TAK SAMA

TAK SAMA
141


__ADS_3

. Sarah setengah berlari menyusuri setiap lorong rumah sakit, sampai di ruangan yang di tuju, Sarah langsung masuk dengan tergesa.


"Putri!" Panggilnya setengah berteriak. Sontak seisi ruangan menoleh ke arahnya. Termasuk Clara yang duduk diam sendiri di sofa.


"Bunda." Sahut Arisa langsung menghampiri Sarah di dekat pintu. Di peluknya Arisa dengan erat bersyukur putri kesayangannya baik-baik saja.


"Syukurlah kau baik-baik saja."


"Kenapa bunda kesini?" Tanya Arisa dengan nada pelan.


"Bunda mendengar kabar Reza menabrak seseorang. Ada namamu, bunda kira kamu."


"Oh iya bunda, kenalkan. Ini keluarga Aray. Ayah, Oma, ini bunda Sarah." Arisa mengenalkan, Danu bersalaman dnegan Sarah terlebih dahulu.


"Saya Danu. Ayah Rayyan." Ucap Danu dengan sopan.


"Saya benar-benar minta maaf atas kesalahan putra saya. Saya harap tuan berkenan memaafkan saya dan Reza." Sarah tak kalah sopan melontarkan setiap katanya.


"Setiap orang pasti melakukan kesalahan. Putra saya pun sama, kita anggap sama-sama salah saja agar tak ada kesalah-fahaman." Tutur Danu sedikit menenangkan hati Sarah.


"Baiklah tuan. Terimakasih atas kebesaran hati anda. Dan nak Rayyan, terimakasih sudah memaafkan Reza. Dan jika ada kesalahan Putri juga, tolong maafkan dia."


"Tak apa tan- emmm maksudnya bunda. Kecelakaan ini bermula karena kesalahfahaman saya saja pada Risa."


"Risa?" Sarah menyernyit karena tak mengenali nama yang Rayyan sebutkan.


"Iya Risa." Jawab Rayyan sembari menunjuk Arisa.


"Oh... maaf saya kurang tahu dengan panggilan lain Putri. Karena disini Arisa dipanggilnya Putri."


"Kebetulan putri saya juga memanggilnya begitu." Danu ikut menimpali.


"Benarkah? Sepertinya Putri sangat dekat dengan keluarga anda."


"Iya dia itu sudah seperti putri kami."


"Danu.... sejak kapan kau menjadi banyak bicara?" Tegur oma berhasil menyunggingkan senyum di wajah Clara.


"Om Danu mana berani pada Oma. Jelas oma mendukungku." Batin Clara berteriak kegirangan.


"Kenapa tidak katakan saja langsung kalau Arisa itu calon menantumu." Lanjut oma mengejutkan semuanya.


"Oma...." rengek Clara langsung beranjak dan menghampiri oma dengan wajah manjanya.


"Kata oma hanya aku yang akan menjadi menantu utama keluarga Pratama."


"Kita bicara diluar sayang." Oma langsung menarik Clara keluar ruangan. Sedangkan Arisa hanya menunduk mendengar ungkapan Oma yang terasa tak bisa ia percaya.


"Oma...." lagi-lagi Clara merengek manja pada Oma Galuh.


"Maaf Clara. Tapi, oma tak bisa memaksa Aray untuk bersamamu. Yang Aray inginkan hanyalah Arisa. Dan oma tak bisa menghalanginya." Mendengar penuturan Oma, Clara tersenyum sinis.


"Dengan kata lain, oma sudah membatalkan perjodohanku dengan kak Rayyan. Begitu? Dan itu juga jelas membatalkan kerja sama antara Pratama dan SM." Clara bicara dengan angkuhnya.


"Sejak kapan Aray di jodohkan denganmu?" Tanya seseorang di belakangnya dengan tiba-tiba.


"Seno." Lirih Oma terkejut lalu tersenyum merasa lega.


"Dari dulu Aray hanya di jodohkan dengan Arisa saja. Tapi karena ke salahfahaman oma, Aray sempat akan di jodohkan dengan Raisa. Lalu, melihatmu begitu menyukai Rayyan, oma pikir putri tunggal pewaris perusahaan SM mampu menjadi menantu pilihan. Tapi setelah melihat sikapmu yang demikian, aku rasa tak ada lagi yang pantas menjadi menantu Pratama selain Aris." Seno tak kalah angkuh dan tersenyum penuh kemenangan. Clara berlalu dengan menghentakkan kakinya kesal merasa di permalukan.


