
. "Ayah akan bicara pada Arya untuk tidak melanjutkan perjodohan kalian." Ucap ayah setelah suasana menjadi tenang. Arisa terbelalak lalu menggeleng kasar dengan tatapan memohon.
"Jangan ayah. Aris menerima perjodohan dengan kak Bayu." Arisa mantap meyakinkan.
"Tidak nak. Kau menyukai Rayyan kan? Dan Rayyan pun menyukaimu. Namun ayah salah faham karena mengira bahwa Rayyan menyukai Raisa. Maafkan ayah."
"Ayah sungguh Aris tidak menyukai Aray. Rais yang menyukai Aray ayah. Dan Aris yakin Aray akan--"
"Berhenti bicara Aris." Suara Raisa menyela sebelum Arisa menyelesaikan bicaranya.
"R-Rais?"
"Ayah... jangan dengarkan dia. Rais tak menyukai Rayyan. Rais masih mencintai kak Fariz." Raisa menghampiri keduanya setelah menutup pintu rapat-rapat.
Arisa mencoba bangkit dengan susah payah.
"Jangan bergerak bodoh." Ucap Raisa kesal.
"Aku pegal jika harus terbaring terus." Rengek Arisa yang kini terduduk dibantu ayah dan bersandar pada bantal yang ditumpuk oleh ayah.
"Rais..." lirih Arisa.
"Sut... sudah. Sebaiknya kalian bicara dulu. Ayo ayah." Raisa menarik ayah keluar dan membiarkan Rayyan masuk menemui Arisa.
Terlihat tatapan Rayyan yang masih dingin namun sangat teduh.
"Aray..." lirih Arisa.
Rayyan tak bisa menahan diri untuk tidak memeluk Arisa. Dipeluknya kepala sang kekasih dengan erat.
"Syukurlah Risa... aku tak tahu apa yang akan aku lakukan nanti jika kau benar-benar pergi."
"Aray... maaf." Arisa membenamkan wajahnya pada lengan Rayyan.
"Jangan bicara lagi. Aku sedang marah padamu." Ucap Rayyan semakin mempererat pelukannya dan sesekali mengecup kepala Arisa. Betapa bersyukurnya karena gadis kesayangannya bisa selamat dari penyakit mematikan.
"Kau menangis?" Tanya Arisa yang masih terbenam.
"Tidak. Aku bukan anak kecil." Jawab Rayyan.
"Tapi kau terus terisak."
"Jangan mengejekku Risa."
"Bagaimana kabar Sein?"
"Aku yang didepanmu tidak ditanya?"
"Kau sudah jelas baik-baik saja Aray."
"Siapa bilang? Kau pikir selama kau tertidur, aku baik-baik saja? Dan apa yang dari tadi kau bicarakan? Kau bicara seolah tidak mencintaiku."
"Maaf Aray."
"Kenapa kau terus meminta maaf? Justru aku yang seharusnya meminta maaf karena tak bisa apa-apa saat kau dalam kondisi seperti ini." Arisa tersenyum mendengar perkataan Rayyan. Mungkin Rayyan memang benar-benar peduli padanya. Seketika Arisa terbelalak saat mendapati Bayu tengah berdiri di ambang pintu. Rayyan tak kalah terkejut saat Arisa mendadak terbata.
"K-kak Bayu." Arisa terperanjat hingga kembali merasakan sakit di atas perutnya.
Namun sebisa mungkin Arisa mengesampingkan rasa sakit itu, dan berusaha mencoba beranjak seolah ingin berlari.
Melihat Arisa yang berusaha turun, Bayu segera menutup pintu dan berlari menghampiri Arisa yang masih berada dipangkuan Rayyan.
"Kau mau kemana? Kau baru sadar, jangan mencoba berlari." Ucap Bayu mengejek namun dengan nada serius.
"Kak...." lirih Arisa menatap Bayu.
"Aku tak akan memaksakan apa yang tak kau inginkan Aris. Bahagialah dengan pilihanmu, maka aku akan ikut bahagia." Bayu meraih kepala Arisa dan sedikit mengacak rambutnya gemas.
"Apa kakak marah?" Bayu tersenyum mendapati pertanyaan Arisa.
"Aku tidak marah. Hanya mungkin sedikit sesak saja."
"Maaf..." kembali Arisa berucap dengan nada lirih dan menunduk merasa bersalah.
