TAK SAMA

TAK SAMA
151


__ADS_3

. Anggota keamanan dan penanggung jawab resto segera menghampiri kerumunan. Arisa yang terus meringis kesakitan, tak sedikitpun melawan. Ia hanya bersikap tenang dan sebisa mungkin tidak terpancing oleh kemarahan Clara. Jika ia ikut membalas, martabat dan harga diri keluarganya pun bisa di rendahkan semua orang. Fariz melepaskan cengkraman Clara dari rambut Arisa dengan paksa dan membawa Arisa kedalam lindungannya. Fariz membiarkan Arisa berlindung di belakang tubuhnya dari gadis yang sedang mengamuk ini.


"Maaf nona. Disini bukan tempat untuk membuat keributan." Tegur Fariz dengan menatap tajam pada Clara.


"Siapa kau? Jangan ikut campur." Teriak Clara yang sudah kehabisan kesabarannya.


"Saya memang bukan siapa-siapa. Tapi, apa nona tidak menyadari orang-orang menonton bahkan ada yang merekam kejadian ini. Tidak baik jika muncul berita putri tunggal SM group dan putri bungsu keluarga Putra bertengkar di sebuah mall. Benarkan nona?" Mendengar hal itu, Clara segera berlalu dengan menutupi wajahnya dari semua pandangan orang-orang. Amarah dan dendam sudah membara di hatinya.


. "Aris.. sebaiknya kau ganti pakaian." Arisa mengangguk dan setuju meskipun awalnya ia tak ingin membeli sebuah barang. Dengan ditemani Wina dan Fariz, Arisa memilih dress pendek selutut lengan pendek berwarna nude dengan motif bunga-bunga sebagai ganti bajunya yang kotor. Ketika Arisa hendak membayar, Fariz segera menahannya.


"Aku yang bayar. Dan jangan menolak." Tegas Fariz membuat Arisa terdiam.


"Anggap saja sebagai hadiah untukmu." Lanjutnya setelah memberitahu pelayan.


"Tapi ini mahal kak." Protes Arisa merasa tak enak hati.


"Aku tak akan rugi memberikan apa pun yang kau mau. Kau ini adik Raisa. Dan sebentar lagi kau akan jadi adik iparku."


"Tapi... tidak begini juga kak."


"Sudah jangan protes terus. Terima saja. Dan maaf aku harus kembali ke ruanganku. Lanjutkan saja bersenang-senangnya."


"Iya kak. Terima kasih."


Fariz segera berlalu setelah memastikan Arisa aman dan ia tak perlu khawatir meninggalkan Arisa.

__ADS_1


Menjelang sore, Arisa dan Wina memutuskan untuk pulang. Dan ketika sampai, Arisa yang kelelahan langsung berlalu ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Ketika waktunya makan malam, Tio beserta Diana dan Ghava tiba membuat suasana rumah semakin terasa hangat. Namun pandangan seluruh keluarganya tak lepas dari Arisa. Arisa yang menyadari, mulai merasa canggung dan penasaran mengapa keluarganya menatapnya begitu.


"Apa ada yang salah denganku? Rambutku berantakan atau... ada make up yang tertinggal? Atau wajahku jelek?" Tanya Arisa yang membenahkan setiap inci wajahnya.


"Anty memang jelek." Jawab Ghava dnegan polos melahap makanannya. Diana langsung menutup mulut Ghava sementara Tio hanya tertawa terbahak-bahak.


"Aris.... kau ini sejak kapan hobby bertengkar?" Tio masih tertawa melihat raut wajah Arisa yang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Tio... jangan mengejek adikmu. Makan dulu. Nanti saja bicaranya." Tegur Rahma membuat Tio terdiam. Arisa melirik ke arah Raisa yang terlihat begitu lesu dengan mata yang merah.


Setelah selesai, Arisa yang masih penasaran dari mana Tio tahu apa yang terjadi di mall tadi. Segera Tio memberikan ponselnya dan Arisa terbelalak melihat dirinya sendiri tengah di jambak oleh Clara.


"Memperebutkan Rayyan sampai begini?" Ejek Tio lagi terus menyindir Arisa.


