
. Xavier menghela nafas dalam melihat Arisa dan Rayyan yang saling merangkul tanpa mempedulikan sekelilingnya.
"Om... apa benar tunangan Arisa itu Rayyan Pratama? Setahu saya, dulu Rayyan itu sudah menikah." Ucap Xavier yang masih mencari celah agar ia bisa masuk ke kehidupan Arisa tanpa harus menjadi orang ketiga.
"Lalu, apa kau juga mendengar rumor tentang Aris yang akan menikah dengan Fabio Nalendra?" Tanya Yugito tanpa menjawab.
"Saya dengar pernikahannya batal dan Arisa dinyatakan hilang. Bahkan ada berita bahwa Arisa meninggal dalam sebuah kecelakaan. Lalu, beberapa tahun kemudian Arisa kembali dengan kondisinya yang amnesia." Jawab Xavier yang ia ketahui tentang Arisa.
"Kau tahu banyak ternyata. Tapi, kau tak melihat berita bahwa pernikahan Rayyan dan Raisa batal tepat 2 hari sebelum acara di gelar." Tutur Yugito yang menjelaskan lebih terperinci.
"Raisa?" Tanya Xavier sembari menunjuk pelaminan. Ia merasa tak percaya Raisa adalah mantan Rayyan. Dan sekarang, Rayyan berhubungan dengan mantan calon adik iparnya sendiri. Yugito mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan Xavier.
"Maaf om. Mungkin karena saya orang luar, dan baru mengenal lebih dekat dengan om baru-baru ini, jadi saya hanya mendengar rumor keluarga om lewat berita di televisi saja. Dan pertunangan Arisa tidak di umumkan pada publik. Jadi saya mengira Arisa belum punya calon pendamping."
"Tak apa nak. Karena memang Arisa dan Rayyan menjalani hubungan yang tidak di publikasikan. Ya... yang pada awalnya karena terhalang restu Oma Galuh, lalu karena perjodohan Rayyan dan Raisa membuat mereka saling menyembunyikan perasaannya. Tapi, ternyata tuhan memang menakdirkan mereka bersama, meskipun Arisa di anggap meninggal selama 4 tahun, dan Rayyan yang di Amerika 4 tahun, pada akhirnya mereka bertemu lagi."
"Sebelumnya saya minta maaf om. Sepertinya ajakan saya tadi membuat Arisa tak nyaman." Sesal Xavier yang mengingat raut wajah Arisa yang terlihat kesal menatapnya.
"Om juga minta maaf jika sikap Arisa membuatmu tersinggung."
"Tak apa om. Saya tidak tersinggung sama sekali. Ini karena ketidak tahuan saya tentang keluarga om. Dan terima kasih sudah berkenan mengundang saya ke acara ini."
"Justru om yang terima kasih padamu yang sudah berkenan datang jauh-jauh dari Batam hanya untuk menghadiri acara ini."
Xavier tersenyum menanggapi ungkapan Yugito. Hatinya sedikit berantakan karena harapannya tak sesuai kenyataan. Niat hati ingin lebih dekat dengan Arisa, ia malah mendapatkan penolakan meskipun secara halus dan tamparan oleh sebuah kenyataan tak terduga.
. "Aris... kau kenal dengan Xavier?" Tanya Tio ketika ia menghampiri Arisa yang terus menempel pada Rayyan.
"Tidak." Jawabnya singkat.
"Terus tadi?"
__ADS_1
"Hanya kenalan."
"Kalau begitu kau sudah kenal.... Aris!" Geram Tio yang kesal dengan jawaban Arisa.
"Tapi aku tidak mau kenal."
"Kenapa? Eh dia itu rekan bisnis ayah. Kalau sikapmu tidak ramah, bisa-bisa kerja samanya batal."
"Biarkan saja. Lagi pula aku tidak mau berurusan dengan orang sepertinya."
"Kau ini kenapa Aris? Kau sedang marah?"
"Tidak."
"Tapi sikapmu begitu Aris."
"Sudahlah kak. Aku tidak ingin membahas orang itu."
"Oke. Aku akan tanyakan langsung pada orangnya." Kali ini, wajah Arisa mendadak panik. Ia takut jika Xavier mengatakan hal yang tidak-tidak.
