pada apa yang ada didepannya, menyalip mobil lainpun ia seperti kerasukan, kecepatannya tak bisa di tolelir lagi, namun ia tak peduli jika semisal dirinya kecelakaan bahkan mati di tempat pun. Siapa yang tahu, wajah dingin yang terlihat tenang itu menyembunyikan sebuah perasaan yang hancur berkeping-keping karena tak bisa membawa adiknya kembali pulang. Bahkan dengan cara yang tidak menyenangkan, Arisa tega mengusirnya tanpa rasa kasihan atau sedikit saja rasa khawatir akan keselamatan Raisa.
__ADS_1
"Rama..... sebaiknya kau jemput aku sekarang." Teriaknya didalam mobil. Akhirnya, tangis yang sedari tadi ia tahan pun pecah juga. Tenggorokannya benar-benar terasa tersenggal. Ponselnya terus berdering namun tak pernah ia hiraukan. Tanpa ia tahu, beberapa mobil terus mengikuti kemana ia melaju.
Beberapa saat setelah Raisa berlalu, Arisa langsung menghubungi Reza agar bawahan Reza menjaga Raisa selama perjalanan.
"Kau selalu saja bersikap egois." Ucap Reza dengan acuh tak acuh namun masih menuruti permintaan Arisa.
"Maaf." Ucapnya tak kalah acuh. Meskipun Reza terlihat seperti tak peduli, namun jika apa-apa yang menyangkut Arisa, ia selalu memprioritaskannya.
. Setelah hampir setengah perjalanan, ia menyadari bahwa ada yang mengikutinya. Kecepatannya bertambah, dan pikirannya semakin kacau. Kepalanya sudah berat namun ia tahan karena jika menepi pun takut terjadi sesuatu yang lebih mengerikan.
Sampai ada sebuah mobil jeep hitam mengimbangi kecepatannya dan ia melambaikan tangan meminta Raisa untuk berhenti. Raisa yang tak menoleh pun semakin merasa takut. Ketakutan itu semakin menyekik saat jeep itu menghalau dan membuatnya berhenti seketika. Saat ia hendak mundur, terlihat mobil yang sedari tadi mengikutinya pun ikut berhenti. Ia panik dan segera meraih ponselnya dan tangannya sudah gemetar ketakutan, menekan satu nomor saja ia sudah kesulitan. Saat ia menoleh, tak sengaja yang ia tekan adalah nomor yang bukan Tio.
Setelah tersambung, ia berniat meminta tolong namun suaranya seakan mendadak kelu.
"Kak--" ucapnya terhenti saat seorang dari mereka mengetuk kaca mobil membuatnya terlonjak dan refleks melempar ponselnya ke sisi lain.
"Nona buka pintunya." Panggilnya semakin keras dan khawatir saat melihat Raisa yang jelas sedang ketakutan.
"Nona ini saya, tuan Yugito yang meminta saya untuk menjemput nona." Ungkapnya lagi sambil memperlihatkan kartu identitasnya.
Raisa perlahan melirik mobil yang ada didepannya, ia menyipit saat mendapati sebuah logo yang menjadi ciri khas dari setiap kendaraan yang di pimpin oleh ayahnya. Benar, logo Artaris. Dengan ragu, ia membuka kaca mobil dan menoleh ke arah penguntit yang sedang di introgasi oleh bawahan ayahnya.
"Nona baik-baik saja?" Raisa mengangguk lalu menggeleng dan memijit pelipisnya yang sudah berdenyut sejak tadi. Ia keluar dan bersamaan dengan itu, mereka membawa si penguntit berhadapan langsung dengan Raisa.
"Mohon maafkan saya nona. Saya mengikuti nona atas perintah tuan dan nona Putri. Saya ditugaskan memang untuk mengikuti nona sampai rumah dan agar memastikan keselamatan nona." Jelasnya namun tak di dengar oleh Raisa yang terus memijit dahinya. Dan, akhirnya ia tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya lagi. Raisa terhuyung dan hampir terjatuh, namun Juna begitu sigap menahan dirinya agar tak sampai terjatuh.
"Bawa cepat. Segera menuju rumah sakit terdekat." Titahnya dan ditanggapi siaga oleh yang lain. "Setelah ini, silahkan anda kembali dan katakan pada majikan anda bahwa nona Raisa baik-baik saja dengan kami." Lanjutnya beralih pada utusan Reza.
"Apa kalian bisa dipercaya?" Mendapat pertanyaan itu, Juna hanya memperlihatkan kartu identitasnya yang jelas memang bawahan Yugito.
"Kalau begitu saya hubungi nona Putri dulu." Ungkapnya meraih ponsel dan segera menghubungi Arisa.
"baik nona. Saya mengerti." Tak lama, ia menutup telepon dan tersenyum berkata "nona Putri menitip salam untukmu." Terlihat Juna terbelalak mendengarnya. Putri? Siapa? Pikirnya.
"Nama aslinya nona Arisa." Lanjutnya saat menyadari ekspresi Juna yang penasaran.
"Suatu kehormatan jika nona mengingat siapa saya."
__ADS_1
-bersambung