"Wahhh aku viral ternyata." Ucapnya begitu polos. Arisa beralih duduk di samping Raisa yang duduk di bawah beralaskan kasur lantai dan memakai piyama tidur dengan motif yang sama namun warna yang berbeda.


"Apa besok kau free?" Tanya Arisa yang tertidur dan masih fokus pada layar TV.


"Aku ada pekerjaan." Jawab Raisa yang terdengar acuh.


"Ayah... besok harus meliburkan Rais. Kalau tidak, aku akan memaksa ayah." Teriaknya berharap ayahnya yang sedang di ruang kerja bisa mendengarnya.


"Mau kemana?" Tanya Yugito yang ternyata berada di sofa pojok sedang membaca buku.

__ADS_1


"Mau jalan-jalan." Jawabnya tersenyum manja.


"Jangan lupa jam 7 malam harus siap ke acara Pratama." Ucap Yugito memperingatkan.


"Iya siap ayah. Terima kasih."


"Sama-sama." Balas Ghava yang duduk di atas sofa tepat di belakang Raisa.


"Kau dengar kan? Besok kau free" ucap Arisa menoleh sesaat sambil tersenyum lalu kembali fokus pada TV. Raisa yang ragu pada Arisa pun hanya terdiam dan ikut berbaring di samping Arisa.


"Bisa kau ceritakan kenapa kau dan Clara sampai bertengkar!" Titah Raisa dan langsung di turuti oleh Arisa. Arisa menjelaskan apa yang terjadi padanya siang tadi. Sampai tanpa sadar, anak kembar itu sudah terlelap tidur. Rahma menyelimuti keduanya dan satu persatu ia berikan kecupan sebagai ungkapan kasih sayangnya.


. Esoknya, keduanya terbangun dan membereskan alat tidurnya. Sempat keduanya berperang bantal dan guling dan tak bisa di hentikan meskipun sudah Tio peringatkan. Sampai keduanya terpeleset dan terjatuh bersamaan dengan Arisa yang terbentur pada tembok. Mendengar suara yang jatuh, Rahma segera menghampiri Raisa yang kebetulan posisinya lebih dekat dari jangkauannya. Arisa masih meraih kepalanya yang berdenyut dan ia sudah menduga pasti akan mimisan jika kepalanya terbentur. Saat ia melihat Rahma menghampirinya, ia mendadak ketakutan karena berpikir Rahma akan memarahinya. Namun, ia terkejut saat Rahma memeluknya dengan erat. Namun, Arisa tidak membalas pelukan ibunya, ia malah memaksa Rahma melepaskan pelukannya karena darah sudah memenuhi tangannya. Rahma yang melihat kondisi Arisa, segera menyusulnya ke kamar mandi. Ia takut jika ada apa-apa pada Arisa, dan tak ingin jika ia kembali menyesal karena tak tahu apa yang dialami putrinya. Setelah bersih, Arisa kembali memasang wajah ceria nya dan meyakinkan dirinya baik-baik saja.


Hari semakin siang, Arisa dan Raisa tengah berada di sebuah cafe dan keduanya menikmati waktu santai mereka.


"Apa kau sudah mendengar tentang Bayu?" Tanya Raisa dengan sedikit ragu.


"Ah... iya. Dia akan menikah kan?" Balas Arisa yang begitu santai tanpa memikirkan keraguan Raisa.


"Kau sudah mendengarnya ternyata."


"Dia ke Bandung sendiri dan memberikan surat undangan padaku."


"Sebelum dia memutuskan menikah, dia sempat datang pada ayah dan mempertanyakan perjodohannya dengan dirimu. Namun ayah bilang bahwa kau sudah punya pacar." Arisa hanya tersenyum menanggapi, ia bahkan lupa pada Bayu.

__ADS_1


. Keduanya menghabiskan waktu untuk bermain-main hari ini, dari mall, sampai tempat area permainan mereka kunjungi. Hingga menjelang sore, mereka bergegas pulang dan bersiap untuk menghadiri acara keluarga Pratama. Arisa yang menjadi tamu istimewa, dibiarkan berbeda mobil untuk menuju ke sana. Ketika sampai, ia disambut oleh Rayyan tepat di balik pintu mobil.


-bersambung.


__ADS_2