
. Seno melirik tajam mengantisipasi Reza. Lidahnya kelu tak tahu apa yang harus ia ucapkan mendengar kata itu. Wajar saja jika Reza menyimpan dendam pada Yugito.
"Cih... aku harap itu tidak terjadi seperti yang kau katakan." Seno berbalik lalu berjalan menjauh dari Reza.
"Iya. Itu tak akan terjadi. Karena aku berbeda dengan mereka. Jika aku menghancurkan keluarganya, lalu apa bedanya aku dengan Yugito? Perusahaan itu tak ada artinya jika Nadhira tak ada. Dia pikir Nadhira apa? Bisa ditukarkan dengan sebuah perusahaan yang hampir bangkrut. Dan aku yang harus bertanggung jawab untuk memperbaikinya. Bisa dipastikan, saat perusahaan itu sudah stabil, aku yakin Yugito akan mengambilnya kembali. Cih... jika bukan karena Nadhira, aku tak mau melakukan permintaannya itu." Gumam Reza berdecih menatap kepergian Seno.
. Rayyan terus melirik kearah pintu dan tak kunjung mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Dimana Arisa? Apa dia baik-baik saja? Mengapa belum kembali ke kelas? Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul dalam pikirannya.
"Apa dia lupa dengan janjinya?" Gumam Rayyan mengetukkan jarinya pada meja.
"Ada masalah tuan Rayyan?" Tanya pak Amir.
"Ti-tidak pak."
"Kalau begitu perhatikan materinya."
"I-iya pak." Jawab Rayyan menghela nafas berat.
. Di rumah sakit, Raisa membuka matanya perlahan. Matanya terasa panas saat ini. Kepalanya begitu pusing, dan tubuhnya terasa sangat lemas. Raisa merasakan ngilu di tangannya, dan benar saja ada jarum infus yang terpasang.
"Ma...." panggil Raisa lirih. Mama meraih tangan dan kepala Raisa dengan lembut.
"Sudah bangun?" Tanya mama penuh kehangatan.
"Aris mana?" Tanyanya kemudian. Entah mengapa pikirannya hanya terus memikirkan saudari kembarnya saja.
"Aris kan kuliah sayang."
"Oh iya...." Raisa tersenyum dan tertawa kecil. "Kak Tio?" Lanjutnya kembali bertanya.
"Kakakmu pulang. Katanya takut Arisa sudah pulang dan tak ada siapapun di rumah."
"Apa Aris tahu Rais disini?" Mama menggeleng menanggapi pertanyaan Raisa.
"Mau makan?" Tanya mama kemudian. Raisa menggeleng pelan sambil memejamkan matanya. Rasanya tak ada nafsu untuk makan saat ini.
. Tio berlari setelah menghentikan mobilnya.
"Aris...." panggilnya berteriak memasuki rumah. Bi Ina setengah berlari menghampiri Tio.
"Aris mana bi?" Tanya Tio khawatir.
"Non Aris belum pulang mas... bukannya non Aris masih kuliah?" Bibi balik bertanya merasa heran.
"Kata Seno Aris pulang dengannya." Tio kian merasa kesal.
"Mungkin non Aris ke makam mas Rama dulu." Ucap bibi mencoba menenangkan kekhawatiran Tio. Namun tetap saja Tio tak bisa tenang. Tio berbalik dan kembali berlari keluar rumah. Ketika hendak membuka pintu mobil, Tio terfokus pada mobil silver yang baru memasuki pekarangan rumahnya.
"Mengapa lama sekali?" Tanya Tio yang sudah menahan kesal ketika Arisa keluar dari mobil Seno.
"Maaf Tio. Tadi ada masalah sedikit." Ucap Seno menjawab pertanyaan Tio.
"Kau juga. Katanya dia adikmu. Tapi malah membawanya dalam masalah." Cetus Tio mendelik dari Seno.
__ADS_1
"Nahh kau sendiri yang bilang bahwa Aris adikku. Jadi, ayo Aris kita pulang ke rumah kakak." Seno merangkul pundak Arisa dan hendak berbalik dari hadapan Tio.
"Ehhh...." Tio menarik tangan Arisa. "Aris adikku. Kau itu penculik. Ayo Aris kau masuk ke rumah dulu. Nanti kakak menyusul." Lanjut Tio merebut Arisa dari Seno. Arisa hanya membisu dan menurut saja dengan apa yang Tio katakan.