"Seno... jangan begitu." Tegur Oma merasa tak enak hati pada Clara.

__ADS_1


"Kalau tidak begini, mau sampai kapan oma memberi harapan pada Clara, sementara oma sekarang sudah merestui hubungan Aray dan Aris?" Oma terdiam menunduk dan tak tahu harus menjawab apa. "Bagaimanapun, Clara itu masih labil. Dia belum dewasa seperti Aris yang sudah bisa menerima kenyataan jika kehidupannya tak sesuai dengan apa yang di harapkannya. Aku harap oma mengerti. Jangan karena alasan terlanjur memberinya harapan, jadi Oma masih membiarkan Clara mendekati Aray. Apa oma pernah berpikir bagaimana nantinya jika Clara nekat melukai Aris karena patah hati. Jikalau pun oma tega pada Aris, aku orang pertama sebelum keluarganya yang akan menghabisi keluarga Haidar. Camkan itu oma." Tegas Seno langsung berlalu memasuki ruangan meninggalkan oma sendiri diluar.


Seno terkejut mendapati Sarah yang berada di dalam ruangan itu tengah menatap ke arahnya. Mungkin refleks karena pintu yang terbuka.


"Seno?" Lirih Sarah langsung memalingkan wajahnya.


"Apa tante membenciku sampai tante memalingkan wajah tante dariku." Kembali Sarah menoleh pada Seno setelah mendapat teguran dari Seno.


"Tidak Seno. Bukan begitu. Hanya saja, jika melihatmu...."


"Tante jangan mengingat hal yang tak perlu di ingat. Sekarang, pikirkan kebahagiaan tante. Jangan terus melihat ke belakang. Lagi pula, bukankah Aris jelas mengingatkan semuanya? Tapi tante bisa melupakannya kan? Lantas mengapa hanya melihatku, tante bisa berpikir begitu? Dan, tante jangan khawatir. Aku tak pernah membenci tante atas kejadian masa lalu. Selain aku orang lain, tante juga tidak sepenuhnya salah. Maafkan aku dan Tio jika pernah membuat tante merasa tersinggung." Tutur Seno sembari menunduk merasa bersalah. Arisa tertegun melihat sikap Seno yang berbeda dari sebelumnya.


"Kalian saling mengenal?" Tanya Danu yang terheran, bisa-bisanya Seno mengenal Sarah dan keduanya seperti sudah saling mengenal sejak lama. Arisa hanya terdiam karena ia mengerti dan tahu kemana arah pembicaraan Seno. Yang tak lain adalah tentang perselingkuhan ayahnya dulu.


"Bunda..." panggil Arisa dengan suara lirih.


"Iya sayang. Apa?" Sahut Sarah dengan langsung membelai rambut Arisa.


"Apa bunda menerima kehadiran Aris tanpa ada dendam pada ayah atau mama? Atau bunda sedang berencana balas dendam lewat Aris?" Tanyanya dengan masih bernada lirih.


"Kenapa kau berpikir begitu? Bunda tak pernah sedikitpun berniat balas dendam pada keluargamu. Bunda sudah terima semuanya karena bunda sadar, bunda yang salah."


"Tante Sarah memang baik. Dan pantas saja." Seno tersenyum menimpali dan sengaja tak melanjutkan ucapannya.


"Pantas saja apa kak?" Tanya Rayyan merasa penasaran.


"Aray... jangan ikut campur urusan orang." Tegur Danu yang ditanggapi tawa konyol Rayyan.


"Maaf ayah. Tapi rasanya cerita mereka begitu menarik." Jawabnya.


"Tapi aku juga penasaran. Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan." Batin Danu dengan pikiran yang berkecamuk.


'Brak' pintu terbuka keras dan seketika seiisi ruangan menoleh ke arah pintu.


"Siapa kau berani mendahuluiku." Tio tak ingin kalah dan ia sendiri saling menghimpit dengan Reza.


"Kau itu presdir hanya di kantor saja. Kalau di luar kau bukan siapa-siapa. Jadi berhenti merasa paling berkuasa."


"Hei selain aku presdir, aku juga kakak tirimu sialan."


"Aku tak sudi punya kakak tiri sepertimu sialan."


"Memangnya aku mau?"


Arisa tertawa lepas melihat tingkah kedua kakaknya yang tanpa di sadari sudah akur dan seakan tak lagi memiliki dendam pribadi.