__ADS_1
"Mengapa kau meminta maaf? Itu pilihanmu Aris. Aku hanya mengikuti alurnya saja. Dan kebetulan kemarin, alurnya sesuai harapanku. Namun ternyata sekarang, alurnya membelok, dan harapannya masih membekas."
Rayyan masih terdiam menyimak pembicaraan keduanya yang sudah bisa ia tebak kemana arahnya.
"Rayyan! Jangan pernah tinggalkan dia. Kau satu-satunya pria beruntung setelah Rama yang dipilih Arisa. Tapi, kau harus ingat! Aku pergi, bukan untuk menyerah sepenuhnya. Bisa saja saat aku kembali, Arisa akan menjadi milikku. Jika kau tak ingin itu terjadi, maka ingat baik-baik ucapanku tadi. Setetes saja air mata kecewa yang Arisa jatuhkan karena dirimu, maka saat itu juga kau memberiku celah untuk merebutnya darimu. Camkan itu!" Rayyan hanya bisa mengangguk tanpa bicara. Sementara Arisa terlihat terkejut.
"Kakak mau kemana?"
"Aku akan ke Jogja."
"Apa urusan bisnis?" Bayu menanggapi hanya dengan menggeleng dan tersenyum.
"Tidak Aris. Aku akan menetap disana."
"Kakak benar-benar marah padaku?"
"Tidak Aris tidak. Sebelum ayah melamarmu tempo hari, aku sudah berencana menetap disana Aris. Ya... meskipun sempat berpikir akan hidup berdua denganmu. Tapi sudahlah!" Lagi-lagi Bayu melemparkan senyumnya meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Risa... kau mau menikah?" Tanya Rayyan terbata. Dirinya merasa tak percaya jika memang kenyataannya seperti itu. Arisa hanya menundukan kepalanya tanpa mengiyakan dan tanpa menyangkal.
"Apa ini juga alasanmu menyuruhku menjauhimu?"
"Maaf Aray..." lirih Arisa memalingkan wajahnya.
"Risa..."
"Emm Rayyan. Sepertinya kau juga salah faham. Aku dan Arisa tak akan menikah jika diantara kita tidak menyetujui perjodohannya." Ucap Bayu menyela.
"Ayah tidak bilang seperti itu. Sudah jelas ayah dan om Arya sepakat atas perjodohan ini." Gumam Arisa.
"Baiklah Aris. Aku pamit. Maaf tak bisa berlama-lama menemanimu. Aku harus ke Jogja sore ini." Bayu menepuk pelan pipi Arisa yang membuatnya terbelalak ketika mendengar perkataannya.
"Apa karena ini kakak pergi?"
"Hei... Aris... bukankah sudah kakak bilang. Kakak akan menetap disana. Dan kau jangan merindukanku oke." Bayu mengedipkan sebelah matanya dengan tersenyum lebar.
"Ya sudah... kakak pamit. Cepat sembuh ya..." Bayu kemudian berlalu meninggalkan Arisa dengan segala pertanyaan dikepalanya.
Bayu menutup pintu rapat-rapat dengan rasa sesak dan hati merasa teriris. Bayu berpamitan pada keluarga Yugito sebelum dirinya berlalu dari koridor sana. Dirasanya aman karena memasuki koridor sepi, kini Bayu bersandar pada tembok dengan air mata perlahan mengalir pelan di pipinya. Bayu menunduk memegangi dadanya yang semakin terasa sesak.
"Kau menangis karena Aris?" Tanya Dimas seolah merasa tenang.
"Tidak. Untuk apa aku menangisi perempuan."
"Benarkah? Kau mencintai Aris dari dua tahun silam. Bahkan sampai sekarang. Kau pikir aku tak paham perasaanmu? Mendengar adikku yang menjadi pacarnya saja, kau sudah membuat orang tuamu sampai menyebarkan berita anak hilang karena 3 hari kau tak pulang dan tak tahu kemana kau kabur."
"Cihh... bisakah kau tidak mengungkit masa lalu?"
"Tidak. Karena jika terus disimpan, masa lalu pun akan membusuk. Itu justru akan lebih menghancurkan hatimu."
"Hatiku sudah hancur Dim. Mengapa tak kau terima saja permintaanku saat itu? Dengan begitu aku tak menyesal mati dengan memberikan hatiku untuk Arisa."