"Tio.. aku bertemu dengan Reza." Ucap Seno setelah memastikan Arisa berlalu. Tio terkejut dengan sedikit amarah tersirat di wajahnya.
"Apa yang dia lakukan disini?" Tanya Tio tanpa menyembunyikan wajah marahnya.
"Jangan marah padaku sialan." Seno mengusap kasar wajah Tio. "Dia tidak mengatakan alasannya. Tapi sepertinya hal yang penting. Karena tak mungkin Reza mau ke kota ini jika untuk kemauannya sendiri." Jelas Seno.
"Cih... asal jangan mengusik keluargaku saja." Tio berdecih memalingkan wajahnya.
"Aku harap juga begitu." Seno ikut gelisah memikirkan kata yang dilontarkan Reza.
"Apa Aris juga bertemu dengannya?" Tanya Tio kemudian setelah keduanya terdiam beberapa saat.
"Justru Aris yang bertemu dengannya dulu dari pada aku. Jika saja aku tahu Aris akan bertemu dengan Reza, aku tak akan menyuruh Aris keluar dari mobil dan memarahinya." Ucap Seno kemudian menunduk merasa bersalah.
"Apa? Kau memarahi Aris?" Tio menatap tajam pada Seno.
"Ehehehe... aku tak sengaja Tio... Aris bicara yang tidak-tidak. Aku emosi. Jadi......"
"Jadi kau menyuruhnya turun dan jalan kaki begitu?" Suara Tio kian meninggi.
"Tidak Tio tidak.... ishhhh sudah ku bilang aku tak sengaja." Seno tak kalah kesal berbicara dengan Tio.
"Jadi, apa Aris tahu siapa Reza?" Tanya Tio lirih.
"Baguslah. Jangan sampai Aris tahu. Hanya kau satu-satunya orang lain yang tahu tentang hubungan keluargaku dan dia. Dan aku harap ini tak menjadi masalah nantinya." Tio bersandar pada mobil miliknya.
"Kenapa masalah ini harus pada keluargaku Sen?." Lirih Tio menerawang pada langit biru yang dihiasi oleh awan-awan tipis yang bergerak perlahan.
"Sudahlah Tio... bukankah semuanya sudah selesai? Dan lagi pula masalah itu sudah berlalu lama. Harusnya aku yang depresi disini. Mengapa aku harus terlibat dalam masalah keluargamu?" Seno ikut bersandar di samping Tio dan menerawang jauh pada langit.
"Apa yang mereka bicarakan?" Gumam Arisa bersandar di balik pintu yang sayup-sayup mendengar percakapan Tio dan Seno.
"Kamu kenapa Za?" Tanya Sarah pada Reza yang terus melamun sejak tadi. "Bunda perhatikan kamu terus melamun. Kamu masih memikirkan Nadhira?" Tanyanya lagi.
"Apa bunda sudah melupakan Nadhira? Nadhira itu anak bunda. Meskipun berbeda ayah, tapi aku menyayanginya bun. Belum genap satu bulan dia pergi, apa dengan mudah bunda melupakannya?"
Sarah hanya terdiam tak menanggapi Reza. Sarah lebih memilih berlalu ke balkon apartemen. Reza terduduk lesu di tempat tidurnya, berpikir ulang apakah kata-katanya sudah melukai hati ibunya. Reza ikut berlalu menghampiri sang ibu yang tengah berdiri di balkon menatap jauh ke sudut kota.
"Bunda..." panggil Reza yang tak dihiraukan oleh Sarah.
"Apa bunda marah? Apa kata-kata Reza sudah melukai hati bunda?" Namun Sarah masih enggan menanggapi pertanyaan Reza.
"Bunda.... jangan mendiamkan Reza. Reza minta maaf bunda." Ucap Reza yang meraih lengan Sarah lalu menciumnya dan kemudian berlutut saat melihat Sarah tengah menangis dalam diamnya.
"Bunda tolong maafkan Reza." Sekali lagi Reza memohon pada Sarah.
"Apa kamu pernah berpikir bunda ini orang tua seperti apa? Kamu pikir bunda tak menyayangi Nadhira? Nadhira putri bunda. Menurutmu apa bunda tidak bersedih?" Tanya Sarah masih menatap kota dengan tenang.