"Kalian ini sudah tua." Cetus Arisa masih tak menghentikan tawanya. Mendengar sindiran Arisa, Reza dan Tio menghentikan aksi konyolnya dan berjalan beriringan menghampiri Arisa. Yang satu mencubit hidung, dan yang satu mencubit pipi.


"Akkhhhhh sakit.... jangan pipi...." teriak Arisa tak kuasa menahan ngilu di pipinya.


"Bunda tolong...." Arisa masih mencoba berteriak namun suaranya kian merendah.


"Rezaaaaa...."


"Iya bunda." Reza langsung melepaskan cubitannya namun tidak dengan Tio.


"Bunda... kak Tio nya." Rengek Arisa dengan semakin memelas. Sarah yang ingin menegur pun, merasa ragu karena hubungan mereka yang tak baik.


"Lepaskan Aris sialan." Seno menarik telinga Tio dengan kuat hingga Tio meringis kesakitan.


"Sialan kau. Kenapa aku di jewer?"

__ADS_1


"Kau yang sialan. Gila. Adikmu sudah kesakitan tapi kau masih menyiksanya."


"Aku merindukannya Sen." Lirih Tio kini perlahan memeluk gemas adik bungsunya.


"Tadi kenapa kau melarang pipimu di cubit?" Tanya Tio yang enggan melepaskan pelukannya.


"Kak... jangan memeluk istriku. Aku cemburu." tegur Rayyan melirik sinis pada Tio.


"Cemburu? Siapa kau? Belum sah jadi suaminya saja sudah melarangku. Dia ini sudah aku rawat sejak kecil. Kau hanya baru berapa lama bertemu dan dekat dengan adikku saja sudah belagu." Balas Tio tak kalah sinis.


"Aray menggigitku kak." Arisa mengadu dengan manja.


"Risa! Kau mengadu." Rayyan mendadak panik, ia menoleh pada Tio dan Arisa bergantian.


"Bahkan ada bekasnya terlihat, Tio." Danu ikut menimpali.


"Ayahhhh...." Rayyan semakin khawatir, bisa-bisanya ayahnya menjadikannyanya tumbal.


"Ohhh belum menikah saja sudah berani menyakiti Aris." Geram Tio beralih menghampiri Rayyan.


"Bukan kak. Ehhhh jangan memukulku. Nanti aku mati."


"Terus? Kenapa kau menggigit adikku hah?"


"Itu bukan salahku."


"Lalu? Salah Aris?"


"Memang iya. Salah dia kenapa dia menggemaskan. Kalau dia tidak menggemaskan, aku juga tak mungkin menggigitnya." Sontak semuanya saling berpandangan. Tak terkecuali Tio yang langsung menatap wajah Arisa yang tersipu.


"Aku keluar saja." Ucap Tio yang langsung berlalu.


"Aku juga." Seno ikut menyusul.


"Sebaiknya kita juga bunda." Ajak Reza dan langsung menarik tangan Sarah keluar ruangan. Danu yang tak mengerti, hanya menyernyit dan ia menoleh pada Rayyan yang ikut terheran.


"Ayah keluar saja." Ucap Rayyan tanpa merasa berdosa.


"Kau mengusir ayah?"


"Ehh ti-tidak. Bu-bukan... emmm... yaa ayah mengertilah." Danu melirik sinis lalu akhirnya ia keluar meninggalkan Arisa dan Rayyan.


"Jangan macam-macam kalian. Atau jabatanmu akan ayah gantikan oleh Seno dan kau tak mendapatkan warisan apapun dari ayah." Ancam Danu sebelum ia menutup pintu.


"Ayah berpikir kemana ayah..." teriak Rayyan dan langsung di bekap oleh Arisa.


"Sut berisik."


"Diam kau." Bentak Rayyan mendelik dari Arisa. Arisa langsung menunduk dan mencuri-curi pandangan dengan wajah menggemaskan.


"Jangan memasang wajah begitu, atau aku cium kau. Mau?" Rayyan masih membentak Arisa hingga Arisa menutupi wajahnya.


"Ampun...." lirihnya semakin membuat Rayyan gemas. Rayyan tiba-tiba meraih Arisa dan menciumi wajahnya tanpa henti.


"Hentikan sialan." Pekik Arisa menjauhkan wajah Rayyan.


"Kau menggemaskan."


"Jangan macam-macam. Atau ku pukul kepalamu." Ancam Arisa memasang tinju didepan wajah Rayyan. Rayyan terkekeh lalu meraih tangan Arisa.


"Pukul saja." Ucapnya dengan masih mengejek Arisa.

__ADS_1


-bersambung.


__ADS_2