"Ish iya iya aku jawab. Dia mengajakku makan malam." Namun jawaban itu tidak mempengaruhi raut wajah Tio. Menurutnya tak ada yang salah dengan Xavier tapi kenapa malah membuat Arisa begitu risih.
"Lalu?"
Sontak Arisa menganga merasa sia-sia saja ia bicara. "Ya aku tolak lah kak. Aku sudah punya Aray."
"Aris...." Tio meraih bahu Arisa membuat Arisa terlepas dari Rayyan yang memilih diam dan tak ingin ikut campur pada urusan kakak beradik di depannya.
"Begini! Dia mengajakmu makan malam sebagai rekan bisnis. Bukan kencan." Jelas Tio menahan suaranya yang sebenarnya ingin menggeram karena kesal.
"Kak. Aku bisa membedakan tatapan seseorang. Jika hanya rekan bisnis, tatapannya tak akan begitu hangat dan berharap lebih padaku. Tatapannya seperti Aray. Hangat dan menyimpan perasaan lain. Aku sudah bertemu banyak klien dan rekan bisnis pemuda sepertinya. Dan tatapannya memang berbeda dari yang lainnya." Jelas Arisa tak kalah kesal menepis tangan Tio.
__ADS_1
"Dia menolaknya demi aku?" Batin Rayyan dengan berbinar menatap Arisa yang tengah merajuk. Ia merasa hatinya sangat tersentuh, bahagia, dan berbunga.
"Ayo Aray." Arisa menarik tangan Rayyan menjauh dari Tio, dan membuat Rayyan tersadar dari lamunannya.
"Eh? Mau kemana sayang?"
"Ke penghulu." Jawab Arisa masih terdengar kesal. Namun jawaban itu berhasil membuat Rayyan tertawa lepas.
"Hahaha ternyata kau yang tak sabar ingin cepat-cepat menikah denganku ya? Kalau begitu ayo. Aku-- hmmmm".
"Kalau kau tidak diam, aku ikat kau di halaman belakang." Ancam Arisa setelah membekap mulut Rayyan. Rayyan semakin lepas tertawa melihat kemarahan Arisa yang menurutnya sangat menggemaskan. Belum sampai di pintu rumah, langkah Arisa kembali terhenti saat MC menyebut namanya untuk naik lagi ke pelaminan. Dengan gusar, Arisa berbalik dan menghela nafas dalam lalu menghembuskannya kasar. Sudah jalan jauh dari taman sampai teras rumah, ia malah di suruh untuk kembali. Berhubung gaun Raisa kini sudah berganti senada dengan bridesmaid, maka seluruh bridesmaid harus berfoto bersama pengantin. Namun, Arisa terfokus pada dress Wina yang terlihat ada bercak cipratan air berwarna sehingga tampak jelas noda tersebut.
"Apa itu Win?" Tanya Arisa yang penasaran pada noda yang menempel di dress temannya.
"Ini... tadi...." Wina begitu gugup menjawab pertanyaan Arisa, dan beberapa kali melirik ke arah Sofia dan Deby. Melihat lirikan Wina, Arisa langsung paham, ia tak bisa lagi menahan amarahnya, namun ia juga tak ingin acara kakaknya harus berantakan karena dirinya.
"Aishh Wina. Kenapa bajumu kotor?" Tegur Rahma saat memperhatikan dress Wina.
"Maaf tante. Sa-saya tidak hati-hati." Jawab Wina penuh penyesalan. Wina beralih menghadap Raisa dan ia meminta maaf.
"Tak apa Wina. Sudah terlanjur. Kita tak bisa mengembalikan seperti semula kan?" Ujar Raisa yang tak bisa di terima oleh Arisa.
"Kalau begitu--"
"Aku dan Wina tidak ikut berfoto." Ucap Arisa tegas menyela apa yang ingin Wina katakan. Bedanya, Wina berniat hanya dirinya saja yang tidak ikut berfoto.
"Aris. Kenapa kau bicara begitu?" Fariz ikut terkejut atas keputusan Arisa.
"Posisi bridesmaid akan berat sebelah jika tak ada satu orang! bukan begitu Sofia?" Tanya Arisa membuat Sofia terdiam mematung.
-bersambung
__ADS_1