"Maaf bunda... Reza tak bermaksud melukai hati bunda. Reza hanya masih tertekan dengan kepergian Nadhira." Lirih Reza masih menggenggam tangan Sarah.
__ADS_1
"Tapi bunda bersyukur melihatmu yang tak membenci Nadhira."
"Reza sudah menerima keputusan bunda. Dan Reza tahu itu bukan kehendak bunda sendiri. Memang ini sudah jalannya hidup kita harus seperti ini."
"Tidak nak. Jika saja dulu bunda tahu dia sudah beristri, bunda tak akan melakukan kesalahan ini."
"Bunda jangan berbicara seperti itu. Itu sama saja dengan bunda menyesal atas kehadiran Nadhira. Maafkan Reza dulu pernah membenci Nadhira karena kita berbeda ayah."
"Tak apa nak. Wajar saja. Sekarang terserah padamu mau bagaimana. Bunda hanya ikut keputusanmu saja."
"Reza menerima tawarannya bun. Kita akan pindah ke Bandung besok. Semoga bunda tak marah karena Reza menyepakati perjanjian ini. Tapi sungguh Reza tak bermaksud menukar nyawa Nadhira dengan perusahaan itu... Reza hanya menghargai niat baiknya saja. Lagi pula, jika kita terus berada di Surabaya, Reza takut bunda semakin tertekan jika orang-orang tahu bahwa bunda pernah menjadi istri dari--"
"Reza... sudah. Bisakah kau tidak membahas itu?" Sarah menyela dan mulai merasa tak nyaman dengan obrolan Reza.
"I-iya bunda. Maaf."
. Malam hari, Arisa berteriak dari dalam kamar karena Tio menguncinya. Bi Ina tak tega melihat sang anak asuhnya terus meminta tolong ingin di bukakan pintu.
"Mas Tio.. apa tidak berlebihan? Bibi khawatir bagaimana jika terjadi apa-apa dengan non Aris. Kasihan. Pasti non Aris ingin menemani non Rais."
"Justru itu yang sangat aku khawatirkan. Aris pasti tak mau pulang nantinya. Aku tak mau jika dia terlalu kelelahan bi."
"Tapi berteriak seperti itu juga akan menguras tenaga non Aris mas." Bi Ina semakin lesu membujuk Tio.
Sampai tiba Yugito di rumah, Tio baru membukakan pintu untuk Arisa. Terdengar tangisan Arisa menarik perhatian Yugito.
"Tio... Aris kenapa?" Tanya Yugito yang berlari menaiki tangga.
"Aris...." Tio menggaruk kepalanya dan tak tahu harus menjawab apa.
"Kamu apakan Aris sampai dia menangis seperti itu?" Tanya Yugito lagi sambil meraih Arisa yang duduk terisak dipelukan bi Ina.
"Kakak mengunciku dikamar." Jawab Arisa merengek.
"Tio... apa benar? Kenapa kau melakukan itu?" Yugito bangkit dan menatap tajam pada putra sulungnya itu.
"Aris merengek ingin ke rumah sakit ayah. Sedangkan ayah tahu dia baru saja keluar dari rumah sakit. Dan juga tadi siang kata Seno Aris sakit lagi dadanya. Jadi Tio khawatir terjadi apa-apa pada Aris." Tio menjelaskan tak kalah kesal.
"Aris.... ayah mengerti kau ingin menemani Raisa. Tapi lihat dulu kondisimu. Ayah juga tak ijinkan kamu ke rumah sakit. Benar kata kakakmu. Bagaimana jika terjadi apa-apa padamu?" Yugito kembali meraih Arisa dan menepuk kepalanya dengan pelan sambil terus menenangkannya.
"Tapi ayah...."
"Raisa baik-baik saja. Hanya demam." Yugito menyela seakan tahu isi pikiran Arisa.
"Tio. Ayah tunggu di ruang kerja." Ucap Yugito kemudian berlalu ke ruang kerjanya meninggalkan Arisa yang masih kesal.
"Kamu istirahat ya... jangan mengkhawatirkan Raisa. Khawatirkan dulu dirimu." Namun Arisa hanya terdiam tak menanggapi. Tio beranjak dan melangkah menjauhi Arisa.
"Apa hubungan kakak dengan pria yang bernama Reza?"
Tio terbelalak kemudian terhenti dan mematung namun enggan membalikan badan menghadap Arisa.
-bersambung
__ADS_1