"Kau pikir hanya kau yang menyesal hidup? Aku lebih menyesal Bay. Aku tak bisa apa-apa. Disaat aku tahu dia kanker, aku malah diam saja karena permintaannya yang tak ingin orang lain tahu." Dimas berjalan dan mendongak menatap langit yang hari ini cerah.
"Jadi? Apa kita akan bunuh diri bersama-sama?" Tanya Bayu yang ikut menatap langit.
"Tidak. Hanya kau saja." Bayu seketika menoleh pada Dimas dengan gusar.
"Apa kau membawa obat untuk membuatku mati tanpa rasa sakit?" Tanya Bayu setelah menghela nafas berat seakan mengikuti lelucon Dimas.
"Ada. Mau?"
"Kau dulu. Jika berhasil, aku akan dengan senang hati mendoakanmu." Bayu terkekeh melihat raut wajah Dimas.
"Itu artinya kau menginginkan aku mati sialan." Dimas mendorong pipi Bayu yang kini tak henti tertawa.
"Apa kau akan lebih lama disini?" Tanya Dimas setelah suasana sedikit hening.
"Rencananya iya. Tapi aku sudah memesan tiket sore ini." Dimas menyernyit.
"Mendadak?" Tanya Dimas seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri.
"Bisa dibilang begitu."
__ADS_1
"Apa karena Aris?" Bayu memalingkan wajahnya dengan tatapan sendu.
"Entahlah Dim. Rasanya aku semakin tak percaya jika dia mencintai orang lain."
"Aku juga Bay. Satu tahun aku menemaninya dan satu tahun juga aku memendam perasaanku setelah adikku meninggal."
"Dim. Mengapa kita mencintai orang yang sama? Bukankah masih ada Raisa?"
"Kau sendiri, mengapa mencintai Aris?"
"Entah. Rasanya aku juga tak tahu alasannya. Aku hanya jatuh cinta yang tak tahu tempat dan waktu saja."
"Miris. Sudah terbang, malah jatuh terhempas."
"Kau mengejekku?"
"Tidak. Hanya membicarakan fakta."
"Fakta yang kau bicarakan lebih menyakitkan sialan."
"Tapi apa kau bisa menyangkal fakta itu?"
"Kalau bisa, aku ingin sekali Dim."
Keduanya menjadi terdiam tanpa ada lagi yang bicara.
. "Aku pamit Dim." Bayu berbalik hendak berlalu.
"Apa kau akan melupakan Aris?" Langkah Bayu terhenti mendengar pertanyaan dari Dimas.
"Mungkin. Di genggam pun, aku tak akan memilikinya." Bayu kembali melangkah berlalu meninggalkan Dimas yang menatap langit sendirian.
. Menjelang malam, saat ruangan sepi tanpa siapapun.
"Kakak putri..." teriak Seina dari panggilan video miliknya.
"Sein sehat?" Tanya Arisa tersenyum.
"Sein sehat kak. Kakak juga harus sehat. Kasian bunda dan kak Aray setiap hari murung karena-- hmmmm" terlihat sebuah tangan menutup mulut Seina dengan paksa. Tak lama, terdengar suara tangis Seina yang memekik telinga.
"Aray... kau jahil." Ucap Arisa yang diperlihatkan Seina berlari sambil menangis menghampiri bunda.
"Dia selalu membocorkan rahasia." Decih Rayyan yang kini memperlihatkan wajahnya. Namun Arisa hanya tersenyum melihat tingkah kakak beradik itu. Dirinya jadi merindukan Tio.
"Kau tertawa?"
"Menurutmu?"
"Bahkan saat pucat pun, kau masih saja manis."
"Gula kali bang."
"Kau bergurau?"
"Tidak juga."
"Kenapa kau terus tersenyum?"
"Apa tidak boleh?"
"Tidak. Disana pasti ada si dokter itu kan? Jika dia melihatmu tersenyum seperti itu, siapa yang menjamin dia tidak jatuh cinta padamu?"
"Aku sendiri Aray."
"Baguslah."
. Disaat yang bersamaan, Tio tengah menenangkan Raisa di kamarnya.
"Harusnya aku yang memberikan hatiku pada Aris kak." Ucap Raisa ditengah isak tangisnya.
"Sut... kau tak boleh seperti itu."
"Bagaimana bisa aku hidup dan menyaksikan Aris dengan orang yang aku cintai kak."
__ADS_1
"Mengapa kalian mencintai orang yang sama?" Gumam Tio.
-bersambung.